{"id":27829,"date":"2026-08-18T14:25:24","date_gmt":"2026-08-18T06:25:24","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27829"},"modified":"2026-08-18T14:31:07","modified_gmt":"2026-08-18T06:31:07","slug":"agro-brand-sironjang-dorong-pemahaman-branding-dan-pemasaran-produk-tani","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/agro-brand-sironjang-dorong-pemahaman-branding-dan-pemasaran-produk-tani\/27829\/","title":{"rendered":"AGRO BRAND Sironjang Dorong Pemahaman Branding dan Pemasaran Produk Tani"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-18-at-2.21.48-PM.jpeg\" alt=\"\" width=\"1600\" height=\"1200\" class=\"aligncenter size-full wp-image-27830\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-18-at-2.21.48-PM.jpeg 1600w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-18-at-2.21.48-PM-300x225.jpeg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-18-at-2.21.48-PM-1024x768.jpeg 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-18-at-2.21.48-PM-768x576.jpeg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-18-at-2.21.48-PM-1536x1152.jpeg 1536w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-18-at-2.21.48-PM-750x563.jpeg 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-18-at-2.21.48-PM-1140x855.jpeg 1140w\" sizes=\"(max-width: 1600px) 100vw, 1600px\" \/><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> \u2013 Pengembangan produk lokal di wilayah perdesaan tidak hanya berkaitan dengan proses produksi, tetapi juga bagaimana produk tersebut dapat dikenal dan diterima oleh konsumen. Produk pertanian dan produk lokal yang memiliki potensi ekonomi membutuhkan informasi yang jelas, identitas yang mudah dikenali, serta cara pemasaran yang sesuai agar dapat lebih mudah diperkenalkan kepada pasar. Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian dalam pelaksanaan kegiatan KKN di Dusun Sironjang.<\/p>\n<p>Melalui program AGRO BRAND Sironjang: Produk Tani Naik Kelas melalui Branding dan Pemasaran, mahasiswa KKN Tim II IDBU-38 Universitas Diponegoro Tahun 2026 memberikan edukasi mengenai dasar-dasar branding dan pemasaran produk lokal berbasis pertanian. Kegiatan ini diarahkan pada aspek hilir, khususnya bagaimana produk yang telah tersedia dapat memiliki identitas yang lebih jelas dan dipasarkan dengan lebih terarah.<\/p>\n<p>Program tersebut tidak berfokus pada pembuatan maupun pengolahan produk. Materi disampaikan melalui pemaparan menggunakan media presentasi dan dilanjutkan dengan diskusi serta tanya jawab bersama masyarakat. Pendekatan tersebut dipilih agar masyarakat dapat memahami pemasaran dari sudut pandang konsumen sekaligus menghubungkannya dengan potensi produk yang terdapat di lingkungan Sironjang.<\/p>\n<p>Branding sebagai Identitas Produk<\/p>\n<p>Salah satu materi utama yang disampaikan adalah branding. Dalam konteks sederhana, branding dipahami sebagai proses membangun identitas produk agar lebih mudah dikenali, diingat, dan dibedakan dari produk lain. Identitas tersebut tidak hanya berkaitan dengan logo, tetapi juga dapat mencakup nama, warna, desain, karakter, serta identitas yang ingin ditampilkan oleh suatu produk.<\/p>\n<p>Pemahaman mengenai branding menjadi penting karena konsumen tidak hanya melihat produk dari bentuk fisiknya. Identitas yang jelas dapat membantu konsumen mengenali suatu produk ketika berhadapan dengan berbagai pilihan di pasar. Oleh karena itu, masyarakat diperkenalkan pada cara melihat produk tidak hanya dari sisi pembuat, tetapi juga dari perspektif orang yang akan membeli.<\/p>\n<p>Dalam kegiatan tersebut, branding ditempatkan sebagai salah satu bagian dari proses pemasaran. Produk yang telah memiliki identitas dapat lebih mudah dikomunikasikan kepada calon konsumen, terutama ketika nama, tampilan, dan karakter produk digunakan secara konsisten.<\/p>\n<p>Kemasan dan Label sebagai Bagian dari Pemasaran<\/p>\n<p>Selain branding, materi juga membahas kemasan dan label. Kemasan tidak hanya dipandang sebagai pembungkus, tetapi memiliki fungsi untuk melindungi produk sekaligus menjadi salah satu media komunikasi kepada konsumen. Pemilihan kemasan perlu mempertimbangkan karakteristik produk, kebutuhan konsumen, keamanan, kemudahan penggunaan, serta kemampuan produsen.<\/p>\n<p>Label juga menjadi bagian yang diperhatikan karena memberikan informasi mengenai produk dan identitas produsen. Kejelasan informasi dapat membantu konsumen memahami produk yang ditawarkan sebelum mengambil keputusan pembelian. Dengan demikian, kemasan dan label tidak semata-mata berkaitan dengan tampilan, tetapi juga menjadi bagian dari komunikasi antara produk dan konsumen.