{"id":8271,"date":"2023-12-08T18:06:22","date_gmt":"2023-12-08T10:06:22","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=8271"},"modified":"2023-12-08T18:06:22","modified_gmt":"2023-12-08T10:06:22","slug":"mri-breast-pada-kasus-kanker-payudara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/mri-breast-pada-kasus-kanker-payudara\/8271\/","title":{"rendered":"MRI BREAST PADA KASUS KANKER PAYUDARA"},"content":{"rendered":"<p><strong>Putri Aida Yasmin, Inas Al Azizu Isyraq, Cindy Stevania, Cherise A. M, Roechan Elfin P Universitas Airlangga Program Studi D4 Teknologi Radiologi Pencitraan<\/strong><\/p>\n<p><strong>Abstrak<\/strong><br \/>\n<strong>Pendahuluan<\/strong>: Kanker Payudara adalah salah satu kanker yang paling sering didiagnosa pada perempuan di seluruh dunia, dan merupakan salah satu penyebab kematian akibat kanker yang paling sering pada wanita. Di Indonesia, jumlah penderita kanker mencapai 4,3 orang per 1000 penduduk, dengan jumlah penduduk 237,8 juta orang pada tahun 2010, 1,02 juta orang di antaranya telah didiagnosis dengan kanker. Oleh karena itu, hasil MRI dari payudara dimodelkan kembali dengan menggunakan segmentasi Kmeans untuk menentukan luasnya penyebaran kanker. Pencitraan resonansi magnetik (MR) adalah modalitas canggih yang saat ini digunakan untuk skrining kanker payudara tambahan pada individu yang berisiko tinggi. Ini memiliki tingkat sensitivitas dan spesifisitas yang sangat tinggi. <strong>Tujuan<\/strong>: Artikel ini dibuat untuk memberikan penjelasan bagaimana validalitas dan prosedur pemeriksaan MRI pada kasus kanker payudara. Metode: Penelitian ini merupakan studi literatur menggunakan online database melalui platform PudMed, Google Schoolar yang terbit antara 2012\u20142023. <strong>Hasil<\/strong>: MRI payudara atau yang lebih dikenal dengan MRI Mammografi adalah pemeriksaan pada organ payudara dengan menggunakan modalitas MRI dan injeksi media kontras. Ada beberapa persiapan yang harus dilakukan di MRI Payudara seperti persiapan pemeriksaan, persiapan pasien, persiapan media kontras, dan persiapan alat dan bahan. Pada Teknik pemeriksaan MRI payudara terdiri dari posisi pasien dan protokol pemeriksaan. MRI payudara terutama digunakan sebagai alat tambahan untuk skrining payudara dengan mamografi atau USG dan direkomendasikan untuk pasien berisiko tinggi. MRI payudara dapat digunakan untuk mengevaluasi tingkat kanker payudara sebelum operasi, memantau respons terhadap pengobatan, dan mendeteksi kekambuhan kanker payudara atau sisa tumor setelah lumpektomi. <strong>Kesimpulan<\/strong>: MRI payudara memiliki sensitivitas tertinggi di antara modalitas pencitraan klinis untuk mendeteksi tumor kecil yang tidak terlihat pada mamografi atau USG. MRI breast ini penting dalam menentukan ukuran, lokasi tumor, dan area tambahan sebelum operasi. Pada pemeriksaan MRI Breast ini memerlukan beberapa persiapan, dari persiapan pasien, persiapan media kontras serta persiapan alat dan bahan. Teknik akuisisi MRI Breast minimal harus mencakup tiga sequence yaitu T2-Weighted, Multiphase T1-Weighted, dan Diffusion- Weighted Imaging.