{"id":27636,"date":"2026-08-09T01:20:06","date_gmt":"2026-08-08T17:20:06","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27636"},"modified":"2026-08-09T01:20:06","modified_gmt":"2026-08-08T17:20:06","slug":"hots-dan-lots-dalam-membentuk-kemampuan-berpikir-kritis-ilmiah-dan-sistematis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/hots-dan-lots-dalam-membentuk-kemampuan-berpikir-kritis-ilmiah-dan-sistematis\/27636\/","title":{"rendered":"HOTS DAN LOTS DALAM MEMBENTUK KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS, ILMIAH, DAN SISTEMATIS"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: Aji Pangestu<br \/>\nProgram Studi: Ilmu Komunikasi<br \/>\nUniversitas: Universitas Siber Asia<\/p>\n<p><strong>ABSTRAK<\/strong><br \/>\nPerkembangan teknologi informasi dan kompleksitas permasalahan dalam kehidupan modern menuntut individu memiliki kemampuan berpikir yang tidak hanya berorientasi pada hafalan, tetapi juga mampu menganalisis, mengevaluasi, dan menghasilkan solusi. Higher Order Thinking Skills (HOTS) dan Lower Order Thinking Skills (LOTS) merupakan bagian penting dalam proses pengembangan kemampuan berpikir. LOTS berfungsi sebagai dasar dalam memperoleh pengetahuan melalui kemampuan mengingat, memahami, dan menerapkan, sedangkan HOTS berperan dalam mengembangkan kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan. Artikel ini bertujuan untuk membahas peran HOTS dan LOTS dalam membentuk pola berpikir kritis, ilmiah, dan sistematis. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan mengkaji teori Taksonomi Bloom dan berbagai sumber mengenai kemampuan berpikir kritis dan berpikir tingkat tinggi. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa HOTS dan LOTS tidak dapat dipisahkan dalam proses pembelajaran. LOTS memberikan fondasi pengetahuan yang diperlukan untuk melakukan HOTS, sedangkan HOTS memungkinkan individu mengolah pengetahuan tersebut untuk memahami masalah secara lebih mendalam. Penerapan keduanya secara seimbang dapat membantu peserta didik mengambil keputusan berdasarkan fakta, bukti, logika, serta menghasilkan solusi yang dapat dipertanggungjawabkan.<\/p>\n<p><strong>Kata kunci<\/strong>: HOTS, LOTS, berpikir kritis, berpikir ilmiah, berpikir sistematis.<\/p>\n<p><strong>I. PENDAHULUAN<\/strong><br \/>\nPendidikan pada dasarnya tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan kepada peserta didik, tetapi juga membentuk kemampuan dalam menggunakan pengetahuan tersebut untuk menghadapi berbagai permasalahan. Perkembangan teknologi digital menyebabkan informasi dapat diperoleh dengan sangat mudah. Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak selalu diikuti dengan kemampuan untuk menilai apakah informasi tersebut benar, relevan, dan dapat dipercaya.<\/p>\n<p>Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kemampuan berpikir kritis. Seseorang perlu mampu membedakan fakta dan opini, memeriksa sumber informasi, memahami hubungan sebab-akibat, serta mengambil kesimpulan berdasarkan bukti. Kemampuan tersebut berkaitan erat dengan Higher Order Thinking Skills (HOTS).<\/p>\n<p>Dalam proses pembelajaran, HOTS tidak dapat berdiri sendiri. Sebelum mampu menganalisis atau mengevaluasi suatu permasalahan, seseorang membutuhkan pengetahuan dasar. Pengetahuan tersebut diperoleh melalui kemampuan yang termasuk dalam Lower Order Thinking Skills (LOTS), yaitu mengingat, memahami, dan menerapkan.<\/p>\n<p>Dengan demikian, LOTS dan HOTS bukan dua konsep yang saling bertentangan. Keduanya merupakan bagian dari proses berpikir yang saling melengkapi. LOTS dapat menjadi dasar untuk membangun HOTS, sedangkan HOTS memungkinkan pengetahuan yang telah diperoleh digunakan secara lebih kritis dan produktif.