{"id":27814,"date":"2026-08-18T13:16:06","date_gmt":"2026-08-18T05:16:06","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27814"},"modified":"2026-08-18T13:35:53","modified_gmt":"2026-08-18T05:35:53","slug":"yellow-trap-sironjang-kuning-mengundang-hama-terjebak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/yellow-trap-sironjang-kuning-mengundang-hama-terjebak\/27814\/","title":{"rendered":"Yellow Trap Sironjang: Kuning Mengundang, Hama Terjebak"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-18-at-1.34.56-PM.jpeg\" alt=\"\" width=\"1280\" height=\"640\" class=\"aligncenter size-full wp-image-27824\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-18-at-1.34.56-PM.jpeg 1280w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-18-at-1.34.56-PM-300x150.jpeg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-18-at-1.34.56-PM-1024x512.jpeg 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-18-at-1.34.56-PM-768x384.jpeg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-18-at-1.34.56-PM-360x180.jpeg 360w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-18-at-1.34.56-PM-750x375.jpeg 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/WhatsApp-Image-2026-08-18-at-1.34.56-PM-1140x570.jpeg 1140w\" sizes=\"(max-width: 1280px) 100vw, 1280px\" \/><\/p>\n<p><em>Ditulis oleh: Lathifah Yunus \u2014 Mahasiswa KKN Tim II IDBU-38 Dusun Sironjang<br \/>\nUniversitas Diponegoro 2026<\/em><\/p>\n<p><strong>Sironjang, Semarang, 09 Agustus 2026, JurnalPost.com<\/strong> \u2014 Hama merupakan salah satu permasalahan yang sering dihadapi masyarakat dalam kegiatan budidaya tanaman. Keberadaan serangga seperti kutu daun, kutu kebul, thrips, hingga lalat penggorok daun dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan menurunkan kualitas hasil budidaya. Pengendalian hama pun perlu dilakukan secara tepat agar tanaman tetap terlindungi tanpa memberikan dampak berlebihan terhadap lingkungan.<\/p>\n<p>Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II IDBU-38 Sironjang Universitas Diponegoro 2026 menghadirkan program \u201c<em>Yellow Trap<\/em> Sironjang: Kuning Mengundang, Hama Terjebak\u201d. Program ini dilaksanakan pada Minggu, 09 Agustus 2026, di Dusun Sironjang, Kelurahan Pakintelan, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, dengan sasaran ibu-ibu PKK Dusun Sironjang.<\/p>\n<p>Kegiatan yang disampaikan oleh Lathifah Yunus ini berperan sebagai sarana edukasi dan pelatihan mengenai pembuatan serta pemanfaatan <em>Yellow Trap<\/em> sebagai salah satu metode pengendalian hama yang sederhana dan ramah lingkungan melalui konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT).<\/p>\n<p><strong>Berawal dari Warna, Menjadi Perangkap<\/strong><\/p>\n<p><em>Yellow Trap<\/em> merupakan perangkap serangga yang memanfaatkan ketertarikan beberapa jenis serangga terhadap warna kuning. Permukaan berwarna kuning yang telah dilapisi perekat dapat menjadi media untuk menangkap serangga yang mendekat atau hinggap.<\/p>\n<p>Teknologi sederhana ini dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk membantu memantau keberadaan hama di sekitar tanaman. Penggunaannya juga relatif mudah sehingga dapat diterapkan oleh masyarakat dalam kegiatan budidaya tanaman di pekarangan maupun lahan pertanian.<\/p>\n<p><strong>Kenali Musuh Sebelum Tanaman Rusak<\/strong><\/p>\n<p>Dalam kegiatan ini, masyarakat diberikan pemahaman bahwa mengenali jenis dan keberadaan hama merupakan langkah penting dalam menjaga kesehatan tanaman. Beberapa serangga yang dapat menjadi sasaran pemantauan menggunakan <em>Yellow Trap<\/em> antara lain kutu kebul (<em>Bemisia tabaci<\/em>), kutu daun (<em>Aphid<\/em> spp.), thrips (<em>Thrips<\/em> spp.), dan lalat pengorok daun (<em>Liriomyza<\/em> spp.).<\/p>\n<p>Peserta juga diajak untuk lebih memperhatikan kondisi tanaman, seperti perubahan warna daun, adanya serangga kecil di sekitar tanaman, maupun gejala kerusakan pada daun. Pengamatan secara rutin dapat membantu masyarakat mengetahui kondisi tanaman lebih awal sebelum permasalahan hama berkembang lebih jauh.<\/p>\n<p><strong>PHT: Mengendalikan Hama dengan Cara yang Bijak<\/strong><\/p>\n<p><em>Yellow Trap<\/em> diperkenalkan sebagai bagian dari pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Konsep PHT tidak hanya mengandalkan satu metode pengendalian, tetapi mengutamakan pengamatan terhadap kondisi tanaman dan keberadaan hama sebelum menentukan tindakan yang diperlukan.