{"id":703,"date":"2023-06-18T18:12:03","date_gmt":"2023-06-18T10:12:03","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=703"},"modified":"2023-06-18T18:12:03","modified_gmt":"2023-06-18T10:12:03","slug":"krisis-literasi-anak-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/krisis-literasi-anak-indonesia\/703\/","title":{"rendered":"Krisis Literasi Anak Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: <strong>Hifni Zakiyah Fadlillah<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Kemajuan teknologi tidak hanya memberi dampak positif bagi kehidupan manusia, banyak juga dampak negatif yang ditimbulkan salah satunya minat membaca buku terutama di kalangan anak saat ini. Saat ini anak indonesia minim dalam hal mengenal buku apa lagi dalam hal membaca, kebiasaan-kebiasaan anak khususnya indonesia saat ini sangat jauh akan literasi.<\/p>\n<p>Minat baca di indonesia semakin hari semakin menurun. Menurut suvey yg di lakukan oleh WHO angka minat baca di indonesia terhutung 0,01%. Peran orang tua sangat di butuhkan dalam mengembangkan literasi anak indonesia. Orang tua sebagai langkah pendidikan pertama dalam mengembangkan minat, bakat serta karakter. Orang tua adalah tempat pendidikan pertama bagi anak dimana dari orang tualah anak dapat mengenal hal-hal baru dan dari orang tualah anak belajar dan melakukan pembiasaan yang hasilnya akan jadi kebiasaan atau lebih populer dengan istilah hebit, dan Dari hebit ini lah yang akan dibawa anak samapi dirinya besar,remaja bahkan dewasa.<\/p>\n<p>Peran orang tau dalam pendidikan anak saat ini hampir bisa dikatakan berkurang. Orang tua saat ini lebih acuh terhadap pendidikan anak dan lebih banyak menyerahkan pendidikan anaknya pada pihak sekolah. Banyak orang tua yang menggap mendidik anak sudah selesai bila sudah mendapatkan sekolah yang berkualitas dengan pengajar atau guru yang berkualitas pula. Padahal hakikat mendidik anak sepenuhnya ada di tangan orang tua dan menjadi tanggungjawab yang mutlak dari orang tua kepada anak. Banyak sekali anak indonedia yang tidak mendapat hak pendidikan yang utuh dari orang tua terhadap anak. Mungkin saat ini sudah menjadi hal yang lumrah ketika anak tidak mendapat pendampingan pendampingan penuh dalam kegiatan belajar sehari hari.<\/p>\n<p>Membiasakan anak membaca buku sejak dini menjadi bentuk upaya orang tua dalam menanamkan minat belajar khususnya membaca sejak anak berusia dini. Orang tua dapat melakukan pembiasaan ini dari hal-hal kecil seperti ketika anak belajar berbicara anak di kenalkan dengan huruf yang sudah bisa anak ucapkan, dari pembiasaan inilah anak akan terbiasa mengucapkan huruf dan dan melihat huruf yang nantinya ketika dia sudah mulai tumbuh besar anak terbiasa membaca huruf yang bisa dijadikan rangkaian kata ketika membaca hal-hal yang anak temui baik buku maupun kata-kata yang di ruang publik lainnya.<\/p>\n<p>Saat ini orang tua lebih memilih memberikan tontonan video terhadap anak dibandingkan dengan menemani bermain dan membaca buku dongeng atau buku anak lainnya. Menurut survai yang dilakukan oleh oleh Asosiasi penyelengara keringanan jaringan internet indonesia (PKJII) lebih dari setengah penduduk indonesia memiliki jaringan internet yang memadai. Erisman Yahya ( kepala dinas komunikasi dan informasi statistik Provinsi Riau) mengatakan \u201crata-rata masyarakay indonesia menghabiskan waktu lebih dari 8 jam perhari untuk bermain handphone, adapun platform yang sering digunakan yaitu Youtube, Facebook, dan WhatsApp\u201d dari data tersebut dapat diketahui bahwa tak hanya orang dewasa anak-anak pun terbiasa menggunakan handphone secara berlebihan. Orang tua yang lebih banyak memberikan anak tontonan video dengan alasan lebih efisien dalam menjaga anak agar anak tidak nangis dan tidak rewel. <\/p>\n<p>Orang tua tidak banyak mengetahui bahwa mengajarkan literasi terhadap anak sama saja dengan mengajarkan anak untuk melihat pandangan berbeda dan memiliki banyak refrensi untuk melakukan banyak hal untuk mengasah potensi dan memaksimalkan potendi dalam diri anak tersebut. Hal-hal ini yang saat ini banyak dilupakan oleh orang tua terhadap anak. Orang tua saat ini cenderun untuk melakukan hal-hal instan dalam hal mendidik anak, saat ini orang tua cenderun memberikan anak mainan yang tidak perlu pendampingan yang banyak dianggap membuang waktu. Banyak orang tua saat ini mengangap bahwa memberi banyak materi disamakan dengan memberi kasih sayang. Padahal, memberi banyak materi tidak sama dengan memberi banyak waktu, perhatian, dan kasih sayang. Hal.imi lah yang tidak banyak disadari oleh orang tua pada saat ini.<\/p>\n<p>Pilihan menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah, tidak hanya memberikan banyak materi tapi juga harus memberikan banyak waktu dan kasih sayang. Kesiapan orang tua dalam hal fisik maupun mental atau psikologi juga harus jadi bahan pertimbangan untuk menjadi orang tua tidak mudah memang menjadi orang tua, tapi hal tersebut dapat dipelajari oleh calon-calon orang tua untuk mendukung dan juga menjadi dasar untuk melakukan tindakan dalam mendidik anak nantinya. <\/p>\n<p>Setiap anak memiliki karakter yang berbeda hal ini lah yang calon orang tua juga harus menjadi bahan pertimbangan agar tahu cara untuk mengatasi dan memahami karakter untuk mendidik anak yang nantinya anak tidak akan merasa bahwa dirinya diabaykan. Banyak orang tua menumtut anaknya untuk mendapatkan peringkat pertama dalam kelas, tapi orang tua juga lupa untuk melakukan pendampingan dalam hal belajar salah satunya menemanya untuk membaca dan melakukan pembiasaan membaca sejak usia dini.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Hifni Zakiyah Fadlillah JurnalPost.com &#8211; Kemajuan teknologi tidak hanya memberi dampak positif bagi kehidupan manusia, banyak juga dampak negatif yang ditimbulkan salah satunya minat membaca buku terutama di kalangan anak saat ini. Saat ini anak indonesia minim dalam hal mengenal buku apa lagi dalam hal membaca, kebiasaan-kebiasaan anak khususnya indonesia saat ini sangat jauh [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":704,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[24,25],"tags":[],"class_list":["post-703","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kolom-opini","category-pendidikan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/703","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=703"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/703\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/704"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=703"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=703"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=703"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}