{"id":27633,"date":"2026-08-09T01:15:59","date_gmt":"2026-08-08T17:15:59","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27633"},"modified":"2026-08-09T01:15:59","modified_gmt":"2026-08-08T17:15:59","slug":"ruang-nyaman-yang-menyakitkan-body-shaming-dan-rusaknya-konsep-diri-generasi-muda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/ruang-nyaman-yang-menyakitkan-body-shaming-dan-rusaknya-konsep-diri-generasi-muda\/27633\/","title":{"rendered":"Ruang Nyaman Yang Menyakitkan : Body Shaming dan Rusaknya Konsep Diri Generasi Muda"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Body-Shaming.jpg\" alt=\"\" width=\"702\" height=\"465\" class=\"aligncenter size-full wp-image-27634\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Body-Shaming.jpg 702w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Body-Shaming-300x199.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 702px) 100vw, 702px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: <strong>Firman- Mahasiswa Universitas Siver Asia<\/strong><\/p>\n<p><strong>PENDAHULUAN<\/strong><br \/>\n&#8220;Ih kok gendutan&#8221;, &#8220;mukanya kusam banget sih&#8221;, &#8220;kurusan jelek jadinya&#8221; \u2014 komentar-komentar semacam ini begitu mudah dijumpai di kolom komentar media sosial, bahkan kerap dianggap wajar atau sekadar candaan alias &#8220;julid&#8221;. Padahal, di balik candaan itu tersimpan fenomena serius bernama body shaming, yang tidak sekadar menyakiti perasaan sesaat, tetapi berpotensi merusak konsep diri (self concept) generasi muda dalam jangka panjang. Artikel ini membedah fenomena body shaming di media sosial melalui kacamata teori konsep diri dalam kajian Estetika Humanisme.<\/p>\n<p><strong>LANDASAN KONSEPTUAL: SELF CONCEPT DALAM ESTETIKA HUMANISME<\/strong><br \/>\nKonsep diri (self concept) secara sederhana dapat dipahami sebagai cara dan sikap seorang individu dalam memandang dirinya sendiri, mencakup aspek fisik maupun psikis, termasuk kekuatan, kelemahan, dan kegagalan yang ada pada dirinya (Hurlock, dalam Materi Perkuliahan Estetika Humanisme, Universitas Siber Asia, 2026). William D. Brooks menekankan bahwa konsep diri merupakan persepsi individu terhadap dirinya sendiri yang bersifat fisik, sosial, dan psikologis, yang terbentuk dari pengalaman dan interaksi dengan orang lain (Brooks, dalam Rakhmat, 2009).<\/p>\n<p>Charles Horton Cooley memperkenalkan istilah looking glass self atau &#8220;cermin diri&#8221;, yang menggambarkan bahwa konsep diri seseorang sesungguhnya terbentuk dari bagaimana ia membayangkan penilaian orang lain terhadap dirinya. Sejalan dengan itu, Burns mendefinisikan konsep diri sebagai gambaran campuran antara apa yang kita pikirkan tentang diri sendiri, apa yang orang lain pikirkan tentang kita, dan seperti apa diri yang kita inginkan (Modul Estetika Humanisme, Universitas Siber Asia, 2026). Definisi inilah yang menjadi pintu masuk untuk memahami mengapa validasi dari sesama pengguna media sosial \u2014 berupa like, komentar, dan pujian atas wajah yang telah difilter \u2014 begitu memengaruhi cara generasi muda menilai dirinya.<\/p>\n<p>Konsep diri sendiri terbentuk dari tiga komponen utama, yaitu komponen perceptual (physical self concept) yang berkaitan dengan pengetahuan individu terhadap kondisi fisiknya, komponen conceptual (psychological self concept) yang berkaitan dengan sifat, latar belakang, dan masa depan seseorang, serta komponen attitudinal (attitude self concept) yang berkaitan dengan sikap seseorang terhadap status, rasa malu, dan harga dirinya. Dari ketiga komponen inilah lahir konsep diri positif dan konsep diri negatif (Modul Estetika Humanisme, Universitas Siber Asia, 2026).