{"id":28016,"date":"2026-09-27T09:33:01","date_gmt":"2026-09-27T01:33:01","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=28016"},"modified":"2026-09-27T09:33:01","modified_gmt":"2026-09-27T01:33:01","slug":"optimalisasi-pengelolaan-sampah-melalui-sosialisasi-pemilahan-limbah-domestik-desa-kemloko","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/optimalisasi-pengelolaan-sampah-melalui-sosialisasi-pemilahan-limbah-domestik-desa-kemloko\/28016\/","title":{"rendered":"OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH MELALUI SOSIALISASI PEMILAHAN LIMBAH DOMESTIK DESA KEMLOKO"},"content":{"rendered":"<p><strong><em>Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village<\/em><\/strong><\/p>\n<p><strong><sup>1<\/sup>Melinda Dewi Astuti, M. T, <sup>2<\/sup>Mario Ega Saputra, <sup>3<\/sup>Asyifa Azizia, <sup>4<\/sup>Laidia Silma, <sup>5<\/sup>Nazneen Elfryda Andita Putri, <sup>6<\/sup>Akhlish Khairul Anam, <sup>7<\/sup>Nabilah Naswa Eka Pratiwi, <sup>8<\/sup>Aminuddin Al Abror, <sup>9<\/sup>Satria Riza Maulana, <sup>10<\/sup>Firda Nurul Anggraeni, <sup>11<\/sup>Devina Gayatri Sukmaningtyas, <sup>12<\/sup>Monalig Putiandiraistama, <sup>13<\/sup>Revalina Dian Sri Cahyani, <sup>14<\/sup>Irba Ilzami Al Haq<\/strong><\/p>\n<p>Universitas Muhammadiyah Semarang, Semarang, Indonesia<\/p>\n<p><u>meilindadewiastuti@unimus.ac.id<\/u>, <a href=\"mailto:egasaputra011@gmail.com\">egasaputra011@gmail.com<\/a>, <a href=\"mailto:asyifaazizia@gmail.com\">asyifaazizia@gmail.com<\/a>, <a href=\"mailto:silmalaidia@gmail.com\">silmalaidia@gmail.com<\/a>, <a href=\"mailto:nazneenelfrida01@gmail.com\">nazneenelfrida01@gmail.com<\/a>, <a href=\"mailto:akhishkhoirula@gmail.com\">akhishkhoirula@gmail.com<\/a>, <a href=\"mailto:nabilanaswa32@gmail.com\">nabilanaswa32@gmail.com<\/a>, <a href=\"mailto:abroraminuddin0@gmail.com\">abroraminuddin0@gmail.com<\/a>, <a href=\"mailto:satriarizal62@gmail.com\">satriarizal62@gmail.com<\/a>, <a href=\"mailto:nurulfirda842@gmail.com\">nurulfirda842@gmail.com<\/a>, <a href=\"mailto:devinatyas61@gmail.com\">devinatyas61@gmail.com<\/a>, <a href=\"mailto:monaligputi382004@gmail.com\">monaligputi382004@gmail.com<\/a>, <a href=\"mailto:sricahyanirevalinadian@gmail.com\">sricahyanirevalinadian@gmail.com<\/a>, <u>irbailzami3@gmail.com<\/u><\/p>\n<p><strong>Abstrak<\/strong><\/p>\n<p>Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa melalui penerapan ilmu pengetahuan serta kontribusi dalam membantu menyelesaikan permasalahan di masyarakat. KKN-PPM Universitas Muhammadiyah Semarang dilaksanakan di Desa Kemloko, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, pada 29 Juli hingga 27 Agustus 2026. Berdasarkan hasil observasi, salah satu permasalahan yang ditemukan adalah belum optimalnya pengelolaan sampah domestik, terutama dalam pemilahan sampah berdasarkan jenisnya. Sampah yang tidak dipilah sejak dari sumber dapat menyebabkan sampah tercampur, menghambat proses pengolahan, serta berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Oleh karena itu, mahasiswa KKN melaksanakan program kerja \u201cOptimalisasi Pengelolaan Sampah Melalui Sosialisasi Pemilahan Limbah Domestik\u201d yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pemilahan sampah serta mendorong penerapan pengelolaan sampah yang tepat dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan dilakukan melalui observasi, penyusunan materi, sosialisasi, edukasi, diskusi, dan evaluasi pemahaman masyarakat mengenai pemilahan limbah domestik. Materi meliputi pengenalan sampah organik, anorganik, dan residu serta cara pemilahan sampah dari sumbernya. Hasil kegiatan menunjukkan adanya antusiasme dan partisipasi masyarakat dalam mengikuti kegiatan serta peningkatan pemahaman mengenai pemilahan sampah berdasarkan jenisnya. Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong terbentuknya kebiasaan memilah sampah secara mandiri dan berkelanjutan sehingga mendukung terciptanya lingkungan Desa Kemloko yang lebih bersih, sehat, dan terkelola.<\/p>\n<p><strong>Kata kunci<\/strong>: Pengelolaan sampah, Pemilahan sampah, Limbah domestik, Sosialisasi, Desa Kemloko<\/p>\n<p><strong>Abstract<\/strong><\/p>\n<p><em>The Community Service Program (Kuliah Kerja Nyata\/KKN) is a form of community service carried out by university students through the application of knowledge and contributions to solving problems within the community. The KKN-PPM program of Universitas Muhammadiyah Semarang was conducted in Kemloko Village, Godong District, Grobogan Regency, from July 29 to August 27, 2026. Based on observations, one of the problems identified was the suboptimal management of domestic waste, particularly the separation of waste according to its type. Waste that is not separated at the source can become mixed, hinder the waste treatment process, and potentially cause environmental pollution. Therefore, KKN students implemented a program entitled \u201cOptimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization,\u201d which aimed to improve community knowledge and awareness regarding the importance of waste separation and encourage proper waste management practices in daily life. The activity was conducted through observation, material preparation, socialization, education, discussion, and evaluation of community understanding regarding domestic waste separation. The materials covered the identification of organic, inorganic, and residual waste, as well as proper waste separation at the source. The results showed community enthusiasm and participation during the activity, along with improved understanding of waste separation according to its type. This activity is expected to encourage the community to develop independent and sustainable waste separation habits and support the creation of a cleaner, healthier, and better-managed environment in Kemloko Village.<\/em><\/p>\n<p><strong>Keywords<\/strong>: Waste management, Waste separation, Domestic waste, Socialization, Kemloko Village<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>PENDAHULUAN<\/strong><\/p>\n<p>Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh selama proses pendidikan di perguruan tinggi secara langsung di tengah masyarakat. Melalui kegiatan KKN, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pelaksana program, tetapi juga melakukan identifikasi terhadap berbagai permasalahan yang terdapat di lingkungan masyarakat serta menyusun alternatif penyelesaian berdasarkan kondisi dan kebutuhan setempat. Pendekatan tersebut menjadikan kegiatan KKN sebagai salah satu bentuk kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat dalam mendukung peningkatan kualitas lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.<\/p>\n<p>KKN-PPM Universitas Muhammadiyah Semarang dilaksanakan di Desa Kemloko, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan pada 29 Juli hingga 27 Agustus 2026. Pelaksanaan kegiatan diawali dengan observasi lapangan untuk mengetahui kondisi sosial dan lingkungan serta mengidentifikasi permasalahan yang dapat dijadikan dasar dalam penyusunan program kerja. Salah satu permasalahan lingkungan yang ditemukan adalah pengelolaan sampah domestik yang belum optimal, terutama berkaitan dengan pemilahan sampah berdasarkan jenisnya.