{"id":27613,"date":"2026-08-08T14:47:15","date_gmt":"2026-08-08T06:47:15","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27613"},"modified":"2026-08-08T14:47:15","modified_gmt":"2026-08-08T06:47:15","slug":"tantangan-anger-management-netizen-berkaca-dari-perang-komentar-kasus-kamar-bpjs","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/tantangan-anger-management-netizen-berkaca-dari-perang-komentar-kasus-kamar-bpjs\/27613\/","title":{"rendered":"Tantangan Anger Management Netizen: Berkaca dari Perang Komentar Kasus Kamar BPJS"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-27614\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar1-3.jpg\" alt=\"\" width=\"855\" height=\"476\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar1-3.jpg 855w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar1-3-300x167.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar1-3-768x428.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar1-3-750x418.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 855px) 100vw, 855px\" \/><\/p>\n<p><strong>Oleh: Devi Ayu R &#8211; Mahasiswa Universitas Siber Asia<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong>\u00a0 &#8211; Jagat media sosial kembali dihebohkan oleh sebuah utas pada platform <em>thread<\/em>s viral dan memanas. Dikabarkan ada seorang pasien mengeluhkan sulitnya mendapatkan kamar rawat inap karena menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan. Niat hati hanya sekadar mencurahkan isi hati, pasien tersebut malah menjadi <em>cyberbullying<\/em>. Mirisnya, hujan hujatan dan komentar sinis tersebut justru datang dari sejumlah oknum tenaga kesehatan (nakes) dan dokter\u2014profesi yang sejatinya menjadi garda terdepan pelindung kemanusiaan. Naasnya, pemilik utas tersebut dikabarkan meninggal dunia.<\/p>\n<p>Kolom komentar berubah menjadi medan perang terbuka. Di satu sisi, netizen yang pro-pasien meluapkan amarah dengan melontarkan kritik pedas hingga makian kepada Tenaga Kesehatan (nakes). Di sisi lain, para nakes yang merasa tersudut dan kelelahan oleh sistem, ikut merespons dengan nada defensif dan tak jarang menyulut kemarahan balasan.<\/p>\n<h3>Hancurnya Konsep Dalam Estetika Humanisme di Kolom Komentar<\/h3>\n<p>Kasus pada platform threads ini adalah bukti nyata hancurnya konsep keindahan tersebut. Oknum tenaga kesehatan yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam hal kepedulian, justru menyalahgunakan kebebasan di dunia maya untuk menyampaikan komentar sinis. Ketika tenaga kesehatan gagal memahami keputusasaan pasien dan justru menyerangnya secara lisan, di titik itulah proses pengabaian nilai kemanusiaan terjadi.<\/p>\n<p>Fenomena ini merupakan potret kelam bagaimana krisis sistemik justru melahirkan &#8220;konflik horizontal&#8221; yang merusak nilai-nilai kemanusiaan kita di dunia maya. Di sinilah Estetika Humanisme menjadi hilang. Estetika bukan sekadar keindahan seni, melainkan &#8220;keindahan budi pekerti dan komunikasi&#8221;. Ketika caci maki mendominasi, kita sedang mengalami dehumanisasi\u2014kita gagal melihat nakes sebagai manusia yang kelelahan, dan gagal melihat pasien sebagai manusia yang sedang menderita.<\/p>\n<p><strong><em>Anger Management<\/em><\/strong><strong> sebagai Kunci Resolusi<\/strong><\/p>\n<p>Menghadapi darurat empati ini, penerapan <em>Anger Management<\/em> menjadi sangat krusial bagi kedua belah pihak. Dalam ilmu psikologi, <em>anger management<\/em> bukanlah upaya untuk membungkam hak seseorang untuk marah atau protes. Kemarahan pasien BPJS adalah valid. Namun, yang dikendalikan adalah cara kita mengekspresikan kemarahan tersebut agar tidak menjadi destruktif (<em>destructive expression<\/em>).<\/p>\n<p>Bagi netizen, memaki nakes di kolom komentar tidak akan tiba-tiba memunculkan kamar kosong di rumah sakit. Bagi nakes, membalas komentar dengan amarah hanya akan menghancurkan citra profesi mulia tersebut.<\/p>\n<p><strong>Solusi dari Sudut Pandang Terapi Kognitif dan Sikap Asertif<\/strong><\/p>\n<p>Agar tragedi hilangnya empati seperti di Threads tidak terus berulang, teori <em>Anger Management<\/em> menawarkan langkah-langkah resolusi yang sejalan dengan nilai Estetika Humanisme:<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Bangun Komitmen Mengubah Diri (<em>Commitment to Change<\/em>)<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Langkah pertama dalam mengelola kemarahan adalah komitmen yang kuat untuk mengubah diri. Netizen maupun nakes harus memiliki motivasi internal untuk belajar mengelola amarah dan menerapkannya saat bermedia sosial.