<\/p>\n<p>Kata kunci: MRI Payudara, Kanker Payudara<\/p>\n<p><strong>Abstract<\/strong><\/p>\n<p><strong>Introduction<\/strong>: Breast cancer is one of the most frequently diagnosed cancers in women worldwide, and is one of the most frequent causes of cancer death in women. In Indonesia, the number of cancer sufferers reached 4.3 people per 1000 population, with a population of 237.8 million people in 2010, 1.02 million of whom had been diagnosed with cancer. Therefore, the MRI results of the breast are modeled again using Kmeans segmentation to determine the extent of cancer spread. Magnetic resonance (MR) imaging is an advanced modality currently used for adjuvant breast cancer screening in high-risk individuals. It has a very high level of sensitivity and specificity. <strong>Objective<\/strong>: This article was created to provide an explanation of the validity and procedures for MRI examinations in breast cancer cases. <strong>Method<\/strong>: This research is a literature study using an online database via the PudMed platform, Google Scholar, which was published between 2012-2023. <strong>Result<\/strong>: Breast MRI or better known as MRI Mammography is an examination of the breast organs using MRI modalities and injection of contrast media. There are several preparations that must be done for a breast MRI, such as examination preparation, patient preparation, contrast media preparation, and equipment and material preparation. The breast MRI examination technique consists of patient position and examination protocol. Breast MRI is primarily used as an adjunct to breast screening with mammography or ultrasound and is recommended for high-risk patients. Breast MRI can be used to evaluate the extent of breast cancer before surgery, monitor response to treatment, and detect breast cancer recurrence or residual tumor after lumpectomy. <strong>Conclusion<\/strong>: Breast MRI has the highest sensitivity among clinical imaging modalities for detecting small tumors that are not visible on mammography or ultrasound. MRI breast is important in determining the size, location of the tumor and additional areas before surgery. The MRI Breast examination requires several preparations, from patient preparation, contrast media preparation and equipment and material preparation. The MRI Breast acquisition technique must include at least three sequences, namely T2-Weighted, Multiphase T1-Weighted, and Diffusion-Weighted Imaging.<\/p>\n<p>Keywords: <strong>MRI Breast, Breast Cancer<\/strong><\/p>\n<p><strong>PENDAHULUAN<\/strong><br \/>\nKanker Payudara, dikenal sebagai salah satu jenis kanker yang paling umum di dunia, merupakan penyebab utama kematian akibat kanker pada wanita. Menurut data World Health Organization (WHO) tahun 2018, terdapat 1,38 juta kasus baru dan 458.000 kematian akibat<\/p>\n<p>kanker payudara setiap tahunnya. Penyakit ini ditandai oleh pertumbuhan sel-sel payudara yang tidak teratur, dengan mayoritas kasus terjadi pada saluran atau lobulus. Di Indonesia, kanker payudara menjadi ancaman serius bagi wanita, dengan tingkat kematian mencapai 21,5 kasus per 100.000 orang. Keterbatasan layanan kesehatan dan kurangnya kesadaran deteksi dini menyebabkan sebagian besar kasus terdiagnosis pada stadium lanjut. Bahkan, 70% pasien baru ditemukan pada tahap penyakit yang sudah lanjut.<\/p>\n<p>Untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan, diagnosis awal dan pengobatan pada tahap awal sangat krusial. Berbagai metode pencitraan seperti mamografi, ultrasonografi, dan pencitraan resonansi magnetik (MR) digunakan untuk deteksi dini. Mamografi tetap menjadi standar untuk skrining kanker payudara karena kepraktisannya, namun, pencitraan MR semakin diakui untuk skrining tambahan pada individu berisiko tinggi. Pentingnya pencitraan MR, terutama dengan metode peningkatan kontras dinamis (DCE) berbasis Gadolinium, terbukti lebih sensitif dalam mendeteksi kanker payudara dibandingkan mamografi konvensional. Meskipun memiliki keunggulan dalam sensitivitas, penggunaan MRI terbatas pada wanita berisiko tinggi karena biaya yang lebih tinggi dan ketersediaan yang terbatas di fasilitas kesehatan.