{"id":6387,"date":"2023-10-19T11:31:11","date_gmt":"2023-10-19T03:31:11","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=6387"},"modified":"2023-10-19T11:31:11","modified_gmt":"2023-10-19T03:31:11","slug":"fiat-justita-ruat-caelum","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/fiat-justita-ruat-caelum\/6387\/","title":{"rendered":"Fiat justita ruat caelum"},"content":{"rendered":"<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Begitulah bunyi adagium hukum yang cukup populer yang mempunyai arti keadilan harus ditegakkan sekalipun langit akan runtuh. Adagium ini tepat untuk menggambarkan kasus yang ramai dibicarakan di Indonesia pada periode tahun 2016 lalu, yaitu kasus kopi sianida yang melibatkan Jessica Kumala Wongso dengan Wayan Mirna Salihin.<\/p>\n<p>Kasus ini kembali mencuat ke permukaan pasca dirilisnya film dokumenter Netflix yang berjudul Ice Cold: Murder, Coffee, and Jessica Wongso. Dokumenter ini mengangkat kembali salah satu kasus hukum terbesar dan terpopuler di Indonesia yang dulu menyita perhatian publik. Ditambah lagi adanya pernyataan bahwa bukti bahwa matinya dikarenakan sianida dan bukti bahwa Jessica lah pembunuhnya belum kuat. Hal ini menjadikan banyak opini publik yang menganggap bahwa Jessica tidak bersalah atas kematian Mirna karena belum kuatnya bukti. <\/p>\n<p>Kasus ini menjadi salah satu kasus yang menjadikan topik perlunya reformasi hukum yang ada di Indonesia. hal ini terjadi karena banyaknya transparansi dalam pengambilan keputusan pada beberapa kasus di Indonesia. Banyaknya kasus kasus yang tiba tiba diringankan hukumannya yang tidak sesuai dengan hukuman yang seharusnya diterima. Hal tersebut mencerninkan bahwa tidak sesuai bunyi adagium hukum yang cukup populer yang mempunyai arti keadilan harus ditegakkan.<\/p>\n<p>Indonesia sangat diperlukan reformasi hukum untuk memastikan bahwa keadilan ditegakkan dengan benar dan transparan.Kasus kopi sianida yang melibatkan Jessica Kumala Wongso dengan Wayan Mirna Salihin menunjukkan betapa pentingnya transparansi dan keadilan dalam sistem peradilan. Setiap orang berhak mendapat perlakuan yang sama di depan hukum, dan keputusan hukum harus didasarkan pada bukti yang kuat. Jika tidak ada bukti yang cukup untuk membuktikan kesalahan seseorang, maka mereka harus dianggap tidak bersalah. <\/p>\n<p>Namun, sayangnya, banyak kasus di Indonesia di mana keputusan hukum tampaknya didasarkan pada pertimbangan yang kurang jelas terlebih pada kasus yang dialami seseorang yang cukup berperan di Indonesia . Hal ini mencerminkan bahwa ada kekurangan dalam sistem peradilan dan reformasi hukum sangat diperlukan untuk memastikan bahwa keadilan ditegakkan secara adil dan transparan. Kita perlu memperbaiki sistem peradilan dan menjamin bahwa setiap orang mendapatkan perlakuan yang sama di depan hukum, tanpa memandang status sosial, agama, atau latar belakang mereka.<\/p>\n<p>Nama: <strong>charlie<br \/>\nFakultas ilmu hukum universitas Pamulang <\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Begitulah bunyi adagium hukum yang cukup populer yang mempunyai arti keadilan harus ditegakkan sekalipun langit akan runtuh. Adagium ini tepat untuk menggambarkan kasus yang ramai dibicarakan di Indonesia pada periode tahun 2016 lalu, yaitu kasus kopi sianida yang melibatkan Jessica Kumala Wongso dengan Wayan Mirna Salihin. Kasus ini kembali mencuat ke permukaan pasca [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[24],"tags":[],"class_list":["post-6387","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kolom-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6387","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6387"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6387\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6387"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6387"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6387"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}