<\/p>\n<p><strong>ANALISIS: DARI KOMENTAR JULID MENJADI LUKA KONSEP DIRI<\/strong><br \/>\nMasa remaja hingga dewasa muda merupakan periode yang sangat sensitif terhadap penilaian sosial, karena pada fase inilah individu berada dalam proses aktif membentuk konsep diri, yakni gambaran mengenai siapa dirinya dan seberapa bernilai dirinya, baik di mata sendiri maupun di mata orang lain. Konsep diri tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses panjang yang dipengaruhi oleh pengalaman personal serta respons lingkungan sosial di sekitarnya (GentaFKIP, 2025). Ketika seseorang menerima komentar negatif tentang tubuhnya secara berulang, penilaian itu lambat laun dapat terinternalisasi dan membentuk persepsi diri yang negatif \u2014 tubuh yang semestinya menjadi bagian alami dari identitas justru dipandang sebagai &#8220;kekurangan&#8221; yang harus diperbaiki. <\/p>\n<p>Jika dikaitkan dengan teori looking glass self milik Cooley yang dijelaskan dalam materi konsep diri, fenomena ini menjadi masuk akal: konsep diri seseorang sesungguhnya terbentuk dari bagaimana ia membayangkan penilaian orang lain terhadap dirinya. Ketika kolom komentar dibanjiri julid tentang berat badan, warna kulit, atau bentuk wajah, maka &#8220;cermin sosial&#8221; yang dipantulkan kepada individu tersebut adalah cermin yang penuh cela, bukan cermin yang menampilkan keutuhan dirinya sebagai manusia.<\/p>\n<p>Penelitian Ramahardhila dan Supriyono (2022) tentang dampak body shaming pada citra diri remaja akhir perempuan menemukan bahwa komentar negatif terhadap fisik yang diterima secara berulang dapat menurunkan rasa percaya diri dan membentuk citra diri yang negatif, bahkan mendorong sebagian remaja untuk menarik diri dari lingkungan sosialnya. Studi lain oleh Desti (2024) yang menganalisis kecenderungan perilaku body shaming di platform Instagram turut menegaskan bahwa media sosial berperan signifikan dalam memperburuk dampak body shaming, mengingat derasnya penyebaran standar kecantikan yang tidak realistis serta tekanan sosial yang terus meningkat di ruang digital. <\/p>\n<p>Dalam kerangka komponen konsep diri yang dijelaskan pada materi perkuliahan, body shaming paling nyata menyerang komponen perceptual (physical self concept), yaitu pengetahuan dan penilaian individu terhadap kondisi fisiknya. Namun dampaknya tidak berhenti di situ \u2014 ia turut menggerus komponen attitudinal, yakni sikap seseorang terhadap harga diri dan rasa malunya, sehingga lahirlah konsep diri negatif yang bercirikan mudah pesimis, sensitif terhadap kritik, dan merasa tidak disenangi orang lain, sebagaimana dirumuskan dalam materi Estetika Humanisme. Pola ini pula yang menjelaskan mengapa korban body shaming rentan mengalami kecemasan berlebihan, menarik diri dari pergaulan, hingga dalam kasus yang lebih berat memicu perilaku tidak sehat seperti diet ekstrem dan gangguan pola makan (GentaFKIP, 2025). Yang membuat persoalan ini semakin pelik adalah normalisasi budaya julid itu sendiri. Banyak pelaku body shaming tidak menyadari bahwa komentar yang mereka anggap sekadar candaan atau bentuk keakraban sesungguhnya dapat meninggalkan luka psikologis yang panjang bagi korbannya (GentaFKIP, 2025).<\/p>\n<p>Di sinilah letak ironi budaya digital hari ini: media sosial yang semestinya menjadi ruang berekspresi dan terhubung dengan orang lain, justru berubah menjadi &#8220;ruang nyaman&#8221; bagi pelaku julid sekaligus ruang yang menyakitkan bagi korbannya.<\/p>\n<p><strong>REFLEKSI DALAM PERSPEKTIF ESTETIKA HUMANISME<\/strong><br \/>\nEstetika Humanisme mengajarkan bahwa keindahan dan nilai seorang manusia tidak boleh direduksi hanya pada penampilan fisiknya semata. Sheerer (dalam materi perkuliahan) merumuskan bahwa individu dengan konsep diri positif ditandai dengan sikap mampu menerima dirinya apa adanya \u2014 termasuk menerima kelemahan dan risiko yang ada pada dirinya \u2014 serta mampu memposisikan harga dirinya secara tepat tanpa harus menyalahkan diri sendiri atas kekurangan yang dimilikinya. Nilai-nilai inilah yang perlu terus dihidupkan sebagai lawan dari budaya julid yang menormalisasi komentar fisik sebagai hal yang wajar.<\/p>\n<p>Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan RI turut menegaskan bahwa body shaming dapat berdampak pada menurunnya kepercayaan diri remaja, dan perlu disikapi secara serius melalui edukasi maupun dukungan psikologis, bukan dibiarkan sebagai bagian dari candaan sehari-hari (Kemenkes RI, 2022). Dalam kerangka Johari Window yang dijelaskan pada materi konsep diri, keterbukaan untuk membicarakan pengalaman body shaming dan mencari dukungan dari orang-orang terdekat \u2014 memindahkan pengalaman itu dari kuadran tersembunyi (hidden self) menuju kuadran terbuka (open self) \u2014 justru menjadi langkah penting menuju penyembuhan dan penguatan konsep diri.