<\/p>\n<p>Program ini menekankan bahwa kemasan yang baik tidak selalu berarti kemasan yang paling mahal. Pemilihan kemasan perlu disesuaikan dengan karakter produk dan kebutuhan pasar sehingga tetap dapat digunakan secara realistis oleh masyarakat.<\/p>\n<p>Menentukan Target Konsumen<\/p>\n<p>Materi berikutnya membahas Segmentation, Targeting, dan Positioning (STP) yang disederhanakan ke dalam pertanyaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Masyarakat diajak mempertimbangkan siapa yang paling mungkin membeli suatu produk, apa yang dibutuhkan konsumen, di mana mereka biasa melakukan pembelian, serta alasan yang dapat membuat konsumen memilih suatu produk dibandingkan produk lainnya.<\/p>\n<p>Pemahaman tersebut penting karena sebuah produk tidak selalu harus ditujukan kepada semua orang. Dengan mengenali calon konsumen, produsen dapat mempertimbangkan bentuk komunikasi, kemasan, maupun saluran pemasaran yang lebih sesuai.<\/p>\n<p>Pendekatan ini juga memperkenalkan masyarakat pada gagasan bahwa pemasaran perlu berangkat dari kebutuhan konsumen. Dengan demikian, keputusan mengenai produk tidak hanya didasarkan pada apa yang dapat dibuat oleh produsen, tetapi juga mempertimbangkan siapa yang akan menggunakan atau membeli produk tersebut.<\/p>\n<p>Strategi Pemasaran Sederhana<\/p>\n<p>Program AGRO BRAND Sironjang juga memperkenalkan konsep dasar marketing mix yang terdiri atas Product, Price, Place, dan Promotion. Materi tersebut tidak disampaikan secara teoritis secara mendalam, melainkan diarahkan pada pemahaman mengenai bagaimana produk dapat ditawarkan melalui saluran yang sesuai dan bagaimana promosi sederhana dapat dilakukan oleh masyarakat.<\/p>\n<p>Saluran pemasaran yang diperkenalkan merupakan media yang dekat dengan aktivitas masyarakat, seperti WhatsApp Status, grup WhatsApp yang relevan, media sosial, pemasaran langsung, titip jual, warung atau toko, kegiatan masyarakat, hingga rekomendasi konsumen. Pemilihan saluran tersebut dapat disesuaikan dengan karakteristik produk dan calon konsumen yang dituju.<\/p>\n<p>Melalui materi tersebut, promosi tidak hanya dipahami sebagai kegiatan mengunggah foto produk. Informasi mengenai nama produk, karakteristik, harga apabila diperlukan, cara pemesanan, dan kontak penjual juga perlu tersedia agar konsumen dapat mengetahui bagaimana memperoleh produk yang ditawarkan.<\/p>\n<p>Tahapan Pelaksanaan Kegiatan<\/p>\n<p>Pelaksanaan program diawali dengan identifikasi terhadap potensi dan kebutuhan masyarakat yang berkaitan dengan pemasaran produk lokal. Mahasiswa KKN kemudian mengamati kondisi produk serta pola pemasaran yang telah dilakukan masyarakat sebagai dasar untuk menyesuaikan materi edukasi dengan kondisi di lapangan.<\/p>\n<p>Tahap berikutnya adalah penyusunan materi berdasarkan konsep Manajemen Pemasaran yang telah dipelajari mahasiswa Agribisnis. Materi tersebut kemudian disederhanakan ke dalam bentuk presentasi yang membahas produk dan atributnya, branding, kemasan dan label, target konsumen, serta strategi pemasaran sederhana.<\/p>\n<p>Setelah materi disusun, edukasi diberikan kepada masyarakat melalui pemaparan menggunakan PPT. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab sehingga masyarakat memiliki ruang untuk menghubungkan konsep yang disampaikan dengan kondisi produk yang terdapat di lingkungan mereka.<\/p>\n<p>Program ini mengambil posisi yang berbeda dari kegiatan KKN lain yang berfokus pada produksi atau pengolahan. AGRO BRAND Sironjang menempatkan perhatian pada tahap setelah produk tersedia, yaitu bagaimana produk tersebut dapat memiliki identitas, dikomunikasikan, dan diarahkan kepada konsumen.<\/p>\n<p>Branding dan Pemasaran sebagai Bagian dari Hilirisasi Produk<\/p>\n<p>Dalam konteks agribisnis, proses pengembangan produk tidak berhenti ketika hasil pertanian atau produk lokal selesai diproduksi. Produk juga membutuhkan proses hilirisasi agar dapat lebih mudah diperkenalkan kepada konsumen. Pada tahap tersebut, identitas produk, kemasan, informasi, target konsumen, serta saluran promosi menjadi bagian yang perlu diperhatikan.<\/p>\n<p>AGRO BRAND Sironjang berupaya memberikan pemahaman mengenai rangkaian tersebut melalui alur sederhana, yaitu produk, identitas, kemasan dan informasi, target konsumen, promosi, hingga konsumen. Pendekatan ini menempatkan pemasaran sebagai bagian dari rantai agribisnis yang menghubungkan produk dengan pasar.