<\/p>\n<p>Dalam konteks ini, artikel ini akan menggali lebih dalam tentang peran MRI dengan kontras dalam deteksi kanker payudara, mengevaluasi kelebihan dan keterbatasannya, serta memberikan pemahaman lebih lanjut tentang perbandingannya dengan metode skrining lainnya. Dengan pemahaman yang lebih mendalam, diharapkan dapat memberikan panduan yang lebih baik dalam pengelolaan kanker payudara, terutama di Indonesia yang menghadapi tantangan kesehatan masyarakat yang kritis.<\/p>\n<p><strong>METODE<\/strong><br \/>\nPenelitian ini merupakan studi literatur dengan cara mencari artikel dari referensi jurnal nasional dan internasional dengan menggunakan online database. Artikel penelitian ini didapatkan berdasarkan penelusuran pada platform PudMed dan Google Schoolar dengan<\/p>\n<p>kata kunci <em>\u201cMRI breast\u201d AND \u201cbreast cancer\u201d yang terbit antara tahun 2012\u20142023<\/em>.<\/p>\n<p><strong>PEMBAHASAN<\/strong><br \/>\nAnatomi Breast<br \/>\nBreast atau payudara merupakan organ yang terletak diantara costae II dan VI pada permukaan anterior dada. Permukaan breast berbentuk hemispherical yang berisi lemak dan jaringan kelenjar. Pada bagian payudara terdiri atas 15-20<\/p>\n<p>lobus yang mengalir ke dalam duktus laktiferus yang terdapat pada nipple. Terdapat struktur parenkim yang terdapat pada payudara berisi lemak dan fibrotik atau biasa disebut dengan stroma. Kelenjar pada payudara mengeluarkan cairan ASI kemudian dibawa menuju nipple. Vaskularisasi pada payudara disuplai oleh percabangan arteri axilla, arteri internal mammae dan arteri intercostal. Pada payudara juga dialiri vena circular periareolar plexus yang mengaliri payudara dan vena axilla. Suplai saraf pada payudara berasal dari thoracic intercostal nerves (Haider, 2023).<br \/>\n&#8211; Anatomi Breast Anterior View<br \/>\n1) Nipple, nipple merupakan salah satu anatomi permukaan payudara yang berbentuk kerucut terletak di dalam pusat areola sekitar intercostal IV, hapir bagian bawah Tengah payudara (Haider, 2023).<br \/>\n2) Areola, areola merupakan area yang mengandung pigmen warna gelap yang melingkar sekitar puting. Struktur areola tampak kasar karena terdapat kelenjar sebasea atau kelenjar minyak.<br \/>\n3) Ductus Laktiferus, ductus laktiferus merupakan saluran tempat keluarnya ASI. Pada setiap lobus pada ductus<\/p>\n<p>laktiferus memiliki satu saluran terbuka menuju ke permukaan nipple.<br \/>\n4) Jaringan Adiposa, jaringan adiposa terletak di bawah kulit menutupi jaringan kelenjar. Kelenjar lobus ditutupi jaringan adiposa superficial yang dapat membentuk payudara.<br \/>\n&#8211; Anatomi Breast Sagital View<br \/>\n1) Mammary Glands, mammary glands merupakan kelenjar tubuloalveolar yang terdiri atas 15-23 lobus. Setiap lobus memiliki ductus laktiferus berdiameter 2-4mm.<br \/>\n2) Muscullus Pectoralis Major, merupakan otot yang memanjang kea rah inferior lateral menuju area axilla anterior. Pada payudara juga terdapat ligament yang meluaas dari fasia di atas m. pectoralis major menuju kulit dari payudara.<br \/>\n3) Ligament suspensori, terdapat interlobular jaringan ikat yang menopang lobus aatau biasa dikenal dengan Cooper\u2019s ligament.<br \/>\n4) Sinus laktiferus, sinus laktiferus terletak didekat nipple menyebabkan saluran susu membesar dan<\/p>\n<p>membentuk sinus laktiferus. Fungsi sinus laktiferus adalah menyimpan air susu sebelum dialirkan ke duktus laktiferus.<br \/>\n5) Alveoli, alveoli merupakan saluran kecil yang membesar membentuk kantung sekretori.