<\/p>\n<p>Sampah domestik merupakan sampah yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari masyarakat, khususnya dari kegiatan rumah tangga. Sampah tersebut dapat berupa sisa makanan, daun, kertas, plastik, botol, kemasan, dan berbagai jenis material lainnya. Apabila berbagai jenis sampah tersebut langsung dicampurkan tanpa dilakukan pemilahan, sampah yang sebenarnya masih dapat dimanfaatkan atau didaur ulang akan tercampur dengan sampah residu. Kondisi tersebut dapat menyulitkan proses pengolahan dan meningkatkan jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan.<\/p>\n<p>Permasalahan pengelolaan sampah rumah tangga tidak hanya berkaitan dengan jumlah sampah yang dihasilkan, tetapi juga berkaitan dengan perilaku masyarakat dalam menangani sampah. Nurhayati et al. (2022) menunjukkan bahwa pengetahuan dan sikap memiliki hubungan dengan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Temuan tersebut memperlihatkan pentingnya faktor pengetahuan sebagai salah satu bagian yang mendukung perilaku pengelolaan sampah.<\/p>\n<p>Pemilahan sampah dari sumber merupakan salah satu tahapan penting dalam pengelolaan sampah. Hutabarat dan Mulyani (2022) menjelaskan bahwa pemahaman masyarakat menjadi bagian penting dalam penerapan pemilahan dan pengolahan sampah rumah tangga. Pemilahan, pengurangan, daur ulang, dan pengolahan merupakan bagian yang saling berkaitan dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat.<\/p>\n<p>Permasalahan sampah juga tidak dapat diselesaikan hanya melalui pengangkutan sampah dari rumah menuju tempat pembuangan. Pengelolaan yang hanya berorientasi pada tahap akhir berpotensi meningkatkan beban lingkungan. Sapanli et al. (2023) menjelaskan bahwa peningkatan timbulan sampah membutuhkan pengelolaan yang komprehensif dan efisien. Dalam konteks desa, pendekatan pengelolaan sampah berbasis circular economy menempatkan peningkatan kapasitas masyarakat dan kelembagaan sebagai salah satu aspek yang perlu diperhatikan.<\/p>\n<p>Pemilahan sampah juga memiliki kaitan dengan proses daur ulang. Adicita dan Afifah (2022) menunjukkan bahwa pencampuran sampah rumah tangga berdasarkan komponennya dapat menghambat proses daur ulang. Pemisahan sampah berdasarkan komposisi sejak dari sumber menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung pengelolaan dan pengolahan sampah secara lebih tepat.<\/p>\n<p>Selain pengetahuan, keterlibatan masyarakat juga menjadi unsur penting dalam keberlanjutan pengelolaan sampah. Karnowati dan Jayanti (2021) menunjukkan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan masyarakat dan dukungan dari berbagai pihak secara berkelanjutan. Oleh karena itu, program pengelolaan sampah perlu memberikan ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses pemilahan dan pengelolaan.<\/p>\n<p>Upaya meningkatkan pemahaman masyarakat dapat dilakukan melalui kegiatan sosialisasi dan edukasi. Anam et al., (2023) menggunakan sosialisasi mengenai sampah organik dan anorganik sebagai sarana untuk memberikan pengetahuan mengenai jenis sampah, dampak sampah, dan kepedulian terhadap lingkungan. Pendekatan edukatif tersebut relevan diterapkan dalam kegiatan pengabdian karena informasi dapat disampaikan menggunakan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p>Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan kegiatan edukasi yang sederhana, mudah dipahami, dan sesuai dengan kondisi masyarakat. Sosialisasi pemilahan limbah domestik menjadi salah satu bentuk kegiatan yang dapat dilakukan untuk memberikan pemahaman mengenai jenis sampah serta cara pemilahannya sejak dari sumber. Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga dapat mendorong perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga.<\/p>\n<p>Berdasarkan hasil observasi di Desa Kemloko, mahasiswa KKN kemudian menyusun program kerja \u201cOptimalisasi Pengelolaan Sampah Melalui Sosialisasi Pemilahan Limbah Domestik\u201d. Program tersebut diarahkan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya pemilahan sampah, mengenali jenis-jenis sampah domestik, serta membangun kesadaran bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari lingkungan rumah masing-masing.<\/p>\n<p>Tujuan pelaksanaan kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat Desa Kemloko mengenai pengelolaan sampah domestik, khususnya pemilahan sampah berdasarkan jenisnya. Selain itu, kegiatan ini bertujuan mendorong masyarakat agar mulai menerapkan pemilahan sampah dari sumber serta meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan.<\/p>\n<p><strong>METODE<\/strong><\/p>\n<p>Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini merupakan bagian dari program kerja individu KKN-PPM Universitas Muhammadiyah Semarang yang dilaksanakan di Desa Kemloko, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan. Pelaksanaan KKN berlangsung pada 29 Juli sampai dengan 27 Agustus 2026. Metode pelaksanaan program menggunakan pendekatan observasi, edukasi, sosialisasi, diskusi, dan evaluasi.<\/p>\n<p>Tahap pertama adalah observasi lapangan. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi lingkungan dan permasalahan pengelolaan sampah yang terdapat di Desa Kemloko. Observasi dilakukan dengan memperhatikan kondisi lingkungan sekitar serta kebiasaan masyarakat dalam menangani sampah domestik.<\/p>\n<p>Setelah observasi, mahasiswa melakukan identifikasi permasalahan untuk menentukan kebutuhan edukasi. Identifikasi diarahkan pada pemahaman masyarakat mengenai jenis sampah, cara membedakan sampah, manfaat pemilahan, dan dampak apabila sampah tidak dikelola dengan baik. Materi sosialisasi kemudian disesuaikan dengan kondisi masyarakat dan contoh sampah yang sering ditemukan dalam aktivitas rumah tangga sehari-hari.<\/p>\n<p>Materi sosialisasi meliputi pengertian sampah domestik, jenis-jenis sampah, dampak sampah terhadap lingkungan, prinsip pemilahan sampah, serta penerapan pemilahan sampah di tingkat rumah tangga. Sampah diperkenalkan berdasarkan kelompok sederhana agar mudah dipahami masyarakat, yaitu sampah organik, anorganik, dan residu.<\/p>\n<p>Kegiatan inti dilakukan melalui penyampaian materi secara langsung kepada masyarakat. Sosialisasi menggunakan bahasa sederhana dan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga masyarakat dapat memahami penerapan pemilahan sampah dalam rumah tangga. Selain penyampaian materi, kegiatan dilengkapi dengan sesi diskusi dan tanya jawab.<\/p>\n<p>Evaluasi dilakukan secara sederhana melalui diskusi, tanya jawab, dan pengamatan terhadap respons peserta selama kegiatan. Evaluasi diarahkan untuk mengetahui pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan, terutama kemampuan membedakan sampah organik, anorganik, dan residu serta pemahaman mengenai pentingnya pemilahan dari sumber.<\/p>\n<p><strong>HASIL DAN PEMBAHASAN<\/strong><\/p>\n<p>Hasil observasi awal menunjukkan bahwa sampah domestik menjadi salah satu aspek lingkungan yang perlu mendapatkan perhatian. Aktivitas rumah tangga menghasilkan berbagai jenis sampah dengan karakteristik yang berbeda. Apabila sampah tersebut tidak dipilah sejak awal, seluruh jenis sampah akan bercampur dan menyebabkan proses pengelolaan berikutnya menjadi lebih sulit.<\/p>\n<p>Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah perlu dimulai dari sumber. Rumah tangga merupakan salah satu lokasi awal terbentuknya sampah sehingga kebiasaan masyarakat dalam menangani sampah akan berpengaruh terhadap tahapan pengelolaan selanjutnya. Hutabarat dan Mulyani (2022) menekankan pentingnya pemahaman masyarakat dalam mendukung penerapan pemilahan dan pengolahan sampah.