<\/p>\n<p><strong>KESIMPULAN DAN REKOMENDASI<\/strong><br \/>\nBudaya julid dan body shaming yang marak di media sosial bukanlah persoalan sepele. Di balik komentar yang dianggap sekadar candaan, tersimpan potensi kerusakan konsep diri generasi muda secara mendalam \u2014 mulai dari komponen perceptual, conceptual, hingga attitudinal \u2014 yang bila dibiarkan dapat berkembang menjadi kecemasan, penarikan diri dari lingkungan sosial, bahkan gangguan pola makan.<\/p>\n<p>Sebagai langkah preventif, diperlukan literasi digital yang membekali generasi muda untuk memahami bahwa standar tubuh yang beredar di media sosial adalah konstruksi sosial yang sering kali tidak realistis, sehingga kecenderungan membandingkan diri secara berlebihan dapat diminimalkan (GentaFKIP, 2025). Selain itu, lingkungan keluarga, sekolah, maupun kampus perlu berperan aktif menciptakan ruang aman yang bebas dari komentar fisik negatif, serta mengalihkan fokus penilaian dari penampilan menuju apresiasi terhadap usaha, kemampuan, dan kepribadian seseorang. Sebagaimana ditegaskan dalam kajian Estetika Humanisme, membangun konsep diri yang sehat berarti belajar menerima diri secara utuh \u2014 bukan menilai diri sendiri maupun orang lain hanya dari kacamata fisik semata.<\/p>\n<p><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><br \/>\nBerikut beberapa referensi yang relevan dengan topik artikel ini :<br \/>\n\uf0a7\tDesti, F. R. (2024). Analisis Deskriptif Kecenderungan Perilaku Body Shaming di Platform Instagram: Studi Kasus pada Korban Body Shaming di Instagram. Indonesian Research Journal on Education, 4(4), 247\u2013252.<br \/>\n\uf0a7\tGentaFKIP. (2025). Body Shaming di Kalangan Remaja Indonesia: Luka Psikologis yang Tumbuh Diam-Diam di Era Digital. Diakses dari https:\/\/genta.fkip.unja.ac.id\/2025\/12\/29\/body-shaming-di-kalangan-remaja-indonesia-luka-psikologis-yang-tumbuh-diam-diam-di-era-digital\/<br \/>\n\uf0a7\tKementerian Kesehatan RI. (2022). Pengaruh Body Shaming pada Kepercayaan Diri Remaja. Diakses dari https:\/\/yankes.kemkes.go.id\/view_artikel\/196\/pengaruh-body-shaming-padakepercayaan-diri-remaja<br \/>\n\uf0a7\tRamahardhila, D., &#038; Supriyono. (2022). Dampak Body Shaming pada Citra Diri Remaja Akhir Perempuan. Ideas: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Budaya, 8(3), 961\u2013970. https:\/\/doi.org\/10.32884\/ideas.v8i3.952<br \/>\n\uf0a7\tRakhmat, J. (2009). Psikologi Komunikasi (Edisi Revisi). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.<br \/>\n\uf0a7\tTim Penyusun Modul. (2026). Modul Pembelajaran Mata Kuliah Umum: Estetika Humanisme \u2013 Self Concept (Konsep Diri), Pertemuan Ke-3. Universitas Siber Asia.<br \/>\n\uf0a7\tTubbs, S. L., &#038; Moss, S. (2005). Human Relation. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.<br \/>\n\u2003<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Firman- Mahasiswa Universitas Siver Asia PENDAHULUAN &#8220;Ih kok gendutan&#8221;, &#8220;mukanya kusam banget sih&#8221;, &#8220;kurusan jelek jadinya&#8221; \u2014 komentar-komentar semacam ini begitu mudah dijumpai di kolom komentar media sosial, bahkan kerap dianggap wajar atau sekadar candaan alias &#8220;julid&#8221;. Padahal, di balik candaan itu tersimpan fenomena serius bernama body shaming, yang tidak sekadar menyakiti perasaan sesaat, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":27634,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-27633","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27633","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27633"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27633\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27634"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27633"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27633"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27633"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}