{"id":6328,"date":"2023-10-17T00:34:39","date_gmt":"2023-10-16T16:34:39","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=6328"},"modified":"2023-10-17T00:34:39","modified_gmt":"2023-10-16T16:34:39","slug":"relevansi-makna-iman-kepada-rasul-dalam-meningkatkan-pendidikan-karakter","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/relevansi-makna-iman-kepada-rasul-dalam-meningkatkan-pendidikan-karakter\/6328\/","title":{"rendered":"Relevansi Makna Iman Kepada Rasul dalam Meningkatkan Pendidikan Karakter"},"content":{"rendered":"<p><strong>Pendahuluan<\/strong><br \/>\nKemajuan teknologi yang terjadi dewasa ini membawa dampak positif yang besar bagi kehidupan manusia dan mahkluk hidup lainnya, akan tetapi dampak negatif yang dibawa oleh kemajuan teknologi bukanlah hal yang dapat diremehkan. Salah satunya adalah terjadinya patologi sosial. Maraknya pembunuhan, penyiksaan, kekerasan, korupsi, pencurian dan lain-lain yang berhubungan dengan krisis moral\/akhlak. Krisis akhlak ini didasari oleh tidak efektifnya pelaksanaan internalisasi pendidikan baik itu yang diberikan rumah (keluarga), di sekolah, maupun diluar keduanya. Pelaksanaanya dianggap belum siap dalam menyiapkan generasi muda. Karena pada dasarnya pelaksanaan dalam membentuk karakter siswa sekolah dasar harus dilakukan secara serentak oleh semua pihak. Seperti guru yang memberikan teladan bagi muridnya. Guru yang profesional akan membawa dampak baik bagi proses belajar dan mengajar. Pendidikan karakter yang berbasis pada akhlak mulia memiliki peluang besar dalam melakukan pengajaran dan pengembangan kemanusiaan. Seperti pendidikan Islam yang memadukan antara aqidah, akhlak, dan syari\u2019ah dalam pembelajaran yang berkiblat pada sifat Rasul dan ayat dalam Al-Qur\u2019an. Pendidikan Islam yang bertujuan membentuk karakter dan akhlak mulia sebagaimana tujuan utama dari pengutusan rasul dalam melaksanakan perintah Allah.<\/p>\n<p><strong>Pembahasan<\/strong><br \/>\n<strong>Pengertian iman kepada rasul<\/strong><br \/>\nIman kepada Rasul merupakan rukun iman yang ke-empat. Makna dari mengimani rasul sendiri adalah percaya dengan sepenuh hati bahwa Allah benar-benar mengutus para rasul, mulai dari yang pertama yakni, Nabi Adam sampai yang terakhir yakni, Nabi Muhammad SAW. untuk menyampaikan risalah dan wahyu yang mereka terima dari Allah untuk para kaumnya. Beriman disini bukan hanya sebatas mempercayai, namun juga meneladani dan menerapkan sifat-sifat terpuji para rasul dalam kehidupan keseharian kita.<\/p>\n<p>Para rasul memiliki kewajiban dalam menjalankan tugasnya, seperti menyampaikan, menyebarkan, dan mengajarkan setiap wahyu yang diterimanya dari Allah, baik secara langsung maupun melewati perantara Malaikat Jibril. Para rasul juga pastinya menjadi panutan dalam segala aspek seperti sifat dan akhlaq bagi para umatnya. Maka dari itu ada banyak sifat terpuji para rasul yang dapat kita teladani dan kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti:<\/p>\n<ol>\n<li>Penyabar dan pemaaf<\/li>\n<\/ol>\n<p>Dalam berdakwah para rasul pasti bertemu dengan banyak manusia yang memiliki watak dan sifat yang berbeda-beda. Sehingga dalam berdakwah pasti ada yang langsung menerima ajaran yang dibawa rasul atau ada yang menolak secara mentah-mentah bahkan tidak segan untuk menghina dan menghusir rasul. Namun, para rasul tidak menyerah dan tidak merasa sakit hati, bahkan beliau mendoakan mereka yang jahat pada rasul agar segera mendapat petunjuk dari Allah.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li>Jujur (<em>shiddiq<\/em>)<\/li>\n<\/ol>\n<p>Para rasul memiliki banyak sifat terpuji yang menyebabkan mereka diterima dan disukai oleh sebagian besar kalangan, salah satunya adalah para rasul senantiasa memperlakukan orang dengan adil dan jujur. Antara perkataan dan perbuatan\u00a0 memiliki keselarasan. Karena sifat ini merupakan sifat inti dalam perjalanan dakwah para rasul. Karena dengan kejujuran masalah akan mudah terselesaikan.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li>Amanah<\/li>\n<\/ol>\n<p>Amanah memiliki arti dapat dipercaya, karena apa yang para rasul sampaikan adalah berita dan ajaran yang benar adanya. Para rasul juga akan menjaga dirinya dari perkara yang menjadi larangan Allah karena mereka tidak akan khianat terhadap perintah Allah.