<\/p>\n<p>Mendukung Potensi Ekonomi Berbasis Pertanian<\/p>\n<p>Pemasaran menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan produk berbasis pertanian karena menentukan bagaimana produk diperkenalkan kepada konsumen. Produk yang memiliki identitas, informasi, target konsumen, dan saluran pemasaran yang lebih jelas memiliki dasar yang lebih baik untuk dikomunikasikan kepada pasar.<\/p>\n<p>Program ini tidak diarahkan untuk mengklaim peningkatan penjualan atau pendapatan masyarakat secara langsung. Manfaat yang diharapkan berada pada peningkatan pemahaman masyarakat mengenai cara melihat produk dari perspektif konsumen serta pentingnya branding, kemasan, informasi, target pasar, dan pemasaran dalam pengembangan produk lokal.<\/p>\n<p>Mendukung Ketahanan Pangan melalui Penguatan Agribisnis<\/p>\n<p>Program AGRO BRAND Sironjang juga memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 2: Zero Hunger, khususnya melalui pendekatan penguatan masyarakat berbasis pertanian. Hubungan tersebut tidak ditempatkan pada klaim bahwa branding secara langsung menyelesaikan persoalan pangan, melainkan pada upaya memperkuat pengetahuan masyarakat dalam mengembangkan dan memasarkan produk yang berasal dari sektor pertanian.<\/p>\n<p>Penguatan pemasaran dapat menjadi salah satu bagian dalam rantai agribisnis yang mendukung peluang pasar bagi produk pertanian. Dengan demikian, edukasi mengenai branding dan pemasaran diharapkan dapat memberikan dasar bagi masyarakat untuk melihat potensi produk pertanian tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga dari sisi konsumen dan pasar.<\/p>\n<p>Luaran Program dan Manfaat Jangka Panjang<\/p>\n<p>Luaran utama AGRO BRAND Sironjang berupa materi edukasi mengenai branding dan pemasaran produk lokal berbasis pertanian. Materi tersebut memberikan pengetahuan dasar mengenai identitas produk, kemasan dan label, target konsumen, saluran pemasaran, serta promosi sederhana yang dapat dipertimbangkan sesuai dengan kondisi masyarakat.<\/p>\n<p>Dalam jangka panjang, pemahaman tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat melihat pengembangan produk secara lebih menyeluruh. Produk tidak hanya dipandang sebagai hasil produksi, tetapi juga sebagai sesuatu yang perlu memiliki identitas, dapat dipahami konsumen, dan memiliki cara yang sesuai untuk diperkenalkan kepada pasar.<\/p>\n<p>Harapan bagi Pengembangan Produk Lokal Sironjang<\/p>\n<p>Pemahaman mengenai branding dan pemasaran diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi masyarakat Sironjang dalam mengembangkan produk lokal yang telah tersedia maupun produk yang berpotensi dikembangkan. Pengembangan tersebut membutuhkan proses yang berkelanjutan, mulai dari produksi, pengemasan, pembentukan identitas, pemasaran, evaluasi terhadap respons konsumen, hingga pengembangan pasar.<\/p>\n<p>Melalui AGRO BRAND Sironjang, istilah \u201cproduk tani naik kelas\u201d tidak dimaknai sebagai upaya membuat produk terlihat lebih mahal, tetapi sebagai proses meningkatkan kesiapan produk agar lebih mudah dikenali, dipahami, dan dipasarkan. Edukasi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu dasar bagi pengembangan produk lokal Sironjang yang lebih berorientasi pada kebutuhan konsumen dan kondisi pasar.<\/p>\n<p>Penulis: Kevin William Hans Simamora \u2013 Mahasiswa Program Studi Agribisnis, KKNT UNDIP IDBU-38, Kampung Sironjang, Pakintelan, Semarang.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JurnalPost.com \u2013 Pengembangan produk lokal di wilayah perdesaan tidak hanya berkaitan dengan proses produksi, tetapi juga bagaimana produk tersebut dapat dikenal dan diterima oleh konsumen. Produk pertanian dan produk lokal yang memiliki potensi ekonomi membutuhkan informasi yang jelas, identitas yang mudah dikenali, serta cara pemasaran yang sesuai agar dapat lebih mudah diperkenalkan kepada pasar. Kondisi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":27830,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[244],"tags":[],"class_list":["post-27829","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27829","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27829"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27829\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27830"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27829"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27829"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27829"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}