<\/p>\n<p>Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak memahami bahwa penggunaan pestisida kimia bukan satu-satunya pilihan dalam menghadapi hama. Metode fisik seperti <em>Yellow Trap<\/em> dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk membantu menekan populasi serangga sekaligus melakukan pemantauan terhadap keberadaan hama.<\/p>\n<p><strong>Barang Bekas, Manfaat Baru<\/strong><\/p>\n<p>Pembuatan <em>Yellow Trap<\/em> dalam program ini menggunakan bahan yang sederhana dan mudah ditemukan. Botol plastik bekas maupun lembaran plastik berwarna kuning dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar perangkap.<\/p>\n<p>Bahan tersebut kemudian disiapkan dan diberi perekat pada bagian yang menjadi permukaan perangkap. Pemanfaatan barang bekas memberikan nilai tambah karena benda yang sebelumnya tidak terpakai dapat diubah menjadi alat bantu dalam kegiatan budidaya.<\/p>\n<p>Selain mudah dibuat, penggunaan bahan sederhana juga memungkinkan masyarakat untuk membuat kembali <em>Yellow Trap<\/em> secara mandiri apabila perangkap sudah tidak dapat digunakan.<\/p>\n<p><strong>\u00a0Belajar Langsung Bersama Ibu-Ibu PKK<\/strong><\/p>\n<p>Kegiatan sosialisasi dilakukan secara interaktif bersama ibu-ibu PKK Dusun Sironjang. Setelah mendapatkan penjelasan mengenai fungsi dan cara kerja <em>Yellow Trap<\/em>, peserta diajak untuk melihat serta mempraktikkan secara langsung proses pembuatannya.<\/p>\n<p>Melalui praktik tersebut, ibu-ibu PKK diharapkan dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh pada tanaman di pekarangan rumah maupun lingkungan sekitar secara mandiri.<\/p>\n<p><strong>\u00a0Dari Menjebak hingga Memantau<\/strong><\/p>\n<p>Keberadaan <em>Yellow Trap<\/em> bukan hanya tentang menangkap serangga, tetapi juga memberikan informasi mengenai kondisi hama di sekitar tanaman. Serangga yang tertangkap dapat menjadi petunjuk bagi masyarakat untuk mengetahui keberadaan dan perkembangan populasi hama.<\/p>\n<p>Dengan melakukan pengamatan secara berkala, masyarakat dapat lebih cepat mengenali adanya permasalahan pada tanaman dan menentukan langkah pengendalian yang sesuai. Hal ini sejalan dengan prinsip PHT yang mengutamakan pengamatan sebelum mengambil tindakan pengendalian.<\/p>\n<p><strong>Langkah Kecil untuk Tanaman yang Lebih Sehat<\/strong><\/p>\n<p>Melalui program \u201c<em>Yellow Trap<\/em> Sironjang: Kuning Mengundang, Hama Terjebak\u201d, mahasiswa KKN berharap ibu-ibu PKK dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru dalam melakukan pengendalian hama yang sederhana serta ramah lingkungan.<\/p>\n<p>Ke depan, penggunaan <em>Yellow Trap<\/em> diharapkan dapat terus diterapkan dalam kegiatan budidaya tanaman di Dusun Sironjang. Dengan memanfaatkan bahan yang mudah diperoleh, masyarakat dapat melakukan pemantauan hama secara mandiri sekaligus mengembangkan kebiasaan bercocok tanam yang lebih peduli terhadap lingkungan.<\/p>\n<p>Dari selembar warna kuning, dimulai langkah sederhana untuk mengenali hama, melindungi tanaman, dan menjaga lingkungan Sironjang tetap lestari.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ditulis oleh: Lathifah Yunus \u2014 Mahasiswa KKN Tim II IDBU-38 Dusun Sironjang Universitas Diponegoro 2026 Sironjang, Semarang, 09 Agustus 2026, JurnalPost.com \u2014 Hama merupakan salah satu permasalahan yang sering dihadapi masyarakat dalam kegiatan budidaya tanaman. Keberadaan serangga seperti kutu daun, kutu kebul, thrips, hingga lalat penggorok daun dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan menurunkan kualitas hasil [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":27824,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[244],"tags":[],"class_list":["post-27814","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27814","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27814"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27814\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27824"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27814"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27814"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27814"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}