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-28017\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-09-26-at-12.20.53-PM-scaled.jpeg\" alt=\"\" width=\"2560\" height=\"1440\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-09-26-at-12.20.53-PM-scaled.jpeg 2560w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-09-26-at-12.20.53-PM-300x169.jpeg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-09-26-at-12.20.53-PM-1024x576.jpeg 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-09-26-at-12.20.53-PM-768x432.jpeg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-09-26-at-12.20.53-PM-1536x864.jpeg 1536w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-09-26-at-12.20.53-PM-2048x1152.jpeg 2048w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-09-26-at-12.20.53-PM-750x422.jpeg 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-09-26-at-12.20.53-PM-1140x641.jpeg 1140w\" sizes=\"(max-width: 2560px) 100vw, 2560px\" \/><\/p>\n<p>Sosialisasi dilaksanakan dengan memberikan materi mengenai pengelolaan sampah domestik dan pemilahan sampah. Penyampaian materi dilakukan secara komunikatif agar peserta dapat mengikuti kegiatan dengan baik. Materi disampaikan secara bertahap, dimulai dari permasalahan sampah, jenis-jenis sampah, dampak sampah yang tidak dikelola, hingga cara pemilahan.<\/p>\n<p>Pada tahap awal, peserta diberikan pemahaman bahwa sampah tidak seluruhnya merupakan material yang harus langsung dibuang. Sebagian sampah masih dapat dimanfaatkan kembali atau didaur ulang apabila dipisahkan berdasarkan jenisnya. Pemahaman tersebut penting untuk membentuk sudut pandang bahwa pemilahan merupakan bagian dari pengelolaan sampah, bukan sekadar aktivitas tambahan.<\/p>\n<p>Materi kemudian dilanjutkan dengan pengenalan sampah organik. Sampah organik diberikan contoh berupa sisa makanan dan daun. Sampah anorganik diberikan contoh berupa botol plastik, kemasan makanan, dan kertas yang dapat dikumpulkan untuk pemanfaatan atau daur ulang. Sementara itu, sampah residu merupakan sampah yang tidak dapat atau sulit dimanfaatkan kembali melalui pengelolaan sederhana.<\/p>\n<p>Pengelompokan tersebut diharapkan dapat memudahkan masyarakat dalam menerapkan pemilahan sampah di rumah. Prinsip yang ditekankan dalam kegiatan adalah memilah sampah sejak dari sumbernya, bukan menunggu sampai sampah berada di tempat pembuangan.<\/p>\n<p>Selama kegiatan berlangsung, masyarakat menunjukkan respons dan partisipasi yang baik. Peserta mengikuti penyampaian materi serta terlibat dalam diskusi mengenai jenis sampah yang dihasilkan dari kegiatan rumah tangga. Diskusi menunjukkan bahwa contoh konkret lebih mudah dipahami dibandingkan penjelasan yang hanya bersifat teoritis.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-28018\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-09-26-at-12.20.52-PM.jpeg\" alt=\"\" width=\"1280\" height=\"960\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-09-26-at-12.20.52-PM.jpeg 1280w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-09-26-at-12.20.52-PM-300x225.jpeg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-09-26-at-12.20.52-PM-1024x768.jpeg 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-09-26-at-12.20.52-PM-768x576.jpeg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-09-26-at-12.20.52-PM-750x563.jpeg 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/WhatsApp-Image-2026-09-26-at-12.20.52-PM-1140x855.jpeg 1140w\" sizes=\"(max-width: 1280px) 100vw, 1280px\" \/><\/p>\n<p>Hasil tersebut sejalan dengan kegiatan pengabdian Anam et al. (2023) yang menggunakan sosialisasi mengenai sampah organik dan anorganik untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai jenis sampah dan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan. Peningkatan pemahaman menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran masyarakat.