{"id":27696,"date":"2026-08-11T18:28:08","date_gmt":"2026-08-11T10:28:08","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27696"},"modified":"2026-08-11T18:28:08","modified_gmt":"2026-08-11T10:28:08","slug":"doomscrolling-dan-gerakan-bebas-ponsel-kembali-hadir-dan-fokus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/doomscrolling-dan-gerakan-bebas-ponsel-kembali-hadir-dan-fokus\/27696\/","title":{"rendered":"Doomscrolling dan Gerakan Bebas Ponsel: Kembali Hadir dan Fokus"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_27697\" aria-describedby=\"caption-attachment-27697\" style=\"width: 605px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-27697\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar1-3.png\" alt=\"\" width=\"605\" height=\"340\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar1-3.png 605w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar1-3-300x169.png 300w\" sizes=\"(max-width: 605px) 100vw, 605px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-27697\" class=\"wp-caption-text\">Ilustrasi suasana bebas ponsel yang mendorong fokus, interaksi langsung, dan kehadiran penuh dalam hubungan sosial, dibuat dengan bantuan AI (OpenAI\/ChatGPT), 2026.<\/figcaption><\/figure>\n<p>Oleh: <strong>Nurul Afdhila \u2013 Mahasiswa Universitas Siber Asia<\/strong><\/p>\n<p><strong>Abstrak.<\/strong><\/p>\n<p>Artikel ini mengkaji meningkatnya minat terhadap ruang dan kegiatan bebas ponsel sebagai respons terhadap kelelahan digital dan budaya doomscrolling. Pada 1 Agustus 2026, The Guardian melaporkan berkembangnya komunitas, klub, kegiatan seni, ruang rekreasi, dan tempat tinggal sementara yang meminta peserta menyimpan atau membatasi ponsel agar dapat hadir penuh dalam pengalaman bersama. Fenomena ini dianalisis menggunakan konsep mindfulness, perhatian berkelanjutan, brain drain akibat kehadiran smartphone, dan human literacy. Hasil kajian menunjukkan bahwa mindfulness bukan penolakan terhadap teknologi, tetapi kemampuan mengarahkan perhatian secara sengaja, menyadari dorongan untuk memeriksa layar, dan memilih respons yang selaras dengan nilai manusia. Fokus juga bukan keadaan tanpa gangguan sama sekali, melainkan kapasitas untuk kembali pada tujuan setelah perhatian teralihkan. Dalam perspektif Estetika Humanisme, kehadiran penuh memungkinkan manusia kembali mengalami keindahan percakapan, proses kreatif, kesunyian, alam, dan relasi yang tidak diperlakukan sebagai konten.<\/p>\n<p><strong>Kata kunci:<\/strong> mindfulness; fokus; doomscrolling; detoks digital; human literacy; Estetika Humanisme<\/p>\n<p><strong>Pendahuluan<\/strong><br \/>\nPonsel pintar telah menjadi alat belajar, bekerja, berkomunikasi, mencari arah, menyimpan dokumen, dan memperoleh hiburan. Teknologi tersebut memperluas kemampuan manusia, tetapi pada saat yang sama menghadirkan aliran notifikasi, pesan, video pendek, berita, iklan, dan rekomendasi tanpa akhir. Banyak orang membuka ponsel untuk satu tujuan, lalu berpindah ke berbagai aplikasi dan baru menyadari bahwa waktu telah berlalu. Fenomena ini sering disebut doomscrolling ketika pengguna terus menggulir konten, terutama konten yang menegangkan atau negatif, walaupun aktivitas itu membuat dirinya lelah.<\/p>\n<p>Persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan menyalahkan kurangnya disiplin individu. Aplikasi digital dirancang untuk memudahkan keterlibatan berulang melalui notifikasi, rekomendasi personal, autoplay, dan infinite scroll. Karena itu, kemampuan menjaga fokus pada era digital membutuhkan kesadaran terhadap diri sendiri sekaligus pemahaman terhadap lingkungan teknologi yang membentuk kebiasaan.