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><strong>Lakukan Relaksasi Saat &#8220;Tanda Awal&#8221; Muncul<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Ketika membaca utas yang memancing emosi, kenali tanda fisiologis tubuh. Segera lakukan relaksasi, karena relaksasi dan kemarahan merupakan reaksi yang saling berlawanan dan melibatkan reaksi tubuh yang berbeda sehingga tidak mungkin terjadi secara bersamaan. Relaksasi ini adalah alat bantu ampuh untuk mengurangi kemarahan. Beri jeda waktu sejenak, tarik napas, dan jauhkan jari dari layar gawai.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li><strong>Ubah Pola Pikir Melalui Terapi Kognitif<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Terapi kognitif bertujuan untuk mengubah suasana hati (<em>mood<\/em>) dan perilaku dengan cara memengaruhi pola pikirnya. Kita harus mengubah <em>mindset<\/em> dari yang awalnya defensif menjadi lebih penuh empati kognitif.<\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li><strong>Terapkan Komunikasi Asertif<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Di media sosial, kita harus mempraktikkan asertivitas, yaitu perilaku mengungkapkan pikiran dan perasaan secara jujur dan langsung, namun tetap dilakukan dengan memperhatikan perasaan dan kesejahteraan orang lain. Nakes sah-sah saja menjelaskan secara logis mengapa kuota kamar BPJS terbatas, namun hal itu harus disampaikan dengan bahasa yang menghargai keputusasaan pasien.<\/p>\n<p><strong>Kesimpulan<\/strong><\/p>\n<p>Kasus viralnya perang komentar pada sosial media adalah peringatan bagi kita semua. Kasus tersebut membuktikan bahwa kecanggihan teknologi belum sejalan dengan kedewasaan emosional penggunanya.<\/p>\n<p>Yuk jadikan <em>Anger Management<\/em> sebagai pondasi dalam bersuara di jagat media sosial! Menyuarakan ketidakadilan adalah hak, tetapi memanusiakan manusia di tengah pusaran konflik adalah kewajiban mutlak.<\/p>\n<h3>Referensi \/ Daftar Pustaka<\/h3>\n<ol>\n<li><strong>Suler, J. (2004).<\/strong> <em>The Online Disinhibition Effect<\/em>. CyberPsychology &amp; Behavior, 7(3), 321-326. <em>(Sumber teori utama mengapa orang lebih mudah marah, agresif, dan kehilangan empati saat berinteraksi di balik layar gawai\/internet).<\/em><\/li>\n<li><strong>Goleman, D. (1995).<\/strong> <em>Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ<\/em>. New York: Bantam Books. <em>(Buku babon terkait kecerdasan emosional yang mendukung argumen tentang pentingnya empati kognitif dan literasi manusia).<\/em><\/li>\n<li><strong>Microsoft Corporation. (2021).<\/strong> <em>Digital Civility Index (DCI) Report<\/em>. <em>(Laporan data faktual mengenai tingkat kesopanan pengguna internet global, di mana netizen Indonesia sempat tercatat memiliki tingkat kesopanan digital yang rendah).<\/em><\/li>\n<li><strong>Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI. (2021).<\/strong> <em>Modul Literasi Digital: Etika Bermedia Digital<\/em>. <em>(Referensi lokal yang selaras dengan kajian Estetika Humanisme dalam hal beradab dan beretika di ruang digital).<\/em><\/li>\n<li><strong>Universitas Siber Asia (2026).<\/strong> Materi Perkuliahan MKU Estetika Humanisme: <em>Anger Management<\/em> (Pertemuan 6).<\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Devi Ayu R &#8211; Mahasiswa Universitas Siber Asia JurnalPost.com\u00a0 &#8211; Jagat media sosial kembali dihebohkan oleh sebuah utas pada platform threads viral dan memanas. Dikabarkan ada seorang pasien mengeluhkan sulitnya mendapatkan kamar rawat inap karena menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan. Niat hati hanya sekadar mencurahkan isi hati, pasien tersebut malah menjadi cyberbullying. Mirisnya, hujan hujatan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":27614,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-27613","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27613","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27613"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27613\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27614"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27613"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27613"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27613"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}