<\/p>\n<p>Berdasarkan kondisi tersebut, pembahasan mengenai HOTS dan LOTS menjadi penting, terutama dalam kaitannya dengan pembentukan kemampuan berpikir kritis, ilmiah, dan sistematis.<\/p>\n<p><strong>II. LANDASAN TEORI<\/strong><br \/>\nA. Lower Order Thinking Skills (LOTS)<br \/>\nLower Order Thinking Skills atau LOTS merupakan kemampuan berpikir pada tingkat dasar. Berdasarkan revisi Taksonomi Bloom oleh Anderson dan Krathwohl, kemampuan kognitif terdiri atas enam tingkatan, yaitu:<br \/>\n1.\tMengingat (remembering)<br \/>\n2.\tMemahami (understanding)<br \/>\n3.\tMenerapkan (applying)<br \/>\n4.\tMenganalisis (analyzing)<br \/>\n5.\tMengevaluasi (evaluating)<br \/>\n6.\tMenciptakan (creating)<\/p>\n<p>Tiga tingkatan pertama umumnya dikategorikan sebagai kemampuan berpikir tingkat rendah atau LOTS.<br \/>\nLOTS bukan berarti kemampuan yang tidak penting. Sebaliknya, kemampuan tersebut merupakan dasar bagi proses berpikir yang lebih kompleks. Seseorang tidak mungkin melakukan analisis secara tepat apabila tidak memahami konsep atau informasi yang berkaitan dengan masalah yang sedang dianalisis.<\/p>\n<p>Sebagai contoh, ketika mahasiswa mempelajari isu perubahan iklim, kemampuan LOTS dapat terlihat ketika mahasiswa mampu menjelaskan pengertian perubahan iklim, menyebutkan penyebabnya, dan menjelaskan dampaknya.<\/p>\n<p><strong>B. Higher Order Thinking Skills (HOTS)<\/strong><br \/>\nHigher Order Thinking Skills atau HOTS merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang melibatkan proses menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan.<br \/>\nHOTS mendorong seseorang untuk tidak menerima informasi begitu saja. Informasi harus diolah, dibandingkan, diuji, dan dikaitkan dengan pengetahuan lain sebelum digunakan untuk menghasilkan kesimpulan.<\/p>\n<p>Contohnya, mahasiswa tidak hanya ditanya:<br \/>\n&#8220;Apa penyebab perubahan iklim?&#8221;<br \/>\ntetapi diberikan permasalahan:<br \/>\n&#8220;Bagaimana aktivitas manusia berkontribusi terhadap perubahan iklim dan kebijakan apa yang paling efektif untuk mengurangi dampaknya? Jelaskan berdasarkan bukti.&#8221;<br \/>\nPertanyaan tersebut membutuhkan kemampuan menghubungkan informasi, menganalisis sebab-akibat, mengevaluasi alternatif, dan menghasilkan argumentasi.<\/p>\n<p>C. Berpikir Kritis<br \/>\nBerpikir kritis merupakan kemampuan untuk menilai informasi secara rasional dan objektif sebelum mengambil kesimpulan. Berpikir kritis melibatkan kemampuan mengidentifikasi masalah, menganalisis argumen, mengevaluasi bukti, dan menarik kesimpulan berdasarkan alasan yang logis.<br \/>\nDalam kehidupan sehari-hari, kemampuan ini sangat diperlukan ketika seseorang menghadapi informasi yang belum tentu benar.<br \/>\nMisalnya, ketika menerima informasi melalui media sosial, individu yang berpikir kritis tidak langsung mempercayainya. Ia akan mempertanyakan sumber informasi, bukti yang diberikan, tujuan penyebaran informasi, serta kemungkinan adanya bias.<\/p>\n<p>D. Berpikir Ilmiah<br \/>\nBerpikir ilmiah merupakan pola berpikir yang mengutamakan fakta, bukti, logika, dan prosedur yang sistematis.<br \/>\nSecara sederhana, proses berpikir ilmiah dapat digambarkan sebagai:<br \/>\nMasalah \u2192 Pertanyaan \u2192 Pengumpulan Data \u2192 Analisis \u2192 Kesimpulan \u2192 Evaluasi<br \/>\nPendekatan tersebut membantu seseorang menghindari kesimpulan yang hanya didasarkan pada dugaan atau pendapat pribadi.