{"id":27654,"date":"2026-08-09T14:38:20","date_gmt":"2026-08-09T06:38:20","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27654"},"modified":"2026-08-09T14:38:20","modified_gmt":"2026-08-09T06:38:20","slug":"fenomena-brain-rot-dan-menurunnya-fokus-generasi-muda-akibat-media-sosial","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/fenomena-brain-rot-dan-menurunnya-fokus-generasi-muda-akibat-media-sosial\/27654\/","title":{"rendered":"FENOMENA BRAIN ROT DAN MENURUNNYA FOKUS GENERASI MUDA AKIBAT MEDIA SOSIAL"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Brain-Rot.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"393\" class=\"aligncenter size-full wp-image-27655\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Brain-Rot.jpg 700w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Brain-Rot-300x168.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: D<strong>ela Fitri Anggraeni<br \/>\nProgram Studi Informatika, Universitas Siber Asia<\/strong><\/p>\n<p><strong>ABSTRAK<\/strong><\/p>\n<p>Kemajuan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi dan berinteraksi. Salah satu fenomena yang banyak diperbincangkan saat ini adalah <em>brain rot<\/em>, yaitu kondisi ketika seseorang terlalu sering mengonsumsi konten digital yang bersifat singkat, berulang, dan kurang memberikan manfaat intelektual. Fenomena ini banyak ditemukan pada generasi muda yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton video pendek di berbagai platform media sosial. Artikel ini membahas penyebab, dampak, serta pentingnya menjaga fokus dan kesadaran diri dalam penggunaan media sosial berdasarkan perspektif <em>Mindfulness and Focus<\/em> dalam kajian Estetika Humanisme. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang tidak terkendali dapat memengaruhi konsentrasi, produktivitas, dan kemampuan berpikir kritis generasi muda.<\/p>\n<p><strong>Kata Kunci:<\/strong> <em>brain rot<\/em>, media sosial, fokus, generasi muda, mindfulness.<\/p>\n<p><strong>PENDAHULUAN<\/strong><\/p>\n<p>Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern, terutama generasi muda. Berbagai platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts menawarkan beragam informasi serta hiburan yang dapat diakses dengan mudah melalui perangkat digital. Kehadiran media sosial memberikan banyak manfaat, namun penggunaan yang berlebihan juga memunculkan berbagai dampak negatif terhadap kemampuan fokus dan konsentrasi pengguna.<\/p>\n<p>Salah satu fenomena yang saat ini banyak diperbincangkan adalah <em>brain rot<\/em>. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang terlalu sering mengonsumsi konten digital yang bersifat dangkal, berulang, dan kurang memberikan manfaat intelektual. Akibatnya, kemampuan untuk berkonsentrasi dalam jangka waktu yang lebih lama dapat mengalami penurunan.<\/p>\n<p>Fenomena <em>brain rot<\/em> menjadi perhatian karena dapat memengaruhi proses belajar, produktivitas, serta kemampuan berpikir kritis generasi muda. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk membahas hubungan antara penggunaan media sosial dengan menurunnya fokus generasi muda serta pentingnya penerapan <em>mindfulness<\/em> dalam kehidupan digital.<\/p>\n<p><strong>PEMBAHASAN<\/strong><\/p>\n<p><strong>Pengertian Brain Rot<\/strong><br \/>\nIstilah <em>brain rot<\/em> menjadi populer dalam beberapa tahun terakhir seiring meningkatnya penggunaan media sosial di kalangan generasi muda. Secara umum, <em>brain rot<\/em> digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang terlalu sering mengonsumsi konten digital yang bersifat dangkal, repetitif, dan kurang memberikan manfaat intelektual. Meskipun bukan istilah medis resmi, fenomena ini sering dikaitkan dengan menurunnya kemampuan fokus, konsentrasi, dan minat untuk mempelajari informasi yang lebih kompleks.<\/p>\n<p>Konten-konten pendek yang beredar di media sosial memang dirancang untuk menarik perhatian pengguna dalam waktu singkat. Akibatnya, pengguna menjadi terbiasa menerima informasi secara cepat tanpa melakukan proses analisis yang mendalam. Kebiasaan tersebut berpotensi memengaruhi pola pikir dan cara seseorang dalam menerima informasi.<br \/>\n<strong>Pengaruh Media Sosial terhadap Fokus Generasi Muda<\/strong><br \/>\nMedia sosial memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan sehari-hari generasi muda. Berbagai fitur seperti video pendek, notifikasi, dan algoritma yang menyesuaikan minat pengguna membuat seseorang dapat menghabiskan waktu berjam-jam tanpa disadari.<\/p>\n<p>Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan fokus karena otak terus-menerus menerima rangsangan baru dalam waktu yang sangat cepat. Ketika terbiasa dengan pola tersebut, seseorang dapat mengalami kesulitan untuk mempertahankan perhatian pada aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi, seperti membaca buku, mengikuti perkuliahan, atau mengerjakan tugas akademik.<\/p>\n<p>Selain itu, kebiasaan berpindah dari satu konten ke konten lainnya juga dapat mengurangi kemampuan untuk berpikir secara mendalam. Pengguna cenderung menginginkan informasi yang singkat dan instan sehingga kurang terbiasa melakukan analisis yang lebih kritis terhadap suatu permasalahan.