{"id":27608,"date":"2026-08-07T22:36:45","date_gmt":"2026-08-07T14:36:45","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27608"},"modified":"2026-08-07T22:36:45","modified_gmt":"2026-08-07T14:36:45","slug":"pengaruh-konten-media-sosial-terhadap-keputusan-investasi-generasi-z","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/pengaruh-konten-media-sosial-terhadap-keputusan-investasi-generasi-z\/27608\/","title":{"rendered":"Pengaruh Konten Media Sosial Terhadap Keputusan Investasi Generasi Z"},"content":{"rendered":"<p>Penulis :<strong> Farhan Pratama Ramadhan<\/strong><br \/>\nUniversitas Siber Asia<\/p>\n<p><strong> PENDAHULUAN<\/strong><\/p>\n<p><strong>1.1 Latar Belakang<\/strong><\/p>\n<p>Perkembangan pasar modal di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan yang cukup pesat. Hal tersebut dapat dilihat dari data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mencatat jumlah\u00a0<em>Single Investor Identification<\/em>\u00a0(SID) telah mencapai 20.042.365 pada 17 Desember 2025. Angka tersebut meningkat sebesar 34,8% dibandingkan dengan jumlah investor pada akhir tahun 2024 (BEI, 2025). Kenaikan ini mengindikasikan bahwa minat masyarakat untuk berinvestasi semakin tinggi. Kondisi tersebut tidak terlepas dari berbagai upaya peningkatan literasi keuangan, semakin luasnya edukasi mengenai pasar modal, serta kemudahan akses investasi yang tersedia melalui perkembangan teknologi digital.<\/p>\n<p>Besarnya minat investasi juga terlihat dari dominasi investor yang berasal dari kelompok usia muda. Menurut Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, sekitar 54% investor pasar modal di Indonesia merupakan Generasi Z yang berusia di bawah 30 tahun (CNBC Indonesia, 2026). Generasi ini tumbuh di tengah perkembangan teknologi dan internet sehingga aktivitas sehari-harinya sangat dekat dengan media sosial. Berbagai informasi mengenai investasi, mulai dari edukasi, analisis pasar, hingga pengalaman investor lain, dapat diperoleh dengan mudah melalui berbagai platform digital. Akibatnya, media sosial menjadi salah satu faktor yang ikut memengaruhi cara Generasi Z memandang investasi serta menentukan keputusan dalam berinvestasi.<\/p>\n<p>Di sisi lain, media sosial tidak hanya berfungsi sebagai media penyebaran informasi, tetapi juga mampu membentuk persepsi pengguna melalui tampilan visual dan penyampaian konten yang menarik. Informasi investasi yang dikemas dalam bentuk video singkat, infografis, maupun unggahan dari influencer sering kali lebih mudah menarik perhatian dibandingkan pembahasan yang bersifat mendalam. Kondisi tersebut dapat mendorong munculnya berbagai perilaku psikologis, seperti\u00a0<em>herding behavior<\/em>,\u00a0<em>overconfidence<\/em>, maupun\u00a0<em>Fear of Missing Out<\/em>\u00a0(FOMO), terutama ketika keputusan investasi lebih didasarkan pada tren yang sedang populer daripada hasil analisis yang objektif. Oleh karena itu, kemampuan memahami dan mengevaluasi informasi secara kritis melalui literasi keuangan digital menjadi sangat penting agar investor mampu mengambil keputusan investasi yang lebih rasional (Journal of Islamic Economics and Finance, 2025).<\/p>\n<p>Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konten media sosial terhadap keputusan investasi Generasi Z dengan menggunakan perspektif\u00a0<em>Higher Order Thinking Skills<\/em>\u00a0(HOTS) dan\u00a0<em>Lower Order Thinking Skills<\/em>\u00a0(LOTS). Melalui pendekatan tersebut, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai hubungan antara kemampuan berpikir dengan proses pengambilan keputusan investasi di era digital.<\/p>\n<p><strong>1.2 Rumusan Masalah<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li>Bagaimana peran estetika dalam penyajian konten investasi pada media sosial terhadap persepsi Generasi Z?<\/li>\n<li>Bagaimana pengaruh konten media sosial terhadap keputusan investasi Generasi Z di pasar modal?<\/li>\n<li>Bagaimana penerapan konsep Higher Order Thinking Skills (HOTS) dan Lower Order Thinking Skills (LOTS) dalam proses memahami serta mengevaluasi informasi investasi yang didapat melalui media sosial?