{"id":8637,"date":"2023-12-14T15:35:46","date_gmt":"2023-12-14T07:35:46","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=8637"},"modified":"2023-12-14T15:35:46","modified_gmt":"2023-12-14T07:35:46","slug":"chatbot-ai-dalam-pembentukan-opini-publik-akan-konflik-israel-palestina","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/chatbot-ai-dalam-pembentukan-opini-publik-akan-konflik-israel-palestina\/8637\/","title":{"rendered":"Chatbot AI dalam Pembentukan Opini Publik akan Konflik Israel-Palestina"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar1-21.png\" alt=\"\" width=\"602\" height=\"352\" class=\"aligncenter size-full wp-image-8638\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar1-21.png 602w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar1-21-300x175.png 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar1-21-150x88.png 150w\" sizes=\"(max-width: 602px) 100vw, 602px\" \/><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar1-21.png\" alt=\"\" width=\"602\" height=\"352\" class=\"aligncenter size-full wp-image-8638\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar1-21.png 602w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar1-21-300x175.png 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar1-21-150x88.png 150w\" sizes=\"(max-width: 602px) 100vw, 602px\" \/><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com, Jatinangor<\/strong> &#8211; Hey, ChatGPT! What is the current situation of the people of Gaza amidst the Israeli-Palestinian conflict? \u201cI&#8217;m a language model and don&#8217;t have the capacity to help with that.\u201d<\/p>\n<p>Konflik Israel-Palestina merupakan salah satu konflik paling kompleks dan berlarut-larut di dunia. Konflik ini telah berlangsung selama bertahun-tahun dan telah menyebabkan banyak korban jiwa dan kerugian material. Konflik ini juga telah menjadi salah satu isu paling kontroversial di dunia, dengan masing-masing pihak memiliki pandangannya sendiri tentang akar penyebab konflik dan solusi yang tepat. Konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina tidak hanya menciptakan ketegangan di tingkat geopolitik, tetapi juga merasuki domain digital. Di era informasi ini, platform online dan media sosial menjadi medan pertempuran tak terhindarkan di mana opini publik dibentuk dan disampaikan dengan cepat. Salah satu elemen yang semakin memainkan peran penting dalam dinamika ini adalah teknologi Artificial Intelligence (AI). Salah satu aspek menarik dari revolusi digital ini adalah penggunaan chatbot yang semakin meluas di kalangan publik.<\/p>\n<p>Chatbot adalah program komputer yang dapat mensimulasikan percakapan manusia. Chatbot menggunakan kecerdasan AI untuk memahami bahasa manusia dan menghasilkan respons yang sesuai dengan perintah atau pertanyaan yang diberikan. Chatbot dapat dilatih pada sejumlah besar data teks, yang memungkinkan mereka untuk belajar tentang berbagai topik dan untuk menghasilkan respons yang realistis dan informatif. Chatbot dapat digunakan untuk berbagai tujuan, termasuk memberikan informasi, merumuskan gagasan, merangkai tulisan, dan bahkan sesederhana menjadi \u201cteman ngobrol\u201d untuk pertanyaan sehari-hari. Nama-nama seperti ChatGPT, Perplexity.AI, ChatSonic AI, dan Google Bard AI menjadi semakin familiar di kalangan publik dalam memenuhi kebutuhan akademik, jurnalistik, ataupun hiburan sehari-hari. Chatbot AI menjadi solusi praktis dan instan untuk mendapatkan informasi cepat, merumuskan ide-ide dan tulisan, atau bahkan untuk menyelesaikan tugas-tugas akademis. Kehadiran chatbot sebagai mitra virtual yang mampu memberikan bantuan secara instan, mengubah cara publik berinteraksi dengan informasi dan membentuk pola pikir mereka.