{"id":8905,"date":"2023-12-16T14:30:26","date_gmt":"2023-12-16T06:30:26","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=8905"},"modified":"2023-12-16T14:30:26","modified_gmt":"2023-12-16T06:30:26","slug":"pendekatan-value-clarification-approach-dalam-pengembangan-kurikulum-merdeka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/pendekatan-value-clarification-approach-dalam-pengembangan-kurikulum-merdeka\/8905\/","title":{"rendered":"Pendekatan Value Clarification Approach dalam Pengembangan Kurikulum Merdeka"},"content":{"rendered":"<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Dalam proses pengembangan suatu kurikulum, terdapat beberapa pendekatan yang bertujuan memberi sekolah lebih banyak kebebasan untuk menyesuaikan kurikulum mereka dengan kebutuhan dan potensi peserta didik. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum merdeka adalah value clarification approach yang berarti pendekatan klarifikasi nilai. Menurut Simon, klarifikasi nilai mengandung makna membantu orang dalam menentukan skala prioritas berdasarkan analisis nilai yang dilakukan sendiri secara lebih kritis membuat hubungan dengan orang lain menjadi lebih baik. Dengan kata lain, pendekatan klarifikasi nilai adalah pendekatan yang membantu siswa untuk menemukan, memahami, dan menginternalisasi nilai-nilai yang relevan dengan diri mereka, masyarakat, dan negara.<\/p>\n<p>Pendekatan klarifikasi nilai menjadi salah satu dari empat pendekatan yang direkomendasikan dalam Kurikulum Merdeka, selain pendekatan pembelajaran berbasis masalah, pendekatan pembelajaran berbasis proyek, dan pendekatan pembelajaran berbasis penelitian. Pendekatan ini dapat digunakan untuk mengembangkan karakter siswa sesuai dengan nilai-nilai Pancasila yang dapat dilakukan secara individual, kelompok, atau kelas, dengan menggunakan berbagai teknik, seperti diskusi, debat, role play, simulasi, atau drama. Siswa diberi kesempatan untuk memilih mata pelajaran, proyek, atau kegiatan yang sesuai dengan minat dan bakat mereka, serta menunjukkan nilai-nilai Pancasila dalam proses pembelajaran.<\/p>\n<p>Tujuan klarifikasi nilai secara umum adalah untuk meningkatkan hubungan pribadi antara peserta didik sehingga mereka tidak terlibat dalam konflik nilai atau untuk membantu dalam pengambilan keputusan di masa mendatang dan memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani peserta didik. Secara khusus, tujuan dari pendekatan klarifikasi nilai adalah untuk mengukur dan mengetahui tingkat kesadaran peserta didik tentang nilai tertentu, serta menyadarkan peserta didik tentang nilai-nilai tersebut, baik dalam tingkah laku maupun sifatnya. Guru harus menanamkan nilai-nilai ini kepada siswa melalui contoh nyata atau keteladanan, serta melalui cara-cara yang positif.<\/p>\n<p>Menurut Rath dan John Jarolimek (1974), metode klarifikasi nilai terdiri dari beberapa langkah, yaitu :<\/p>\n<p>a. Kebebasan memilih (untuk siswa), yang mencakup:<br \/>\n1) memilih sesuatu secara bebas sesuai dengan keinginannya, kesukaan, dan keinginan<br \/>\n2) memilih dari berbagai pilihan yang tersedia<br \/>\n3) menentukan pilihan dan pertimbangan yang rasional sesuai dengan pikiran dan pendapat masing-masing<br \/>\nb. Menumbuhkan kebanggaan (prizing), yang mencakup:<br \/>\n4) merasakan bahwa mereka memilih dengan benar<br \/>\n 5) memperkuat pilihan mereka sesuai dengan pendapat mereka sendiri.<br \/>\nc. Melaksanakan (tindakan):<br \/>\n6) melakukan percobaan atau melaksanakan keputusan<br \/>\n7) mengulangi tindakan tersebut dalam kehidupan sehari-hari dan menjadikannya gaya hidup.<\/p>\n<p>Beberapa contoh penerapan pendekatan klarifikasi nilai dalam kurikulum merdeka adalah sebagai berikut:<\/p>\n<p>1. Siswa melakukan proyek penelitian tentang isu-isu sosial, seperti kemiskinan, lingkungan, hak asasi manusia, atau korupsi. Siswa mencari informasi, menganalisis data, dan menyajikan hasil penelitian mereka<\/p>\n<p>2. Siswa membuat karya seni, seperti musik, tari, teater, sastra, atau seni rupa. Siswa mengekspresikan diri mereka melalui karya seni mereka, serta mengapresiasi karya seni orang lain.<\/p>\n<p>3. Siswa mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, seperti olahraga, pramuka, palang merah, atau organisasi kemahasiswaan. Siswa belajar tentang keterampilan, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepemimpinan. Siswa juga melakukan refleksi tentang nilai-nilai Pancasila yang terkait dengan kegiatan ekstrakurikuler mereka, seperti sportivitas, gotong royong, demokrasi, atau cinta tanah air.<\/p>\n<p>Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, tuntutan masyarakat untuk nilai-nilai baru harus diimbangi dengan standar nilai yang sudah ada. Jika ukuran itu tidak tepat, pengambilan keputusan akan salah. Penyimpangan itu akan menyebabkan perselisihan. Banyak pendekatan yang dapat digunakan untuk belajar nilai, seperti evaluasi diri (self-evaluation) dan evaluasi kelompok (group evaluation), ceramah (lecturing), pendekatan yang menarik dan memberikan contoh, indoktrinasi dan pembiasaan, tanya jawab, penilaian bahan tulisan, permainan, dan inkuiri nilai. Pendekatan ini dapat diterapkan dalam semua mata pelajaran, baik yang bersifat akademik maupun non-akademik, dengan memanfaatkan isu-isu aktual, kontroversial, atau relevan dengan kehidupan peserta didik.<\/p>\n<p>Oleh: <strong>Ummu Zahroh<br \/>\nUniversitas Negeri Surabaya<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Dalam proses pengembangan suatu kurikulum, terdapat beberapa pendekatan yang bertujuan memberi sekolah lebih banyak kebebasan untuk menyesuaikan kurikulum mereka dengan kebutuhan dan potensi peserta didik. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum merdeka adalah value clarification approach yang berarti pendekatan klarifikasi nilai. Menurut Simon, klarifikasi nilai mengandung makna membantu orang dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-8905","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8905","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8905"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8905\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8905"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8905"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8905"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}