{"id":27657,"date":"2026-08-09T20:52:42","date_gmt":"2026-08-09T12:52:42","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27657"},"modified":"2026-08-09T20:52:42","modified_gmt":"2026-08-09T12:52:42","slug":"ai-membantu-mahasiswa-tetapi-apakah-kita-masih-benar-benar-berpikir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/ai-membantu-mahasiswa-tetapi-apakah-kita-masih-benar-benar-berpikir\/27657\/","title":{"rendered":"AI Membantu Mahasiswa, tetapi Apakah Kita Masih Benar-Benar Berpikir?"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/05ccee32-60e8-4f20-b8b4-57fc52a65430.png\" alt=\"\" width=\"843\" height=\"506\" class=\"aligncenter size-full wp-image-27658\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/05ccee32-60e8-4f20-b8b4-57fc52a65430.png 843w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/05ccee32-60e8-4f20-b8b4-57fc52a65430-300x180.png 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/05ccee32-60e8-4f20-b8b4-57fc52a65430-768x461.png 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/05ccee32-60e8-4f20-b8b4-57fc52a65430-750x450.png 750w\" sizes=\"(max-width: 843px) 100vw, 843px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: <strong>Muhammad Fauzan Azhima &#8211; Universitas Siber Asia<\/strong><\/p>\n<p><strong>AI Sudah Menjadi Bagian dari Kehidupan Mahasiswa<\/strong><br \/>\nKalau ditanya siapa mahasiswa yang belum pernah menggunakan Artificial Intelligence (AI), mungkin jumlahnya semakin sedikit. Saya sendiri juga pernah menggunakannya. Awalnya hanya untuk mencari referensi tugas atau memahami materi yang terasa sulit dijelaskan di buku. Dalam beberapa detik, AI mampu memberikan jawaban yang panjang, menyusun kerangka tulisan, bahkan membantu menjelaskan konsep dengan bahasa yang lebih sederhana. Sebagai mahasiswa, tentu saya mengakui bahwa teknologi seperti ini sangat membantu.<\/p>\n<p>Namun, setelah beberapa kali menggunakannya, saya mulai menyadari sesuatu yang terasa mengganggu. Semakin mudah mendapatkan jawaban, semakin sedikit waktu yang saya habiskan untuk benar-benar memikirkan jawabannya. Kadang saya langsung merasa cukup setelah membaca hasil dari AI, tanpa lagi mencari pembanding dari jurnal atau buku. Di situlah saya mulai bertanya kepada diri sendiri. Apakah saya benar-benar sedang belajar, atau hanya sedang mencari jawaban secepat mungkin?<\/p>\n<p>Menurut saya, pertanyaan tersebut bukan hanya saya yang mengalaminya. Banyak mahasiswa mungkin pernah berada di posisi yang sama. AI memang membuat proses belajar menjadi lebih cepat, tetapi kecepatan tidak selalu berarti pemahaman yang lebih baik.<\/p>\n<p>Teknologi Tidak Pernah Salah, Cara Menggunakannya yang Menentukan<br \/>\nBeberapa waktu terakhir, penggunaan AI dalam dunia pendidikan menjadi perbincangan yang cukup hangat. Ada yang menganggap AI sebagai ancaman karena membuat mahasiswa malas berpikir. Sebaliknya, ada juga yang melihat AI sebagai inovasi yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.<\/p>\n<p>Saya pribadi tidak sepenuhnya setuju dengan kedua pendapat tersebut. Menurut saya, AI bukanlah musuh, tetapi juga bukan solusi untuk semua hal. AI hanyalah alat. Sama seperti kalkulator yang membantu menghitung angka atau mesin pencari yang membantu menemukan informasi, AI dirancang untuk membantu manusia bekerja lebih efisien. Yang menentukan manfaat atau dampaknya tetaplah manusia yang menggunakannya.<\/p>\n<p>Masalah muncul ketika AI digunakan tanpa disertai rasa ingin tahu. Misalnya, mahasiswa langsung menyalin jawaban AI ke dalam tugas tanpa membaca ulang atau memeriksa apakah informasi tersebut sesuai dengan topik yang dibahas. Kebiasaan seperti ini mungkin membuat tugas selesai lebih cepat, tetapi proses belajarnya justru hilang. Padahal, tujuan utama pendidikan bukan sekadar menghasilkan jawaban, melainkan membentuk cara berpikir.