<\/p>\n<p><strong>Peran Chatbot AI dalam Membentuk Opini Publik<\/strong><\/p>\n<p>Chatbot dapat berperan sebagai sumber informasi yang memberikan data atau fakta kepada pengguna. Jika chatbot didesain dengan benar, ia dapat menyebarkan informasi yang objektif dan relevan. Chatbot seringkali dirancang untuk berinteraksi dengan pengguna dalam konteks sosial. Jika chatbot mampu berkomunikasi dengan baik, maka dapat menciptakan kepercayaan terhadap penggunanya sehingga terbentuk sebuah ikatan emosional. Dengan meningkatnya kepercayaan penggunanya, secara otomatis intensitas penggunaannya pun meningkat. Desain Chatbot yang sedemikian rupa tidak dibuat secara kebetulan, melainkan Chatbot sengaja dirancang menggunakan teknik psikologis, seperti persuasi dan pemrograman neuro-linguistik, untuk mempengaruhi pemikiran pengguna dan membangun kepercayaan agar pengguna terus-menerus menggunakannya. Penggunaan kata-kata yang persuasif dan strategi komunikasi yang terancang dalam Chatbot dapat membentuk opini publik dengan mengarahkan pikiran dan perasaan pengguna sampai pada titik di mana chatbot tersebut dapat mempengaruhi persepsi mereka terhadap topik tertentu atau bahkan terhadap suatu kelompok masyarakat.<\/p>\n<p>Kehadiran chatbot dapat membantu membentuk narasi tertentu melalui presentasi informasi atau pengulangan pesan tertentu. Yang mungkin tidak diketahui publik maupun para penggunanya juga, algoritma chatbot yang tersedia secara bebas bersifat user-based di mana sistem chatbot dirancang untuk mengumpulkan data pribadi pengguna melalui search dan chat history yang dilakukan selama menggunakan platform chatbot terkait. Tujuan utama dari para perancang dan pengembang kecerdasan chatbot ialah memberikan pengalaman yang lebih personal dan terpersonalisasi. Namun, kekhawatiran timbul ketika ada resiko pengumpulan dan penggunaan data ini juga bisa dimanfaatkan untuk menyajikan informasi yang terlalu sesuai dengan kecenderungan dan preferensi pengguna. chatbot dapat menciptakan &#8220;filter bubble&#8221; di mana pengguna hanya terpapar pada informasi yang sesuai dengan pandangan mereka sendiri dikarenakan kecenderungan chatbot yang dirancang untuk mematuhi perintah. Peristiwa seperti ini, pada akhirnya mampu memperkuat opini mereka tanpa mempertimbangkan kebenaran dan mengurangi keragaman pandangan.<\/p>\n<p><strong>Pengaruh Chatbot AI terhadap pembentukan Opini Publik akan Konflik Israel-Palestina<\/strong><\/p>\n<p>Perbedaan pandangan dari seluruh pihak terkait konflik Israel-Palestina telah konflik Israel-Palestina tersebut sulit diselesaikan. Masing-masing pihak memiliki pandangan yang kuat tentang akar penyebab konflik dan solusi yang tepat, di mana mereka pun tidak bersedia untuk berkompromi. Hal ini telah menyebabkan konflik yang berkepanjangan dan kerugian yang terus-menerus. Perbedaan ini juga mengakibatkan terpolarisasinya konflik Israel-Palestina menjadi sangat polarisasi. Masing-masing pihak memiliki pendukung yang kuat yang tidak bersedia untuk mendengar pandangan pihak lain. Hal ini telah membuat sulit untuk mencapai dialog dan negosiasi yang konstruktif. Polarisasi ini juga telah menyebabkan penyebaran informasi yang tidak merata, salah, dan berakhir sebagai propaganda. <\/p>\n<p>Chatbot dirancang untuk memberikan informasi melalui data yang diperoleh dari internet. Kecerdasan chatbot mencerminkan dan mengamati pola dari data perancangan yang digunakan. Jika data tersebut cenderung memiliki bias, chatbot juga akan memperkuat