{"id":8823,"date":"2023-12-15T21:00:14","date_gmt":"2023-12-15T13:00:14","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=8823"},"modified":"2023-12-16T18:41:07","modified_gmt":"2023-12-16T10:41:07","slug":"masalah-air-bersih-dalam-keberlangsungan-hidup-masyarakat-surabaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/masalah-air-bersih-dalam-keberlangsungan-hidup-masyarakat-surabaya\/8823\/","title":{"rendered":"Masalah Air Bersih Dalam Keberlangsungan Hidup Masyarakat Surabaya"},"content":{"rendered":"<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Air bersih merupakan kebutuhan mutlak setiap manusia yang harus terus tersedia demi keberlangsungan hidup masyarakat.<br \/>\nNamun karena jumlahnya yang terbatas, keberadaan air bersih sendiri menjadi masalah bagi kehidupan termasuk yang terjadi pada masyarakat Surabaya. <\/p>\n<p>Krisis air menjadi salah satu permasalahan yang harus diperhatikan oleh bersama dan harus dipikirkan solusi permasalahannya.<\/p>\n<p>Kementerian PPN atau Bappenas sendiri bahkan menyatakan dalam Rancangan Teknokratik Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 memperkirakan akan terjadi kenaikan kelangkaan air di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.<\/p>\n<p>Selain itu, akan terjadi juga penurunan kualitas air dimana Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sudah menghimbau mengenai dampak perubahan iklim yang berdampak terhadap ketersediaan air bersih di Indonesia.<\/p>\n<p>Sebagai kota metropolitan yang memiliki jumlah penduduk 2.88 juta pada tahun 2022 lalu, membuat pasokan air bersih harus memadai dan bisa secara merata dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat.<\/p>\n<p>Kendati demikian, Surabaya tak terlepas dari berbagai permasalahan air bersih yang menghambat keberlangsungan kehidupan para masyarakatnya.<\/p>\n<p>Hal ini patut dicermati dan dijaga secara bersama-sama mengingat permasalahan ini juga berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) yang memiliki 17 tujuan dan 169 target yang diharapkan dapat terlaksana pada tahun 2030 mendatang. <\/p>\n<p>Melansir dari laman Kementerian PPN\/Bppenas, SDGs adalah bentuk komitmen bersama yang bertujan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dan pelestarian lingkungan.<br \/>\nSalah satu tujuan SDGs adalah berkaitan dengan air bersih dan sanitasi layak pada nomor 6 dengan tujuan menjamin pasokan dan pengelolaan air serta sanitasi yang layak untuk kehidupan berkelanjutan bagi semua orang. <\/p>\n<p>Kendati demikian, permasalahan sanitasi yang menyebabkan kualitas air menjadi menurun menjadi salah satu permasalahan yang ada di Surabaya. <\/p>\n<p><strong>Permasalahan Sanitasi di Surabaya <\/strong><br \/>\nSurabaya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia masih memiliki permasalahan pada pola hidup masyarakat yang berdampak terhadap kualitas air yang menurun. <\/p>\n<p>Hal ini dikarenakan oleh lebih dari 6.000 keluarga atau sekitar 24.000 ribu penduduk tidak memiliki penampungan kotoran atau buang air besar sembarangan.<\/p>\n<p>Pada saat ini, para masyarakat Surabaya hampir tidak ada yang buang air besar di kali, sungai atau saluran air karena setiap bangunan sudah memiliki tempat untuk buang air. <\/p>\n<p>Namun berdasarkan data dari Asosiasi Pengelola dan Pemberdayaan Sanitasi Indonesia atau Appsani, mencatat terdapat lebih dari 6.000 keluarga tidak memiliki jamban atau tempat penampungan kotoran. <\/p>\n<p>Maka dari itu, limbah rumah tangga termasuk tinja tersebut akhirnya berakhir di sungai melalui jaringan saluran air di perkampungan. <\/p>\n<p>Pembuangan tinja ke saluran air merupakan salah satu pola hidup yang tidak sehat dan berdampak terhadap kehidupan masyarakat. <\/p>\n<p>Akibat dari pembuangan limbah tinja tersebut berpotensi membunuh biota di sungai serta bisa menjadi tempat berkembangbiaknya bibit penyakit dan dapat menginfeksi manusia jika terjadi kontak dengan air sungai tersebut. <\/p>\n<p>Masalah sanitasi ini menjadi permasalahan yang mendasar untuk mengubah Surabaya menjadi salah satu smart city atau kota masa depan yang modern dengan adaptasi teknologi yang canggih. <\/p>\n<p>\u201dBolehkah berambisi Surabaya menjadi smart city atau kota masa depan yang sangat modern dengan teknologi, tetapi jangan lupakan persoalan sangat mendasar yang belum terselesaikan, yakni masih ada warganya buang air besar sembarangan,\u201d Ungkap Koen Irianto selaku ketua umum Appsani melansir pada laman kompas. <\/p>\n<p>Surabaya sebagai smart city telah digagas sejak tahun 2002 pada masa kepemimpinan wali kota Surabaya Bambang Dwi Hartono dan berlanjut hingga saat ini. <\/p>\n<p>Terdapat banyak aspek yang menjadi dasar berkembangnya Surabaya sebagai smart city termasuk pada aspek kesehatan dan limbah yang berkaitan erat dengan keberlangsungan kehidupan masyarakat. <\/p>\n<p>Untuk mengatasi permasalahan sanitasi tersebut, Appsani bersama dengan program kemitraaan masyarakat Universitas Kristen Petra bekerjasama dalam membangun jamban bagi masyarakat yang membutuhkan. <\/p>\n<p>Program tersebut telah berlangsung sejak tahun 2016 namun masih banyaknya warga yang belum memiliki septic tank dan keterbatasan sumber daya menjadikan para banyak masyarakat yang belum memenuhi standar sistem sanitasi yang sehat. <\/p>\n<p>Para masyarakat yang belum memiliki jamban tak terlepas dari faktor ekonomi yang membuat masyarakat lebih memilih untuk membuang limbah rumah tangga ke saluran air.