<\/p>\n<p>Tema mindfulness dan fokus dalam MKU Estetika Humanisme menjadi relevan karena perhatian bukan sekadar fungsi kognitif. Perhatian menentukan apa yang dianggap penting, siapa yang benar-benar didengar, pengalaman apa yang masuk ke dalam ingatan, dan bagaimana manusia membangun relasi. Kehilangan perhatian berarti bukan hanya kehilangan produktivitas, tetapi juga kehilangan kedalaman pengalaman kemanusiaan.<\/p>\n<p><strong>Fenomena Aktual: Munculnya Ruang Bebas Ponsel<\/strong><br \/>\nPada 1 Agustus 2026, Isabelle Aron melalui The Guardian melaporkan berkembangnya berbagai pengalaman bebas ponsel di Inggris dan jaringan internasional. Dalam kegiatan Offline Project, peserta secara sukarela menyimpan ponsel di kotak terkunci selama dua atau tiga jam agar dapat mengikuti jalan bersama, kelas seni, atau makan bersama dengan lebih hadir. Artikel tersebut juga menggambarkan klub digital detox, sesi membaca dalam diam, kelas kerajinan, tempat rekreasi, pertunjukan, klub malam, hingga penginapan tanpa jaringan yang membatasi penggunaan ponsel (Aron, 2026).<\/p>\n<p>Kegiatan bebas ponsel bukan lagi hanya retret pribadi. Ia berubah menjadi praktik sosial. Data Eventbrite yang dikutip The Guardian menunjukkan bahwa kehadiran pada kegiatan phone-free meningkat 121 persen secara global dari 2024 ke 2025. Offline Club disebut telah memiliki cabang di berbagai kota dan negara, sementara jaringan Silent Book Club berkembang luas. Fenomena ini menunjukkan kelelahan budaya terhadap konektivitas yang terus-menerus dan munculnya kebutuhan kolektif untuk memperoleh ruang yang tidak menuntut dokumentasi serta respons instan (Aron, 2026).<\/p>\n<p>Salah satu hal menarik dari gerakan ini adalah adanya dukungan lingkungan sosial untuk membantu peserta menjaga perhatian. Ketika semua orang menyimpan ponsel, rasa takut ketinggalan informasi berkurang karena norma kelompok berubah. Peserta tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang tidak memegang layar. Praktik ini memperlihatkan bahwa fokus lebih mudah dijaga ketika ruang fisik, aturan, dan komunitas mendukung tujuan yang sama.<\/p>\n<p><strong>Makna Mindfulness dan Fokus<\/strong><br \/>\nKabat-Zinn (2003) mempopulerkan mindfulness sebagai bentuk kesadaran yang tumbuh ketika seseorang memberikan perhatian secara sengaja pada pengalaman saat ini tanpa segera menghakimi. Bishop et al. (2004) kemudian mengusulkan dua komponen utama: pengaturan perhatian agar tetap pada pengalaman kini dan sikap terbuka, ingin tahu, serta menerima terhadap pengalaman tersebut. Dengan demikian, mindfulness bukan sekadar membuat pikiran kosong. Pikiran dapat tetap memunculkan dorongan, kekhawatiran, atau keinginan membuka ponsel, tetapi individu belajar mengenalinya tanpa harus langsung mengikuti dorongan itu.<\/p>\n<p>Fokus dapat dipahami sebagai kemampuan mempertahankan arah perhatian pada tujuan tertentu dan mengembalikannya ketika teralihkan. Definisi ini penting karena manusia tidak selalu mampu berkonsentrasi tanpa gangguan. Mengharapkan pikiran tidak pernah melayang justru dapat menimbulkan frustrasi. Latihan fokus terjadi setiap kali seseorang menyadari bahwa perhatiannya berpindah, lalu dengan sengaja kembali pada bacaan, percakapan, napas, atau pekerjaan yang sedang dilakukan.<\/p>\n<p>Kajian neuroilmiah menunjukkan bahwa praktik mindfulness berkaitan dengan proses pengaturan perhatian, kesadaran tubuh, regulasi emosi, dan perubahan cara individu berhubungan dengan diri sendiri (Tang, H\u00f6lzel, &amp; Posner, 2015). Namun, mindfulness tidak seharusnya diperlakukan sebagai solusi ajaib untuk semua masalah. Ia adalah latihan yang memerlukan konsistensi, konteks yang tepat, dan terkadang dukungan lain ketika seseorang menghadapi persoalan psikologis atau lingkungan yang berat.<\/p>\n<p><strong>Mengapa Ponsel Mengganggu Fokus Walaupun Tidak Digunakan?