bias tersebut. Sudah menjadi pengetahuan umum akan pihak-pihak mana saja yang memiliki dukungan terhadap Israel maupun Palestina dalam konflik ini, di antaranya adalah perusahaan-perusahaan besar dunia yang memiliki pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap algoritma dan kecerdasan chatbot-chatbot yang tersedia di dunia maya. Apabila algoritma dan kecerdasan dikontrol secara bias atau mencerminkan perspektif pihak-pihak tertentu, maka informasi yang disediakan chatbot memihak pada satu sisi konflik secara tidak adil. <\/p>\n<p>Dalam beberapa kasus tertentu, chatbot dapat saja secara tidak sengaja atau sengaja memperkuat pandangan ekstremis. Hal ini dapat menyebabkan penyebaran ideologi radikal dan berkontribusi terhadap polarisasi, sehingga menyulitkan individu untuk terlibat dalam dialog konstruktif atau mempertimbangkan sudut pandang alternatif. Selain itu, dengan meningkatnya cybercrime di era digital ini, para pelaku bisa saja melakukan system-hacking dan menyusupi chatbot untuk menyebarkan propaganda atau memanipulasi opini publik secara terkoordinasi, kembali memperkuat perspektif yang bias dan mempengaruhi sentimen publik secara negatif.<\/p>\n<p>Mengingat dinamisnya data yang tersebar di seluruh dunia maya, dalam konteks konflik Israel-Palestina, setiap orang pasti memiliki kecenderungan untuk mendukung satu pihak atau sudut pandang tertentu, dan chatbot bisa saja mengadopsi pandangan tersebut tanpa kemampuan untuk mengkritisinya. Sebagai akibat, chatbot yang digunakan secara tidak kritis dapat mempercepat penyebaran informasi yang tidak akurat atau bahkan disinformasi, mempengaruhi opini publik secara negatif. Disinformasi itu sendiri sangat kompleks, namun yang pasti adalah karena kurangnya kebiasaan untuk lebih teliti dan kritis dalam mengkonsumsi informasi. Namun, bukan berarti penyalahgunaan chatbot tidak berperan penting. Contohnya seperti ini, seorang pengguna menggunakan chatbot untuk mendapatkan informasi akan suatu fenomena. Tetapi ia menggunakan chatbot hanya untuk memperkuat bias dan pandangan yang ia sudah miliki sedari awal. Setelah chatbot memberikan informasi yang sudah terpersonalisasi untuknya, ia pun menjadi semakin yakin akan pendiriannya di mana kemudian ia percaya diri untuk menyebarkan informasi tersebut ke khalayak umum yang juga belum tentu lebih kritis darinya dalam menerima informasi tersebut sehingga terbentuk suatu opini dalam publik yang \u201cberbasis data\u201d padahal datanya sendiri berasal dari sumber yang bias.<\/p>\n<p>Pada bulan Oktober lalu, sejumlah pengguna media sosial di aplikasi X juga jurnalis media internasional seperti Mashable SE Asia, TS2 Poland, dan DohaNews memberitakan adanya kekhawatiran bahwa dua situs chatbot AI paling terpercaya, ChatGPT OpenAI dan Google Bard AI memberikan tanggapan yang bias ketika ditanyakan terkait konflik Israel dan Palestina. Jawaban AI ChatGPT memberikan gambaran bahwasannya kebebasan Israel sebagai fakta objektif, sedangkan kebebasan Palestina hanyalah sebagai opini subjektif. Di sisi lain, ketika ditanyakan hal yang sama, Google Bard AI mensensor jawaban apapun terkait konflik. Sensor tersebut berlaku untuk pertanyaan-pertanyaan dengan kata kunci \u201cIsrael, Gaza, dan Palestina\u201d dengan menanggapi pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan kalimat: &#8220;I&#8217;m a language model and don&#8217;t have the capacity to help with that.&#8221;, diterjemahkan menjadi &#8220;Saya seorang model bahasa dan tidak memiliki kapasitas untuk membantu hal itu.