<\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li>Menyampaikan (<em>tabligh<\/em>)<\/li>\n<\/ol>\n<p>Merupakan kewajiban para rasul, menyampaikan apa yang mereka terima tanpa ada kebohongan dan hal yang ditutupi.<\/p>\n<ol start=\"5\">\n<li>Cerdas<\/li>\n<\/ol>\n<p>Semasa menjalankan tugasnya, para rasul pastinya menghadapi berbagai macam cobaan, dari yang hanya ejekan sampai yang dapat mengancam nyawa rasul dan umatnya. Sehingga diperlukannya pemecah masalah. Maka dari itulah rasul diberikan hujjah oleh Allah agar dapat menyelesaikan permasalahan yang ada dengan kecerdasan.<\/p>\n<ol start=\"6\">\n<li>Hidup dalam kesederhanaan<\/li>\n<\/ol>\n<p>Para rasul memilih hidup secara sederhana meskipun beliau mampu untuk hidup mewah. Dan lebih memilih hartanya disumbangkan untuk agama.<\/p>\n<p><strong>Pendidikan karakter <\/strong><br \/>\nPendidikan karakter tidaklah sama dengan pendidikan moral. Pendidikan karakter pembahasannya lebih luas, jika pendidikan moral hanya berkaitan dengan pemahaman mana yang benar dan yang salah. Maka pendidikan karakter mengajarkan bagaimana kebiasaan baik itu dapat ditanamkan dalam kehidupan sehingga peserta didik paham dan memiliki kesadaran juga kepedulian yang tinggi untuk selalu melakukan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan karakter adalah pendidikan yang mengangkat nilai moralitas manusia yang dilakukan secara sadar dan juga dilakukan dalam tindakan nyata. Sehingga dalam pendidikan karakter peaksananya harus sadar dan mengetahui nilai apa yang sedang ia lakukan dan mengapa dia melakukan nilai itu. Nilai itu adalah nilai yang membantu seseorang hidup lebih baik terhadap dirinya sendiri, lingkungan sekitarnya, dalam kehidupan bernegara dan kepada Allah. Ada tiga unsur yang ditanamkan dalam pemahaman pendidikan karakter<em>. Pertama<\/em>, unsur kognitif yang mencakup pikiran, pengetahuan, dan kesadaran. <em>Kedua<\/em>, unsur afektif (perasaan) dan yang <em>ketiga, <\/em>unsur psikomotorik atau perilaku.<\/p>\n<p><strong>Relevansi Makna Iman Kepada Rasul dalam Meningkatkan Pendidikan Karakter<\/strong><br \/>\nPara rasul adalah seorang laki-laki yang diberikan keistimewaan dari Allah dan datang dengan membawa risalah atau ajaran yang berisikan iman, islam, dan ihsan yang juga meliputi aqidah, akhlak, dan syari\u2019ah. Di Islam manusia memiliki kewajiban untuk mengimani Allah, kitab-kitab, rasul, hari akhir, dan qadha\u2019 dan qadar. Dalam mempelajari iman kepada enam perkara tersebut pastinya kita dibekali dengan pemahaman dan makna perihal keimanan tersebut. Seperti percaya bahwa Allah itu ada, menjalankan perintah Allah, dan sebagainya, pemahaman tersebut dapat terwujud dengan adanya akhlak yang baik. Akhlak disini berarti reaksi jiwa dan pengaruh terhadap apa yang harusnya kita lakukan dan kita melakukannya dan apa yang harus kita tinggalkan maka kita juga meninggalkannya.<\/p>\n<p>Dimana kita mengetahui akhlak yang baik itu seperti apa? Dengan melihat perilaku baik rasul. Karena pada dasarnya hidup itu berpedoman pada Al-Qur\u2019an dan sunnah. Alasan penulis memilih iman kepada rasul adalah karena dari enam hal yang harus kita imani, hanya rasul lah yang memiliki kesamaan yang sama dengan kita. Manusia biasa. Meskipun ada keistimewaan yang membedakannya. Namun, keteladanan yang paling mudah kita ambil itu ada dari rasul. Ini juga bukan berarti kita tidak wajib untuk mempelajari makna selain dari iman kepada rasul.<\/p>\n<p>Salah satunya dari mata pelajaran aqidah akhlaklah kita dapat mengetahui dan mempelajari mengenai makna dan arti dari iman kepada rasul. Karena pelajaran aqidah akhlak \u00a0memiliki tujuan ntuk membentuk peserta didik yang memiliki karakter juga tingkah laku yang beradab dan baik. Dari tujuan tersebut, maka sarana pendidikan akhlak terdapat dimanpun dan kapanpun. Peran guru dalam memenuhi tujuan dari berjalannya pendidikan karakter juga tidak bisa disepelekan. Justru gurulah yang menjadi sarana bagi para peserta didik dalam memahami dan mempelajari perihal akhlak yang mulia tersebut. Sehingga guru yang profesional sangat dibutuhkan dalam merealisasikan pendidikan karakter yang berdampak baik bagi masa depan peserta didik.