{"id":7737,"date":"2023-11-22T19:26:18","date_gmt":"2023-11-22T11:26:18","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=7737"},"modified":"2023-11-22T19:59:47","modified_gmt":"2023-11-22T11:59:47","slug":"menyentuh-hati-seperti-ini-makna-salah-satu-lagu-daerah-ntt-yang-berjudul-oras-loron-malirin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/menyentuh-hati-seperti-ini-makna-salah-satu-lagu-daerah-ntt-yang-berjudul-oras-loron-malirin\/7737\/","title":{"rendered":"Menyentuh Hati, Seperti Ini Makna Salah Satu Lagu Daerah NTT yang Berjudul Oras Loron Malirin!"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: <strong>Lili Nitbani<br \/>\nProdi Musik FSP ISI Yogyakarta<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Lagu Oras Loron Malirin telah ada sejak zaman dahulu, dan penciptanya tidak diketahui. Lagu ini muncul karena dipengaruhi oleh kehidupan masyarakat setempat, yang mayoritasnya terlibat dalam profesi sebagai petani, nelayan, buruh, pedagang, dan pekerja bangunan.<\/p>\n<p>Kisah dalam lagu Oras Loron Malirin menceritakan tentang perpisahan antara orang tua dan anaknya atau orang yang sangat dicintainya. Orang tua tersebut pergi merantau karena kondisi ekonomi keluarga yang sangat sulit. Akhirnya, salah satu dari mereka harus meninggalkan anak-anaknya untuk mencari nafkah dan menyokong keluarga.<\/p>\n<p>Nama lagu, Oras Loron Malirin, bermakna waktu matahari terbenam, yang mencerminkan waktu sore hari. Saat itu, penduduk setempat, termasuk petani, buruh, pedagang, dan lainnya, kembali ke rumah setelah menjalani pekerjaan mereka. Bagi para nelayan, sore hari adalah waktu untuk pergi melaut guna mencari ikan demi menyokong keluarga mereka, walaupun hal tersebut melibatkan risiko yang besar di tengah lautan.<\/p>\n<p>Berikut adalah lirik dan terjemahan dari lagu Oras Loron Malirin<\/p>\n<p>Oras Loron Malirin<br \/>\nKarya \u201cNN\u201d<\/p>\n<p>Oras loron malirin<br \/>\n\u201cwaktu matahari terbenam\u201d<br \/>\nTeu tanis lakateu tanis<br \/>\n\u201cmenangislah burung merpati\u201d<br \/>\nTani na\u2019ak nian ina,<br \/>\nSedih tertinggal induknya\u201d<br \/>\nRo sina sa\u2019e ro sina<br \/>\nYang menghilang di bawa kapal\u201d<\/p>\n<p>Taka sela ba kuda<br \/>\n\u201cpasang pelana kuda\u201d<br \/>\nKun turu bete lun turu<br \/>\n\u201cair mata gadis bercucuran\u201d<br \/>\nBete keta lun turu<br \/>\n\u201cjanganlah gadis menangis\u201d<br \/>\nMai kikar ba mai kikar<br \/>\n\u201ckupergi akan Kembali\u201d<\/p>\n<p>Ohin laka serani<br \/>\n\u201cMalam ini berkumpul\u201d<br \/>\nai ida mutu ai ida<br \/>\n\u201ckita masih Bersama-sama\u201d<br \/>\nautan ami ain foho<br \/>\n\u201cbesok kamikan ke gunung\u201d<br \/>\nain tasi ami ain tasi<br \/>\n\u201ckamu akan menuju laut\u201d<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Lili Nitbani Prodi Musik FSP ISI Yogyakarta JurnalPost.com &#8211; Lagu Oras Loron Malirin telah ada sejak zaman dahulu, dan penciptanya tidak diketahui. Lagu ini muncul karena dipengaruhi oleh kehidupan masyarakat setempat, yang mayoritasnya terlibat dalam profesi sebagai petani, nelayan, buruh, pedagang, dan pekerja bangunan. Kisah dalam lagu Oras Loron Malirin menceritakan tentang perpisahan antara [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-7737","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-citizen-reporter"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7737","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7737"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7737\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7737"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7737"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7737"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}