{"id":27594,"date":"2026-08-07T15:47:33","date_gmt":"2026-08-07T07:47:33","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27594"},"modified":"2026-08-07T15:47:33","modified_gmt":"2026-08-07T07:47:33","slug":"yang-tak-bisa-diotomatisasi-catatan-seorang-pekerja-konstruksi-indonesia-di-jepang-tentang-society-5-0","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/yang-tak-bisa-diotomatisasi-catatan-seorang-pekerja-konstruksi-indonesia-di-jepang-tentang-society-5-0\/27594\/","title":{"rendered":"YANG TAK BISA DIOTOMATISASI Catatan Seorang Pekerja Konstruksi Indonesia di Jepang tentang Society 5.0"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: <strong>Reva Riananta \u2013 Mahasiswa Universitas Siber Asia<\/strong><br \/>\nProgram Studi Informatika (PJJ S1), Kelas IF-206<br \/>\n<em>Esai \u2013 Mata Kuliah Estetika Humanisme (Human Literacy)<\/em><\/p>\n<p><strong>Daftar yang Membuat Kita Semua Cemas<\/strong><br \/>\nSepanjang paruh pertama tahun 2026, linimasa media sosial dan portal berita Indonesia dipenuhi satu jenis konten yang nyaris seragam bentuknya: daftar pekerjaan yang \u201cakan punah\u201d karena kecerdasan buatan. Polanya berulang dan mudah ditebak \u2014 sepuluh profesi terancam otomasi, apakah jurusan kuliahmu masuk daftar ini, bersiaplah kehilangan karier sebelum 2030. Nama-nama yang disebut pun itu-itu saja: operator entri data, customer service, akuntan junior, penerjemah, desainer grafis, penulis konten, hingga operator produksi di pabrik. Angka-angka besar dilemparkan tanpa banyak konteks, dan tautannya dibagikan puluhan ribu kali dalam sehari. Di tengah kepanikan itu, konsep Society 5.0 dari Jepang justru menawarkan cara pandang yang jauh lebih tenang tentang hubungan antara manusia dan mesin.<\/p>\n<figure id=\"attachment_27595\" aria-describedby=\"caption-attachment-27595\" style=\"width: 560px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-27595\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/addee.webp\" alt=\"\" width=\"560\" height=\"327\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/addee.webp 560w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/addee-300x175.webp 300w\" sizes=\"(max-width: 560px) 100vw, 560px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-27595\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 1. Banjir konten daftar \u201cpekerjaan yang akan punah\u201d sepanjang 2026: bekerja seperti ramalan, bukan sebagai informasi. (Ilustrasi: penulis)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Sebagai sebuah fenomena, ini menarik bukan terutama karena isinya, melainkan karena efek psikologis yang ditimbulkannya. Konten semacam itu bekerja persis seperti ramalan: ia tidak memberi kita informasi yang bisa ditindaklanjuti, tetapi memberi kita rasa takut yang cukup besar untuk membuat kita terus menggulir layar. Dan di sinilah, menurut saya, letak persoalan yang jauh lebih mendasar daripada pertanyaan teknis tentang seberapa cepat AI berkembang: kita sedang membiarkan sebuah teknologi mendefinisikan ulang harga diri kita sebagai manusia, dan kita melakukannya nyaris tanpa perlawanan.<\/p>\n<p><strong>Ironi dari Sebuah Perancah<\/strong><br \/>\nSaya menulis esai ini dari sebuah kota kecil di Prefektur Aichi, Jepang. Pagi hari saya bekerja di proyek konstruksi \u2014 mengangkat material, memasang bekisting, membaca gambar kerja, dan berdiri di atas perancah bersama rekan-rekan yang sebagian besar berusia jauh di atas saya. Malam hari, setelah badan saya lelah dan tangan saya masih terasa kasar, saya membuka laptop sebagai mahasiswa Informatika Universitas Siber Asia melalui jalur pendidikan jarak jauh.