<\/strong><br \/>\nDalam eksperimen Ward, Duke, Gneezy, dan Bos (2017), keberadaan smartphone milik sendiri ditemukan berkaitan dengan berkurangnya kapasitas kognitif yang tersedia, meskipun perangkat tersebut tidak sedang digunakan. Meskipun efek serupa tidak selalu muncul dalam setiap penelitian, keberadaan ponsel tetap dapat menjadi salah satu sumber beban perhatian. Sebagian sumber daya perhatian digunakan untuk menahan dorongan memeriksa ponsel. Temuan ini menjelaskan mengapa meletakkan ponsel di meja dalam keadaan diam belum tentu sama efektifnya dengan menyimpannya di luar jangkauan atau di ruangan lain.<\/p>\n<p>Melalui eksperimen terkontrol, Castelo et al. (2025) menemukan bahwa pemblokiran akses internet seluler pada smartphone selama dua minggu mengurangi penggunaan ponsel serta meningkatkan kesejahteraan subjektif, kesehatan mental, dan kemampuan mempertahankan perhatian. Hasil ini tidak berarti semua akses internet harus dihentikan. Peserta tetap dapat menggunakan panggilan, pesan, dan akses internet melalui perangkat lain. Inti temuan tersebut adalah bahwa hilangnya akses instan dan terus-menerus memberi ruang bagi aktivitas offline, interaksi langsung, olahraga, alam, hobi, dan membaca.<\/p>\n<p>Dari sudut pandang human literacy, gangguan perhatian tidak hanya berdampak pada hasil ujian atau kecepatan menyelesaikan tugas. Saat seseorang terus memeriksa ponsel ketika temannya bercerita, pesan tidak langsung yang diterima lawan bicara adalah bahwa ia dapat digantikan oleh apa pun yang muncul di layar. Ketika pertunjukan, makanan, perjalanan, atau pertemuan selalu dilihat sebagai bahan unggahan, pengalaman dapat kehilangan kedalaman karena manusia lebih sibuk membangun representasi daripada menghayati kenyataan.<\/p>\n<p>Dalam perspektif human literacy, kemampuan menggunakan teknologi perlu disertai dengan kemampuan memahami diri sendiri, menghargai orang lain, membangun empati, dan menjaga kualitas hubungan sosial. Seseorang tidak cukup hanya terampil mengoperasikan perangkat digital, tetapi juga perlu menentukan kapan teknologi digunakan dan kapan perhatian harus diberikan sepenuhnya kepada manusia serta lingkungan di sekitarnya.<\/p>\n<p><strong>Estetika Humanisme: Keindahan sebagai Kehadiran<\/strong><br \/>\nEstetika Humanisme memandang manusia sebagai subjek yang memiliki pengalaman, kebebasan, martabat, dan kebutuhan untuk bertumbuh. Keindahan tidak hanya terdapat pada gambar yang sempurna, tetapi pada kualitas kehadiran. Percakapan menjadi indah ketika kedua orang saling mendengar tanpa terburu-buru menyusun balasan. Membaca menjadi indah ketika pembaca masuk ke dalam gagasan, bukan sekadar menyelesaikan jumlah halaman. Kegiatan seni menjadi indah ketika prosesnya dinikmati, bukan hanya hasilnya diunggah.<\/p>\n<p>Gerakan phone-free memperlihatkan kerinduan terhadap pengalaman yang tidak selalu diukur oleh like, views, atau dokumentasi. Ketika kamera ditutup dan ponsel disimpan, orang tidak lagi harus mempertanyakan apakah momen tersebut cukup menarik untuk dibagikan. Mereka dapat kembali pada suara musik, ekspresi wajah, tekstur bahan, rasa makanan, dan suasana ruang. Melalui mindfulness, manusia dapat kembali menikmati keindahan dari pengalaman yang benar-benar dijalani, bukan hanya dari dokumentasi yang akan dibagikan.<\/p>\n<p>Namun, pendekatan humanis tidak boleh berubah menjadi sikap anti-teknologi. Ponsel tetap penting bagi aksesibilitas, komunikasi keluarga, pekerjaan, keamanan, dan pembelajaran. Yang dibutuhkan adalah relasi yang lebih merdeka dengan teknologi. Manusia perlu menggunakan perangkat sebagai alat yang dipilih, bukan hidup sebagai objek yang terus diarahkan oleh notifikasi dan algoritma.<\/p>\n<p><strong>Praktik Mindfulness dan Fokus bagi Mahasiswa<\/strong><br \/>\nPraktik pertama adalah menetapkan niat sebelum membuka perangkat. Mahasiswa dapat berhenti selama beberapa detik dan menyebutkan tujuan secara jelas, misalnya mencari satu artikel jurnal, membalas pesan kelompok, atau mengunggah tugas. Setelah tujuan selesai, aplikasi ditutup. Langkah sederhana ini membedakan penggunaan yang disengaja dari penggunaan otomatis.