<\/p>\n<p><strong>Kesimpulan<\/strong><br \/>\nKemajuan teknologi saat ini membawa dampak positif besar dalam kehidupan manusia, namun juga membawa dampak negatif, termasuk patologi sosial seperti kekerasan, korupsi, dan krisis moral. Untuk mengatasi krisis moral ini, pendidikan karakter yang berbasis pada akhlak mulia sangat penting. Pendidikan Islam, yang mengintegrasikan aqidah, akhlak, dan syari&#8217;ah, dapat menjadi landasan yang kuat dalam pengembangan karakter dan akhlak mulia. Iman kepada rasul, sebagai salah satu rukun iman, memiliki relevansi penting dalam meningkatkan pendidikan karakter. Rasul-rasul adalah panutan dalam segala aspek kehidupan, dengan sifat-sifat seperti kesabaran, kejujuran, amanah, dan kecerdasan yang dapat dijadikan contoh. Pendidikan karakter bukan hanya tentang pemahaman benar dan salah, tetapi juga tentang bagaimana menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dengan melihat pada keteladanan rasul, kita dapat memahami dan mempelajari makna iman kepada rasul, yang pada gilirannya akan membantu membentuk karakter dan akhlak yang baik. Guru memiliki peran penting dalam mengajar dan mempraktikkan pendidikan karakter, sehingga guru yang profesional sangat dibutuhkan dalam proses ini. Dengan demikian, pendidikan karakter yang berbasis pada iman kepada rasul dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam mengatasi krisis moral dan mempersiapkan generasi muda yang lebih baik untuk masa depan.<\/p>\n<p>Oleh: <strong>Sayyidah Fat-Tahtul Arifah<\/strong><\/p>\n<p>Daftar Pustaka<br \/>\nAlamsyah, Y. A. (2017). Membumikan Sifat Rasul dalam Kepemimpinan Pendidikan.\u00a0<em>Al-Idarah: Jurnal Kependidikan Islam<\/em>,\u00a0<em>7<\/em>(2), 120-141.<\/p>\n<p>Az-Zandani, S. A. M. (2016).\u00a0<em>Ensiklopedi Iman<\/em>. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.<\/p>\n<p>Busroli, A. (2019). Pendidikan akhlak Ibnu Miskawaih dan Imam al-Ghazali dan relevansinya dengan pendidikan karakter di Indonesia.\u00a0<em>AT-Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam<\/em>,\u00a0<em>10<\/em>(2), 71-94.<\/p>\n<p>Harun, C. Z. (2013). Manajemen pendidikan karakter.\u00a0<em>Jurnal pendidikan karakter<\/em>,\u00a0<em>4<\/em>(3).<\/p>\n<p>Salsabila, U. H., Zuhri, M. S., Rahmandhani, M. A., &amp; Alimi, A. W. (2020). Pendidikan Karakter Anak Usia Dini Berbasis Aqidah Akhlak.\u00a0<em>Islamic EduKids: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini<\/em>,\u00a0<em>2<\/em>(02), 27-34.<\/p>\n<p>Sani, R. A., &amp; Kadri, M. (2021).\u00a0<em>Hikmah Kisah Nabi dan Rasul<\/em>. Jakarta: Amzah.<\/p>\n<p>Soetari, E. (2017). Pendidikan Karakter dengan Pendidikan Anak untuk Membina Akhlak Islami.\u00a0<em>Jurnal Pendidikan UNIGA<\/em>,\u00a0<em>8<\/em>(1), 116-147.<\/p>\n<p>Sutarna, N. (2016, August). Pendidikan Karakter Siswa Sekolah Dasar dalam Perspektif Islam. In\u00a0<em>Prosiding Seminar Nasional Inovasi Pendidikan<\/em>.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pendahuluan Kemajuan teknologi yang terjadi dewasa ini membawa dampak positif yang besar bagi kehidupan manusia dan mahkluk hidup lainnya, akan tetapi dampak negatif yang dibawa oleh kemajuan teknologi bukanlah hal yang dapat diremehkan. Salah satunya adalah terjadinya patologi sosial. Maraknya pembunuhan, penyiksaan, kekerasan, korupsi, pencurian dan lain-lain yang berhubungan dengan krisis moral\/akhlak. Krisis akhlak ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[33],"tags":[],"class_list":["post-6328","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-makalah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6328","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6328"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6328\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6328"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6328"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6328"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}