<\/li>\n<li>Bagaimana literasi keuangan digital dapat membantu Generasi Z dalam mengambil keputusan investasi yang lebih rasional ?<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>1.3 Tujuan Penulisan<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li>Untuk menganalisis peran estetika dalam penyajian konten investasi pada media sosial dan pengaruhnya terhadap persepsi Generasi Z.<\/li>\n<li>Untuk mengetahui pengaruh konten media sosial terhadap keputusan investasi Generasi Z.<\/li>\n<li>Untuk menganalisis penerapan Higher Order Thinking Skills (HOTS) dan Lower Order Thinking Skills (LOTS) dalam memahami dan mengevaluasi informasi investasi digital.<\/li>\n<li>Untuk menjelaskan pentingnya literasi keuangan digital dalam membantu Generasi Z mengambil keputusan investasi yang lebih bijak dan berdasarkan pertimbangan yang rasional.<\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>2 PEMBAHASAN<\/strong><\/p>\n<p><strong>2.1 Estetika dalam Konten Investasi Digital<\/strong><\/p>\n<p>Estetika digital dalam konten media sosial adalah gaya visual, audio, atau naratif berbasis teknologi yang digunakan untuk menyampaikan keindahan, pesan, atau identitas. Gaya ini mencakup pilihan warna, tata letak, filter, dan jenis huruf yang membentuk ciri khas suatu akun atau merek secara online ( Journal of Health Quality Development, 2025 ).<\/p>\n<p>Media sosial memiliki pengaruh besar terhadap cara individu membangun persepsi dan membentuk pandangan terhadap suatu informasi. Penyajian konten yang menarik secara visual, penggunaan filter, serta pola penyebaran informasi melalui algoritma dapat memengaruhi bagaimana seseorang menerima dan menilai suatu konten. Dalam konteks investasi, kondisi tersebut dapat memengaruhi persepsi Generasi Z terhadap instrumen investasi tertentu, terutama ketika informasi investasi disampaikan melalui tampilan yang menarik dan mudah diterima.<\/p>\n<p>Media sosial dapat memberikan manfaat positif dengan menyediakan akses terhadap edukasi investasi, pertukaran informasi, serta komunitas yang mendukung peningkatan literasi keuangan. Namun paparan konten investasi yang telah dikemas secara persuasif dapat menyebabkan individu melakukan perbandingan sosial, mengikuti tren investasi, atau mengambil keputusan berdasarkan popularitas suatu konten dibandingkan analisis yang mendalam. Maka dari itu, kemampuan literasi media dan kesadaran individu menjadi faktor penting agar pengguna mampu menyaring informasi yang diterima dan membuat keputusan investasi secara lebih rasional ( Jurnal Kajian dan Penelitian Umum, 2024 ).<\/p>\n<p>Kita dapat memahami bahwa estetika dalam konten investasi digital memiliki peran penting dalam menarik perhatian dan membentuk persepsi investor, khususnya Generasi Z yang memiliki kedekatan tinggi dengan media sosial. Tampilan visual yang menarik, penyampaian informasi yang kreatif, serta penggunaan narasi yang mudah dipahami dapat meningkatkan minat seseorang untuk mengenal investasi. Namun, daya tarik estetika tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan investasi. Konten yang memiliki tampilan profesional dan meyakinkan belum tentu memiliki informasi yang akurat atau sesuai dengan kondisi pasar.<\/p>\n<p>Investor Generasi Z perlu menyeimbangkan antara apresiasi terhadap estetika konten dan kemampuan berpikir rasional dalam mengevaluasi informasi investasi. Estetika dapat berfungsi sebagai media untuk menarik perhatian dan mempermudah pemahaman informasi, sedangkan rasionalitas diperlukan untuk melakukan analisis risiko, menilai kredibilitas sumber, serta mempertimbangkan tujuan investasi. Dengan adanya keseimbangan antara aspek estetika dan rasionalitas, investor tidak hanya menjadi pengguna informasi digital yang mudah terpengaruh oleh tren, tetapi mampu mengambil keputusan investasi berdasarkan pertimbangan yang objektif dan bertanggung jawab.