&#8221; Terkait pemberitaan peristiwa janggal ini sendiri saja tampak disensor oleh perusahaan-perusahaan media melalui penghapusan kolom diskusi di laman situs Reddit.com (https:\/\/www.reddit.com\/r\/ChatGPT\/comments\/17g27qz\/chatgpt_on_israelpalestine\/) maupun cuitan salah satu jurnalis DohaNews di sosial media X, yang membahas bias ChatGPT (https:\/\/twitter.com\/NadiSaadeh\/status\/1655624303562436613).<\/p>\n<p>Contoh-contoh peristiwa ini kembali memperkuat argumen akan kecenderungan chatbot dalam memihak atau mencerminkan pandangan perancangnya. Algoritma yang bias dapat menyebarkan disinformasi dan prasangka. Chatbot dapat secara selektif memberikan informasi yang menggaungkan sebuah narasi, mengabaikan pertimbangan akan latar belakang atau opini pihak lain. Penyajian informasi yang selektif ini beresiko melanggengkan bias dan menghalangi konsumen untuk memahami kompleksitas konflik Israel-Palestina.<\/p>\n<p><strong>Tanggung Jawab dan Etika dalam Penggunaan Chatbot AI<\/strong><br \/>\nBerbagai upaya harus dilakukan untuk menjamin penggunaan chatbot AI yang bertanggung jawab dan etis guna mengatasi kesulitan dalam menanggulangi kecenderungannya dalam membentuk opini publik akan konflik Israel-Palestina secara negatif. Pemahaman masyarakat terhadap bahaya chatbot yang menyebarkan prasangka bias dan misinformasi merupakan hal yang penting. Para pengguna chatbot harus lebih berhati-hati saat menerima informasi dari chatbot dan sebaiknya melakukan riset lanjutan akan informasi yang dicari dari kumpulan sumber-sumber yang dapat dipercaya. Selain itu, penciptaan regulasi atau kebijakan seputar penggunaan chatbot AI juga harus diperhatikan. Agar chatbot AI dapat digunakan secara bertanggungjawab, standar dan kebijakan harus ditetapkan oleh pemerintah dan organisasi internasional. Yang lain dan tidak bukan, program pengetahuan dan pelatihan akan cara menggunakan media digital secara bijak juga turut menjadi kebutuhan. Melalui proses ini, masyarakat diajak untuk dapat mengevaluasi kembali informasi secara kritis dan mengidentifikasi klaim-klaim bias yang dapat memecah belah.<\/p>\n<p>Emosi dan pandangan dinamis yang berperan dalam permasalahan konflik ini mungkin berada di luar pemahaman atau kemampuan respon kecerdasan chatbot. Akibatnya, masyarakat mungkin mendapatkan laporan berita yang tidak peka terhadap dampak kemanusiaan dari konflik tersebut atau menunjukkan kurangnya empati dalam pemberian informasi. Untuk itu, chatbot harus dirancang dengan mempertimbangan sifat manusia, keadaan budaya, dan konteks untuk beroperasi secara lebih efektif dalam membentuk opini penggunanya maupun publik. Selain itu, rancangan algoritma AI dari Chatbot harus dilaporkan secara transparan dan dibuat dalam garis besar yang  public-friendly agar publik dan para ahli mampu melakukan crosschecking dan filtering guna menciptakan pengalaman penggunaan chatbot yang lebih objektif, netral, terpercaya dan tidak menimbulkan disinformasi tanpa harus memahami seluk-beluk computer-programming. <\/p>\n<p>Para petinggi perusahaan-perusahaan pengembang chatbot, seperti ChatGPT dan Google Bard AI sendiri memperingatkan para penggunanya meskipun chatbot AI menarik dan bermanfaat, bukan berarti mereka ada tanpa kecacatan dalam memahami konteks dan niatan penggunanya. Pernyataan seperti ini kembali memproliferasi kekhawatiran akan bias dan stereotip di dunia nyata karena kemampuan mereka untuk belajar dari berbagai data informasi. Kini, chatbot-chatbot yang telah disebutkan di atas sendiri telah diperbarui untuk menggarisbawahi bahwa pengetahuannya mungkin sudah ketinggalan zaman, dengan menyatakan: \u201cPlease note that the situation can change rapidly, and it is essential to consult up-to-date news sources for the latest information on the Israel-Hamas conflict, as developments may have occurred since my last knowledge update\u201d, diterjemahkan menjadi \u201cHarap dicatat bahwa situasi dapat berubah dengan cepat, dan penting untuk berkonsultasi dengan sumber berita terkini untuk mendapatkan informasi terkini mengenai konflik Israel-Hamas, karena perkembangan mungkin telah terjadi sejak pembaruan pengetahuan terakhir saya.