<br \/>\n6) Tubulus sekunder, kelenjar susu diproduksi hingga mengaliri alveoli menuju tubulus sekunder lalu melewati mammary ducts<\/p>\n<p>Kanker Payudara<br \/>\nKanker payudara, prevalen pada perempuan di Indonesia, menyumbang 30% dari seluruh kasus kanker, menjadikannya jenis kanker yang dominan dengan kontribusi sebesar 24%. Pertumbuhan sel kanker disebabkan oleh mutasi genetik akibat kerusakan DNA pada sel normal. Kanker payudara, berasal dari sel kelenjar, saluran kelenjar, dan jaringan penunjang payudara, memasuki stadium yang mencakup stadium dini (I dan II) hingga stadium lanjut (III dan IV), yang menentukan penanganan dan keberhasilan pengobatan (Airlangga, 2013).<\/p>\n<p>Meskipun penyebab kanker payudara bersifat multifaktorial, beberapa faktor yang dapat memicu inklusi kelemahan genetik, iritasi, radiasi, senyawa kimia, dan pola makan tertentu. Faktor risiko mencakup usia di atas 50 tahun,<\/p>\n<p>riwayat kanker dalam keluarga, obesitas, merokok, konsumsi alkohol, penggunaan kontrasepsi hormonal, paparan radiasi, serta kondisi reproduksi seperti menopause dan menarche dini (Airlangga, 2013).<br \/>\nHormon seperti prolaktin, pertumbuhan, progesteron, dan estrogen memengaruhi pertumbuhan jaringan payudara. Tingginya paparan estrogen diyakini memicu pertumbuhan sel tidak normal, meskipun mekanisme pastinya masih kontroversial. Faktor-faktor seperti tidak melahirkan, menopause pada usia di atas 50 tahun, dan pemakaian kontrasepsi hormonal dalam jangka panjang dapat meningkatkan paparan estrogen, meningkatkan risiko kanker payudara (Airlangga, 2013).<br \/>\nMRI Breast<\/p>\n<p>MRI Breast atau yang lebih dikenal dengan MRI Mammografi adalah pemeriksaan pada organ payudara dengan menggunakan modalitas MRI dan injeksi media kontras. Pada beberapa negara maju pemeriksaan payudara dengan menggunakan MRI sudah mulai dikenal dan banyak dilakukan sebagai suatu sarana untuk deteksi disni adanya abnormalitas pada payudara. Tetapi memang pemeriksaan ini belum dikenal luas sebagai modalitas utama dalam pemeriksaan payudara.<\/p>\n<p><strong>Peran MRI Breast<\/strong><br \/>\nMRI payudara (Magnetic Resonance Imaging) memainkan peran penting dalam diagnosis dan penatalaksanaan kanker payudara. Berikut adalah beberapa poin penting tentang peran MRI payudara pada kanker payudara:<\/p>\n<p>1. Sensitivitas tinggi: MRI payudara memiliki sensitivitas tertinggi untuk deteksi kanker payudara di antara modalitas pencitraan klinis yang ada saat ini (Mann et al., 2019)<br \/>\n2. MRI dapat mendeteksi tumor kecil yang mungkin tidak terlihat pada mamografi atau USG (Radhakrishna et al., 2018).<br \/>\n3. Alat tambahan: MRI payudara terutama digunakan sebagai alat tambahan untuk skrining payudara dengan mamografi atau USG. Alat ini terutama digunakan untuk wanita yang telah didiagnosis menderita kanker payudara, untuk membantu mengukur ukuran kanker, mencari tumor lain di payudara, dan menilai tingkat kanker.<br \/>\n4. Pasien berisiko tinggi: MRI payudara direkomendasikan untuk wanita yang berisiko tinggi terkena kanker payudara, seperti mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara atau mereka yang memiliki mutasi genetik yang meningkatkan risiko kanker payudara.<br \/>\n5. Evaluasi sebelum operasi: MRI payudara dapat digunakan untuk mengevaluasi tingkat kanker payudara sebelum operasi. Pemeriksaan ini dapat membantu menentukan ukuran dan lokasi tumor serta mengidentifikasi area tambahan yang menjadi perhatian.