<\/p>\n<p><strong>2.2 Media Sosial sebagai Sumber Informasi Investasi Generasi Z<\/strong><\/p>\n<p>Berdasarkan penelitian terhadap Generasi Z usia 18\u201325 tahun yang aktif menggunakan media sosial dengan jumlah 240 responden, ditemukan bahwa media sosial memiliki pengaruh terhadap keputusan investasi. Sebagian besar responden menggunakan media sosial setiap hari, dengan Instagram dan TikTok menjadi platform yang banyak digunakan. Selain itu, sebanyak 65% responden memperoleh informasi investasi melalui influencer dan konten media sosial, sementara 55% menyatakan bahwa informasi tersebut memengaruhi keputusan investasi mereka.<\/p>\n<p><strong>Grafik Pengaruh Media Sosial Terhadap Keputusan Investasi<\/strong><\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/gtagggg.jpg\" alt=\"\" width=\"861\" height=\"656\" class=\"aligncenter size-full wp-image-27609\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/gtagggg.jpg 861w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/gtagggg-300x229.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/gtagggg-768x585.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/gtagggg-750x571.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 861px) 100vw, 861px\" \/><\/p>\n<p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial memiliki peran penting dalam membentuk persepsi dan perilaku investasi Generasi Z. Namun, kemudahan memperoleh informasi melalui media sosial juga perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis dan literasi keuangan agar investor tidak hanya mengikuti tren, tetapi mampu melakukan analisis sebelum mengambil keputusan investasi ( Prosiding Seminar Nasional Manajemen 2025 ).<\/p>\n<p><strong>2.3 Pengaruh Media Sosial terhadap Perilaku Investasi Gen Z<\/strong><\/p>\n<p>Berbagai penelitian mengenai perilaku investasi Generasi Z menunjukkan bahwa faktor psikologis memberikan pengaruh yang berbeda terhadap proses pengambilan keputusan investasi, terutama pada aspek\u00a0<em>herding behavior<\/em>\u00a0dan\u00a0<em>overconfidence<\/em>. Kecenderungan mengikuti keputusan mayoritas (<em>herding behavior<\/em>) tidak selalu menjadi faktor utama yang menentukan keputusan investasi kelompok ini. Sebagai generasi yang tumbuh bersama perkembangan teknologi digital, Generasi Z memiliki akses yang luas terhadap berbagai sumber informasi. Kemudahan tersebut memungkinkan mereka membandingkan informasi dari berbagai referensi, melakukan analisis secara mandiri, serta tidak sepenuhnya bergantung pada tren maupun rekomendasi dari pihak lain.<\/p>\n<p>Akses informasi yang semakin mudah juga menghadirkan tantangan lain. Paparan informasi investasi yang terus-menerus melalui media sosial, aplikasi investasi, dan berbagai konten edukasi dapat menumbuhkan rasa percaya diri yang berlebihan (<em>overconfidence<\/em>). Investor muda sering kali merasa telah memiliki pengetahuan yang cukup untuk menentukan pilihan investasi, meskipun analisis yang dilakukan belum sepenuhnya mendalam. Kondisi tersebut berpotensi mendorong pengambilan keputusan yang lebih mengandalkan keyakinan pribadi daripada mempertimbangkan risiko secara objektif.<\/p>\n<p>Media sosial pada akhirnya memberikan dua dampak yang berbeda terhadap perilaku investasi Generasi Z. Beragam informasi yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk memperluas wawasan serta meningkatkan kemampuan investor dalam mencari referensi secara mandiri. Sebaliknya, penggunaan media sosial tanpa disertai kemampuan berpikir kritis dapat memperkuat munculnya bias psikologis, terutama\u00a0<em>overconfidence<\/em>, sehingga keputusan investasi menjadi kurang rasional. Literasi keuangan yang baik, disertai kemampuan mengevaluasi kredibilitas informasi, membantu Generasi Z memanfaatkan media sosial secara lebih bijaksana ketika menentukan keputusan investasi (<em>Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara<\/em>, 2026).