<\/p>\n<p>E. Berpikir Sistematis<br \/>\nBerpikir sistematis merupakan kemampuan memahami suatu masalah melalui tahapan yang terstruktur dan mempertimbangkan hubungan antara berbagai faktor.<br \/>\nSebagai contoh, ketika membahas rendahnya prestasi akademik mahasiswa, seseorang tidak seharusnya langsung menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah kurangnya motivasi.<br \/>\nMasalah tersebut perlu dianalisis berdasarkan berbagai kemungkinan, seperti:<\/p>\n<p>\u2022\tmetode pembelajaran;<br \/>\n\u2022\tlingkungan belajar;<br \/>\n\u2022\tbeban akademik;<br \/>\n\u2022\tkondisi ekonomi;<br \/>\n\u2022\tmotivasi;<br \/>\n\u2022\takses terhadap sumber belajar;<br \/>\n\u2022\tkemampuan mengatur waktu; dan<br \/>\n\u2022\tfaktor lingkungan sosial.<br \/>\nPendekatan sistematis membuat analisis menjadi lebih menyeluruh dan mengurangi kemungkinan munculnya kesimpulan yang terburu-buru.<\/p>\n<p><strong>III. HUBUNGAN HOTS DAN LOTS<\/strong><br \/>\nLOTS dan HOTS memiliki hubungan yang erat dalam proses pembentukan kemampuan berpikir.<br \/>\nSecara sederhana, proses tersebut dapat digambarkan sebagai:<br \/>\nMengingat \u2192 Memahami \u2192 Menerapkan \u2192 Menganalisis \u2192 Mengevaluasi \u2192 Menciptakan<br \/>\nTahap tersebut menunjukkan adanya perkembangan dari pengetahuan dasar menuju kemampuan berpikir yang lebih kompleks.<br \/>\nSebagai contoh, seorang mahasiswa ingin meneliti penggunaan media sosial.<\/p>\n<p>Pada tahap LOTS, mahasiswa perlu:<br \/>\n1.\tmengetahui pengertian media sosial;<br \/>\n2.\tmemahami jenis-jenis media sosial;<br \/>\n3.\tmengetahui karakteristik pengguna media sosial; dan<br \/>\n4.\tmemahami teori yang berkaitan dengan media sosial.<br \/>\nSetelah memiliki dasar tersebut, mahasiswa dapat menggunakan HOTS untuk:<br \/>\n1.\tmenganalisis perilaku pengguna;<br \/>\n2.\tmembandingkan berbagai teori;<br \/>\n3.\tmengevaluasi informasi;<br \/>\n4.\tmenemukan hubungan antara variabel;<br \/>\n5.\tmenarik kesimpulan berdasarkan data; dan<br \/>\n6.\tmenghasilkan rekomendasi atau solusi.<br \/>\nDengan demikian, HOTS membutuhkan dasar pengetahuan yang diperoleh melalui LOTS.<\/p>\n<p><strong>IV. PENERAPAN HOTS DAN LOTS DALAM BERPIKIR KRITIS<\/strong><br \/>\nPenerapan HOTS dan LOTS dapat dijelaskan melalui contoh permasalahan penggunaan media sosial di kalangan mahasiswa.<br \/>\n1. Tingkat LOTS<br \/>\nPertanyaan yang digunakan dapat berupa:<br \/>\n\u2022\tApa yang dimaksud dengan media sosial?<br \/>\n\u2022\tSebutkan jenis-jenis media sosial!<br \/>\n\u2022\tApa fungsi media sosial bagi mahasiswa?<br \/>\n\u2022\tJelaskan pengertian konsentrasi belajar!<br \/>\nPertanyaan tersebut bertujuan memastikan mahasiswa memiliki pengetahuan dasar.<\/p>\n<p>2. Tingkat HOTS<br \/>\nSetelah memahami konsep dasar, pertanyaan dapat dikembangkan menjadi:<br \/>\nMengapa penggunaan media sosial selama proses pembelajaran dapat memengaruhi konsentrasi mahasiswa?<br \/>\nPertanyaan tersebut membutuhkan analisis mengenai hubungan antara dua fenomena.<br \/>\nKemudian dapat dikembangkan menjadi:<\/p>\n<p>Apakah penggunaan media sosial selalu memberikan dampak negatif terhadap proses pembelajaran? Jelaskan dengan menggunakan bukti dan contoh.<br \/>\nPertanyaan tersebut membutuhkan kemampuan mengevaluasi.<br \/>\nPada tingkat menciptakan, mahasiswa dapat diberikan tugas:<br \/>\nBuatlah strategi penggunaan media sosial yang memungkinkan mahasiswa memperoleh manfaat informasi tanpa mengurangi konsentrasi belajar.<br \/>\nPada tahap ini, mahasiswa dituntut menghasilkan solusi baru berdasarkan pengetahuan dan hasil analisis.