{"id":27674,"date":"2026-08-10T17:35:02","date_gmt":"2026-08-10T09:35:02","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27674"},"modified":"2026-08-10T17:35:02","modified_gmt":"2026-08-10T09:35:02","slug":"mengapa-kita-suka-dengar-streamer-yapping","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/mengapa-kita-suka-dengar-streamer-yapping\/27674\/","title":{"rendered":"Mengapa Kita Suka Dengar Streamer &#8216;Yapping&#8217;?"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/gambar-pendukung-opini.jpg-scaled.jpeg\" alt=\"\" width=\"2560\" height=\"1707\" class=\"aligncenter size-full wp-image-27675\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/gambar-pendukung-opini.jpg-scaled.jpeg 2560w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/gambar-pendukung-opini.jpg-300x200.jpeg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/gambar-pendukung-opini.jpg-1024x683.jpeg 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/gambar-pendukung-opini.jpg-768x512.jpeg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/gambar-pendukung-opini.jpg-1536x1024.jpeg 1536w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/gambar-pendukung-opini.jpg-2048x1365.jpeg 2048w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/gambar-pendukung-opini.jpg-750x500.jpeg 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/gambar-pendukung-opini.jpg-1140x760.jpeg 1140w\" sizes=\"(max-width: 2560px) 100vw, 2560px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: Filha Fasha Gunawan<br \/>\nAfiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)<\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Di era layar lipat dan media sosial yang serba cepat, pola hiburan masyarakat modern perlahan mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Jika beberapa waktu lalu pelarian seseorang setelah lelah beraktivitas adalah menonton acara televisi atau bioskop, kini Gen Z dan milenial justru lebih betah memandangi layar ponsel berjam-jam hanya untuk menonton seorang <em>streamer game<\/em>. Anehnya, hal utama yang dicari penonton kerap kali bukan kemudahan si <em>streamer<\/em> dalam menaklukkan musuh atau menyelesaikan level tersulit. Sebaliknya, perhatian pembaca justru tertuju pada gaya mengobrol tanpa arah, celetukan spontan, dan ocehan absurd mereka yang kini populer dengan istilah <em>yapping<\/em>. Secara tidak sadar, fenomena ini menghadirkan pertanyaan reflektif: <em>Mengapa di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang rasional ini, kita begitu menikmati obrolan tanpa isi dari orang asing di internet?<\/em><\/p>\n<h3><strong>1. Pelarian dari Rutinitas dan Beban Ekspektasi<\/strong><\/h3>\n<p>Daya tarik utama dari para konten kreator ini terletak pada autentisitas dan kepolosan mereka. Kita sering kali dibuat tertawa lepas bukan karena <em>game<\/em>-nya yang bagus, melainkan karena reaksi dramatis si <em>streamer<\/em> saat kalah atau cara mereka merespons hal-hal sepele di dalam permainan. Kepribadian mereka yang santai dan <em>anti-mainstream<\/em> menjadi magnet tersendiri di tengah dunia kerja dan perkuliahan yang serba kaku. Menonton konten semacam ini bukan sekadar mengisi waktu luang, melainkan sebuah bentuk <em>coping mechanism<\/em> instan untuk melepaskan ketegangan saraf setelah seharian berhadapan dengan tuntutan realitas.<\/p>\n<h3><strong>2. Kacamata Filsafat: &#8216;Absurdisme&#8217; Albert Camus<\/strong><\/h3>\n<p>Jika ditarik ke dalam kacamata filsafat eksistensialisme, khususnya pemikiran Albert Camus tentang Absurdisme, dunia modern sering kali menekan manusia untuk selalu bersikap rasional, produktif, dan memiliki tujuan yang terstruktur. Di lingkungan akademis, mahasiswa dituntut menyusun draf makalah yang sempurna. Di organisasi, kita dituntut bertindak efisien. Sementara di kehidupan sosial, ada standar kaku tentang bagaimana kita harus bersikap. Ketika beban rasionalitas dan ekspektasi itu menjadi terlalu berat, manusia secara alami akan mencari ruang &#8220;ketidakbermaknaan&#8221; atau absurditas sebagai bentuk katarsis. Menonton <em>streamer yapping<\/em> dengan menikmati hal-hal yang tidak memiliki nilai akademis maupun finansial adalah bentuk perlawanan kecil kita terhadap tuntutan dunia yang terlalu serius. Di sana, kita diizinkan untuk tertawa tanpa harus berpikir keras atau takut dinilai. Kita tidak perlu mengeluarkan energi ekstra hanya untuk sekadar memproses informasi yang rumit.<\/p>\n<h3><strong>3. Hubungan Parasosial dan Baterai Sosial yang Habis<\/strong><\/h3>\n<p>Secara psikologis dan filosofis, fenomena ini juga amat berkaitan dengan konsep tatapan orang lain (<em>the gaze<\/em>). Dalam kehidupan nyata, <em>social battery<\/em> kita sering kali terkuras habis karena kita merasa terus-menerus diawasi dan dihakimi oleh lingkungan sekitar. Interaksi tatap muka sering kali menuntut energi emosional yang tidak sedikit. Menonton <em>streamer<\/em> menghadirkan bentuk hubungan parasosial yang aman dan minim risiko. Kita merasa menjadi bagian dari sebuah &#8220;tongkrongan&#8221; yang hangat dan ramah tanpa perlu mengeluarkan energi sosial untuk menjaga citra diri. Tertawa bersama ribuan penonton lain di kolom <em>live chat<\/em> saat melihat kecerobohan si <em>streamer<\/em> adalah cara paling sederhana bagi kita untuk memulihkan energi (<em>recharge<\/em>) sebelum kembali menghadapi kenyataan esok hari. Pada akhirnya, kegemaran kita menonton orang lain mengobrol absurd bukanlah tanda bahwa generasi hari ini kehilangan produktivitas. Itu adalah sinyal alami bahwa manusia butuh jeda. Di tengah dunia yang semakin menuntut kita untuk sempurna, sedikit ruang absurd adalah penawar terbaik agar kesehatan mental kita tetap terjaga dan kita tetap waras.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Filha Fasha Gunawan Afiliasi: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) JurnalPost.com &#8211; Di era layar lipat dan media sosial yang serba cepat, pola hiburan masyarakat modern perlahan mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Jika beberapa waktu lalu pelarian seseorang setelah lelah beraktivitas adalah menonton acara televisi atau bioskop, kini Gen Z dan milenial justru lebih betah memandangi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":27675,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[24],"tags":[],"class_list":["post-27674","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kolom-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27674","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27674"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27674\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27675"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27674"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27674"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27674"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}