<\/p>\n<p>Ironinya cukup telak. Jurusan yang saya pilih \u2014 pemrograman, rekayasa perangkat lunak, analisis data \u2014 justru berada di barisan depan daftar \u201cprofesi terancam\u201d itu. Sementara pekerjaan tangan yang saya lakukan setiap hari, yang di Indonesia sering dianggap sebagai pekerjaan kelas bawah yang tidak memerlukan pendidikan tinggi, justru disebut relatif aman dari otomasi karena membutuhkan kontrol manusia, penilaian situasional, dan tindakan fisik langsung.<\/p>\n<p>Selama dua tahun terakhir, ironi ini mengajari saya sesuatu yang tidak pernah saya dapatkan dari satu pun artikel daftar tadi: kategori \u201caman\u201d dan \u201cterancam\u201d itu jauh lebih rapuh daripada yang kita kira. Ia bergeser mengikuti teknologi, mengikuti pasar, mengikuti kebijakan imigrasi suatu negara. Jika kita menyandarkan rasa berharga kita di atas kategori serapuh itu, kita sedang membangun rumah di atas pasir.<\/p>\n<p><strong>Society 5.0: Ketika Jepang Menolak Menaruh Mesin di Pusat<\/strong><br \/>\nMenariknya, negara tempat saya sekarang berdiri adalah negara yang paling serius merumuskan jawaban filosofis atas persoalan ini. Melalui Rencana Dasar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ke-5 yang dirumuskan <a href=\"https:\/\/www8.cao.go.jp\/cstp\/english\/society5_0\/index.html\">Cabinet Office pada 2016<\/a> dan kemudian dipopulerkan oleh Keidanren, Jepang memperkenalkan konsep Society 5.0: sebuah tatanan masyarakat super-cerdas yang berpusat pada manusia (human-centered society), yang menyeimbangkan kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial melalui integrasi ruang siber dan ruang fisik.<\/p>\n<p>Perbedaannya dengan Industry 4.0 sering disalahpahami sebagai perbedaan generasi teknologi. Padahal perbedaannya terletak pada subjek. Industry 4.0, yang lahir dari Jerman, berbicara tentang pabrik: bagaimana mengoptimalkan produksi melalui otomasi, Internet of Things, dan sistem siber-fisik. Society 5.0 berbicara tentang masyarakat: untuk siapa semua efisiensi itu diciptakan. Yang satu menempatkan proses produksi di pusat lingkaran; yang lain menempatkan manusia di sana, dengan teknologi sebagai lingkaran luar yang melayaninya.<\/p>\n<p>Bukti empirisnya bisa dilihat dengan mata telanjang, dan justru bertolak belakang dengan narasi kepanikan yang beredar. Jepang adalah salah satu negara dengan kepadatan robot industri tertinggi di dunia. Namun pada saat yang sama, jumlah pekerja asing di Jepang menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah, melampaui 2,3 juta orang, dengan pertumbuhan dua digit dari tahun sebelumnya. Data JICA mencatat lebih dari 121 ribu di antaranya adalah pekerja Indonesia, dan angka itu terus bertambah melalui skema Tokutei Ginou serta program Ikusei Shuro yang menggantikan sistem magang lama.<\/p>\n<figure id=\"attachment_27596\" aria-describedby=\"caption-attachment-27596\" style=\"width: 560px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-27596\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar2-1.jpg\" alt=\"\" width=\"560\" height=\"327\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar2-1.jpg 560w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar2-1-300x175.