{"id":27682,"date":"2026-08-10T17:44:28","date_gmt":"2026-08-10T09:44:28","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27682"},"modified":"2026-08-10T17:44:28","modified_gmt":"2026-08-10T09:44:28","slug":"rage-bait-ketika-kemarahan-kita-menjadi-komoditas-di-media-sosial","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/rage-bait-ketika-kemarahan-kita-menjadi-komoditas-di-media-sosial\/27682\/","title":{"rendered":"RAGE BAIT: KETIKA KEMARAHAN KITA MENJADI KOMODITAS DI MEDIA SOSIAL"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar1-2.png\" alt=\"\" width=\"443\" height=\"355\" class=\"aligncenter size-full wp-image-27683\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar1-2.png 443w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar1-2-300x240.png 300w\" sizes=\"(max-width: 443px) 100vw, 443px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: <strong>Nurul Mukti Utami \u2013 Mahasiswa Universitas Siber Asia<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Pernahkah kita membuka media sosial hanya untuk melihat satu unggahan yang membuat darah terasa naik ke kepala? Judulnya provokatif, videonya terasa sengaja menyebalkan, atau pendapat seseorang begitu bertolak belakang dengan keyakinan kita sehingga tangan otomatis ingin mengetik komentar. Kita mungkin menganggap reaksi itu spontan. Namun, di balik sebagian konten yang beredar, kemarahan justru dapat menjadi sesuatu yang sengaja \u201cdipancing\u201d.<\/p>\n<p>Fenomena ini dikenal sebagai rage bait, yaitu konten daring yang sengaja dirancang untuk memicu kemarahan atau kemarahan moral agar mendapatkan lalu lintas dan interaksi. Fenomena tersebut bukan lagi sekadar istilah komunitas internet. Oxford University Press memilih \u201crage bait\u201d sebagai Oxford Word of the Year 2025 dan menyebut penggunaan istilah itu meningkat tiga kali lipat dalam satu tahun (Oxford University Press, 2025). Pilihan tersebut menunjukkan bahwa cara manusia berinteraksi dengan teknologi telah berubah: perhatian kita tidak hanya diperebutkan dengan rasa ingin tahu, tetapi juga dengan emosi.<\/p>\n<p>Bagi Indonesia, persoalan ini menjadi semakin relevan. DataReportal mencatat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial aktif di Indonesia pada Oktober 2025, setara dengan 62,9 persen populasi pada akhir 2025. Angka ini memang tidak sama dengan jumlah individu unik, tetapi tetap menggambarkan betapa besarnya ruang sosial yang kini berlangsung di platform digital (Kemp, 2026). Ketika ruang sosial sebesar itu dipenuhi konten yang berlomba memancing emosi, kemampuan mengelola kemarahan bukan lagi hanya persoalan pribadi. Ia menjadi bagian dari kecakapan hidup sebagai manusia digital.<\/p>\n<p><strong>Kemarahan adalah emosi yang manusiawi<\/strong><\/p>\n<p>Kita sering menganggap marah sebagai emosi negatif yang harus segera dihilangkan. Padahal, marah adalah respons manusiawi. Kemarahan dapat muncul ketika seseorang merasa diperlakukan tidak adil, dirugikan, dihina, atau melihat sesuatu yang bertentangan dengan nilai yang dianggap penting. Dalam konteks tertentu, kemarahan bahkan dapat mendorong seseorang memperjuangkan perubahan.<\/p>\n<p>Masalahnya bukan pada munculnya rasa marah, melainkan pada apa yang kita lakukan setelah rasa itu muncul. American Psychological Association menjelaskan bahwa tujuan anger management bukan menghapus kemarahan, tetapi membantu seseorang mengendalikan reaksi emosional dan fisiologis yang menyertainya. Artinya, menjadi dewasa secara emosional bukan berarti tidak pernah marah. Justru, kedewasaan terlihat ketika seseorang mampu memberi jarak antara \u201csaya sedang marah\u201d dan \u201csaya harus langsung bertindak\u201d (American Psychological Association, 2023).