{"id":27692,"date":"2026-08-11T18:20:29","date_gmt":"2026-08-11T10:20:29","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27692"},"modified":"2026-08-11T18:20:29","modified_gmt":"2026-08-11T10:20:29","slug":"self-concept-di-era-media-sosial-mengapa-banyak-orang-kehilangan-jati-diri-demi-validasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/self-concept-di-era-media-sosial-mengapa-banyak-orang-kehilangan-jati-diri-demi-validasi\/27692\/","title":{"rendered":"Self Concept di Era Media Sosial: Mengapa Banyak Orang Kehilangan Jati Diri Demi Validasi?"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-27693\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Self-Concept.jpg\" alt=\"\" width=\"629\" height=\"359\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Self-Concept.jpg 629w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Self-Concept-300x171.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 629px) 100vw, 629px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: <strong>Alfin Dafa Saifudin &#8211; Mahasiswa Universitas Siber Asia<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Kemajuan teknologi informasi telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam cara berkomunikasi dan menampilkan identitas diri. Kehadiran berbagai platform media sosial seperti Instagram, TikTok, Threads, Facebook, dan X memungkinkan setiap orang membagikan aktivitas, pendapat, maupun pencapaiannya kepada khalayak luas. Saat ini media sosial tidak lagi berfungsi hanya sebagai sarana komunikasi, tetapi juga menjadi ruang untuk memperoleh perhatian, pengakuan, bahkan popularitas.<\/p>\n<p>Fenomena tersebut memunculkan persoalan baru, yaitu kecenderungan seseorang menilai dirinya berdasarkan respons yang diterima di media sosial. Jumlah tanda suka, komentar, maupun pengikut sering dijadikan tolok ukur keberhasilan dan harga diri. Ketika unggahan tidak memperoleh respons sesuai harapan, sebagian orang merasa kecewa, kurang percaya diri, hingga<\/p>\n<p>menganggap dirinya tidak bernilai. Sebaliknya, ketika memperoleh banyak perhatian, muncul perasaan bangga yang sering kali hanya berlangsung sesaat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa konsep diri masyarakat, khususnya generasi muda, semakin dipengaruhi oleh validasi dari lingkungan digital. Dalam kajian MKU Estetika Humanisme, manusia dipandang memiliki nilai yang melekat pada dirinya sebagai pribadi, sehingga penghargaan terhadap diri tidak seharusnya bergantung pada popularitas atau penilaian orang lain di media sosial.<\/p>\n<p><strong>Apa itu Konsep Self Concept?<\/strong><\/p>\n<p>Self concept atau konsep diri merupakan cara individu memandang, memahami, dan mengevaluasi dirinya sendiri. Konsep diri berkembang melalui berbagai pengalaman hidup, interaksi dengan keluarga, lingkungan sosial, pendidikan, serta pengalaman pribadi yang membentuk cara seseorang mengenali identitasnya.<\/p>\n<p>Individu dengan konsep diri yang positif cenderung mampu menerima kelebihan dan kekurangannya secara realistis. Mereka tidak mudah terpengaruh oleh penilaian orang lain karena memiliki keyakinan terhadap nilai dirinya. Sebaliknya, individu dengan konsep diri yang kurang baik akan lebih mudah membandingkan dirinya dengan orang lain dan menggantungkan rasa percaya dirinya pada pengakuan dari lingkungan.<\/p>\n<p><strong>Fenomena Validasi Digital di Media Sosial<\/strong><\/p>\n<p>Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap dampak media sosial terhadap kesehatan mental semakin meningkat. Pada tahun 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital mengingatkan bahwa algoritma media sosial berpotensi menciptakan ilusi realitas, yaitu kondisi ketika pengguna hanya melihat sisi terbaik kehidupan orang lain sehingga muncul kecenderungan untuk membandingkan dirinya dengan standar yang sebenarnya tidak realistis. Fenomena lain yang banyak diperbincangkan adalah keinginan untuk selalu terlihat sempurna di<\/p>\n<p>dunia digital. Penggunaan filter wajah, penyuntingan foto, hingga penyajian kehidupan yang tampak ideal membuat sebagian pengguna merasa harus mempertahankan citra tersebut agar tetap mendapatkan perhatian dari warganet. Akibatnya, rasa percaya diri lebih banyak dipengaruhi oleh respons pengguna media sosial dibandingkan penerimaan terhadap diri sendiri.<\/p>\n<p>Selain itu, muncul pula tren Zero Posting, yaitu keputusan sebagian anak muda untuk mengurangi bahkan menghentikan unggahan kehidupan pribadinya. Fenomena ini muncul sebagai bentuk kejenuhan terhadap tekanan sosial yang menuntut seseorang selalu tampil menarik dan sempurna di media sosial.<\/p>\n<p>Penelitian mengenai Generasi Z juga menunjukkan bahwa media sosial, khususnya Instagram, sering dimanfaatkan sebagai sarana memperoleh pengakuan sosial (self-validation). Tidak sedikit pengguna yang mengaitkan jumlah interaksi pada unggahan mereka dengan nilai dirinya. Hal ini menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi ruang pembentukan identitas sekaligus sumber validasi sosial.<\/p>\n<p><strong>Bagaimana Analisis Berdasarkan Perspektif Estetika Humanisme?