{"id":27560,"date":"2026-08-03T17:36:57","date_gmt":"2026-08-03T09:36:57","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27560"},"modified":"2026-08-03T17:36:57","modified_gmt":"2026-08-03T09:36:57","slug":"bukan-angkot-yang-lambat-cara-pandang-kitalah-yang-tertinggal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/bukan-angkot-yang-lambat-cara-pandang-kitalah-yang-tertinggal\/27560\/","title":{"rendered":"Bukan Angkot yang Lambat, Cara Pandang Kitalah yang Tertinggal"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_27561\" aria-describedby=\"caption-attachment-27561\" style=\"width: 529px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-27561\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar1-1.jpg\" alt=\"\" width=\"529\" height=\"298\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar1-1.jpg 529w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Gambar1-1-300x169.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 529px) 100vw, 529px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-27561\" class=\"wp-caption-text\">sumber : detik.com<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>Oleh : Ramadhenta Surya Ermawan<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Kalau mendengar kata <em>angkot<\/em>, apa yang langsung terlintas di pikiran? Bagi banyak anak muda, jawabannya mungkin sama: lambat, ngetem terlalu lama, panas, dan sudah ketinggalan zaman. Tidak sedikit yang bahkan lebih memilih berjalan kaki atau memesan ojek online daripada naik angkot. Padahal, pertanyaannya sederhana, kapan terakhir kali kita benar-benar naik angkot?<\/p>\n<p>Saya termasuk orang yang pernah memiliki anggapan seperti itu. Angkot identik dengan perjalanan yang lama dan membosankan. Namun setelah kembali menggunakan angkot beberapa kali, saya justru menemukan pengalaman yang berbeda. Di beberapa rute, angkot tidak seburuk yang selama ini dibayangkan. Bahkan, dalam kondisi tertentu, perjalanan terasa cukup cepat. Sopir sudah hafal jalan, tahu kapan harus mencari jalur yang lebih lancar, dan berusaha mengantar penumpang seefisien mungkin karena penghasilan mereka juga bergantung pada banyaknya penumpang yang diangkut.<\/p>\n<p>Memang, masih ada angkot yang berhenti cukup lama untuk menunggu penumpang. Itu tidak bisa dipungkiri. Namun menyimpulkan bahwa semua angkot lambat rasanya juga kurang adil. Stigma yang sudah lama melekat membuat banyak orang berhenti mencoba, padahal kondisi di lapangan tidak selalu sama dengan cerita yang kita dengar bertahun-tahun lalu. Masalahnya, generasi muda hari ini lebih sering mengenal angkot dari cerita orang lain daripada dari pengalaman mereka sendiri. Kita hidup di era ketika transportasi berbasis aplikasi menawarkan kemudahan, kenyamanan, dan kepastian tarif.<\/p>\n<p>Tidak ada yang salah dengan itu. Namun tanpa sadar, kita mulai menganggap bahwa angkot adalah pilihan terakhir, bahkan sebelum mencobanya. Padahal, angkot masih menjadi moda transportasi yang penting bagi banyak orang. Pelajar, lansia, pedagang kecil, hingga masyarakat yang tidak memiliki kendaraan pribadi masih mengandalkannya untuk beraktivitas setiap hari. Di balik kesederhanaannya, angkot tetap menjalankan fungsi sosial yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh transportasi lain.<\/p>\n<p>Sayangnya, citra angkot seolah berhenti di masa lalu. Ketika orang mendengar kata angkot, yang teringat adalah kendaraan tua, ngetem di pinggir jalan, dan perjalanan yang melelahkan. Jarang ada yang melihat bahwa sebagian angkot mulai berbenah, baik dari sisi pelayanan maupun operasional. Memang belum sempurna, tetapi bukan berarti tidak ada perubahan sama sekali. Di sisi lain, pemerintah daerah dan pengelola transportasi juga memiliki pekerjaan rumah yang besar. Tidak cukup hanya berharap masyarakat kembali menggunakan angkot. Perlu ada perbaikan layanan, kepastian jadwal, kondisi kendaraan yang nyaman, serta integrasi dengan moda transportasi lain.<\/p>\n<p>Kepercayaan masyarakat tidak akan kembali hanya dengan slogan, tetapi melalui pelayanan yang benar-benar dirasakan. Sebagai generasi muda, kita juga perlu lebih terbuka dalam melihat persoalan ini. Tidak semua hal yang dianggap kuno berarti sudah tidak layak digunakan. Terkadang, yang perlu diperbarui bukan hanya armada angkotnya, tetapi juga cara kita memandangnya. Terlalu cepat memberi label tanpa melihat kenyataan hanya akan membuat kita kehilangan kesempatan untuk menilai sesuatu secara lebih objektif.<\/p>\n<p>Bukan berarti angkot sudah sempurna atau tidak memiliki kekurangan. Kritik tetap diperlukan agar pelayanan terus membaik. Namun kritik yang baik seharusnya lahir dari pengalaman dan fakta, bukan semata-mata dari stigma yang diwariskan dari masa lalu. Mungkin sudah saatnya kita berhenti berkata, &#8220;angkot itu pasti lambat,&#8221; lalu mulai bertanya, &#8220;apakah saya benar-benar tahu kondisinya sekarang?&#8221; Sebab bisa jadi, yang selama ini tertinggal bukanlah angkotnya, melainkan cara pandang kita terhadap transportasi publik.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Ramadhenta Surya Ermawan JurnalPost.com &#8211; Kalau mendengar kata angkot, apa yang langsung terlintas di pikiran? Bagi banyak anak muda, jawabannya mungkin sama: lambat, ngetem terlalu lama, panas, dan sudah ketinggalan zaman. Tidak sedikit yang bahkan lebih memilih berjalan kaki atau memesan ojek online daripada naik angkot. Padahal, pertanyaannya sederhana, kapan terakhir kali kita [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":27561,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[24],"tags":[],"class_list":["post-27560","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kolom-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27560","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27560"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27560\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27561"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27560"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27560"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27560"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}