<\/p>\n<p>Praktik kedua adalah menciptakan jarak fisik. Saat membaca atau menulis, ponsel dapat diletakkan di dalam tas, laci, atau ruangan lain. Notifikasi yang tidak penting dapat dinonaktifkan. Mode fokus dapat digunakan untuk menyaring aplikasi tertentu. Jarak tersebut mengurangi beban untuk terus menolak godaan dan membuat energi mental lebih tersedia bagi tugas utama.<\/p>\n<p>Praktik ketiga adalah single-tasking. Mahasiswa sering menganggap mendengarkan kuliah sambil membuka media sosial, membalas pesan, dan mengerjakan dokumen sebagai kemampuan multitasking. Dalam kenyataan, perhatian berpindah-pindah dan setiap perpindahan membutuhkan penyesuaian kembali. Satu periode kerja selama 25-40 menit yang hanya memiliki satu sasaran sering lebih bermakna daripada waktu panjang dengan banyak gangguan. Setelah itu, jeda aktif dapat dilakukan dengan berjalan, minum, meregangkan tubuh, atau melihat ruang terbuka.<\/p>\n<p>Praktik keempat adalah latihan tiga menit untuk kembali hadir. Menit pertama digunakan untuk menyadari pikiran, emosi, dan sensasi tubuh. Menit kedua memusatkan perhatian pada napas. Menit ketiga memperluas perhatian pada tubuh dan lingkungan. Latihan ini dapat dilakukan sebelum presentasi, setelah menerima pesan yang membuat cemas, atau ketika pikiran tidak mampu kembali pada tugas.<\/p>\n<p>Praktik kelima adalah membuat ruang phone-free secara kolektif. Kelompok belajar dapat menyepakati tiga puluh menit tanpa ponsel, kecuali perangkat memang dibutuhkan untuk mencari data. Saat makan atau berbicara dengan teman, ponsel dapat diletakkan terbalik dan tidak berada di antara dua orang. Norma bersama membuat pembatasan terasa sebagai dukungan, bukan hukuman.<\/p>\n<p>Praktik keenam adalah refleksi penggunaan digital. Pada akhir hari, mahasiswa dapat menilai bukan hanya berapa lama screen time, tetapi juga bagaimana kualitasnya: aplikasi apa yang benar-benar membantu, kapan scrolling terjadi tanpa tujuan, emosi apa yang muncul, dan aktivitas apa yang tergeser. Refleksi semacam ini lebih humanis dibanding sekadar mengejar angka waktu layar yang rendah, karena yang dinilai adalah kesesuaian antara penggunaan teknologi dan nilai hidup.<\/p>\n<p><strong>Batasan dan Sikap Kritis<\/strong><br \/>\nDigital detox tidak selalu memberikan pengalaman yang sama bagi setiap orang. Mahasiswa yang bekerja daring, tinggal jauh dari keluarga, memiliki kebutuhan aksesibilitas, atau harus selalu menerima informasi darurat tidak dapat menerapkan larangan total. Pembatasan yang terlalu kaku juga dapat menimbulkan rasa terisolasi. Karena itu, mindfulness menekankan pilihan sadar dan fleksibel, bukan aturan universal.<\/p>\n<p>Selain itu, tanggung jawab tidak seharusnya hanya dibebankan kepada pengguna. Kampus, organisasi, pengembang teknologi, dan pembuat kebijakan perlu merancang lingkungan komunikasi yang menghormati waktu manusia. Pesan yang tidak mendesak tidak harus menuntut jawaban seketika. Pertemuan dapat memiliki jeda. Materi pembelajaran dapat disusun tanpa terus-menerus memecah perhatian. Teknologi yang baik bukan hanya mudah digunakan, tetapi juga memberi pengguna kendali untuk berhenti.<\/p>\n<p><strong>Kesimpulan<\/strong><br \/>\nMunculnya komunitas dan ruang bebas ponsel yang diberitakan pada awal Agustus 2026 menunjukkan bahwa masyarakat mulai mencari cara kolektif untuk keluar sementara dari konektivitas tanpa henti. Fenomena tersebut bukan nostalgia sederhana terhadap masa sebelum smartphone, tetapi respons terhadap kelelahan digital, doomscrolling, dan hilangnya pengalaman yang mendalam.