{"id":8778,"date":"2023-12-15T16:59:23","date_gmt":"2023-12-15T08:59:23","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=8778"},"modified":"2023-12-15T16:59:23","modified_gmt":"2023-12-15T08:59:23","slug":"wayang-godhong-sebuah-pentas-wayang-dari-gus-pur-di-the-5th-icir-2023-uns","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wayang-godhong-sebuah-pentas-wayang-dari-gus-pur-di-the-5th-icir-2023-uns\/8778\/","title":{"rendered":"WAYANG GODHONG, SEBUAH PENTAS WAYANG DARI GUS PUR DI THE 5<sup>TH<\/sup> ICIR, 2023 UNS"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_8780\" aria-describedby=\"caption-attachment-8780\" style=\"width: 838px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/FOTO1.jpg\" alt=\"\" width=\"838\" height=\"567\" class=\"size-full wp-image-8780\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/FOTO1.jpg 838w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/FOTO1-300x203.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/FOTO1-768x520.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/FOTO1-150x101.jpg 150w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/FOTO1-696x471.jpg 696w\" sizes=\"(max-width: 838px) 100vw, 838px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-8780\" class=\"wp-caption-text\">Penampilan Wayang Godhong di The 5th ICIR, 2023 UNS  (Foto :UNS)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Oleh : <strong>Dzia Fadhilla Novrizka, Mahasiswa Pascasarjana Seni Rupa dan Desain UNS<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Mungkin sangat asing di telinga kita sebagai orang awam saat mendengar istilah \u201cWayang Godhong\u201d. Namun bagi kalangan seniman dan budayawan, istilah ini sering terdengar di telinga mereka.  Wayang godhong merupakan salah satu karya dari Prof. Dr. Agus Purwantoro, M.sn atau biasa disapa Gus Pur adalah salah satu Guru Besar Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) UNS. Beliau tinggal di Pringapus, Kalisalak, Kab.Malang lebih tepatnya tinggal di Kampung dengan pemandangan hamparan sawah dan udara sejuk. <\/p>\n<p>Prof. Agus Purwantoro mempersembahkan pertunjukan wayang godhong ini pada Kamis, 23 November 2023 dengan tema \u201cGemah Ripah Loh Jinawi\u201d di Pendapa R. Ng. Yasadipura, Gedung Pusat Unggulan Iptek (PUI) Javanologi UNS. Hadir sebagai salah satu pengisi acara The 5th Intersectoral Collaboration for Indigenous Religions (ICIR) 2023, beliau membawakan pertunjukan yang mengangkat makna dari kesuburan dan kemakmuran di suatu daerah.<\/p>\n<p>Dalam pertunjukkannya, Gus Pur menjelaskan tentang makna karakteristik daun yang selalu menghadap keatas, seolah-olah seperti gerakan tangan orang yang sedang berdoa. Dalam bahasa jawa itu sendiri disebut nyadhong. Selanjutnya, beliau mulai bercerita tentang bagaimana manusia berawal dari khawitan yang artinya adalah awal mula kehidupan. Akar tanaman atau dalam bahasa jawa disebut oyot ditafsirkan dalam wayang godhong sebagai ayat. Beliau juga bercerita jika dalam menjalani kehidupan, manusia bebas memilih pedoman sesuai dengan keyakinan masing-masing. <\/p>\n<p>Gus Pur juga berinteraksi dengan para peserta yang ikut dalam pertunjukkan tersebut, menjelaskan tentang makna dedaunan yang ada di depan mereka. Seperti daun duren dimaknai  tentang pertengkaran yang tidak akan ada habisnya, daun kluwih yang dimaknai keluwihan atau kelebihan, daun tawar dimaknai sebagai obat penawar, lalu ada daun jati dimaknai sebagai sejatinya urip atau sejatinya hidup dan masih banyak lagi. <\/p>\n<figure id=\"attachment_8779\" aria-describedby=\"caption-attachment-8779\" style=\"width: 536px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/FOTO2.jpg\" alt=\"\" width=\"536\" height=\"567\" class=\"size-full wp-image-8779\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/FOTO2.jpg 536w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/FOTO2-284x300.jpg 284w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/FOTO2-150x159.jpg 150w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/FOTO2-300x317.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 536px) 100vw, 536px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-8779\" class=\"wp-caption-text\">Penampilan dalang Gus Pur saat bercerita tentang konflik di Palestina (Foto :UNS)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Beliau juga mengangkat isu yang terjadi di Palestina dimana para korban yang merupakan anak-anak dilambangkan sebagai daun-daun yang masih belum tumbuh seperti ditebang pohonnya. Pemotongan pohon ini diibaratkan sebagai tindakan pembunuhan paling kerja karena pohon tidak bisa berteriak atau melawan seperti halnya anak-anak yang menjadi korban di Palestina. Sedangkan daun muda saja yang jatuh atas izin-Nya. Selain itu juga, beliau menggambarkan bahwa banyaknya dauh di pohon itu seperti banyaknya manusia di dunia ini, yang lama kelamaan akan menguning dan gugur. Sama seperti manusia yang akan mati suatu hari nanti. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Dzia Fadhilla Novrizka, Mahasiswa Pascasarjana Seni Rupa dan Desain UNS JurnalPost.com &#8211; Mungkin sangat asing di telinga kita sebagai orang awam saat mendengar istilah \u201cWayang Godhong\u201d. Namun bagi kalangan seniman dan budayawan, istilah ini sering terdengar di telinga mereka. Wayang godhong merupakan salah satu karya dari Prof. Dr. Agus Purwantoro, M.sn atau biasa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-8778","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8778","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8778"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8778\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8778"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8778"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8778"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}