<br \/>\nBanyak masyarakat memiliki penghasilan yang tak pasti sehingga membuat sanitasi bukan merupakan kepentingan vital jika dibandingkan dengan kebutuhan lain seperti pangan dan pendidikan. <\/p>\n<p>Kendati demikian banyak masyarakat yang keberatan dengan adanya bantuan pembuatan septic tank tersebut. <\/p>\n<p>Banyak warga yang berpendapat pembuatan septic tank akan merusak keramik lantai dan enggan untuk diperbaiki apabila tidak diganti keramiknya. <\/p>\n<p>Hal ini menjadi salah satu penghambat pemberian bantuan kepada masyarakat dalam penyediaan septic tank yang bertujuan untuk kesehatan masyarakat bersama. <\/p>\n<p>Kualitas Air di Surabaya Masih Buruk?<br \/>\nSistem sanitasi yang tidak terkelola dengan baik menjadi salah satu pemicu kualitas air di Surabaya masih terbilang buruk. <\/p>\n<p>Berdasarkan laporan keterangan pertanggungjawaban (LKPj) Walikota tahun 2021, indeks kualitas air permukaan Surabaya masih berada pada angka 58,18. <\/p>\n<p>Angka tersebut menunjukan bahwa kondisi air bahan baku di Kota Surabaya dalam kategori tercemar ringan.<\/p>\n<p>Idealnya air bahan baku yang layak minum memiliki nilai 70 pada indeks kualitas air permukaan sehingga ini harus menjadi perhatian bersama. <\/p>\n<p>Salah satu penyebab buruknya kualitas air di di Surabaya adalah karena penggunaan septic tank dan pembuangan tinja yang tidak diatur dengan benar. <\/p>\n<p>Septic Tank yang terlalu dekat dengan rumah warga berpotensi membuat rumah warga tercemar bakteri seperti E Coli yang cukup berbahaya. <\/p>\n<p>Idealnya, jarak septic tank dari rumah adalah minimal 10 meter dari sumber air namun pada permukiman padat, septic tank hanya berjarak 2-3 meter dari rumah warga. <\/p>\n<p>Beberapa warga juga mengeluhkan kualitas air yang dihasilkan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surya Sembada yang sering waktu menurun. <\/p>\n<p>Hal ini juga disampaikan oleh anggota komisi A DPRD Surabaya, Josial Michael melansir dari republika.co.id &#8220;Saat kegiatan reses kemarin (14\/10\/2022) malam, saya dapat keluhan dari warga katanya air di rumahnya selalu keruh sehingga setiap pekan harus menguras endapan lumpur di dalam tandon,&#8221;<\/p>\n<p>Permasalahan tersebut tak terlepas dari indeks kualitas air Surabaya yang masih dalam kategori tidak layak minum. <\/p>\n<p>Hal ini tentu saja harus menjadi catatan tersendiri bagi PDAM mengingat perusahaan plat merah tersebut sudah seharusnya menghasilkan air yang layak minum.<br \/>\nAir minum sendiri menjadi hal yang fundamental dalam kehidupan masyarakat Surabaya. <\/p>\n<p>Masalah kualitas air juga menjadi aspek yang sangat penting dalam indiaktor SDGs dan peran Surabaya sebagai smart city. <\/p>\n<p>Untuk mencapai tujuan SDGs nomor 6 yang berkaitan dengan air bersih dan sanitasi pada tahun 2030 diperlukan kerjasama antara pemerintah, sektor swasta dan masyarakat untuk mewujudkannya. <\/p>\n<p>Berbagai upaya bisa dilakukan seperti dengan pengembangan infrastruktur dalam pengelolaan dan pemeliharaan pengelolaan air bisa dilakukan pemerintah dan sektor swasta.<br \/>\nSelain itu, perlu juga edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya sanitasi dan penggunaan air bersih secara efisien. <\/p>\n<p>Dengan kerjasama yang kolaboratif dan solusi yang komprehensif tersebut, maka tujuan SDGs pada tahun 2030 mengenai air bersih dan sanitasi bukan hal yang mustahil untuk dicapai. <\/p>\n<p>Penulis :<strong> Athaillah Dios Ananta <\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Air bersih merupakan kebutuhan mutlak setiap manusia yang harus terus tersedia demi keberlangsungan hidup masyarakat. Namun karena jumlahnya yang terbatas, keberadaan air bersih sendiri menjadi masalah bagi kehidupan termasuk yang terjadi pada masyarakat Surabaya. Krisis air menjadi salah satu permasalahan yang harus diperhatikan oleh bersama dan harus dipikirkan solusi permasalahannya. Kementerian PPN atau [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-8823","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8823","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8823"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8823\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8823"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8823"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8823"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}