{"id":5956,"date":"2023-10-03T00:50:57","date_gmt":"2023-10-02T16:50:57","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=5956"},"modified":"2023-10-03T00:50:57","modified_gmt":"2023-10-02T16:50:57","slug":"menggali-kearifan-lokal-desa-jolotigo-dalam-mempraktikkan-toleransi-dan-moderasi-agama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/menggali-kearifan-lokal-desa-jolotigo-dalam-mempraktikkan-toleransi-dan-moderasi-agama\/5956\/","title":{"rendered":"Menggali Kearifan Lokal Desa Jolotigo dalam Mempraktikkan Toleransi dan Moderasi Agama"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_5957\" aria-describedby=\"caption-attachment-5957\" style=\"width: 417px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Gambar1-1.jpg\" alt=\"\" width=\"417\" height=\"431\" class=\"size-full wp-image-5957\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Gambar1-1.jpg 417w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Gambar1-1-290x300.jpg 290w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Gambar1-1-150x155.jpg 150w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Gambar1-1-300x310.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 417px) 100vw, 417px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-5957\" class=\"wp-caption-text\">Tiang kampung moderasi agama desa jolotigo. Foto Dokumentasi Pribadi.<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Toleransi merupakan suatu hal yang sangat di junjung tinggi bagi masyarakat sekitar dalam kehidupan sehari-hari pada khususnya. Baik dari segi perbedaan agama,kerukunan masyarakat, menghargai pendapat sesama individu. Desa jolotigo merupakan suatu objek penelitian yang dilakukan oleh mahasiswi UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan terkait desa bermoderasi agama yang patut dicontoh oleh khalayak umum.<\/p>\n<p>Penelitian yang  saya lakukan pada 20 september 2023 di desa Jolotigo, Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan. Menjadi objek penelitian yang sangat menarik sebagai desa moderasi agama. Didalam desa ini terdapat 2 agama yaitu Kristen dan islam, dengan adanya perbedaan agama tidak membuat masyarakat sekitar mengalami perbedaan satu sama lain baik dari segi kehidupan, perbedaan pendapat, melainkan adanya kerukunan antar agama sehingga menjadi destinasi desa yang bisa dijadian penelitian menarik terkait adanya moderasi agama dalam desa tersebut.<\/p>\n<figure id=\"attachment_5958\" aria-describedby=\"caption-attachment-5958\" style=\"width: 419px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Gambar2.jpg\" alt=\"\" width=\"419\" height=\"315\" class=\"size-full wp-image-5958\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Gambar2.jpg 419w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Gambar2-300x226.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/10\/Gambar2-150x113.jpg 150w\" sizes=\"(max-width: 419px) 100vw, 419px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-5958\" class=\"wp-caption-text\">Mahasiswi UIN Gusdur dengan Narasumber. Foto Dokumentasi Pribadi<\/figcaption><\/figure>\n<p>Pandangan saya terkait desa ini, bisa dijadikan suri tauladan bagi khalayak umum, terkait moderasi agama yang berada di desa Jolotigo. Tentunya, kita sebagai seorang mahasiswi tertarik akan hal ini mengenai kerukunan antar warga desa, memahami perbedaan satu sama lain sehingga terciptalah kesejahteraan antar agama didesa jolotigo ini. Adanya masjid, gereja yang berdiri berdampingan dalam 1 lingkup tidak menjadi masalah besar bagi warga disini dengan perbedaan keyakinan yang ada. Menariknya, ketika kedua agama ini sedang merayakan perayaan hari besarnya, contohnya saat hari raya idul fitri umat Kristen berbondong-bondong saling bersilaturahmi dengan orang islam yang sedang merayakan hari raya idul fitri tersebut, walaupun ikut berpartisipasi namun mereka tetap pada keyakinannya masing-masing, begitu juga sebailknya.<\/p>\n<p>Dan juga beberapa peluang besar lapangan pekerjaan bagi warga setempat dalam desa ini juga terbuka lebar bagi siapapun yang ingin bekerja seperti: konveksi, petani kebun teh,  beternak, berdagang melalui media sosial. Generasi muda disana hampir tidak ada yang menganggur (bekerja), karena terdapat peluang lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. Seperti yang dikatakan oleh salah satu narasumber saya yaitu pak Taruno selaku kepala desa Jolotigo \u201c saya sebagai kepala desa jolotigo menginginkan kesejahteraan  masyarakat antar agama di desa ini tetap tercipta semestinya seperti kerukunan yang ada, kemudian saling toleransi antar satu sama lain, bergotong royong, sehingga terbentuklah warga yang mensejahterakan perbedaaan keyakinan namun tetap bisa bersatu dalam 1 lingkup\u201d. Ungkapnya.<\/p>\n<p>Hal ini tentunya menjadi daya Tarik lebih bagi  mahasiswi ataupun generasi muda dalam mengetahui, kemudian mengambil pengajaran  tentang desa yang menerapkan adanya moderasi agama didalamnya khusunya. Kemudian bisa menerapkan sikap toleransi dimanapun kalian berada, karena dengan adanya toleransi antar agama bisa melatih kita akan arti dari menghargai perbedaan antar individu, agama, lingkungan. Sehingga patut diteladani akan keberagaman warga nya mengenai moderasi yang tercipta sepeti pemaparan diatas.<\/p>\n<p>Penulis: Faranisa Laila<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Toleransi merupakan suatu hal yang sangat di junjung tinggi bagi masyarakat sekitar dalam kehidupan sehari-hari pada khususnya. Baik dari segi perbedaan agama,kerukunan masyarakat, menghargai pendapat sesama individu. Desa jolotigo merupakan suatu objek penelitian yang dilakukan oleh mahasiswi UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan terkait desa bermoderasi agama yang patut dicontoh oleh khalayak umum. Penelitian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-5956","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-citizen-reporter"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5956","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5956"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5956\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5956"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5956"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5956"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}