<\/strong><\/p>\n<p>Estetika Humanisme memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki martabat, kebebasan, dan keunikan yang tidak dapat diukur melalui popularitas maupun pengakuan publik. Nilai seseorang tidak hanya terletak pada penampilan fisik, tetapi juga pada karakter, integritas, empati, kreativitas, dan kontribusinya bagi masyarakat.<\/p>\n<p>Ketika seseorang terlalu bergantung pada validasi digital, ia berisiko kehilangan kebebasan dalam menentukan identitasnya. Berbagai keputusan yang diambil sering kali lebih didasarkan pada keinginan memperoleh perhatian daripada mencerminkan nilai dan prinsip yang diyakininya. Dalam kondisi seperti ini, media sosial tidak lagi menjadi sarana berekspresi, melainkan menjadi alat yang mengendalikan cara seseorang memandang dirinya sendiri.<\/p>\n<p>Pendekatan humanistik mengajarkan bahwa setiap individu memiliki potensi, kelebihan, dan tujuan hidup yang berbeda. Oleh karena itu, perbedaan tidak perlu dipandang sebagai kekurangan. Media sosial seharusnya dimanfaatkan sebagai media untuk berbagi pengetahuan, membangun relasi positif, dan mengembangkan kreativitas, bukan sebagai alat untuk menentukan harga diri.<\/p>\n<p><strong>Bagaimana Upaya Membangun Konsep Diri yang Positif?<\/strong><\/p>\n<p>Pembentukan konsep diri yang sehat dapat dilakukan melalui berbagai cara. Pertama, mengenali potensi, kelebihan, serta keterbatasan diri secara objektif. Kedua, mengurangi kebiasaan membandingkan kehidupan pribadi dengan kehidupan yang ditampilkan orang lain di media sosial. Ketiga, menggunakan media sosial secara bijaksana dengan membatasi waktu penggunaan agar tidak menimbulkan ketergantungan. Keempat, meningkatkan kompetensi, prestasi, dan karakter sebagai sumber kepercayaan diri. Selain itu, dukungan dari keluarga, teman, maupun lingkungan yang positif juga berperan penting dalam membangun konsep diri yang sehat.<\/p>\n<p>Yang tidak kalah penting adalah menyadari bahwa jumlah likes, komentar, maupun followers bukanlah ukuran keberhasilan ataupun nilai seseorang. Harga diri dibangun melalui proses mengenal diri, menerima diri, serta terus mengembangkan potensi yang dimiliki.<\/p>\n<p>Kesimpulan<br \/>\nMedia sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Meskipun memberikan berbagai manfaat dalam komunikasi dan penyebaran informasi, media sosial juga membawa tantangan terhadap pembentukan konsep diri. Budaya validasi digital membuat sebagian orang menempatkan penilaian orang lain sebagai dasar dalam menilai dirinya sendiri sehingga berpotensi kehilangan identitas yang sebenarnya.<\/p>\n<p>Melalui perspektif Estetika Humanisme, setiap individu diajak untuk kembali memahami bahwa nilai manusia berasal dari martabat, karakter, dan kemampuannya memberikan manfaat bagi sesama, bukan dari tingkat popularitas di dunia maya. Oleh sebab itu, membangun konsep diri yang positif menjadi bekal penting agar seseorang mampu memanfaatkan perkembangan teknologi secara bijaksana tanpa kehilangan jati dirinya sebagai manusia.<\/p>\n<p><strong>Daftar Pustaka<\/strong><br \/>\nSitumorang, W. R., &amp; Hayati, R. (2023). Media sosial Instagram sebagai bentuk validasi dan representasi diri. Jurnal Sosiologi Nusantara, 9(1), 111\u2013118. https:\/\/doi.org\/10.33369\/jsn.9.1.111-118. (E-Journal UNIB)<\/p>\n<p>Kartini, U., &amp; Haryono. (2025). Peran media sosial Instagram dalam pembentukan konsep diri siswa SMP Negeri 3 Cibaliung. PESHUM: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora, 4(3), 4627\u20134633. https:\/\/doi.org\/10.56799\/peshum.v4i3.8562. (UlilAlbab Institute)<\/p>\n<p>Sutjipto, V. W., &amp; Hafni, R. D. (2020). Kadar konsep diri mahasiswa dalam berinteraksi di media sosial. Media Komunikasi FPIPS, 19(2), 73\u201383. https:\/\/doi.org\/10.23887\/mkfis.v19i2.27665. (Jurnal Undiksha)<\/p>\n<p>Tahir, N. A., &amp; Nur, H. (2024). Representasi identitas pribadi di media sosial (Representation of Personal Identity on Social Media), 107\u2013126.(Journal UNM)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Alfin Dafa Saifudin &#8211; Mahasiswa Universitas Siber Asia JurnalPost.com &#8211; Kemajuan teknologi informasi telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam cara berkomunikasi dan menampilkan identitas diri. Kehadiran berbagai platform media sosial seperti Instagram, TikTok, Threads, Facebook, dan X memungkinkan setiap orang membagikan aktivitas, pendapat, maupun pencapaiannya kepada khalayak luas. Saat ini media [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":27693,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-27692","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27692","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27692"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27692\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27693"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27692"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27692"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27692"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}