<\/p>\n<p><strong>Mengapa Berpikir Kritis Menjadi Semakin Penting?<\/strong><br \/>\nDi era digital, informasi datang dari berbagai arah. Dalam satu hari, seseorang bisa membaca berita dari media online, menonton video edukasi di YouTube, melihat opini di media sosial, lalu bertanya kepada AI tentang topik yang sama. Ironisnya, semakin banyak informasi yang tersedia, semakin sulit pula menentukan mana yang benar-benar dapat dipercaya.<\/p>\n<p>Di sinilah konsep <strong>Hot and Lots<\/strong>, khususnya kemampuan berpikir kritis, menjadi sangat relevan. Berpikir kritis bukan berarti selalu curiga terhadap semua informasi. Sebaliknya, berpikir kritis adalah kemampuan untuk bertanya, membandingkan berbagai sumber, mengevaluasi bukti, lalu mengambil kesimpulan secara rasional.<\/p>\n<p>Menurut Andani dan Friyatmi (2025), pemanfaatan AI dapat memberikan dampak positif terhadap kemampuan berpikir kritis apabila diimbangi dengan literasi digital yang baik. Artinya, AI sebenarnya dapat menjadi sarana belajar yang efektif selama penggunanya tidak menerima semua informasi secara mentah.<\/p>\n<p>Sebaliknya, apabila AI digunakan hanya untuk memperoleh jawaban instan, kemampuan berpikir kritis dapat perlahan menurun. Mahasiswa mungkin tetap mampu menyelesaikan tugas, tetapi kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan menganalisis, menghubungkan konsep, dan membangun argumen sendiri.<\/p>\n<p><strong>AI Tidak Bisa Menggantikan Pengalaman Manusia<\/strong><br \/>\nSalah satu hal yang menurut saya sering terlupakan adalah bahwa AI bekerja berdasarkan data. AI dapat mengolah jutaan informasi dalam waktu singkat, tetapi AI tidak memiliki pengalaman hidup.<\/p>\n<p>AI dapat menjelaskan arti empati, tetapi tidak pernah merasakan kehilangan seseorang yang dicintai.<\/p>\n<p>AI dapat menjelaskan tentang kepemimpinan, tetapi tidak pernah merasakan sulitnya mengambil keputusan yang memengaruhi banyak orang.<\/p>\n<p>AI dapat membantu menulis artikel, tetapi AI tidak memiliki tanggung jawab moral terhadap setiap keputusan yang dibuat manusia.<\/p>\n<p>Di sinilah letak pentingnya kajian <strong>Estetika Humanisme<\/strong>. Kemajuan teknologi seharusnya tidak membuat manusia melupakan nilai-nilai kemanusiaan. Empati, tanggung jawab, kreativitas, serta kemampuan memahami pengalaman hidup merupakan hal-hal yang hingga saat ini belum dapat digantikan oleh mesin.<\/p>\n<p>Menurut saya, justru kemampuan-kemampuan inilah yang harus terus dikembangkan oleh mahasiswa. Dunia kerja mungkin akan berubah karena AI, tetapi perusahaan tetap membutuhkan manusia yang mampu berpikir kritis, bekerja sama, berkomunikasi, dan mengambil keputusan secara etis.<\/p>\n<p><strong>Menjadi Mahasiswa yang Adaptif, Bukan Bergantung<\/strong><br \/>\nSaya tidak melihat penggunaan AI sebagai sesuatu yang harus dihindari. Sebaliknya, saya percaya bahwa mahasiswa perlu belajar memanfaatkan teknologi tersebut. Akan tetapi, ada perbedaan besar antara memanfaatkan AI dan bergantung sepenuhnya kepada AI.<\/p>\n<p>Misalnya, AI dapat digunakan untuk mencari ide awal sebelum menulis artikel. Setelah itu, mahasiswa tetap perlu membaca jurnal, memahami teori, lalu menyusun pendapatnya sendiri. Dengan cara seperti ini, AI menjadi alat pendukung proses belajar, bukan pengganti proses berpikir.<\/p>\n<p>Menurut Putri, Arpizal, dan Ulfah (2025), literasi digital yang baik berperan penting dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Pendapat tersebut menunjukkan bahwa teknologi dan kemampuan berpikir sebenarnya tidak saling bertentangan. Keduanya justru dapat berjalan berdampingan apabila digunakan secara bijaksana.