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 560px) 100vw, 560px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-27596\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 2. Paradoks otomasi di Jepang: robotisasi tertinggi, sekaligus kebutuhan tenaga manusia tertinggi. (Diolah penulis dari laporan ketenagakerjaan Jepang dan data JICA)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Jika otomasi benar-benar merupakan substitusi sempurna atas tenaga manusia, negara paling robotik di dunia tidak akan mengimpor jutaan pasang tangan dari Asia Tenggara. Kenyataan di lapangan jauh lebih rumit dan jauh lebih menghibur daripada judul-judul artikel viral itu: teknologi memang menggeser pekerjaan, mengubah isi pekerjaan, bahkan menghapus sebagian jenis tugas \u2014 tetapi ia tidak menghapus kebutuhan akan manusia. Ia memindahkan letak kebutuhan itu.<\/p>\n<p><strong>Human Literacy: Bukan Soal Keterampilan, Tapi Soal Makna<\/strong><br \/>\nDi sinilah kajian Estetika Humanisme menjadi relevan, dan bukan sekadar sebagai mata kuliah pelengkap. Human literacy \u2014 kemampuan membaca, memahami, dan memaknai manusia beserta relasi antar manusia \u2014 adalah kompetensi yang justru naik nilainya persis ketika mesin mengambil alih pekerjaan yang bisa diformalkan menjadi aturan.<\/p>\n<p>Saya belajar hal ini bukan dari buku, melainkan dari perancah. Di lokasi proyek, ada banyak keputusan yang tidak pernah tertulis di gambar kerja mana pun. Ketika hujan turun sejak semalam dan tanah menjadi labil, seseorang harus memutuskan apakah pekerjaan hari itu dilanjutkan atau ditunda \u2014 sebuah penilaian yang menimbang cuaca, kondisi tanah, tenggat proyek, dan yang paling penting, keselamatan orang-orang di sekitarnya. Ketika seorang rekan kerja terlihat lebih pendiam dari biasanya, seseorang harus peka bahwa mungkin ada masalah yang membuat konsentrasinya menurun, dan di ketinggian dua belas meter, konsentrasi yang menurun adalah persoalan hidup dan mati.<\/p>\n<p>Mesin dapat mengukur kelembaban tanah dengan presisi yang jauh melampaui kemampuan saya. Tetapi mesin tidak dapat menanggung akibatnya. Akuntabilitas adalah konsep yang sepenuhnya manusiawi; ia mensyaratkan adanya subjek yang bisa menyesal, bisa dituntut, bisa merasa bersalah, dan karena itu bisa dipercaya. Sistem cerdas mengoptimalkan; manusia bertanggung jawab. Selama masyarakat masih membutuhkan pihak yang bertanggung jawab \u2014 dan masyarakat mana pun membutuhkannya \u2014 manusia tidak akan tergantikan.<\/p>\n<p><strong>Bahaya Menilai Manusia dengan Satuan Produktivitas<\/strong><br \/>\nAda satu respons populer terhadap kecemasan AI yang tampak memberdayakan, tetapi menurut saya justru diam-diam berbahaya: seruan \u201cupgrade skill-mu atau kamu tersingkir\u201d. Nasihat itu terdengar realistis, bahkan bijaksana. Namun perhatikan premis yang tersembunyi di dalamnya: bahwa nilai seorang manusia setara dengan kontribusi ekonominya, dan bahwa hak seseorang untuk merasa berharga bergantung pada apakah ia masih lebih murah atau lebih cepat daripada sebuah mesin.<\/p>\n<p>Psikologi humanistik menolak premis itu sejak awal. Abraham Maslow membangun seluruh teorinya di atas keyakinan bahwa manusia memiliki dorongan bawaan menuju aktualisasi diri \u2014 sebuah gerak menjadi diri yang utuh, yang tidak identik dengan gerak menjadi lebih produktif. Carl Rogers menambahkan gagasan penerimaan positif tanpa syarat: manusia berkembang paling sehat justru ketika ia dihargai bukan karena prestasinya, melainkan karena keberadaannya. Keduanya menempatkan nilai manusia sebagai sesuatu yang intrinsik, bukan sesuatu yang harus terus-menerus diperoleh kembali di pasar tenaga kerja.<\/p>\n<p>Jika kita menerima premis instrumental tadi, konsekuensinya brutal dan akan menimpa orang-orang yang paling tidak berdaya. Pekerja berusia lima puluh tahun yang tidak lagi punya energi untuk mempelajari kerangka kerja baru menjadi \u201cbeban\u201d. Orang dengan keterbatasan fisik menjadi \u201ctidak efisien\u201d. Ibu yang memilih merawat anaknya menjadi \u201ctidak berkontribusi\u201d. Persoalan ini sama sekali bukan persoalan teknologi. Ini persoalan cara pandang \u2014 dan cara pandang adalah wilayah yang bisa kita pilih.