{"id":4101,"date":"2023-08-14T08:50:02","date_gmt":"2023-08-14T00:50:02","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=4101"},"modified":"2023-08-14T08:50:02","modified_gmt":"2023-08-14T00:50:02","slug":"lestari-beri-solusi-untuk-masalah-sampah-dan-daya-resapan-air-tanah-mahasiswa-kkn-tim-ii-undip-2022-2023-timbun-lubang-biopori-di-lahan-kosong-desa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/lestari-beri-solusi-untuk-masalah-sampah-dan-daya-resapan-air-tanah-mahasiswa-kkn-tim-ii-undip-2022-2023-timbun-lubang-biopori-di-lahan-kosong-desa\/4101\/","title":{"rendered":"Lestari!!! Beri Solusi Untuk Masalah Sampah dan Daya Resapan Air Tanah, Mahasiswa KKN Tim II Undip 2022\/2023 Timbun Lubang Biopori di Lahan Kosong Desa"},"content":{"rendered":"<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Kutosari, Kec Gringsing, Kab. Batang\u2013 Selasa (01\/08\/2023) Mahasiswa KKN Undip Tim II Universitas Diponegoro 2022\/2023 sukses menyumbangkan pengetahuannya dalam meningkatkan resapan air tanah, mencegah banjir, dan menyediakan pupuk kompos. Tim KKN mengidentifikasi sebuah permasalahan yang terdapat di Desa Kutosari yaitu dalam memusnahkan sampah masih dengan cara dibakar dan juga keringnya tanah di lahan sekitar. Warga Desa Kutosari pada Wilayah IV memiliki beberapa lahan kosong yang kemudian satu di antara wilayah tersebut dimanfaatkan sebagai wilayah lubang resapan biopori. Melalui koordinasi Ibu Kadus setempat kemudian diadakan kumpulan Tim KKN bersama warga yang bertujuan untuk mengenalkan tujuan dan cara pembuatan lubang biopori.<\/p>\n<p>Lubang biopori bekerja dengan prinsip berbagai jenis sampah organic mulai dari daun kering, ranting, potongan kulit buah, sayur, sisa makanan, hingga tulang dapat dimasukkan ke dalam lubang biopori. Hal ini untuk mengundang biota tanah untuk berekosistem. Hanya saja untuk mengurangi bau yang dihasilkan, sampah daun kering perlu juga dimasukkan setelah memasukkan sampah  rganic basah. Setelah itu, proses mengompos sudah berjalan tanpa dibutuhkan proses pengadukan secara berkala. Selang beberapa waktu, sampah  rganic pun akan menyusut dan sampah  rganic harus dimasukkan lagi secara berkala. Setelah 2 \u2013 3 bulan sampah akan berubah menjadi pupuk kompos. Pupuk kompos dapat diambil dengan mengeluarkan pipa dari dalam tanah dan membuka tutupnya. Kemudian pupuk yang sudah diambil dikeringkan dan diayak dan sudah siap digunakan. Dalam pelaksanaan pembuatan Lubang Resapan Biopori (LRB) ini dibantu oleh warga dan kadus wilayah IV serta teman KKN.<\/p>\n<p>Untuk cara pembuatan Lubang Resapan biopori ini yaitu hal yang pertama dilakukan mempersiapkan alat dan bahan, dimana alat nya yaitu bor, pipa PVC diameter 4\u201d dengan kedalaman 60 cm sebanyak 4 buah, dop pipa PVC sebanyak 4 buah, linggis, cangkul. Sedangkan untuk bahan yaitu sampah organic dan air. Langkah selanjutnya yaitu Pipa PVC beserta dop tersebut di lubangi menggunakan bor. Selanjutnya ditentukan titik dimana akan dibuat Lubang Resapan Biopori (LRB), pada kesempatan ini Mahasiswi KKN TIM II UNDIP Tahun 2023 membuat di dua titik yaitu di titik pertama terdapat tiga lubang dan titik kedua terdapat 1 lubang dengan ketentuan jarak antar lubang 1 m. <\/p>\n<figure id=\"attachment_4102\" aria-describedby=\"caption-attachment-4102\" style=\"width: 430px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/ttk.png\" alt=\"\" width=\"430\" height=\"347\" class=\"size-full wp-image-4102\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/ttk.png 430w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/ttk-300x242.png 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/ttk-150x121.png 150w\" sizes=\"(max-width: 430px) 100vw, 430px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-4102\" class=\"wp-caption-text\">Gambar Lokasi Titik Lubang Resapan Biopori (LRB)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Kemudian dilakukan penggalian tanah, untuk mempermudah penggalian tanah ini dilakukan dengan cara menyirami titik tersebut dengan air lalu digali dengan menggunakan linggis sampai kedalaman 60 cm. Lalu ditanamkan Pipa PVC tersebut ke dalam lubang yang sudah digali tersebut dan nantinya di lubang tersebut yang sudah terisi dengan Pipa PVC di isi dengan sampah organic kemudian di tutup menggunakan dop pipa PVC. <\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/Cuplikan-layar-2023-08-14-084813.png\" alt=\"\" width=\"670\" height=\"302\" class=\"aligncenter size-full wp-image-4103\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/Cuplikan-layar-2023-08-14-084813.png 670w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/Cuplikan-layar-2023-08-14-084813-300x135.png 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/Cuplikan-layar-2023-08-14-084813-150x68.png 150w\" sizes=\"(max-width: 670px) 100vw, 670px\" \/><\/p>\n<p>Dalam pengenalan mengenai lubang biopori ini warga antusias dan menyimak dengan baik. Harapan dari pengenalan mengenai lubang biopori yang disampaikan oleh Kecya Felicya Naibaho (Teknik Lingkungan) adalah warga dapat menerapkan lubang biopori ini di tiap lahan kosong dan mengembangkan sendiri tanah resapan desa. Tidak hanya itu, diharapkan juga warga sudah mengenal melalui prinsip kerja dari cara pembusukan sampah organik melalui peran biota tanah<\/p>\n<p>Penulis: Kecya Felicya Naibaho (Teknik Lingkungan \u2013 Fakultas Teknik)<br \/>\nLokasi KKN: Desa Kutosari, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang<br \/>\nDosen Pembimbing Lapangan\t: Faik Kurohman, S.Pi., M.Si.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com &#8211; Kutosari, Kec Gringsing, Kab. Batang\u2013 Selasa (01\/08\/2023) Mahasiswa KKN Undip Tim II Universitas Diponegoro 2022\/2023 sukses menyumbangkan pengetahuannya dalam meningkatkan resapan air tanah, mencegah banjir, dan menyediakan pupuk kompos. Tim KKN mengidentifikasi sebuah permasalahan yang terdapat di Desa Kutosari yaitu dalam memusnahkan sampah masih dengan cara dibakar dan juga keringnya tanah di lahan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-4101","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-citizen-reporter"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4101","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4101"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4101\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4101"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4101"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4101"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}