\u201d<\/p>\n<p>Melalui penggunaan dan kontrol yang bertanggung jawab dan etis oleh pengguna dan perancangnya, chatbot AI tidak hanya dapat memberikan informasi, tetapi juga mampu memahami kompleksitas konflik Israel-Palestina. Dengan memanfaatkan algoritma cerdas, chatbots dapat memberikan konteks sejarah, fakta terkini, dan berbagai sudut pandang. Hal ini membantu pengguna mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang akar penyebab dan dinamika konflik. Chatbot AI yang bertanggung jawab juga dapat menciptakan wadah dialog terbuka untuk memfasilitasi diskusi yang sehat. Dengan memberikan ruang bagi beragam pandangan, chatbot membantu menciptakan pemahaman yang lebih mendalam dan menghargai keberagaman pendapat yang ada. Meskipun chatbot AI dapat menyajikan informasi secara objektif, mereka juga dilengkapi dengan kemampuan untuk menangkap nuansa emosi dan sudut pandang manusia. Hal ini menghadirkan dimensi kemanusiaan dalam interaksi daring, sehingga membantu mengurangi rasa kaku dan khawatir yang sering dikaitkan dengan teknologi AI.<\/p>\n<p><strong>Jonathan Willem Golijot mahasiswa semester 5 Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Padjadjaran<\/strong><\/p>\n<p><strong>Sumber<\/strong>:<br \/>\nFr\u0105ckiewicz, M. (2023, October 26). Google&#8217;s Bard AI: Controversy Surrounding Censorship of Israel-Palestine Questions. TS2 Space. https:\/\/ts2.space\/en\/googles-bard-ai-controversy-surrounding-censorship-of-israel-palestine-questions\/#gsc.tab=0<br \/>\nKilani, H. (2023, Mei 19). Unmasking ChatGPT&#8217;s anti-Palestinian bias: what&#8217;s the root? Doha News. https:\/\/dohanews.co\/unmasking-chatgpts-anti-palestinian-bias-whats-the-root\/<br \/>\nNavlakha, M. (2023, Oktober 27). Google Bard, ChatGPT: Are AI chatbots suppressing information about Israel and Palestine? Mashable SEA. https:\/\/sea.mashable.com\/tech\/28217\/google-bard-chatgpt-are-ai-chatbots-suppressing-information-about-israel-and-palestine<br \/>\nRogucki, M. (2023, October 26). Is Google&#8217;s AI Bard Censoring Israel-Palestine Prompt Responses? TS2 Space. https:\/\/ts2.space\/en\/is-googles-ai-bard-censoring-israel-palestine-prompt-responses\/#gsc.tab=0<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com, Jatinangor &#8211; Hey, ChatGPT! What is the current situation of the people of Gaza amidst the Israeli-Palestinian conflict? \u201cI&#8217;m a language model and don&#8217;t have the capacity to help with that.\u201d Konflik Israel-Palestina merupakan salah satu konflik paling kompleks dan berlarut-larut di dunia. Konflik ini telah berlangsung selama bertahun-tahun dan telah menyebabkan banyak korban [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-8637","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8637","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8637"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8637\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8637"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8637"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8637"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}