{"id":27728,"date":"2026-08-15T14:51:59","date_gmt":"2026-08-15T06:51:59","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27728"},"modified":"2026-08-15T14:53:09","modified_gmt":"2026-08-15T06:53:09","slug":"kita-sudah-secanggih-ini-tapi-kenapa-rasanya-makin-sepi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/kita-sudah-secanggih-ini-tapi-kenapa-rasanya-makin-sepi\/27728\/","title":{"rendered":"KITA SUDAH SECANGGIH INI, TAPI KENAPA RASANYA MAKIN SEPI?"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/sdaad.png\" alt=\"\" width=\"602\" height=\"358\" class=\"aligncenter size-full wp-image-27729\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/sdaad.png 602w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/sdaad-300x178.png 300w\" sizes=\"(max-width: 602px) 100vw, 602px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: <strong>FITRIA RIZKI AMALIA \u2013 MAHASISWA UNIVERSITAS SIBER ASIA<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Coba perhatikan sekeliling Anda sore ini. Di meja makan, diruang tunggu, bahkan di tengah obrolan keluarga \u2013 hampir semua orang menatap layar, bukan menatap satu sama lain. Kita bisa video call dengan siapa saja di belahan dunia manapun dalam hitungan detik, tapi entah kenapa, mengobrol dengan tetangga sebelah rumah terasa lebih canggung dari biasanya.<\/p>\n<p>Fenomena kecil ini sebenarnya cerminan dari perubahan besar yang sedang kita jalani: dunia sedang bergerak memasuki era Industry 4.0 dan Society 5.0. Dua istilah yang mungkin sering kita dengar di seminar atau berita, tapi jarang benar-benar kita renungkan dampaknya pada hal yang paling mendasar \u2013 cara kita menjadi manusia.<\/p>\n<p><strong>Ketika Mesin Makin Pintar, Kita Jadi Apa?<\/strong><\/p>\n<p>Industry 4.0 adalah babak baru revolusi industri, di mana mesin saling terhubung, sistem bekerja otomatis, dan hampir semua keputusan bisnis kini berbasis data. Efeknya nyata: produksi lebih efisien, layanan publik lebih cepat, informasi ada di ujung jari kita.<\/p>\n<p>Tapi ada harga yang mungkin belum kita sadari sepenuhnya. Semakin efisien sistem bekerja, semakin sedikit ruang tersisa untuk interaksi manusia yang sesungguhnya. Kita mendapatkan kemudahan, tapi diam-diam kehilangan sesuatu yang sulit diukur: kedekatan, empati, rasa terhubung secara emosional dengan orang lain.<\/p>\n<p>Di sinilah pertanyaan pentingnya bukan lagi \u201cseberapa canggih teknologi kita\u201d, melainkan \u201c apakah teknologi ini masih memanusiakan kita?\u201d Sebab teknologi yang baik semestinya bukan cuma yang tercanggih, melainkan yang tetap menghormati martabat dan kehangatan hubungan antarmanusia. Kalau justru bikin orang makin terasing satu sama lain, secanggih apapun alatnya, ada sesuatu yang keliru.<\/p>\n<p><strong>Society 5.0: Upaya Mengembalikan Manusia ke Pusat Cerita<\/strong><\/p>\n<p>Jepang punya jawaban menarik untuk kegelisahan ini lewat konsep Society 5.0 \u2013 masyarakat masa depan di mana teknologi digital tidak lagi jadi tujuan, tapi alat untuk menyelesaikan masalah sosial dan meningkatkan kualitas hidup manusia. Bukan manusia yang menyesuaikan diri dengan mesin, tapi teknologi yang dirancang untuk melayani manusia.<\/p>\n<p>Bayangkan teknologi yang benar-benar membantu: sistem kesehatan yang lebih responsif, pendidikan yang lebih merata sampai ke pelosok, transportasinya yang lebih manusiawi. Society 5.0 pada dasarnya mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya: teknologi ini kita buat untuk siapa, dan untuk apa?