{"id":567,"date":"2023-06-17T17:08:43","date_gmt":"2023-06-17T09:08:43","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=567"},"modified":"2023-06-17T17:09:05","modified_gmt":"2023-06-17T09:09:05","slug":"menyikapi-pemakaian-gadget-pada-anak-dibawah-umur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/menyikapi-pemakaian-gadget-pada-anak-dibawah-umur\/567\/","title":{"rendered":"Menyikapi Pemakaian Gadget pada Anak Dibawah Umur"},"content":{"rendered":"<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Gadget tidak hanya bisa digunakan oleh orang dewasa dan anak remaja, melainkan juga anak di bawah umur. Melansir dataindonesia.id (20 Februari 2023) laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sebanyak 33,44% anak usia dini berusia 0-6 tahun di Indonesia sudah bisa menggunakan ponsel pada 2022. Sementara 24,96% dari mereka juga mampu mengakses internet. <\/p>\n<p>Pemakaian gadget oleh anak di bawah umur dapat memiliki dampak positif dan negatif, tergantung pada cara dan batasan yang diterapkan oleh orang tua. Gadget seperti smartphone atau tablet dapat menjadi alat yang bermanfaat untuk pendidikan, hiburan, dan komunikasi. Namun penggunaan yang tidak terkendali dan berlebihan dapat berdampak negatif pada perkembangan anak.<\/p>\n<p>Dalam hal pendidikan, gadget dapat menyediakan akses ke berbagai sumber belajar online dan aplikasi edukatif. Anak-anak dapat belajar melalui permainan interaktif, video pembelajaran, dan aplikasi yang dirancang khusus untuk mengembangkan keterampilan mereka. Ini dapat membantu meningkatkan pemahaman mereka tentang berbagai konsep dan memperluas pengetahuan mereka. <\/p>\n<p>Dilansir dari dppkbpppa.pontianak.go.id (4 Agustus 2022) pemakaian gadget dapat membantu anak mengembangkan proses berpikirnya. Hal tersebut dikarenakan anak-anak dapat lebih terlibat dengan konten dan memikirkannya dari sudut pandang yang berbeda. Sehingga ketika dihadapkan pada ide-ide baru maka mereka mulai berpikir dengan cara baru dan menemukan solusinya. <\/p>\n<p>Di sisi lain, penggunaan gadget yang berlebihan dapat menyebabkan anak kehilangan waktu bermain, berinteraksi sosial secara langsung, atau melakukan aktivitas fisik. Ini dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik dan emosional mereka. <\/p>\n<p>Terpapar radiasi merupakan salah satu dari dampak negatif pada daya kembang anak. Bahaya radiasi  gadget  terhadap  daya  kembang  anak  adalah  radiasi  dari  penggunaan  gadget  yang    tergolong  gelombang  tinggi, bukan merupakan  gelombang  yang  sangat  mematikan  dan  berbahaya.  Tapi  bukan  berarti kemungkinan adanya efek samping tidak ada. Radiasi gadget pada level tinggi serta dengan intensitas yang intensif dapat  merusak  jaringan  tubuh (Irfan, 2022).<\/p>\n<p>Pemakaian gadget yang berlebihan biasanya disebabkan oleh orang tua yang dengan mudahnya memberikan gadget kepada anak. Melansir dari kompasiana.com (23 Februari 2021) orang tua pada dasarnya hanya ingin menunjukkan kasih sayang kepada anak dengan memberikan fasilitas seperti gadget. Namun hal tersebut tentunya dapat menyebabkan kesenangan dan kecenderungan kepada anak terhadap pemakaian gadget.<\/p>\n<p>Dalam konteks ini, penting bagi orang tua untuk memperhatikan penggunaan gadget oleh anak di bawah umur. Menerapkan batasan waktu yang wajar untuk penggunaan gadget, mengawasi konten yang diakses anak, dan memastikan bahwa anak tetap terlibat dalam kegiatan sosial dan fisik di luar teknologi adalah langkah-langkah penting.<\/p>\n<p>Selain itu, orang tua juga dapat menggunakan teknologi sebagai alat untuk berinteraksi dengan anak-anak mereka. Misalnya, bermain game bersama atau menggunakan aplikasi untuk belajar bersama dapat memperkuat hubungan orang tua-anak dan membantu dalam proses pembelajaran.<\/p>\n<p>Secara keseluruhan, pemakaian gadget untuk anak di bawah umur adalah sebuah pilihan yang kompleks. Jika digunakan dengan bijak dan dengan pengawasan yang tepat, gadget dapat menjadi alat yang bermanfaat dalam mendukung pendidikan dan hiburan anak-anak. Namun, perlu diingat bahwa gadget tidak boleh menggantikan interaksi sosial dan kegiatan fisik yang penting bagi perkembangan anak.<\/p>\n<p>Oleh: <strong>Ni Komang Dilla Ayu Puspa Rini<\/strong><br \/>\nMahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan<br \/>\nUniversitas Negeri Semarang<\/p>\n<p><strong>Sumber<\/strong>:<br \/>\nAdmin. (2022). Dampak Penggunaan Gadget Terhadap Perkembangan Sosial Anak. [dppkbpppa.pontianak.go.id\/informasi\/berita\/dampak-penggunaan-gadget-terhadap-perkembangan-sosial-anak#]<br \/>\nIrfan, N. A. (2022). Strategi Pendampingan Orang Tua Terhadap Dampak Penggunaan Gadget Terhadap Perkembangan Anak di Kecamatan Sape. Jurnal Pendidikan, 8-11.<br \/>\nRizaty, M. A. (2023). Sebanyak 33,4% Anak Usia Dini di Indonesia Sudah Main Ponsel. [dataindonesia.id\/internet\/detail\/sebanyak-334-anak-usia-dini-di-indonesia-sudah-main-ponsel]<br \/>\nSyifa, V. (2021). Pentingnya Peran Orang Tua Dalam Penggunaan Gadget Pada Anak Dibawah Umur. [https:\/\/www.kompasiana.com\/vidyasyifa7155\/603486108ede487c684df9c2\/pentingnya-peran-orang-tua-dalam-penggunaan-gadget-pada-anak-dibawah-umur]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Gadget tidak hanya bisa digunakan oleh orang dewasa dan anak remaja, melainkan juga anak di bawah umur. Melansir dataindonesia.id (20 Februari 2023) laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sebanyak 33,44% anak usia dini berusia 0-6 tahun di Indonesia sudah bisa menggunakan ponsel pada 2022. Sementara 24,96% dari mereka juga mampu mengakses internet. Pemakaian [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":568,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-567","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/567","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=567"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/567\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/568"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=567"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=567"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=567"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}