{"id":3197,"date":"2023-08-10T21:07:41","date_gmt":"2023-08-10T13:07:41","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=3197"},"modified":"2023-08-10T21:07:41","modified_gmt":"2023-08-10T13:07:41","slug":"dari-sampah-menjadi-berkah-sosialisasi-pembuatan-eco-enzyme-oleh-mahasiswa-kkn-tim-ii-universitas-diponegoro-di-desa-kebogadung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/dari-sampah-menjadi-berkah-sosialisasi-pembuatan-eco-enzyme-oleh-mahasiswa-kkn-tim-ii-universitas-diponegoro-di-desa-kebogadung\/3197\/","title":{"rendered":"Dari Sampah Menjadi Berkah: Sosialisasi Pembuatan Eco-Enzyme oleh Mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro di Desa Kebogadung"},"content":{"rendered":"<p><strong>Kegiatan ini diinisiasi dari banyaknya sampah organik yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan utama pembuatan eco-enzyme di lingkungan Desa Kebogadung<\/strong>. <\/p>\n<figure id=\"attachment_3198\" aria-describedby=\"caption-attachment-3198\" style=\"width: 624px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/Gambar1-38.jpg\" alt=\"\" width=\"624\" height=\"334\" class=\"size-full wp-image-3198\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/Gambar1-38.jpg 624w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/Gambar1-38-300x161.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/Gambar1-38-150x80.jpg 150w\" sizes=\"(max-width: 624px) 100vw, 624px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-3198\" class=\"wp-caption-text\">Amelia Putri Rahayu, mahasiswa KKN Universitas Diponegoro yang menginisiasi sosialisasi pembuatan eco-enzyme<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Sebanyak 41 orang ibu-ibu dari RW 01 Desa Kebogadung, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Brebes, mengikuti sosialisasi pembuatan eco-enzyme berbahan dasar sampah organik. Kegiatan ini dilaksanakan di halaman rumah Ketua RW 01 Desa Kebogadung pada hari Minggu, 30 Juli 2023. Kegiatan ini diinisiasi oleh Amelia Putri Rahayu, mahasiswa program studi S1 Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro. Amelia yang sedang melaksanakan KKN di Desa Kebogadung tersebut menceritakan bahwa ide pelaksanaan kegiatan ini muncul dari realitas lingkungan yang saat ini sudah sangat mengkhawatirkan. <\/p>\n<p>Sampah organik masih merajai jenis sampah di Indonesia yaitu sebesar 60% yang disusul oleh sampah plastik sebesar 14%. Tingginya produksi sampah organik disebabkan oleh produksi sampah sisa makanan yang mencapai 23-48 ton tiap tahunnya. Selain mengancam kehidupan manusia, sampah organik dapat meningkatkan pencemaran air bersih, gas rumah kaca, dsb. Tidak terkecuali Desa Kebogadung yang mayoritasnya bergerak di bidang pertanian, banyak sekali sampah organik yang tidak ditangani dengan benar. Belum lagi limbah rumah tangga, termasuk sisa-sisa bahan makanan yang selama ini hanya dibiarkan begitu saja. Apabila tidak dilakukan pengelolaan limbah lanjutan, hal ini berkemungkinan menciptakan ketidaknyamanan bahkan masalah yang mendatangkan kerugian bagi lingkungan sekitar. <\/p>\n<p>Oleh sebab itu, eco-enzyme diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kondisi yang memprihatinkan ini. Eco-enzyme merupakan larutan zat organik kompleks yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan organik seperti sisa buah dan sayur, serta molase dan air. Selain proses yang sederhana, bahan-bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan eco-enzyme ini juga cukup mudah didapatkan, dalam hal ini menggunakan bahan utama yang akrab dengan partisipan, yaitu limbah bahan makanan yang digunakan para ibu di dapur.