<\/p>\n<p>Bagi saya, ukuran keberhasilan mahasiswa bukanlah seberapa cepat menyelesaikan tugas dengan bantuan AI, melainkan seberapa baik ia memahami apa yang sedang dipelajarinya.<\/p>\n<p><strong>Penutup<\/strong><br \/>\nArtificial Intelligence akan terus berkembang. Cepat atau lambat, hampir semua bidang kehidupan akan memanfaatkannya, termasuk dunia pendidikan. Menolak perkembangan teknologi tentu bukan pilihan yang realistis. Sebaliknya, manusia perlu belajar hidup berdampingan dengan teknologi tanpa kehilangan kemampuan berpikirnya.<\/p>\n<p>Sebagai mahasiswa, saya melihat AI sebagai peluang untuk belajar lebih efektif, bukan sebagai jalan pintas agar terhindar dari proses belajar. Teknologi memang mampu memberikan jawaban dalam hitungan detik, tetapi tidak semua jawaban dapat dipahami hanya dengan sekali membaca. Tetap dibutuhkan rasa ingin tahu, kemampuan menganalisis, dan keberanian untuk mempertanyakan suatu informasi sebelum mempercayainya.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, tantangan terbesar di era AI bukanlah menciptakan teknologi yang semakin pintar, melainkan memastikan manusia tetap menjadi pembelajar yang kritis, bertanggung jawab, dan tidak kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya. AI boleh membantu kita menemukan jawaban, tetapi proses memahami makna dari jawaban tersebut akan selalu menjadi tugas manusia.<\/p>\n<p><strong>Daftar Pustaka<\/strong><br \/>\nAndani, P., &amp; Friyatmi. (2025). <em>Pengaruh Pemanfaatan Artificial Intelligence dan Literasi Digital terhadap Kemampuan Berpikir Kritis<\/em>. JIIP: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 8(6), 6241-6246.<\/p>\n<p>Cahyani, N., Hutagalung, E. N. H., &amp; Harahap, S. H. (2024). <em>Berpikir Kritis Melalui Membaca: Pentingnya Literasi dalam Era Digital<\/em>. <em>Indonesian Journal of Education and Development Research<\/em>, 2(1).<\/p>\n<p>Hakim, L., &amp; Azizah, A. I. (2024). <em>Kampanye Critical Thinking dalam Gerakan Nasional Literasi Digital pada YouTube Siberkreasi<\/em>. <em>ORASI: Jurnal Dakwah dan Komunikasi<\/em>, 15(1).<\/p>\n<p>Putri, J. A., Arpizal, &amp; Ulfah, F. (2025). <em>Pengaruh Penggunaan Artificial Intelligence (AI) dan Literasi Digital terhadap Keterampilan Berpikir Kritis Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Jambi Angkatan 2023 di Era Digital<\/em>. <em>Jurnal Pendidikan Tambusai<\/em>, 9(2), 13008-13016.<\/p>\n<p>Yahya, M. (2018). <em>Era Industri 4.0: Tantangan dan Peluang Perkembangan Pendidikan Kejuruan Indonesia<\/em>. Universitas Negeri Makassar.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Muhammad Fauzan Azhima &#8211; Universitas Siber Asia AI Sudah Menjadi Bagian dari Kehidupan Mahasiswa Kalau ditanya siapa mahasiswa yang belum pernah menggunakan Artificial Intelligence (AI), mungkin jumlahnya semakin sedikit. Saya sendiri juga pernah menggunakannya. Awalnya hanya untuk mencari referensi tugas atau memahami materi yang terasa sulit dijelaskan di buku. Dalam beberapa detik, AI mampu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":27658,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-27657","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27657","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27657"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27657\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27658"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27657"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27657"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27657"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}