<\/p>\n<p>Mindfulness dan fokus menawarkan cara untuk membangun hubungan yang lebih sadar dengan perhatian. Mindfulness membuat individu mengenali dorongan tanpa langsung dikuasai olehnya, sedangkan fokus melatih kemampuan kembali pada tujuan setelah terdistraksi. Dalam perspektif Estetika Humanisme, perhatian adalah bentuk penghormatan: kepada tugas, kepada tubuh, kepada lingkungan, dan terutama kepada manusia lain. Menjadi hadir bukan berarti meninggalkan teknologi, melainkan memastikan bahwa teknologi tidak mengambil alih kebebasan manusia untuk memilih apa yang layak diperhatikan.<\/p>\n<p><strong>Daftar Pustaka<\/strong><br \/>\nAron, I. (2026, August 1). <em>The great British switch-off: How floating retreats, mobile-free pubs and sauna book groups are liberating people from their phones<\/em>. The Guardian. <a href=\"https:\/\/www.theguardian.com\/technology\/2026\/aug\/01\/great-british-switch-off-fun-freeing-ways-ditch-smartphone-doomscrolling?utm_source=chatgpt.com\">https:\/\/www.theguardian.com\/technology\/2026\/aug\/01\/great-british-switch-off-fun-freeing-ways-ditch-smartphone-doomscrolling<\/a><\/p>\n<p>Bishop, S. R., Lau, M., Shapiro, S., Carlson, L., Anderson, N. D., Carmody, J., Segal, Z. V., Abbey, S., Speca, M., Velting, D., &amp; Devins, G. (2004). Mindfulness: A proposed operational definition. <em>Clinical Psychology: Science and Practice, 11<\/em>(3), 230\u2013241. <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1093\/clipsy.bph077\">https:\/\/doi.org\/10.1093\/clipsy.bph077<\/a><\/p>\n<p>Castelo, N., Kushlev, K., Ward, A. F., Esterman, M., &amp; Reiner, P. B. (2025). Blocking mobile internet on smartphones improves sustained attention, mental health, and subjective well-being. <em>PNAS Nexus, 4<\/em>(2), Article pgaf017. <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1093\/pnasnexus\/pgaf017\">https:\/\/doi.org\/10.1093\/pnasnexus\/pgaf017<\/a><\/p>\n<p>Kabat-Zinn, J. (2003). Mindfulness-based interventions in context: Past, present, and future. <em>Clinical Psychology: Science and Practice, 10<\/em>(2), 144\u2013156. <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1093\/clipsy.bpg016\">https:\/\/doi.org\/10.1093\/clipsy.bpg016<\/a><\/p>\n<p>Tang, Y.-Y., H\u00f6lzel, B. K., &amp; Posner, M. I. (2015). The neuroscience of mindfulness meditation. <em>Nature Reviews Neuroscience, 16<\/em>, 213\u2013225. <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1038\/nrn3916\">https:\/\/doi.org\/10.1038\/nrn3916<\/a><\/p>\n<p>Ward, A. F., Duke, K., Gneezy, A., &amp; Bos, M. W. (2017). Brain drain: The mere presence of one\u2019s own smartphone reduces available cognitive capacity. <em>Journal of the Association for Consumer Research, 2<\/em>(2), 140\u2013154. <a href=\"https:\/\/doi.org\/10.1086\/691462\">https:\/\/doi.org\/10.1086\/691462<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Nurul Afdhila \u2013 Mahasiswa Universitas Siber Asia Abstrak. Artikel ini mengkaji meningkatnya minat terhadap ruang dan kegiatan bebas ponsel sebagai respons terhadap kelelahan digital dan budaya doomscrolling. Pada 1 Agustus 2026, The Guardian melaporkan berkembangnya komunitas, klub, kegiatan seni, ruang rekreasi, dan tempat tinggal sementara yang meminta peserta menyimpan atau membatasi ponsel agar dapat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":27697,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-27696","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27696","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27696"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27696\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27697"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27696"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27696"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27696"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}