<\/p>\n<p><strong>V. PENERAPAN BERPIKIR ILMIAH DAN SISTEMATIS<\/strong><br \/>\nPenerapan HOTS dan LOTS akan lebih efektif apabila dilakukan melalui proses berpikir ilmiah dan sistematis.<br \/>\nMisalnya terdapat permasalahan:<\/p>\n<p>&#8220;Penggunaan media sosial di kalangan mahasiswa semakin tinggi.&#8221;<br \/>\nPermasalahan tersebut tidak boleh langsung disimpulkan sebagai sesuatu yang positif atau negatif. Langkah pertama adalah merumuskan pertanyaan penelitian.<\/p>\n<p>Contohnya:<br \/>\nApakah intensitas penggunaan media sosial berhubungan dengan konsentrasi belajar mahasiswa?<br \/>\nSelanjutnya dilakukan pengumpulan data melalui observasi, kuesioner, wawancara, atau sumber ilmiah.<br \/>\nData yang diperoleh kemudian dianalisis. Pada tahap ini HOTS digunakan untuk menemukan pola dan hubungan dari data.<br \/>\nSetelah itu, peneliti melakukan evaluasi terhadap hasil analisis dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti.<br \/>\nProses tersebut menunjukkan bahwa berpikir kritis tidak hanya berarti &#8220;berani mempertanyakan sesuatu&#8221;, tetapi juga harus disertai kemampuan memberikan alasan dan bukti.<\/p>\n<p><strong>VI. PEMBAHASAN<\/strong><br \/>\nHOTS dan LOTS memiliki peranan yang berbeda tetapi saling melengkapi. LOTS membantu seseorang memperoleh dan menguasai pengetahuan dasar, sedangkan HOTS membantu seseorang menggunakan pengetahuan tersebut untuk menghadapi permasalahan yang kompleks.<br \/>\nKesalahan yang sering terjadi dalam pembelajaran adalah menganggap HOTS hanya sebagai pertanyaan yang sulit. Padahal, pertanyaan yang sulit belum tentu merupakan pertanyaan HOTS.<\/p>\n<p>Pertanyaan HOTS harus mendorong seseorang melakukan proses kognitif yang lebih kompleks, seperti menganalisis hubungan, membandingkan informasi, mengevaluasi bukti, membuat keputusan, atau menciptakan solusi.<\/p>\n<p>Contohnya:<\/p>\n<p>Pertanyaan LOTS:<br \/>\nApa yang dimaksud dengan berita hoaks?<\/p>\n<p>Pertanyaan HOTS:<br \/>\nBagaimana cara membuktikan bahwa suatu informasi yang beredar di media sosial merupakan hoaks? Jelaskan langkah-langkah pemeriksaannya dan alasan mengapa setiap langkah diperlukan.<\/p>\n<p>Pertanyaan kedua lebih menuntut proses berpikir karena mahasiswa harus memahami konsep, menganalisis informasi, mengevaluasi sumber, dan menyusun prosedur pemeriksaan.<\/p>\n<p>Hal tersebut menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis, ilmiah, dan sistematis dapat dikembangkan melalui pembelajaran yang memberikan ruang bagi peserta didik untuk mempertanyakan, mencari bukti, mengolah informasi, dan menyusun kesimpulan.<\/p>\n<p>Dalam konteks pendidikan tinggi, kemampuan tersebut menjadi semakin penting karena mahasiswa tidak hanya dituntut menjadi penerima informasi, tetapi juga diharapkan mampu menghasilkan pengetahuan melalui penelitian dan pemecahan masalah.<\/p>\n<p><strong>VII. CONTOH PENERAPAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI<\/strong><br \/>\nPenerapan HOTS dan LOTS tidak hanya terjadi di ruang kelas.<br \/>\nMisalnya seseorang melihat informasi di media sosial yang menyatakan:<br \/>\n&#8220;Minum produk tertentu dapat meningkatkan kemampuan berpikir secara instan.&#8221;<br \/>\nPada tahap LOTS, seseorang perlu memahami informasi tersebut dan mengetahui apa yang dimaksud dengan kemampuan berpikir.<br \/>\nPada tahap HOTS, seseorang kemudian mempertanyakan:<br \/>\n1.\tSiapa yang membuat klaim tersebut?<br \/>\n2.\tApa bukti yang digunakan?<br \/>\n3.\tApakah terdapat penelitian ilmiah yang mendukung?<br \/>\n4.\tApakah penelitian tersebut dilakukan dengan metode yang benar?<br \/>\n5.\tApakah terdapat kemungkinan konflik kepentingan?<br \/>\n6.