<br \/>\n<strong>Dampak Brain Rot dalam Kehidupan Mahasiswa<\/strong><br \/>\nFenomena <em>brain rot<\/em> dapat memberikan berbagai dampak dalam kehidupan mahasiswa. Salah satu dampak yang paling sering dirasakan adalah menurunnya kemampuan untuk fokus dalam waktu yang lama. Banyak mahasiswa yang merasa sulit berkonsentrasi saat membaca materi kuliah atau mengerjakan tugas karena terdistraksi oleh media sosial.<\/p>\n<p>Selain itu, penggunaan media sosial yang berlebihan juga dapat memengaruhi produktivitas. Waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar sering kali teralihkan untuk menonton video pendek atau mengikuti tren yang sedang viral. Jika berlangsung secara terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat berdampak pada prestasi akademik dan kualitas pembelajaran.<\/p>\n<p>Dampak lainnya adalah menurunnya kemampuan berpikir kritis. Informasi yang diterima secara cepat tanpa proses verifikasi dapat membuat pengguna lebih mudah menerima suatu informasi tanpa melakukan analisis terlebih dahulu.<br \/>\n<strong>Pentingnya Mindfulness dalam Penggunaan Media Sosial<\/strong><br \/>\nUntuk mengurangi dampak negatif <em>brain rot<\/em>, diperlukan kesadaran dalam menggunakan media sosial. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah <em>mindfulness<\/em>. Konsep ini menekankan kemampuan seseorang untuk memberikan perhatian penuh terhadap aktivitas yang sedang dilakukan serta menyadari setiap keputusan yang diambil.<\/p>\n<p>Dalam penggunaan media sosial, <em>mindfulness<\/em> dapat dilakukan dengan membatasi waktu penggunaan, mengurangi kebiasaan scrolling tanpa tujuan, serta memilih konten yang memberikan manfaat bagi pengembangan diri. Dengan cara tersebut, media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar dan memperoleh informasi tanpa mengganggu fokus maupun produktivitas.<\/p>\n<p>Generasi muda perlu memahami bahwa teknologi seharusnya menjadi alat pendukung kehidupan, bukan menjadi sumber ketergantungan yang mengurangi kualitas diri. Oleh karena itu, keseimbangan antara penggunaan teknologi dan pengelolaan perhatian menjadi hal yang sangat penting di era digital saat ini.<\/p>\n<p><strong>ANALISIS PENULIS<\/strong><\/p>\n<p>Menurut penulis, fenomena <em>brain rot<\/em> merupakan salah satu tantangan yang cukup serius bagi generasi muda, terutama mahasiswa yang setiap hari berinteraksi dengan teknologi digital. Kemudahan dalam mengakses berbagai jenis konten memang memberikan manfaat, tetapi juga dapat menimbulkan kebiasaan yang kurang baik apabila tidak disertai pengendalian diri.<\/p>\n<p>Sebagai mahasiswa, penulis juga melihat bahwa media sosial sering kali menjadi sumber distraksi ketika sedang belajar atau mengerjakan tugas. Keinginan untuk membuka media sosial hanya beberapa menit sering kali berakhir dengan penggunaan yang jauh lebih lama dari yang direncanakan. Hal tersebut menunjukkan bahwa kemampuan mengelola fokus menjadi keterampilan yang penting untuk dimiliki pada era digital.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, penggunaan media sosial perlu dilakukan secara bijaksana agar manfaat yang diperoleh lebih besar dibandingkan dampak negatif yang ditimbulkan. Dengan meningkatkan kesadaran diri dan kemampuan mengatur waktu, generasi muda dapat memanfaatkan teknologi secara lebih produktif.<\/p>\n<p><strong>KESIMPULAN<\/strong><\/p>\n<p>Fenomena <em>brain rot<\/em> menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat memengaruhi kemampuan fokus, konsentrasi, dan pola pikir generasi muda. Konten yang bersifat singkat dan instan membuat pengguna terbiasa menerima informasi secara cepat tanpa melakukan analisis yang mendalam.<\/p>\n<p>Melalui penerapan <em>mindfulness<\/em>, generasi muda dapat lebih bijaksana dalam menggunakan media sosial serta menjaga keseimbangan antara kebutuhan hiburan dan produktivitas. Dengan demikian, teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa mengurangi kemampuan berpikir kritis maupun kualitas perhatian seseorang.<\/p>\n<p><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><\/p>\n<p>American Psychological Association. (2023). <em>Social Media and Mental Health<\/em>. Washington, DC: APA.<\/p>\n<p>UNESCO. (2024). <em>Digital Learning and Human Development<\/em>. Paris: UNESCO.<\/p>\n<p>World Health Organization. (2024). <em>Adolescent Mental Health in the Digital Era<\/em>. Geneva: WHO.<\/p>\n<p>Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia. (2024). <em>Literasi Digital Nasional<\/em>. Jakarta: Komdigi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Dela Fitri Anggraeni Program Studi Informatika, Universitas Siber Asia ABSTRAK Kemajuan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi dan berinteraksi. Salah satu fenomena yang banyak diperbincangkan saat ini adalah brain rot, yaitu kondisi ketika seseorang terlalu sering mengonsumsi konten digital yang bersifat singkat, berulang, dan kurang memberikan manfaat intelektual. Fenomena ini banyak ditemukan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":27655,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-27654","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27654","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27654"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27654\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27655"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27654"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27654"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27654"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}