{"id":27678,"date":"2026-08-10T17:40:21","date_gmt":"2026-08-10T09:40:21","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27678"},"modified":"2026-08-10T17:40:21","modified_gmt":"2026-08-10T09:40:21","slug":"ai-tidak-menggantikan-manusia-tapi-bisa-menggantikan-mereka-yang-enggan-belajar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/ai-tidak-menggantikan-manusia-tapi-bisa-menggantikan-mereka-yang-enggan-belajar\/27678\/","title":{"rendered":"AI Tidak Menggantikan Manusia, Tapi Bisa Menggantikan Mereka yang Enggan Belajar"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_27679\" aria-describedby=\"caption-attachment-27679\" style=\"width: 794px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-27679\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar1-1.png\" alt=\"\" width=\"794\" height=\"360\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar1-1.png 794w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar1-1-300x136.png 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar1-1-768x348.png 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar1-1-750x340.png 750w\" sizes=\"(max-width: 794px) 100vw, 794px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-27679\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 1. Penggunaan AI (ChatGPT) sumber : dokumentasi penulis<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>Oleh : Ramadhenta Surya Ermawan<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Sejak kecerdasan buatan atau <em>Artificial Intelligence<\/em> (AI) semakin mudah diakses, muncul satu pertanyaan yang terus berulang: apakah AI akan menggantikan manusia? Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Hari ini, AI mampu menulis artikel, menerjemahkan bahasa, membuat desain, menyusun presentasi, hingga membantu menulis kode pemrograman hanya dalam hitungan detik. Tidak sedikit orang yang mulai merasa cemas terhadap masa depan pekerjaannya. Namun, menurut saya, pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah AI akan menggantikan manusia. Pertanyaan yang seharusnya kita renungkan adalah, apakah kita sudah siap berkembang di tengah perubahan itu?<\/p>\n<p>AI memang mampu menyelesaikan banyak pekerjaan dengan cepat. Akan tetapi, AI tetap bekerja berdasarkan perintah yang diberikan manusia. Semakin baik pertanyaan yang diajukan, semakin baik pula hasil yang diberikan. Artinya, kemampuan berpikir kritis, memahami masalah, dan mengambil keputusan masih menjadi peran yang tidak bisa begitu saja digantikan oleh teknologi. Sayangnya, di kalangan generasi muda, AI mulai dipandang sebagai jalan pintas. Tugas kuliah diserahkan sepenuhnya kepada AI, ringkasan buku dibuat dalam hitungan detik, bahkan ada yang meminta AI menyelesaikan seluruh pekerjaan tanpa berusaha memahami prosesnya.<\/p>\n<p>Padahal, teknologi seharusnya menjadi alat untuk membantu belajar, bukan alasan untuk berhenti belajar. Kondisi ini perlu menjadi perhatian. Jika kita terbiasa menyerahkan seluruh proses berpikir kepada AI, lama-kelamaan kemampuan yang selama ini kita bangun bisa menurun. Kita mungkin mendapatkan hasil yang cepat, tetapi kehilangan kesempatan untuk melatih analisis, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah. Dalam jangka panjang, justru kemampuan-kemampuan inilah yang paling dibutuhkan di dunia kerja. Di sisi lain, menolak AI juga bukan pilihan yang bijak.<\/p>\n<p>Sejarah menunjukkan bahwa setiap perkembangan teknologi selalu mengubah cara manusia bekerja. Mesin menggantikan pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual. Internet mengubah cara kita mencari informasi. Kini AI hadir membawa perubahan baru. Teknologi tidak bisa dihentikan hanya karena kita merasa tidak siap. Yang membedakan setiap orang adalah cara mereka merespons perubahan tersebut. Ada yang memilih belajar memanfaatkan teknologi sehingga produktivitasnya meningkat. Ada pula yang memilih bertahan dengan cara lama dan berharap perubahan itu tidak terjadi. Sayangnya, dunia tidak pernah menunggu mereka yang enggan beradaptasi.<\/p>\n<p>Banyak perusahaan saat ini tidak hanya mencari orang yang mampu menggunakan AI, tetapi juga orang yang mampu berpikir di luar apa yang bisa dilakukan AI. Kemampuan berkomunikasi, bekerja sama dalam tim, memahami emosi manusia, memimpin, serta mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan etis tetap menjadi nilai yang sulit digantikan oleh mesin. AI dapat menghasilkan jawaban, tetapi tidak selalu memahami konteks sosial, budaya, maupun nilai kemanusiaan yang melatarbelakangi sebuah persoalan.<\/p>\n<p>Sebagai generasi muda, kita berada pada posisi yang sangat menguntungkan. Kita hidup di masa ketika akses terhadap ilmu pengetahuan jauh lebih mudah dibandingkan generasi sebelumnya. Hanya dengan telepon genggam, kita bisa mengikuti kelas dari universitas ternama, membaca jurnal ilmiah, belajar bahasa asing, hingga berdiskusi dengan AI kapan saja. Kesempatan seperti ini seharusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan, bukan sekadar mencari jalan tercepat menyelesaikan pekerjaan. Menggunakan AI bukanlah sebuah kesalahan. Justru kemampuan memanfaatkan AI secara bijak akan menjadi salah satu keterampilan penting di masa depan.<\/p>\n<p>Yang perlu dihindari adalah ketergantungan. Ketika AI menjadi satu-satunya sumber berpikir, kita perlahan kehilangan rasa ingin tahu, kemampuan menganalisis, dan keberanian untuk mencoba menyelesaikan masalah dengan usaha sendiri. Pada akhirnya, AI bukanlah ancaman terbesar bagi manusia. Ancaman sebenarnya adalah ketika manusia berhenti belajar karena merasa teknologi sudah bisa melakukan segalanya. Dunia akan terus berubah, dan teknologi akan terus berkembang. Mereka yang memiliki kemauan untuk belajar, beradaptasi, dan terus meningkatkan kemampuan akan selalu menemukan tempatnya.<\/p>\n<p>Jadi, mungkin kalimat yang lebih tepat bukanlah &#8220;AI akan menggantikan manusia&#8221;. Yang lebih mendekati kenyataan adalah, AI akan membantu mereka yang mau belajar berkembang lebih cepat, sementara mereka yang enggan belajar berisiko tertinggal. Di era seperti sekarang, bukan teknologinya yang menentukan masa depan kita, melainkan pilihan kita untuk terus belajar atau merasa sudah cukup.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Ramadhenta Surya Ermawan JurnalPost.com &#8211; Sejak kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin mudah diakses, muncul satu pertanyaan yang terus berulang: apakah AI akan menggantikan manusia? Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Hari ini, AI mampu menulis artikel, menerjemahkan bahasa, membuat desain, menyusun presentasi, hingga membantu menulis kode pemrograman hanya dalam hitungan detik. Tidak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":27679,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-27678","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27678","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27678"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27678\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27679"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27678"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27678"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27678"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}