<\/p>\n<p><strong>2.4 Analisis Pengambilan Keputusan Investasi Berdasarkan HOTS dan LOTS<\/strong><\/p>\n<p>Dalam proses pengambilan keputusan investasi, kemampuan berpikir menjadi salah satu faktor penting yang menentukan kualitas keputusan seorang investor. Informasi investasi yang diperoleh melalui media sosial tidak dapat langsung diterima tanpa melalui proses pemahaman dan evaluasi. Investor harus memiliki kemampuan berpikir tingkat rendah (Lower Order Thinking Skills\/LOTS) dan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills\/HOTS) memiliki peran yang berbeda dalam membantu investor memahami serta merespons informasi investasi digital.<\/p>\n<p>Pada tingkat LOTS, investor cenderung menggunakan kemampuan berpikir dasar seperti mengingat, memahami, dan mengenali informasi yang diperoleh dari media sosial. Contohnya, seorang investor Generasi Z dapat mengenali istilah investasi, memahami keuntungan suatu instrumen investasi, atau mengikuti informasi mengenai saham tertentu yang sedang populer. Namun, proses berpikir ini belum melibatkan analisis yang mendalam sehingga investor masih berpotensi mengambil keputusan berdasarkan tren, popularitas, atau rekomendasi dari pihak lain tanpa mempertimbangkan risiko investasi.<\/p>\n<p>Sementara itu, HOTS melibatkan kemampuan berpikir yang lebih kompleks seperti menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan keputusan berdasarkan pertimbangan yang matang. Dalam konteks investasi, investor yang menggunakan kemampuan HOTS tidak hanya menerima informasi dari media sosial, tetapi juga membandingkan berbagai sumber, mengevaluasi kredibilitas informasi, memahami risiko, serta mempertimbangkan tujuan keuangan sebelum melakukan investasi. Kemampuan ini membantu investor Generasi Z menghindari keputusan impulsif yang disebabkan oleh fenomena seperti Fear of Missing Out (FOMO) dan herding behavior.<\/p>\n<p>Perbedaan utama antara LOTS dan HOTS dalam keputusan investasi terletak pada kedalaman proses berpikir. LOTS dapat membantu investor memperoleh pemahaman awal mengenai investasi, sedangkan HOTS membantu investor mengambil keputusan yang lebih rasional dan berdasarkan analisis. Dalam lingkungan digital yang dipenuhi berbagai informasi investasi, kemampuan berpikir kritis menjadi aspek penting agar Generasi Z tidak hanya menjadi pengguna informasi, tetapi juga mampu mengevaluasi dan memanfaatkan informasi tersebut secara bijak.<\/p>\n<p><strong>3 PENUTUP<\/strong><\/p>\n<p><strong>3.1 Kesimpulan<\/strong><\/p>\n<p>Berdasarkan analisis yang telah dilakukan , dapat disimpulkan bahwa perkembangan media sosial telah memberikan pengaruh besar terhadap cara Generasi Z memperoleh informasi dan mengambil keputusan investasi. Konten investasi digital yang dikemas melalui unsur estetika seperti visual yang menarik, penyampaian kreatif, dan narasi yang mudah dipahami mampu meningkatkan perhatian serta minat investor muda terhadap dunia investasi. Namun, aspek estetika tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar dalam menentukan keputusan investasi karena tampilan yang menarik belum tentu mencerminkan kualitas dan kebenaran informasi yang disampaikan.<\/p>\n<p>Media sosial memiliki peran ganda dalam perilaku investasi Generasi Z. Di satu sisi, media sosial dapat menjadi sarana edukasi yang membantu investor memperoleh informasi, meningkatkan literasi keuangan, dan membangun komunitas investasi. Di sisi lain, paparan konten investasi yang berlebihan dapat memicu bias psikologis seperti herding behavior dan overconfidence apabila informasi tidak dianalisis secara kritis.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, kemampuan berpikir menjadi faktor penting dalam proses pengambilan keputusan investasi. Penggunaan Lower Order Thinking Skills (LOTS) membantu investor memahami informasi dasar mengenai investasi, sedangkan Higher Order Thinking Skills (HOTS) memungkinkan investor untuk menganalisis, mengevaluasi, dan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan risiko serta tujuan keuangan. Dengan mengombinasikan pemanfaatan estetika digital, literasi keuangan, dan kemampuan berpikir kritis, Generasi Z dapat memanfaatkan media sosial sebagai sumber informasi investasi secara lebih bijak dan bertanggung jawab.