<\/p>\n<p><strong>Estetika Kerja: Shokunin dan Keindahan yang Tak Terukur<\/strong><br \/>\nAda satu pemandangan di tempat kerja saya yang tidak pernah bisa saya lupakan. Seorang tukang senior, usianya sekitar enam puluhan, menghabiskan waktu cukup lama merapikan sebuah sambungan yang beberapa jam kemudian akan tertutup dinding gipsum dan tidak akan pernah dilihat oleh siapa pun sepanjang usia bangunan itu. Saya sempat bertanya dalam hati mengapa ia repot-repot.<\/p>\n<p>Jepang punya nama untuk sikap itu: shokunin kishitsu, jiwa seorang pengrajin. Ia bekerja rapi bukan karena diawasi, bukan karena dibayar lebih, dan bukan karena hasilnya akan dinilai. Ia bekerja rapi karena itulah cara ia memandang dirinya sendiri. Ditimbang dengan logika efisiensi, tindakannya sepenuhnya irasional. Ditimbang dengan logika estetika humanisme, tindakannya justru merupakan inti persoalan.<\/p>\n<p>Di sinilah menurut saya letak garis pemisah yang paling jujur antara manusia dan sistem cerdas. Kecerdasan buatan mengoptimalkan fungsi tujuan yang diberikan kepadanya; ia sangat hebat dalam mencapai sasaran, tetapi ia tidak pernah memilih sasarannya sendiri. Manusia bisa merawat sesuatu yang tidak masuk ke dalam fungsi tujuan mana pun \u2014 merapikan yang tak terlihat, menjaga janji yang tak dituntut, menolong yang tidak menguntungkan. Kelebihan manusia bukan terletak pada kecepatan atau presisi, melainkan pada kemampuan memberi nilai pada hal-hal yang tidak menghasilkan apa-apa.<\/p>\n<p>Kecerdasan emosional, sebagaimana dirumuskan Daniel Goleman, bekerja di wilayah yang sama: kesadaran diri, pengendalian dorongan, empati, dan keterampilan sosial adalah kemampuan yang muncul dari pengalaman memiliki tubuh, memiliki keterbatasan, dan memiliki hubungan yang bisa rusak. Itu bukan modul yang bisa dipasang; itu adalah hasil dari hidup.<\/p>\n<p><strong>Pertanyaan yang Lebih Tepat<\/strong><br \/>\nKarena itu, saya kira pertanyaan yang selama ini kita ajukan memang keliru sejak awal. \u201cApakah pekerjaan saya akan digantikan AI?\u201d adalah pertanyaan yang menempatkan kita sebagai objek \u2014 sebagai sesuatu yang sedang dinilai layak atau tidak layak oleh sebuah proses di luar kendali kita. Pertanyaan itu hanya melahirkan kecemasan, dan kecemasan tidak pernah melahirkan keputusan yang baik.<\/p>\n<p>Pertanyaan yang lebih tepat adalah: manusia seperti apa yang saya pilih untuk menjadi, pada zaman ketika mesin dapat mengerjakan hampir segalanya? Pertanyaan ini menempatkan kita kembali sebagai subjek. Ia tidak menjanjikan keamanan kerja, tetapi ia memberi sesuatu yang lebih penting \u2014 arah. Dan arah adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dioptimalkan oleh algoritma untuk kita, karena arah mensyaratkan nilai, dan nilai mensyaratkan seseorang yang bersedia menanggungnya.<\/p>\n<p>Saya adalah satu dari ratusan ribu orang Indonesia yang saat ini bekerja di Jepang, banyak di antaranya di sektor-sektor yang oleh dunia sering dianggap \u201cpekerjaan sisa\u201d. Kami mengangkat, memasang, merawat, dan membangun. Sebagian dari kami, seperti saya, sekaligus belajar hal-hal yang katanya akan segera diambil alih mesin. Kami berdiri persis di persimpangan antara Industry 4.0 dan Society 5.0 \u2014 antara dunia yang mengukur kami dengan output dan dunia yang menjanjikan bahwa manusia tetap berada di pusat.