<br \/>\nPersiapan Pemeriksaan MRI Breast<br \/>\nPemeriksaan MR mammografi merupakan suatu pemeriksaan yang kompleks dan hasilnya sangat dipengaruhi oleh beberapa hal yang bersifat teknis, sehingga sebelum dilakukan pemeriksaan ini harus dilakukan beberapa persiapan seperti:<br \/>\nPersiapan Pasien<br \/>\n&#8211; Sebelum melakukan pemeriksaan MRI breast melakukan check ureum-creatinin.<br \/>\n&#8211; Perhitungan siklus menstruasi.<br \/>\n&#8211; Pengisian informed consent yang berisi bebas logam dan persetujuan prosedur pemeriksaan.<br \/>\n&#8211; Mengganti pakaian dengan pakaian pemeriksaan saat akan melakukan pemeriksaan.<br \/>\n&#8211; Dilakukan pemasangan tanda\/marker pada lokasi yang dicurigai sebelum pemeriksaan dilakukan.<\/p>\n<p>&#8211; Dilakukan pemasangan IV catheter sebelum dilakukan pemeriksaan<br \/>\nPersiapan Alat dan Bahan<br \/>\n&#8211; Pengisian sejumlah kontras pada syringe A (0.1 x kg berat badan media kontras dengan konsentrasi<br \/>\n0.5 mmol atau 0.1 x kg berat badan pada media kontras berkonsentarsi 1 mmol)<br \/>\n&#8211; Pengisian saline flush pada syringe B (25-30 ml)<br \/>\n&#8211; Pengaturan flow rate<br \/>\n&#8211; Pemasangan Breast coil (dan body array\/ torso\/ surface coil apabila diperlukan)<br \/>\n&#8211; Tabung ekstensi, jarum dan kontras (jika biopsi dibutuhkan untuk MRI Intervensi)<br \/>\n&#8211; Injektor otomatis<br \/>\n&#8211; Earplugs atau headphone<br \/>\n&#8211; Bantal atau busa immobilisasi<\/p>\n<p>Protokol Pemeriksaan MRI Breast<br \/>\nA. Posisi Pasien<br \/>\nBreast coil ditempatkan tepat di tengah meja pemeriksaan MRI dan posisi pasien prone pada coil dengan kedua tangan dilipat kedepan agar pasien nyaman. Center coil diatur dengan lampu laser atau touch sensor yaitu harus sejajar dengan nipple payudara. Pasien diberitahu berapa lama waktu lama pemeriksaan dan diintruksikan agar tidak bergerak selama pemeriksaan. Pasien<\/p>\n<p>diberikan alarm atau buzzer yang diletakkan pada tangan pasien.<br \/>\nB. Protokol Pemeriksaan<br \/>\nTeknik akuisisi MRI payudara standar minimal harus mencakup sequence berikut:<br \/>\n1) T2-weighted<br \/>\nBright-fluid (T2-weighted) sequence: Visualisasi kista, kelenjar getah bening, lesi jinak, dan struktur dengan kandungan air tinggi lainnya. Gambar T2-weighted adalah komponen berharga dalam evaluasi MRI pada massa payudara. Edema, perdarahan, lendir, dan cairan kistik dalam lesi digambarkan dengan jelas pada urutan T2-weighted. Secara umum, massa yang memiliki intensitas sinyal tinggi pada gambar berbobot T2 bersifat jinak; namun, pencitra payudara harus menyadari pengecualian penting seperti karsinoma musinosa dan tumor nekrotik.<\/p>\n<p>2) Multiphase T1-weighted<br \/>\nMultiphase T1-weighted fat suppressed sequences, termasuk urutan pra-kontras yang memungkinkan evaluasi serapan kontras dan peningkatan profil kinetik lesi. Ada gambar kontras yang berbeda dalam jenis MRI resonansi magnetik. MRI berbobot T1 meningkatkan sinyal jaringan lemak dan menekan sinyal air.<\/p>\n<p>MRI berbobot T2 meningkatkan sinyal air. Pertimbangan atas semua informasi yang diberikan oleh modalitas ini kondusif untuk analisis dan diagnosis gambar MRI. Di sisi lain, kelemahan MRI adalah membutuhkan waktu lama untuk memindai, sehingga dapat menyebabkan artefak gerakan. Urutan tambahan, tergantung pada indikasi, riwayat pasien, dan protokol institusi mungkin termasuk: Non-fat saturated T1-weighted sequence: Perbedaan lesi yang mengandung lemak seperti nekrosis lemak, produk darah, dan distorsi arsitektur.