{"id":27875,"date":"2026-08-20T13:22:32","date_gmt":"2026-08-20T05:22:32","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27875"},"modified":"2026-08-20T13:22:32","modified_gmt":"2026-08-20T05:22:32","slug":"kampung-tempe-sanan-tingkatkan-layanan-wisata-edukasi-lewat-public-speaking-dan-buku-digital","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/kampung-tempe-sanan-tingkatkan-layanan-wisata-edukasi-lewat-public-speaking-dan-buku-digital\/27875\/","title":{"rendered":"Kampung Tempe Sanan Tingkatkan Layanan Wisata Edukasi Lewat Public Speaking dan Buku Digital"},"content":{"rendered":"<p>MALANG, JurnalPost.com \u2013 Kampung Wisata Tempe Sanan terus berinovasi untuk meningkatkan kualitas layanan wisata edukasi. Tak hanya mempertahankan reputasinya sebagai sentra industri tempe di Kota Malang, kawasan ini kini memperkuat kompetensi pelaku UMKM melalui pelatihan <em>public speaking<\/em> sekaligus menghadirkan buku panduan digital produksi tempe ramah lingkungan yang dapat diakses wisatawan melalui kode QR.<\/p>\n<figure id=\"attachment_27878\" aria-describedby=\"caption-attachment-27878\" style=\"width: 987px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar1-28.jpg\" alt=\"\" width=\"987\" height=\"573\" class=\"size-full wp-image-27878\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar1-28.jpg 987w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar1-28-300x174.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar1-28-768x446.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar1-28-750x435.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 987px) 100vw, 987px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-27878\" class=\"wp-caption-text\">Tim PKM dan Peserta pelaku UMKM Kampung Wisata Tempe Sanan<\/figcaption><\/figure>\n<p>Program tersebut merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Malang bertajuk &#8220;Peningkatan Profesionalisme dan Keberlanjutan UMKM Kampung Wisata Tempe Sanan melalui Pelatihan <em>Public Speaking<\/em> dan Penyusunan Buku Panduan Produksi Tempe Ramah Lingkungan.&#8221; Kegiatan ini diselenggarakan pada Sabtu (11\/7\/2026) diikuti oleh 25 peserta yang merupakan pelaku UMKM sekaligus anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Wisata Tempe Sanan.<\/p>\n<p>Ketua Tim PkM (Dyah Metha -2026), mengatakan bahwa pengembangan wisata edukasi tidak hanya bergantung pada kualitas produk, tetapi juga pada kemampuan masyarakat dalam menyampaikan informasi kepada pengunjung. \u201cWisatawan yang datang ke Kampung Sanan tidak hanya ingin membeli tempe, tetapi juga memahami cerita, proses produksi, dan nilai keberlanjutan yang diterapkan masyarakat. Karena itu, kemampuan komunikasi dan media edukasi digital menjadi bagian penting dalam meningkatkan pengalaman wisata,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Tim PkM menghadirkan pelatihan <em>public speaking<\/em> dengan narasumber Dr. Ari Kamayanti. Berbeda dengan pelatihan yang hanya berisi teori, peserta lebih banyak mengikuti simulasi pelayanan wisata. Mereka berlatih menyambut tamu, memperkenalkan sejarah Kampung Sanan, menjelaskan proses produksi tempe, mengenalkan produk unggulan, hingga menjawab pertanyaan pengunjung secara komunikatif.<\/p>\n<figure id=\"attachment_27877\" aria-describedby=\"caption-attachment-27877\" style=\"width: 454px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar2-1.png\" alt=\"\" width=\"454\" height=\"263\" class=\"size-full wp-image-27877\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar2-1.png 454w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar2-1-300x174.png 300w\" sizes=\"(max-width: 454px) 100vw, 454px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-27877\" class=\"wp-caption-text\">Narasumber memaparkan materi public speaking<\/figcaption><\/figure>\n<p>Menurut Dr. Ari Kamayanti, <em>public speaking<\/em> bukan sekadar kemampuan berbicara di depan umum, tetapi juga keterampilan membangun hubungan dengan pengunjung. \u201cKetika masyarakat mampu menjelaskan proses pembuatan tempe dengan bahasa yang sederhana, ramah, dan percaya diri, wisatawan akan memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna dan berkesan,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Selain pelatihan, Tim PkM juga meluncurkan buku panduan digital mengenai produksi tempe ramah lingkungan. Buku tersebut memuat informasi mengenai tahapan produksi tempe, mulai dari pemilihan bahan baku, perendaman, perebusan, fermentasi hingga menjadi produk siap konsumsi. Panduan ini dapat diakses dengan memindai kode QR yang ditempatkan di sejumlah titik di kawasan wisata sehingga pengunjung dapat mempelajari materi secara mandiri.<\/p>\n<figure id=\"attachment_27876\" aria-describedby=\"caption-attachment-27876\" style=\"width: 377px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar3.png\" alt=\"\" width=\"377\" height=\"231\" class=\"size-full wp-image-27876\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar3.png 377w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar3-300x184.png 300w\" sizes=\"(max-width: 377px) 100vw, 377px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-27876\" class=\"wp-caption-text\">Penyerahan buku panduan dan kode QR<\/figcaption><\/figure>\n<p>Ketua Pokdarwis Kampung Wisata Tempe Sanan, Dra. Trinil Sri Wahyuni, menyambut baik program tersebut. Menurutnya, pelatihan ini membantu masyarakat menjadi lebih percaya diri ketika menerima kunjungan wisatawan. \u201cSelama ini kami sering menerima tamu, tetapi belum semua warga terbiasa menjelaskan proses produksi maupun memperkenalkan Kampung Sanan. Melalui pelatihan ini kami bisa langsung berlatih sesuai situasi yang kami hadapi,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta pada seluruh materi pelatihan. Pemahaman mengenai tujuan komunikasi meningkat dari 20 persen menjadi 92 persen, sementara indikator lainnya juga mengalami peningkatan setelah peserta mengikuti sesi materi dan praktik. Capaian tersebut menunjukkan bahwa pendekatan berbasis simulasi efektif meningkatkan kemampuan komunikasi pelaku UMKM.<\/p>\n<p>Melalui pelatihan <em>public speaking<\/em> dan penyediaan buku panduan digital, Kampung Wisata Tempe Sanan diharapkan semakin siap memberikan pelayanan yang profesional, informatif, dan ramah kepada wisatawan. Inovasi ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat posisi Kampung Sanan sebagai destinasi wisata edukasi unggulan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus mendukung keberlanjutan UMKM lokal.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MALANG, JurnalPost.com \u2013 Kampung Wisata Tempe Sanan terus berinovasi untuk meningkatkan kualitas layanan wisata edukasi. Tak hanya mempertahankan reputasinya sebagai sentra industri tempe di Kota Malang, kawasan ini kini memperkuat kompetensi pelaku UMKM melalui pelatihan public speaking sekaligus menghadirkan buku panduan digital produksi tempe ramah lingkungan yang dapat diakses wisatawan melalui kode QR. Program tersebut [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":27878,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[244],"tags":[],"class_list":["post-27875","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27875","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27875"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27875\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27878"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27875"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27875"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27875"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}