<\/p>\n<p>Society 5.0 bukanlah janji yang akan datang dengan sendirinya bersama teknologi yang lebih canggih. Ia adalah tugas. Teknologi tidak pernah otomatis berpusat pada manusia; ia berpusat pada apa pun yang kita letakkan di sana. Selama kita masih meletakkan efisiensi di tengah dan manusia di pinggir, sebanyak apa pun robot yang kita bangun, kita masih tinggal di Industry 4.0 dengan nama yang lebih indah.<\/p>\n<p>Beton akan mengeras, bangunan akan berdiri, dan suatu hari nanti ia akan dirobohkan. Yang tersisa dari sebuah pekerjaan sesungguhnya bukan hasilnya, melainkan menjadi siapa kita selama mengerjakannya. Itulah yang tidak bisa diotomasi \u2014 dan itulah yang sejak awal ingin diingatkan oleh Estetika Humanisme kepada kita semua.<\/p>\n<p><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><br \/>\nCabinet Office of Japan. (2016). The 5th Science and Technology Basic Plan: Society 5.0. Tokyo: Government of Japan. Diakses dari https:\/\/www8.cao.go.jp\/cstp\/english\/society5_0\/index.html<\/p>\n<p>Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. New York: Bantam Books.<\/p>\n<p>Keidanren (Japan Business Federation). (2018). Society 5.0: Co-creating the Future. Tokyo: Keidanren.<\/p>\n<p>Maslow, A. H. (1968). Toward a Psychology of Being (2nd ed.). New York: Van Nostrand Reinhold.<\/p>\n<p>Rogers, C. R. (1961). On Becoming a Person: A Therapist\u2019s View of Psychotherapy. Boston: Houghton Mifflin.<\/p>\n<p>Rosanah. (2026). Materi Perkuliahan Estetika Humanisme: Human Literacy. Jakarta: Universitas Siber Asia.<\/p>\n<p>World Economic Forum. (2025). The Future of Jobs Report 2025. Geneva: World Economic Forum.<\/p>\n<p>Dealls. (2025, 30 Desember). Gaji Kerja di Jepang 2026: UMR, Gaji Pabrik, dan Biaya Hidup TKI. Diakses pada 3 Agustus 2026 dari https:\/\/dealls.com\/pengembangan-karir\/gaji-kerja-di-jepang<\/p>\n<p>Berita Manado. (2026, 28 Mei). 10 Pekerjaan yang Mulai Tergerus AI Tahun 2026 \u2014 Ada yang Sudah Terjadi di Indonesia. Diakses pada 3 Agustus 2026 dari https:\/\/beritamanado.com\/pekerjaan-tergerus-ai-2026-indonesia\/<\/p>\n<p>Masoem University. (2026, 20 April). Pekerjaan yang Akan Hilang Karena AI di Indonesia 2026. Diakses pada 3 Agustus 2026 dari https:\/\/masoemuniversity.ac.id\/artikel\/pekerjaan-yang-akan-hilang-karena-ai-di-indonesia-2026-apakah-pekerjaan-kamu-masuk-daftar-ini\/<\/p>\n<p>Sumber Rujukan Pakar\/Ahli. (2026). Materi Video Perkuliahan Estetika Humanisme. Diakses pada 3 Agustus 2026 dari https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=qWBE08TXkKs<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Reva Riananta \u2013 Mahasiswa Universitas Siber Asia Program Studi Informatika (PJJ S1), Kelas IF-206 Esai \u2013 Mata Kuliah Estetika Humanisme (Human Literacy) Daftar yang Membuat Kita Semua Cemas Sepanjang paruh pertama tahun 2026, linimasa media sosial dan portal berita Indonesia dipenuhi satu jenis konten yang nyaris seragam bentuknya: daftar pekerjaan yang \u201cakan punah\u201d karena [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":27595,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-27594","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27594","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27594"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27594\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27595"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27594"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27594"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27594"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}