<\/p>\n<p>Nurhayati et al. (2022) menemukan hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Dengan demikian, kegiatan sosialisasi dapat menjadi salah satu strategi untuk memperkuat pengetahuan yang dibutuhkan sebelum masyarakat menerapkan perilaku pemilahan secara konsisten.<\/p>\n<p>Pemilahan sampah merupakan salah satu langkah awal yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi sampah yang tercampur. Ketika sampah telah tercampur, proses pemanfaatan kembali menjadi lebih sulit karena material yang masih memiliki nilai guna dapat terkontaminasi oleh sampah lainnya. Adicita dan Afifah (2022) menunjukkan bahwa tidak adanya pemisahan berdasarkan komponen dapat menghambat proses daur ulang.<\/p>\n<p>Dalam konteks Desa Kemloko, penerapan pemilahan dapat dilakukan secara bertahap. Masyarakat tidak harus langsung menerapkan sistem pengelolaan sampah yang kompleks. Langkah awal dapat dilakukan dengan menyediakan wadah berbeda untuk sampah organik, anorganik, dan residu. Setelah kebiasaan pemilahan terbentuk, sampah yang masih memiliki nilai guna dapat diarahkan ke kegiatan pemanfaatan atau pengumpulan yang sesuai.<\/p>\n<p>Sampah organik dapat dikembangkan menjadi bahan kompos apabila tersedia sarana dan pendampingan yang memadai. Sementara itu, sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi dapat dikumpulkan dan disalurkan melalui sistem pengelolaan yang tersedia di lingkungan masyarakat. Pengembangan kegiatan tersebut perlu disesuaikan dengan kemampuan dan fasilitas yang tersedia di desa.<\/p>\n<p>Keberhasilan pengelolaan sampah di tingkat desa tidak hanya bergantung pada program yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN. Keberlanjutan program sangat bergantung pada partisipasi masyarakat setelah kegiatan selesai. Karnowati dan Jayanti (2021) menunjukkan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan partisipasi masyarakat dan sinergi berbagai pihak secara berkelanjutan.<\/p>\n<p>Oleh sebab itu, sosialisasi yang dilakukan dalam kegiatan KKN diposisikan sebagai langkah awal untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran. Keberlanjutan dapat dilakukan melalui penguatan peran masyarakat, keluarga, pengurus lingkungan, dan pihak desa. Masyarakat dapat menjadi pelaku utama dalam pemilahan sampah rumah tangga, sedangkan pemerintah desa dan pihak terkait dapat mendukung melalui penyediaan sarana, pengaturan sistem pengumpulan, serta penguatan kegiatan lingkungan.<\/p>\n<p>Sapanli et al. (2023) menjelaskan bahwa pengelolaan sampah rumah tangga berbasis circular economy membutuhkan peningkatan kapasitas masyarakat dan kelembagaan di tingkat desa. Pengelolaan sampah tidak hanya berkaitan dengan pengurangan beban lingkungan, tetapi juga dapat dikaitkan dengan pemanfaatan kembali material dan potensi ekonomi dari sampah.<\/p>\n<p>Antriyandati et al. (2024) juga menunjukkan pentingnya karakteristik sosial ekonomi dan risk awareness dalam perilaku pengelolaan sampah rumah tangga. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah merupakan perilaku yang dipengaruhi berbagai faktor sehingga edukasi perlu disertai dukungan lingkungan yang memungkinkan masyarakat mempertahankan praktik pemilahan.<\/p>\n<p>Putri et al. (2024) membahas intensi pemilahan sampah organik domestik di masyarakat perkotaan dan menunjukkan pentingnya faktor perilaku dalam mendorong pemilahan sampah. Dalam kegiatan di Desa Kemloko, hal tersebut menjadi pertimbangan bahwa sosialisasi sebaiknya diarahkan untuk membangun pemahaman sekaligus kebiasaan.