\tApakah terdapat sumber lain yang memberikan kesimpulan berbeda?<br \/>\nSetelah melakukan pemeriksaan, seseorang dapat mengambil kesimpulan berdasarkan bukti.<br \/>\nContoh tersebut menunjukkan bahwa HOTS dapat membantu seseorang menjadi lebih kritis dalam menghadapi informasi digital.<\/p>\n<p><strong>VIII. KESIMPULAN<\/strong><br \/>\nHOTS dan LOTS merupakan bagian penting dalam proses pembentukan kemampuan berpikir manusia. LOTS memberikan dasar pengetahuan melalui kemampuan mengingat, memahami, dan menerapkan, sedangkan HOTS mengembangkan kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan.<\/p>\n<p>Keduanya tidak seharusnya dipandang sebagai kemampuan yang terpisah. LOTS menjadi fondasi yang memungkinkan seseorang melakukan HOTS secara tepat. Sebaliknya, HOTS membuat pengetahuan yang diperoleh melalui LOTS dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang lebih kompleks.<\/p>\n<p>Penerapan HOTS dan LOTS yang didukung oleh pola berpikir kritis, ilmiah, dan sistematis dapat membantu peserta didik menjadi individu yang mampu menilai informasi berdasarkan bukti, mengidentifikasi masalah secara objektif, menyusun argumentasi secara logis, serta menghasilkan solusi yang dapat dipertanggungjawabkan.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, pembelajaran modern sebaiknya tidak hanya berorientasi pada kemampuan menghafal materi, tetapi juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menganalisis masalah, mengevaluasi informasi, melakukan penelitian, dan menciptakan solusi. Dengan demikian, pendidikan dapat menghasilkan individu yang tidak hanya tahu, tetapi juga mampu berpikir, menilai, dan bertindak secara rasional.<\/p>\n<p><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><br \/>\nAnderson, L. W., &#038; Krathwohl, D. R. (Eds.). (2001). A taxonomy for learning, teaching, and assessing: A revision of Bloom&#8217;s taxonomy of educational objectives. New York: Longman.<br \/>\nBrookfield, S. D. (2012). Teaching for critical thinking: Tools and techniques to help students question their assumptions. San Francisco: Jossey-Bass.<br \/>\nEnnis, R. H. (2011). The nature of critical thinking: An outline of critical thinking dispositions and abilities. University of Illinois.<br \/>\nFacione, P. A. (2015). Critical thinking: What it is and why it counts. Insight Assessment.<br \/>\nKrathwohl, D. R. (2002). A revision of Bloom&#8217;s taxonomy: An overview. Theory Into Practice, 41(4), 212\u2013218.<br \/>\nLewis, A., &#038; Smith, D. (1993). Defining higher order thinking. Theory Into Practice, 32(3), 131\u2013137.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Aji Pangestu Program Studi: Ilmu Komunikasi Universitas: Universitas Siber Asia ABSTRAK Perkembangan teknologi informasi dan kompleksitas permasalahan dalam kehidupan modern menuntut individu memiliki kemampuan berpikir yang tidak hanya berorientasi pada hafalan, tetapi juga mampu menganalisis, mengevaluasi, dan menghasilkan solusi. Higher Order Thinking Skills (HOTS) dan Lower Order Thinking Skills (LOTS) merupakan bagian penting dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":532,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-27636","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27636","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27636"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27636\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27636"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27636"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27636"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}