<\/p>\n<p>Di media sosial, jarak tersebut menjadi semakin pendek. Kita dapat membaca sebuah unggahan, merasakan emosi, lalu membalas atau membagikannya dalam hitungan detik. Tidak ada waktu untuk menarik napas, memeriksa sumber, atau bertanya apakah unggahan tersebut memang layak mendapatkan energi kita.<\/p>\n<p><strong>Rage bait bekerja dengan memanfaatkan celah tersebut<\/strong><\/p>\n<p>Rage bait pada dasarnya memanfaatkan mekanisme perhatian manusia. Konten yang membuat kita penasaran mungkin memperoleh satu klik. Namun konten yang membuat kita tersinggung dapat menghasilkan komentar panjang, debat, quote, repost, dan reaksi berulang. Bahkan ketika kita membenci sebuah konten, tindakan kita terhadap konten itu tetap dapat menjadi \u201cengagement\u201d.<\/p>\n<p>Di sinilah persoalannya menjadi lebih kompleks. Stanford Report menjelaskan bahwa rage bait memiliki insentif ekonomi dan sosial: pembuat konten mendapatkan perhatian ketika orang bereaksi terhadap sesuatu yang sengaja dibuat ofensif atau mengundang kemarahan. Dengan kata lain, kemarahan kita dapat berubah menjadi bahan bakar bagi sistem yang mengejar engagement (Stanford Report, 2025).<\/p>\n<p>Penelitian Jiang dan kolega yang terbit secara daring pada 2026 dalam jurnal Cognition and Emotion memperlihatkan sisi lain yang lebih mengkhawatirkan. Dalam tiga eksperimen, peneliti menemukan bahwa moral anger dapat mempercepat pengambilan keputusan untuk membagikan informasi. Kemarahan juga dapat membuat orang lebih mengabaikan petunjuk tentang kredibilitas sumber. Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa ketika kita merasa sangat yakin bahwa sesuatu \u201charus dilawan\u201d, justru pada saat itulah kita perlu berhenti sejenak (Jiang et al., 2026).<\/p>\n<p>Bayangkan sebuah unggahan dengan judul: \u201cLihat kelakuan orang ini! Kok masih ada yang membela?\u201d Kita merasa kesal, lalu membagikannya dengan komentar, \u201cParah banget!\u201d Beberapa menit kemudian unggahan itu semakin ramai. Kita merasa telah menunjukkan sikap. Padahal, kita mungkin baru saja membantu menyebarkan sesuatu yang konteksnya tidak lengkap, bahkan mungkin tidak benar.<\/p>\n<p><strong>Kita bukan hanya pengguna media sosial; kita adalah bagian dari ekosistemnya<\/strong><\/p>\n<p>Fenomena rage bait mengajak kita melihat media sosial dari perspektif humanisme. Teknologi pada dasarnya adalah alat. Namun, cara manusia merancang, menggunakan, dan merespons teknologi menentukan apakah teknologi memperkuat kemanusiaan atau justru mengeksploitasi kelemahan manusia.<\/p>\n<p>Jika setiap kemarahan langsung diterjemahkan menjadi komentar, setiap provokasi dibalas dengan provokasi, dan setiap informasi yang sesuai dengan emosi kita langsung dibagikan, maka kita perlahan kehilangan kendali atas perhatian sendiri. Kita merasa bebas memilih apa yang ingin dilihat, padahal pilihan kita dapat diarahkan oleh konten yang paling berhasil memancing reaksi.<\/p>\n<p>Karena itu, literasi digital saja tidak cukup. Kita membutuhkan literasi humanis: kemampuan untuk memahami diri sendiri, mengenali emosi, mempertimbangkan perspektif orang lain, dan menyadari konsekuensi dari tindakan digital kita.<\/p>\n<p><strong>Lalu, apa yang bisa dilakukan?<\/strong><\/p>\n<p>Pertama, kenali pemicu. Ketika sebuah konten membuat kita langsung ingin membalas, anggap itu sebagai sinyal untuk berhenti sejenak. Bukan berarti kita harus setuju dengan konten tersebut. Kita hanya perlu memastikan bahwa keputusan kita dibuat dengan sadar.<\/p>\n<p>Kedua, gunakan aturan \u201cjeda sebelum berbagi\u201d. Baca ulang, periksa sumber, lihat konteks, dan tanyakan: \u201cApakah saya membagikan ini karena informasinya penting, atau karena saya sedang marah?\u201d Pertanyaan sederhana ini dapat mencegah kita menjadi bagian dari rantai penyebaran informasi yang tidak bertanggung jawab.