<\/p>\n<p>Meskipun sosialisasi dapat meningkatkan pemahaman masyarakat, penerapan pemilahan sampah secara berkelanjutan tetap memiliki tantangan. Salah satunya adalah konsistensi masyarakat dalam melakukan pemilahan setelah kegiatan edukasi selesai. Tantangan lain adalah ketersediaan sarana. Masyarakat membutuhkan tempat atau wadah yang memungkinkan sampah dipisahkan sesuai jenisnya.<\/p>\n<p>Apabila sampah telah dipilah tetapi kemudian kembali dicampur pada tahap pengumpulan, motivasi masyarakat dapat menurun. Karena itu, keberlanjutan program di Desa Kemloko perlu mempertimbangkan tiga komponen utama, yaitu pengetahuan masyarakat, ketersediaan fasilitas, dan dukungan lingkungan. Sosialisasi berperan pada aspek pengetahuan, sedangkan fasilitas dan dukungan kelembagaan diperlukan untuk mempertahankan praktik tersebut.<\/p>\n<p>Secara keseluruhan, kegiatan sosialisasi pemilahan limbah domestik memberikan dasar pengetahuan yang dapat digunakan masyarakat untuk mulai menerapkan pemilahan sampah dari rumah. Kegiatan ini juga memperlihatkan bahwa pendekatan edukatif dengan contoh konkret dan diskusi dapat membantu masyarakat memahami perbedaan jenis sampah. Namun, keberhasilan jangka panjang tidak cukup diukur dari respons saat sosialisasi saja, melainkan perlu dilihat dari konsistensi penerapan pemilahan dan dukungan sistem pengelolaan sampah di tingkat desa.<\/p>\n<p><strong>KESIMPULAN<\/strong><\/p>\n<p>Kegiatan \u201cOptimalisasi Pengelolaan Sampah Melalui Sosialisasi Pemilahan Limbah Domestik\u201d merupakan salah satu bentuk pengabdian mahasiswa KKN-PPM Universitas Muhammadiyah Semarang dalam merespons permasalahan pengelolaan sampah di Desa Kemloko, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan. Permasalahan utama yang menjadi perhatian adalah belum optimalnya pemilahan sampah domestik berdasarkan jenisnya. Kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu observasi, identifikasi permasalahan, penyusunan materi, sosialisasi, diskusi, dan evaluasi. Materi yang diberikan meliputi pengenalan sampah organik, anorganik, dan residu serta pentingnya melakukan pemilahan sejak dari sumber. Pelaksanaan kegiatan menunjukkan respons dan partisipasi masyarakat yang baik. Sosialisasi memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai jenis sampah dan cara melakukan pemilahan dalam kehidupan sehari-hari. Pemilahan sampah dari sumber dapat menjadi langkah awal dalam mendukung pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan. Keberlanjutan program memerlukan dukungan dari berbagai pihak, khususnya masyarakat dan pemerintah desa, melalui penyediaan sarana pemilahan, penguatan kegiatan pengelolaan sampah, serta pembiasaan pemilahan dalam kehidupan rumah tangga. Dengan adanya keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan, kegiatan pemilahan sampah diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi dapat berkembang menjadi kebiasaan masyarakat Desa Kemloko dalam menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.<\/p>\n<p><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><\/p>\n<p>Adicita, Y., &amp; Afifah, A. S. (2022). Analisis sistem pemilihan dan daur ulang sampah rumah tangga di daerah perkotaan menggunakan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA). Jurnal Ilmu Lingkungan, 20(2), 406\u2013413. https:\/\/doi.org\/10.14710\/jil.20.2.406-413<\/p>\n<p>Anam, K., Salim, A., Handayani, T., &amp; Ambarwati, A. (2023). Sosialisasi sampah organik dan sampah anorganik dalam optimalisasi ProKlim di Desa Rowoboni. Jurnal Bina Desa, 5(2). https:\/\/doi.org\/10.15294\/jbd.v5i2.43886<\/p>\n<p>Antriyandati, E., Melati, N. S. K., Barokah, U., &amp; Rahayu, W. (2024). Efek karakteristik