{"id":8523,"date":"2023-12-12T16:44:20","date_gmt":"2023-12-12T08:44:20","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=8523"},"modified":"2023-12-12T16:44:20","modified_gmt":"2023-12-12T08:44:20","slug":"optimasi-mobilitas-urban-inovasi-smart-parking-dengan-sensor-magnet-menuju-smart-city-di-era-revolusi-industri-4-0","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/optimasi-mobilitas-urban-inovasi-smart-parking-dengan-sensor-magnet-menuju-smart-city-di-era-revolusi-industri-4-0\/8523\/","title":{"rendered":"Optimasi Mobilitas Urban: Inovasi Smart Parking dengan Sensor Magnet Menuju Smart City di Era Revolusi Industri 4.0"},"content":{"rendered":"<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Di era Revolusi Industri 4.0, saat dunia menjadi lebih &#8220;urban&#8221;, kota-kota harus menjadi lebih pintar. Urbanisasi yang meluas membutuhkan metode dan cara baru serta inovatif untuk mengelola kompleksitas kehidupan perkotaan: kelebihan penduduk, konsumsi energi, pengelolaan sumber daya dan perlindungan lingkungan, dll. <\/p>\n<p>Lebih dari setengah populasi dunia tinggal di kota dan jumlah ini terus meningkat sehingga menimbulkan tantangan yang sangat besar dimana lebih banyak orang dan membuat jumlah kendaraan yang beredar di jalan juga semakin banyak. Terlebih lagi fasilitas kendaraan umum yang kurang memadahi di Indonesia membuat masyarakat lebih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi. Kendaraan umum juga dianggap kurang menjangkau daerah seperti pedesaan atau pinggiran kota, sehingga kendaraan pribadi masih menjadi pilihan masyarakat. Hal-hal tersebut tentunya membuat masalah kemacetan dan kekurangan lahan parkir yang tidak lepas dari kota-kota besar di Indonesia dimana terdapat pusat perbelanjaan, bioskop, perkantoran, stasiun, dll. Masalah ini terjadi karena pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor tidak diiringi dengan pertumbuhan lahan parkir yang tersedia. <\/p>\n<p>Mencari lahan parkir membutuhkan waktu yang cukup lama dikarenakan penuhnya lahan parkir. Oleh karena itu, perlu sebuah inovasi dalam pelayanan publik yaitu dibuat sistem yang dapat membantu mengurangi waktu untuk mencari lahan parkir yang tersedia. Hal ini merupakan salah satu tujuan bidang teknik industri dimana dapat menciptakan suatu inovasi untuk efektivitas kerja manusia. Berdasarkan permasalahan dan referensi yang ada, muncullah rancangan bangun sistem klasifikasi kendaraan menggunakan sensor magnet untuk mendukung sistem parkir yang sudah ada. Sensor magnetik yang sering dipakai pada sistem parkir hanya dapat mendeteksi objek berupa kendaraan atau tidak, tetapi belum dapat membedakan jenis kendaraannya. Oleh karena itu, akan lebih baik jika sistem parkir pintar yang diterapkan memiliki kemampuan membedakan jenis kendaraan yang terparkir, sehingga sistem parkir tersebut lebih baik dibandingkan dengan sistem parkir yang sudah ada. Diharapkan dengan inovasi yang dibuat dapat mengembangkan kemampuan sistem parkir yang ada untuk membedakan jenis kendaraan dengan menggunakan sensor magnet. <\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar2-32.jpg\" alt=\"\" width=\"474\" height=\"314\" class=\"aligncenter size-full wp-image-8524\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar2-32.jpg 474w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar2-32-300x199.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/12\/Gambar2-32-150x99.jpg 150w\" sizes=\"(max-width: 474px) 100vw, 474px\" \/><\/p>\n<p>Sistem Smart Parking merupakan suatu sistem yang dapat membantu manusia dalam memecahkan masalah manajemen parkir. Inovasi sistem parkir yang akan dibahas yaitu Smart Parking yang mana sebelumnya sudah pernah dibuat, contohnya seperti sistem Smart Parking menggunakan sensor ultrasonik dan LoRa (Kodali et al., 2019). Sistem ini menggunakan transmitter LoRa yang dipasang di berbagai tempat parkir untuk mengirimkan data ketersediaan parkir sehingga tidak perlu menggunakan WiFi di setiap tempat parkir. Kekurangan sistem ini yaitu hanya menggunakan sensor ultrasonik, sehingga hanya dapat mendeteksi keberadaan objek yang berada pada slot parkir, tetapi tidak dapat membedakan benda yang berada pada slot parkir tersebut kendaraan atau bukan kendaraan.<\/p>\n<p>Perlu digunakan sensor selain sensor ultrasonik seperti sensor magnet yang dapat membaca nilai medan magnet jika diberikan benda yang mengandung metal sehingga dapat digunakan untuk mendeteksi benda seperti mobil, sepeda motor, bus, dan sebagainya. Sensor memiliki peran yang sangat penting pada sistem Smart Parking karena efektivitas dari sistem sangat bergantung dari performa sensor yang digunakan. Salah satu sensor yang dapat digunakan yaitu sensor magnetometer, karena paling praktis dan umum digunakan saat ini yang mengukur medan magnet arus dan mendeteksi benda logam didalamnya (oli et al., 2019).  <\/p>\n<p>Sistem Smart Parking ini mengoptimalkan prediksi ketersediaan tempat parkir untuk meningkatkan transportasi perkotaan ramah lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Pembangunan perkotaan telah mengakibatkan perubahan paradigma di era Revolusi Industri 4.0, dan gagasan baru mengenai konsep Smart City menjadi tugas prioritas dengan partisipasi langsung dari seluruh elemen masyarakat. Meskipun teknologi informasi dan komunikasi telah maju secara eksponensial, dan Smart City menjadi nyata, konsep ini masih dalam pengembangan. Agar inovasi ini menjadi kenyataan, prasyarat teknis sangatlah penting. Di samping itu, tidak dapat dipungkiri bahwa peran masyarakat juga sangat penting untuk dapat menjelaskan dengan tepat kota seperti apa yang ingin ditinggali. Itulah titik awalnya dan kita dapat mulai merancang Smart City berdasarkan tujuan tersebut.<\/p>\n<p>Penulis : Putri Utami<br \/>\nprogram studi Teknik Industri<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Di era Revolusi Industri 4.0, saat dunia menjadi lebih &#8220;urban&#8221;, kota-kota harus menjadi lebih pintar. Urbanisasi yang meluas membutuhkan metode dan cara baru serta inovatif untuk mengelola kompleksitas kehidupan perkotaan: kelebihan penduduk, konsumsi energi, pengelolaan sumber daya dan perlindungan lingkungan, dll. Lebih dari setengah populasi dunia tinggal di kota dan jumlah ini terus [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":8525,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-8523","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8523","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8523"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8523\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8525"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8523"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8523"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8523"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}