<\/p>\n<p>Ketiga, bedakan kritik dengan reaksi impulsif. Kita boleh tidak setuju. Kita bahkan boleh marah terhadap ketidakadilan. Tetapi kritik yang bermakna membutuhkan alasan, data, dan argumen. Menghina seseorang karena kita tersulut emosi bukanlah bentuk keberanian; itu hanya memberi kemenangan kepada provokasi.<\/p>\n<p>Keempat, latih empati digital. Di balik sebuah akun terdapat manusia yang mungkin memiliki pengalaman, latar belakang, dan cara berpikir yang berbeda. Empati bukan berarti membenarkan semua pendapat. Empati berarti berusaha memahami manusia sebelum menghakimi.<\/p>\n<p>Kelima, berani tidak ikut serta. Tidak semua konten membutuhkan respons. Tidak semua perdebatan harus dimenangkan. Terkadang tindakan paling rasional adalah menutup layar, mengabaikan, atau menggunakan fitur mute, block, dan report ketika diperlukan.<\/p>\n<p><strong>Menjadi manusia di tengah ekonomi perhatian<\/strong><\/p>\n<p>Pada akhirnya, tantangan terbesar era digital bukan sekadar bagaimana manusia menguasai teknologi, tetapi bagaimana manusia tetap menguasai dirinya ketika berhadapan dengan teknologi. Rage bait menunjukkan bahwa emosi manusia memiliki nilai ekonomi: kemarahan dapat menghasilkan klik, komentar, dan perhatian. Karena itu, kemampuan mengelola kemarahan bukan hanya berguna untuk menjaga hubungan dengan orang lain, tetapi juga untuk menjaga kebebasan kita dalam menentukan ke mana perhatian dan energi kita diberikan.<\/p>\n<p>Kita tidak harus menjadi manusia yang tidak pernah marah. Kita hanya perlu menjadi manusia yang tidak mudah dikendalikan oleh kemarahannya sendiri.<\/p>\n<p>Sebab di dunia digital, setiap kali kita bereaksi, selalu ada kemungkinan seseorang sedang mendapatkan keuntungan dari reaksi tersebut. Pertanyaannya bukan lagi \u201cApakah saya boleh marah?\u201d, melainkan \u201cApakah kemarahan ini benar-benar milik saya, atau sedang dimanfaatkan orang lain?\u201d<\/p>\n<p><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><\/p>\n<p>American Psychological Association. (2023, November 3). Control anger before it controls you. APA. https:\/\/www.apa.org\/topics\/anger\/control<\/p>\n<p>Jiang, H., Yu, H., Guo, S., &amp; Peng, X. (2026). Moral anger accelerates misinformation sharing: Evidence from experimental manipulations and hierarchical drift-diffusion modelling. Cognition and Emotion. https:\/\/doi.org\/10.1080\/02699931.2026.2647351<\/p>\n<p>Kemp, S. (2026). Digital 2026: Indonesia. DataReportal. https:\/\/datareportal.com\/reports\/digital-2026-indonesia<\/p>\n<p>Oxford University Press. (2025, December 1). The Oxford Word of the Year 2025 is rage bait. https:\/\/corp.oup.com\/news\/the-oxford-word-of-the-year-2025-is-rage-bait\/<\/p>\n<p>Stanford Report. (2025, December). Why we can\u2019t stop clicking on rage bait. Stanford University. https:\/\/news.stanford.edu\/stories\/2025\/12\/rage-bait-explained-oxford-word-year<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Nurul Mukti Utami \u2013 Mahasiswa Universitas Siber Asia JurnalPost.com &#8211; Pernahkah kita membuka media sosial hanya untuk melihat satu unggahan yang membuat darah terasa naik ke kepala? Judulnya provokatif, videonya terasa sengaja menyebalkan, atau pendapat seseorang begitu bertolak belakang dengan keyakinan kita sehingga tangan otomatis ingin mengetik komentar. Kita mungkin menganggap reaksi itu spontan. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":27683,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-27682","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27682","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27682"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27682\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27683"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27682"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27682"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27682"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}