<\/p>\n<p><strong>3.2 Saran<\/strong><\/p>\n<p>Berdasarkan hasil pembahasan, Generasi Z disarankan untuk tidak menjadikan popularitas atau tampilan menarik suatu konten media sosial sebagai satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan investasi. Investor perlu meningkatkan kemampuan literasi keuangan, melakukan verifikasi informasi, serta mempertimbangkan risiko sebelum memilih suatu instrumen investasi.<\/p>\n<p>Selain itu, edukasi mengenai investasi digital perlu terus ditingkatkan oleh berbagai pihak, baik lembaga keuangan, institusi pendidikan, maupun komunitas investasi. Dengan adanya edukasi yang memadai, Generasi Z diharapkan mampu memanfaatkan perkembangan teknologi digital secara positif dan menjadi investor yang lebih rasional, kritis, serta bertanggung jawab.<\/p>\n<p><em>\u00a0<\/em><\/p>\n<h1><strong>3.3 Daftar Pustaka<\/strong><\/h1>\n<p>Bursa Efek Indonesia. (2025, 17 Desember).\u00a0<em>Jumlah Investor Pasar Modal Indonesia Lampaui 20 Juta SID<\/em>. Bursa Efek Indonesia.\u00a0<a href=\"https:\/\/www.idx.co.id\/id\/berita\/siaran-pers\/2525\">https:\/\/www.idx.co.id\/id\/berita\/siaran-pers\/2525<\/a><\/p>\n<p>CNBC Indonesia. (2026, 22 Mei).\u00a0<em>Bos OJK Ungkap Ada 27 Juta Investor Pasar Modal RI, 54% Adalah Gen Z<\/em>. CNBC Indonesia.\u00a0<a href=\"https:\/\/www.cnbcindonesia.com\/market\/20260522143316-17-737107\/bos-ojk-ungkap-ada-27-juta-investor-pasar-modal-ri-54-adalah-gen-z\">https:\/\/www.cnbcindonesia.com\/market\/20260522143316-17-737107\/bos-ojk-ungkap-ada-27-juta-investor-pasar-modal-ri-54-adalah-gen-z<\/a><\/p>\n<p>Journal of Health Quality Development. (2025). <em>Peran Estetika Digital dalam Pengembangan Kebijakan Kesehatan : Perspektif Sosiologi Teknologi dan Kesehatan Masyarakat<\/em> . Journal of Health Quality Development.\u00a0 <a href=\"https:\/\/journal.intelekmadani.org\/index.php\/jhqd\/article\/view\/825\">https:\/\/journal.intelekmadani.org\/index.php\/jhqd\/article\/view\/825<\/a><\/p>\n<p>Journal of Islamic Economics and Finance. (2025). <em>Pengaruh Media Sosial Terhadap Perilaku Investasi Investor Ritel di Indonesia<\/em>\u00a0. Journal of Islamic Economics and Finance, 2(2).\u00a0<a href=\"https:\/\/journal.ppmi.web.id\/index.php\/joieaf\/article\/view\/3319\/2293\">https:\/\/journal.ppmi.web.id\/index.php\/joieaf\/article\/view\/3319\/2293<\/a><\/p>\n<p>Rohman, et al. (2025). <em>Pengaruh Media Sosial Terhadap Keputusan Investasi Saham di Kalangan Generasi Z<\/em>. Prosiding Seminar Nasional Manajemen, 4(1).\u00a0<a href=\"https:\/\/openjournal.unpam.ac.id\/index.php\/PSM\/article\/view\/45126\/21551\">https:\/\/openjournal.unpam.ac.id\/index.php\/PSM\/article\/view\/45126\/21551<\/a><\/p>\n<p>Sucipto, Putra, Nurianah, &amp; Arrahima. (2026).\u00a0<em>Analisis Perilaku Herding dan Overconfidence Dalam Pengambilan Keputusan Investasi Generasi Z Kabupaten Jombang di Pasar Saham Syariah Indonesia<\/em>. Jurnal Manajemen dan Bisnis Dewantara, 9(1).\u00a0<a href=\"https:\/\/ejournal.stiedewantara.ac.id\/index.php\/JMD\">https:\/\/ejournal.stiedewantara.ac.id\/index.php\/JMD<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis : Farhan Pratama Ramadhan Universitas Siber Asia PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan pasar modal di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan yang cukup pesat. Hal tersebut dapat dilihat dari data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mencatat jumlah\u00a0Single Investor Identification\u00a0(SID) telah mencapai 20.042.365 pada 17 Desember 2025. Angka tersebut meningkat sebesar 34,8% dibandingkan dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":27609,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-27608","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27608","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27608"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27608\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27609"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27608"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27608"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27608"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}