<br \/>\nProses pembuatan eco-enzyme diawali dengan menyiapkan alat dan bahan seperti toples besar berukuran 10L, pisau, talenan, limbah organik (dapat berupa kulit semangka, kulit buah pir, kulit kulit melon, kulit jeruk, atau kulit bawang merah), gula merah sebagai molase, dan air mineral. Limbah organik dipotong menjadi ukuran kecil dan dimasukkan ke dalam toples dengan air: limbah organik: molase adalah 10:3:1. Setelah semua bahan dimasukkan ke dalam toples, toples ditutup dan didiamkan selama 90 hari agar proses fermentasi dapat terjadi dengan sempurna. <\/p>\n<p>Untuk satu minggu pertama, tutup toples dibuka secara rutin setiap hari untuk mengeluarkan gas yang ada di dalam toples. Namun, untuk minggu-minggu selanjutnya, tutup toples cukup dibuka sebanyak 2 hingga 3 kali dalam seminggu. Setelah 90 hari, eco-enzyme akan mencapai hasil akhir berupa cairan berwarna kecokelatan. Salah satu cara untuk memastikan keberhasilan eco-enzyme yang berhasil adalah aroma fermentasi yang pekat dan menyerupai bahan utama pembuatannya. Apabila aroma yang ditimbulkan berbau busuk menyengat, berarti proses fermentasi tidak terjadi dengan sempurna. <\/p>\n<p>Cairan eco-enzyme yang berhasil harus dicampurkan dengan air bersih dengan dosis tertentu terlebih dahulu sebelum digunakan dengan. Beberapa pemanfaatan eco-enzyme di kehidupan sehari-hari adalah membersihkan perabotan rumah tangga, membersihkan lantai, hand sanitizer, pupuk tanaman, pengusir serangga, dan banyak lagi. Ketertarikan para partisipan terhadap pemanfaatan limbah organik ini dapat dikatakan cukup tinggi, terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan setelah pemberian materi dilakukan. Selain itu, beberapa partisipan yang sudah pernah mengetahui terkait eco-enzyme sebelumnya juga ikut dalam kesempatan tanya jawab yang diberikan.<\/p>\n<figure id=\"attachment_3199\" aria-describedby=\"caption-attachment-3199\" style=\"width: 624px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/Gambar2-25.jpg\" alt=\"\" width=\"624\" height=\"316\" class=\"size-full wp-image-3199\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/Gambar2-25.jpg 624w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/Gambar2-25-300x152.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/Gambar2-25-150x76.jpg 150w\" sizes=\"(max-width: 624px) 100vw, 624px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-3199\" class=\"wp-caption-text\">Para peserta sosialisasi pembuatan eco-enzyme di Desa Kebogadung<\/figcaption><\/figure>\n<p>Tidak hanya di lingkup Desa Kebogadung, program ini dilirik hingga berhasil menjadi program terpilih mewakili Desa Kebogadung dalam kegiatan Gelar Karya KKN TIM II Kabupaten Brebes yang dilaksanakan pada tanggal 8 Agustus 2023. Keberadaan eco-enzyme diharapkan dapat menjadi solusi bagi permasalahan pengelolaan sampah organik yang ada di Indonesia, khususnya di Desa Kebogadung. Dengan bahan dan cara yang sederhana, dapat diciptakan cairan eco-enzyme yang memberi banyak manfaat bagi kehidupan manusia. <\/p>\n<p>Penulis: <strong>Natasya Br Tarigan (KKN TIM II Universitas Diponegoro 2023)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kegiatan ini diinisiasi dari banyaknya sampah organik yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan utama pembuatan eco-enzyme di lingkungan Desa Kebogadung. JurnalPost.com &#8211; Sebanyak 41 orang ibu-ibu dari RW 01 Desa Kebogadung, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Brebes, mengikuti sosialisasi pembuatan eco-enzyme berbahan dasar sampah organik. Kegiatan ini dilaksanakan di halaman rumah Ketua RW 01 Desa Kebogadung pada hari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-3197","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-citizen-reporter"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3197","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3197"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3197\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3197"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3197"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3197"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}