sosial ekonomi dan risk awareness rumah tangga dalam pengelolaan sampah di perkotaan. Jurnal Ilmu Lingkungan, 22(5), 1127\u20131134. https:\/\/doi.org\/10.14710\/jil.22.5.1127-1134<\/p>\n<p>Hutabarat, L., &amp; Mulyani, A. (2022). Analisis korelasi tingkat pemahaman masyarakat terhadap perilaku pemilahan dan pengolahan sampah di Dusun Pade Mare Lombok Utara. Jurnal Ilmu Lingkungan, 20(3), 646\u2013653. https:\/\/doi.org\/10.14710\/jil.20.3.646-653<\/p>\n<p>Karnowati, N. B., &amp; Jayanti, E. (2021). Model partisipasi pelaku usaha dan masyarakat dalam pengelolaan sampah plastik Teluk Penyu Cilacap. Jurnal Ilmu Lingkungan, 19(3), 670\u2013680. https:\/\/doi.org\/10.14710\/jil.19.3.670-680<\/p>\n<p>Nurhayati, N., Hamzah, H., &amp; Muhammad, M. (2022). Analysis of people\u2019s behavior in managing domestic solid waste in Alam Barajo District, Jambi City. Jurnal Ilmu Lingkungan, 20(1), 168\u2013175. https:\/\/doi.org\/10.14710\/jil.20.1.168-175<\/p>\n<p>Pangestu, W. E., Nurani, P. C., Amanda, Y. T., Anjani, D. P., Ihsani, H. R., Hadiyanto, M. F., Eksan, M. P., &amp; Rahmayanti, D. (2022). Partisipasi masyarakat desa dalam melakukan pengelolaan sampah. Journal Pemberdayaan Masyarakat Indonesia, 4(2), 215\u2013230. https:\/\/doi.org\/10.21632\/jpmi.4.2.215-230<\/p>\n<p>Putri, R. C., Karuniasa, M., &amp; Wahyono, S. (2024). Behavioral intention of domestic organic waste segregation in urban communities: Case study Sukmajaya and Cilodong Districts, Depok City. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, 14(1), 92\u2013100. https:\/\/doi.org\/10.29244\/jpsl.14.1.92-100<\/p>\n<p>Rahmawati, A., &amp; Fiorentina, P. (2021). Pengelolaan bank sampah berbasis pemberdayaan masyarakat. Jurnal Bina Desa, 3(1). https:\/\/doi.org\/10.15294\/jbd.v3i1.23743<\/p>\n<p>Sapanli, K., Putro, F. A. D., Arifin, S. D., Putra, A. H., Andamari, H. A., &amp; Anggraini, U. (2023). Pengelolaan sampah rumah tangga berbasis circular economy di tingkat desa: Pendekatan sistem dinamik. Jurnal Wilayah dan Lingkungan, 11(2), 141\u2013155. <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.14710\/jwl.11.2.141-155\">https:\/\/doi.org\/10.14710\/jwl.11.2.141-155<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Optimizing Waste Management Through Domestic Waste Separation Socialization in Kemloko Village 1Melinda Dewi Astuti, M. T, 2Mario Ega Saputra, 3Asyifa Azizia, 4Laidia Silma, 5Nazneen Elfryda Andita Putri, 6Akhlish Khairul Anam, 7Nabilah Naswa Eka Pratiwi, 8Aminuddin Al Abror, 9Satria Riza Maulana, 10Firda Nurul Anggraeni, 11Devina Gayatri Sukmaningtyas, 12Monalig Putiandiraistama, 13Revalina Dian Sri Cahyani, 14Irba Ilzami Al [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":28017,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"hide","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"0","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"0","show_comment_section":"0","number_popup_post":"3","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","override_template":"1","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-28016","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28016","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=28016"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28016\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":28019,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28016\/revisions\/28019"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/28017"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=28016"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=28016"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=28016"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}