<\/p>\n<p>3) Diffusion-weighted imaging<br \/>\nDiffusion-weighted imaging: Demonstrasi pergerakan acak molekul air, yang dapat membantu dalam mengkarakterisasi lesi. DWI yang digunakan bersama dengan DCE-MRI meningkatkan spesifisitas untuk deteksi kanker dan jika digunakan sendiri, menjanjikan manfaat untuk skrining kanker secara luas. Sebelum janji ini terwujud, lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menstandarkan pendekatan perolehan dan interpretasi DWI payudara untuk memfasilitasi uji coba multi-pusat yang akan mengevaluasi dan mengoptimalkan sensitivitas dan spesifisitas untuk deteksi kanker<\/p>\n<p><strong>MRI Safety<\/strong><br \/>\nMRI payudara adalah alat diagnostik yang aman untuk kanker payudara, karena tidak menggunakan radiasi (Mri, 2023). Medan magnet yang kuat yang digunakan dalam MRI tidak berbahaya bagi pasien, tetapi dapat menyebabkan perangkat medis yang diimplan mengalami kerusakan atau mendistorsi gambar. MRI payudara terutama digunakan sebagai alat tambahan untuk skrining payudara dengan mamografi atau USG. MRI payudara direkomendasikan bagi wanita yang berisiko tinggi terkena kanker payudara, seperti mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara atau mereka yang memiliki mutasi genetik yang meningkatkan risiko kanker payudara. MRI payudara dapat digunakan untuk mengevaluasi tingkat kanker payudara sebelum operasi, memantau respons terhadap pengobatan, dan mendeteksi kekambuhan kanker payudara atau sisa tumor setelah lumpektomi.<\/p>\n<p>Singkatnya, MRI adalah alat diagnostik yang aman untuk kanker payudara, karena tidak menggunakan radiasi. MRI payudara terutama digunakan sebagai alat tambahan untuk skrining payudara dengan mamografi atau USG dan direkomendasikan untuk pasien berisiko tinggi. MRI dapat digunakan untuk evaluasi<\/p>\n<p>pra-operasi, memantau respons terhadap pengobatan, dan mendeteksi kekambuhan kanker payudara atau sisa tumor setelah lumpektomi (Lee et al., 2020).<\/p>\n<p><strong>KESIMPULAN<\/strong><br \/>\nKanker payudara merupakan salah satu masalah kesehatan yang serius sehingga membutuhkan pemahaman mendalam tentang faktor risiko, mekanisme pertumbuhan, dan teknologi diagnostik seperti MRI payudara untuk penanganan yang tepat. Dimana MRI payudara memiliki sensitivitas tertinggi di antara modalitas pencitraan klinis, mendeteksi tumor kecil yang tidak terlihat pada mamografi atau USG. Digunakan sebagai alat tambahan untuk skrining dan evaluasi kanker payudara pada wanita dengan riwayat keluarga atau mutasi genetik. Penting dalam menentukan ukuran, lokasi tumor, dan area tambahan sebelum operasi. Pada pemeriksaan MRI Breast ini memerlukan beberapa persiapan, dari persiapan pasien, persiapan media kontras serta persiapan alat dan bahan. Teknik akuisisi MRI Breast minimal harus mencakup tiga sequence yaitu T2-Weighted, Multiphase T1-Weighted, dan Diffusion- Weighted Imaging. T2W digunakan untuk menvisualisasikan kista, kelenjar getah bening, dan struktur berair dengan jelas. Multiphase T1W dengan fat suppressed sequences digunakan untuk evaluasi<\/p>\n<p>serapan kontras dan profil kinetik lesi. Sedangkan DWI digunakan bersama dengan DCE-MRI untuk meningkatkan spesifisitas deteksi kanker, menjanjikan manfaat skrining kanker secara luas. MRI berbobot T1 meningkatkan sinyal jaringan lemak, sedangkan MRI berbobot T2 meningkatkan sinyal air. Kelemahan dari MRI melibatkan waktu pemindaian yang lama serta potensi artefak gerakan. Urutan tambahan, seperti non-fat saturated T1- weighted, dapat membedakan lesi yang mengandung lemak<\/p>\n<p><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><br \/>\nAirlangga, F. K. M. U. (2013). Analisis risiko kanker payudara berdasar riwayat pemakaian kontrasepsi hormonal dan usia menarche. 12\u2013 23.