<\/p>\n<p>Konsep ini relevan sekali untuk Indonesia yang punya keragaman budaya, sosial, dan ekonomi yang luar biasa besar. Teknologi yang berorientasi pada manusia bisa jadi jembatan mengurangi kesenjangan akses pendidikan, kesehatan, dan informasi antar daerah. Tapi syaratnya satu: penerapannya harus dibarengi etika, keadilan, dan tanggung jawab sosial. Tanpa itu, teknologi yang harusnya menyatukan justru bisa memperlebar jurang yang sudah ada.<\/p>\n<p><strong>Yang Hilang di Balik Layar <\/strong><\/p>\n<p>Kita perlu jujur soal ini: komunikasi digital memang membuat kita terhubung lebih cepat, tapi belum tentu lebih dalam. Kita bisa punya ratusan teman di media sosial, tapi entah berapa dari mereka yang benar-benar tahu kabar kita hari ini. Individualisme digital, banjir informasi yang belum tentu benar, budaya serba instan, dan empati yang perlahan menipis \u2013 ini semua tantangan nyata yang datang bersamaan dengan kemajuan yang kita rayakan.<\/p>\n<p>Bukan berarti kita harus menolak teknologi. Justru sebaliknya: kita perlu lebih sadar dan kritis dalam menggunakannya. Manusia punya sesuatu yang tidak bisa digantikan mesin \u2013 akal budi, rasa moral, kemampuan mencipta dari hati. Teknologi semestinya memperluas ruang untuk itu semua, bukan menggantikannya.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, kemajuan zaman bukan cuma soal seberapa cepat dan canggih hidup kita jadinya. Keindahan sejati dari sebuah peradaban justru terletak pada seberapa manusiawi kita tetap bisa menjalani hidup, ditengah semua kecanggihan yang mengelilingi kita. Dan itu, adalah pilihan yang tetap ada di tangan kita \u2013 bukan di tangan mesin.<\/p>\n<p><strong>Sumber Referensi :<\/strong><\/p>\n<p>Cisco. (2024). What Is Industry 4.0? <a href=\"https:\/\/www.cisco.com\/site\/us\/en\/learn\/topics\/networking\/what-is-industry-4-0.html\">https:\/\/www.cisco.com\/site\/us\/en\/learn\/topics\/networking\/what-is-industry-4-0.html<\/a><\/p>\n<p>Fraunhofer IESE. (2025). Industrie 4.0. <a href=\"https:\/\/www.iese.fraunhofer.de\/en\/customers_industries\/digitalisierung-produktion\/industrie40.html\">https:\/\/www.iese.fraunhofer.de\/en\/customers_industries\/digitalisierung-produktion\/industrie40.html<\/a><\/p>\n<p>Cabinet Office, Government of Japan. (n.d.). Society 5.0. <a href=\"https:\/\/www8.cao.go.jp\/cstp\/english\/society5_0\/index.html\">https:\/\/www8.cao.go.jp\/cstp\/english\/society5_0\/index.html<\/a><\/p>\n<p>Keidanren. (n.d). Society 5.0 \u2013 Together Creating the Future. <a href=\"https:\/\/www.keidanren.or.jp\/policy\/society5.0.html\">https:\/\/www.keidanren.or.jp\/policy\/society5.0.html<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: FITRIA RIZKI AMALIA \u2013 MAHASISWA UNIVERSITAS SIBER ASIA JurnalPost.com &#8211; Coba perhatikan sekeliling Anda sore ini. Di meja makan, diruang tunggu, bahkan di tengah obrolan keluarga \u2013 hampir semua orang menatap layar, bukan menatap satu sama lain. Kita bisa video call dengan siapa saja di belahan dunia manapun dalam hitungan detik, tapi entah kenapa, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":27729,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-27728","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27728","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27728"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27728\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27729"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27728"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27728"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27728"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}