{"id":6031,"date":"2023-10-06T12:08:23","date_gmt":"2023-10-06T04:08:23","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=6031"},"modified":"2023-10-06T12:08:23","modified_gmt":"2023-10-06T04:08:23","slug":"belajar-dan-bermain-sejarah-di-benteng-van-der-wijck","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/belajar-dan-bermain-sejarah-di-benteng-van-der-wijck\/6031\/","title":{"rendered":"Belajar dan Bermain Sejarah di Benteng Van Der Wijck"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-6032\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Belajar-dan-Bermain-Sejarah-di-Benteng-Van-Der-Wijck.jpg\" alt=\"\" width=\"600\" height=\"400\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Belajar-dan-Bermain-Sejarah-di-Benteng-Van-Der-Wijck.jpg 600w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Belajar-dan-Bermain-Sejarah-di-Benteng-Van-Der-Wijck-300x200.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Belajar-dan-Bermain-Sejarah-di-Benteng-Van-Der-Wijck-150x100.jpg 150w\" sizes=\"(max-width: 600px) 100vw, 600px\" \/><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Salah satu bangunan bersejarah peninggalan Belanda dapat dilihat di Kebumen, Jawa Tengah: Benteng Van der Wijck. Benteng ini terletak di Jalan Sapta Marga No. 100, Sidayu, Gombong, tepatnya 2 kilometer dari Stasiun Gombong. Benteng ini telah bergabung dengan warisan budaya, sama seperti kebanyakan bangunan bersejarah.<\/p>\n<p>Benteng tersebut kini menjadi salah satu tempat wisata sejarah paling menonjol di Kebumen. Maklum, selain akomodasi, juga punya perlengkapan bermain dan fasilitas kolam renang. Simak beberapa informasi menarik mengenai Benteng Van der Wijck di bawah ini jika Anda belum pernah berkunjung ke sana. Tinggalkan sejarah hebat di tempat ini!<\/p>\n<p>1. <strong>Awal didirikan berfungsi sebagai kantor VOC<\/strong><br \/>\nAnda pasti pernah mendengar tentang VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) dalam kaitannya dengan sejarah kolonial Belanda. Dahulu, Benteng Van der Wijck berfungsi sebagai markas bisnis perdagangan Hindia Belanda. Hal ini berdampak pula pada pertumbuhan Gombong, yaitu saat ini salah satu kawasan terpadat di Kebumen di luar pusat kota. Gombong merupakan kota yang landasannya adalah perdagangan, menurut buku Gombong Heritage Exploration Route tahun 2018. Diperkirakan mulai terbentuk pada abad ke-18 sebagai akibat interaksi sosial ekonomi antara berbagai kelompok individu yang berbeda asal usul. Terbukti saat ini dengan beragam bangunan yang memadukan gaya arsitektur Jawa, Eropa, dan Cina. Selain itu, Pasar Wonokriyo yang merupakan kawasan perdagangan kekinian juga dekat dengan Stasiun Gombong.<\/p>\n<p>2. <strong>Dibangun pada 1818 dengan nama Forth Cochius<\/strong><br \/>\nBangunan tahun 1818 yang sekarang menjadi kantor VOC ini awalnya dibangun dengan nama Forth Cochius, sebuah benteng pertahanan Belanda. Nama tersebut diambil dari Frans David Cochius, seorang panglima tentara Belanda yang saat itu sedang berperang dengan pejuang Yogyakarta. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Godert Alexander Gerard Philip baron van der Capellen, benteng ini selesai dibangun pada tahun 1844. Hasilnya, benteng ini menjadi satu-satunya benteng berbentuk segi delapan di Indonesia. Ada lebih dari 32 ruangan di dua lantai benteng. Luas benteng 3.606 meter persegi dan terdapat empat pintu masuk utama. Memiliki cerobong asap setinggi 3,33 meter dan tinggi 9,67 meter.<\/p>\n<p>3. <strong>Beralih fungsi sebagai Pupillen School<\/strong><br \/>\nFungsi bangunan ini tidak hanya terpaku sebagai benteng. Melainkan berfungsi sebagai Pupillen School yakni pada tahun 1854- 1912, sekolah semi militer ini dikhususkan bagi orang-orang Eropa serta anak-anak eurasia yang merupakan hasil perkawinan para serdadu Belanda dengan wanita-wanita pribumi. Lambat laun bangunan ini berubah menjadi benteng Van der Wijck, nama komandan yang memiliki peran besar di bidang kemiliteran Belanda. Perubahan fungsi tersebut ikut andil mempengaruhi berbagai lini di sekitar benteng, seperti contohnya tumbuh pemukiman militer. Pemukiman tersebut didiami oleh anggota militer Belanda yang ada di Gombong.<\/p>\n<p>4. <strong>Dijadikan tempat pelatihan anggota PETA saat masa pendudukan Jepang<\/strong><br \/>\nPada masa kependudukan Jepang setelah Belanda berhasil ditaklukan, benteng Van der Wijk masih berfungsi, akan tetapi tempat tersebut tidak lagi didiami oleh pasukan Belanda melainkan sebagai tempat pelatihan pasukan tentara Jepang yang dikenal sebagai pembela tanah air ( PETA). Peralihan fungsi tersebut masih bertahan hingga Indonesia dapat merdeka. Fungsi bangunan tersebut juga sebagai barang angkatan bersenjata republik Indonesia (ABRI) hingga 1980.<\/p>\n<p>Pada tahun 2000 fungsi bangunan ini masih berhubungan dengan bidang militer, akan tetapi fungsi tersebut berubah menjadi tempat tinggal anggota TNI angkatan darat. Di sekitar bangunan benteng juga masih sangat kental dengan sejumlah bangunan yang berkaitan dengan militer, seperti contohnya sekolah TK Kartika Gombong serta kuburan Belanda.<\/p>\n<p><strong>Arsitektur dan Keunikan Benteng<\/strong><br \/>\nBenteng Van der Wijk memiliki arsitektur khas Belanda dengan sentuhan gaya arsitektur Eropa pada masa itu. Bangunannya terbuat dari batu bata merah yang diperlukan dengan kayu sebagai bahan utama. Bangunan ini juga berbentuk segi delapan yang sangat unik. Benteng ini memiliki beberapa menara pengawas yang memberikan pemandangan luas ke sekitar wilayah Gombong.<\/p>\n<p>Oleh: <strong>Wanto Rityan Saputro<\/strong>\/Mahasiswa Universitas Negeri Semarang<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Salah satu bangunan bersejarah peninggalan Belanda dapat dilihat di Kebumen, Jawa Tengah: Benteng Van der Wijck. Benteng ini terletak di Jalan Sapta Marga No. 100, Sidayu, Gombong, tepatnya 2 kilometer dari Stasiun Gombong. Benteng ini telah bergabung dengan warisan budaya, sama seperti kebanyakan bangunan bersejarah. Benteng tersebut kini menjadi salah satu tempat wisata [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-6031","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-citizen-reporter"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6031","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6031"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6031\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6031"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6031"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6031"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}