<\/p>\n<p>Barke LD, Freivogel ME. Breast Cancer Risk Assessment Models and High- Risk Screening. Radiol Clin North Am. 2017;55(3):457-74<\/p>\n<p>Becker S. A historic and scientific review of breast cancer: The next global healthcare challenge. Int J Gynaecol Obstet. 2015;131<\/p>\n<p>Evans DG, Harkness EF, Howell A, et al. Intensive breast screening in BRCA2 mutation carriers is associated with reduced breast<\/p>\n<p>cancer specific and allcause mortality. Heredit Cancer Clin Pract 2016<\/p>\n<p>Fisik, A., Tipe, P. D., Konsensus, P., &amp; Obat,<br \/>\nS. (2023). Naskah Penulis Naska Penuli Nas Pe Naskah Penulis Naska Penuli Nas. https:\/\/doi.org\/10.1016\/j.acra.2016. 10.014.Hasil<\/p>\n<p>Gunawan, Robi Aziz Zuama, Ramdhan Saepulrohman, Hamdun Sulaiman, Muhamad Abdul Ghani. (2019). DETEKSI OTOMATIS KANKER PAYUDARA MENGGUNAKAN METODE MORPHOLOGICAL RECONSTRUCTION DENGAN K-MEANS CLUSTERING PADA CITRA MRI. JURNAL SWABUMI,<br \/>\nVol. 7 No.1<\/p>\n<p>Haider, R. (2023). Anatomy of the Breast.<br \/>\n1(5), 401\u2013422.<\/p>\n<p>Houssami N Overdiagnosis of breast cancer in population screening: does it make breast screening worthless? Cancer Biol Med 2017;14(1):1\u20138<\/p>\n<p>Lee, C., Bhatt, A., Felmlee, J. P., Trester, P., Lanners, D., Paulsen, A., Brunette, J., &amp; Lee, C. (2020). How to Safely Perform Magnetic Resonance Imaging-guided Radioactive Seed Localizations in the Breast. 10(19),<\/p>\n<p>1\u20135. https:\/\/doi.org\/10.25259\/JCIS<\/p>\n<p>Mann, R. M., Cho, N., Moy, L., &amp; See, O.<br \/>\nS. (2019). Breast MRI\u202f: State of the Art.<\/p>\n<p>Monticciolo DL, Newell MS, Moy L, et al. Breast cancer screening in women at higher-thanaverage risk: recommendations from the ACR. J Am Coll Radiol 2018;15(3 Pt A):408\u201314.<\/p>\n<p>Moraes, M. O., Forte, G. C., Guimar\u00e3es, A.<br \/>\nD. S. G., Grando, M. B. F. da P., Junior, S. A., Kepler, C., &amp; Hochhegger, B. (2022). Breast MRI: Simplifying Protocol and BI-RADS Categories. Clinical Breast Cancer, 22(5), e615\u2013e622.<br \/>\nhttps:\/\/doi.org\/10.1016\/j.clbc.2022. 03.006<\/p>\n<p>Radhakrishna, S., Agarwal, S., Parikh, P. M., Kaur, K., Panwar, S., Sharma,<br \/>\nS., Dey, A., &amp; Saxena, K. K. (2018).<br \/>\nRole of magnetic resonance imaging in breast cancer management. 69\u201371. https:\/\/doi.org\/10.4103\/sajc.sajc<\/p>\n<p>Thomassin-Naggara, I., Trop, I., Lalonde, L., David, J., P\u00e9loquin, L., &amp; Chopier, J. (2012). Tips and techniques in breast MRI. Diagnostic and Interventional<\/p>\n<p>Imaging, 93(11), 828\u2013839.<br \/>\nhttps:\/\/doi.org\/10.1016\/j.diii.2012.0 6.004<\/p>\n<p>WHO (2018). Breast cancer: Early diagnosis and screening. World Health Organization<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Putri Aida Yasmin, Inas Al Azizu Isyraq, Cindy Stevania, Cherise A. M, Roechan Elfin P Universitas Airlangga Program Studi D4 Teknologi Radiologi Pencitraan Abstrak Pendahuluan: Kanker Payudara adalah salah satu kanker yang paling sering didiagnosa pada perempuan di seluruh dunia, dan merupakan salah satu penyebab kematian akibat kanker yang paling sering pada wanita. Di Indonesia, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[33],"tags":[],"class_list":["post-8271","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-makalah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8271","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8271"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8271\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8271"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8271"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8271"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}