{"id":27525,"date":"2026-07-28T12:44:27","date_gmt":"2026-07-28T04:44:27","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27525"},"modified":"2026-07-28T12:44:27","modified_gmt":"2026-07-28T04:44:27","slug":"revitalisasi-budaya-lokal-melalui-tren-viral","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/revitalisasi-budaya-lokal-melalui-tren-viral\/27525\/","title":{"rendered":"Revitalisasi Budaya Lokal Melalui Tren Viral"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-27526\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Budaya-Lokal-.jpg\" alt=\"Budaya Lokal \" width=\"781\" height=\"521\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Budaya-Lokal-.jpg 781w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Budaya-Lokal--300x200.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Budaya-Lokal--768x512.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Budaya-Lokal--750x500.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 781px) 100vw, 781px\" \/><\/p>\n<p>OLEH :<br \/>\n<strong>AHMAD REVY FACHREZA<\/strong><br \/>\n2025620008, FAKULTAS PASCASARJANA PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS SAHID JAKARTA 2026<\/p>\n<p>DOSEN PEMBIMBING<br \/>\n<strong>Dr. Morissan, P .hD.<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah cara masyarakat memperoleh, menyebarkan, dan mengonsumsi informasi. Kehadiran media sosial seperti TikTok, Instagram, YouTube, dan Facebook telah menciptakan budaya digital yang ditandai dengan munculnya berbagai tren viral. Konten yang viral mampu menjangkau jutaan pengguna dalam waktu singkat sehingga memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan opini, perilaku, dan gaya hidup masyarakat, khususnya generasi muda (Castells, 2010; Kaplan &amp; Haenlein, 2010; Jenkins et al., 2018).<\/p>\n<p>Di sisi lain, arus globalisasi dan modernisasi membawa tantangan bagi keberlangsungan budaya lokal. Berbagai tradisi, bahasa daerah, kesenian, permainan tradisional, serta nilai-nilai budaya mulai mengalami penurunan minat karena dianggap kurang relevan dengan perkembangan zaman. Generasi muda cenderung lebih tertarik pada budaya populer global yang lebih mudah diakses melalui media digital. Kondisi ini berpotensi mengurangi rasa memiliki terhadap warisan budaya bangsa apabila tidak diimbangi dengan upaya pelestarian yang inovatif (Koentjaraningrat, 2009; Barker, 2012; UNESCO, 2003).<\/p>\n<p>Fenomena tren viral sebenarnya dapat menjadi peluang untuk menghidupkan kembali budaya lokal. Berbagai konten kreatif yang menampilkan tarian tradisional, musik daerah, kuliner khas, pakaian adat, hingga cerita rakyat terbukti mampu menarik perhatian masyarakat luas. Dengan penyajian yang menarik, budaya lokal tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang kuno, melainkan sebagai identitas yang dapat dibanggakan dan dinikmati oleh berbagai kalangan. Media sosial menjadi sarana yang efektif untuk memperkenalkan budaya kepada audiens yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional (Jenkins et al., 2018; UNESCO, 2003; Nasrullah, 2017).<\/p>\n<p>Namun demikian, pemanfaatan tren viral juga memiliki tantangan. Demi mengejar popularitas, sebagian konten budaya terkadang mengalami penyederhanaan, perubahan makna, atau bahkan eksploitasi yang dapat mengurangi nilai autentiknya. Oleh karena itu, diperlukan strategi komunikasi yang tepat agar proses revitalisasi budaya tidak hanya meningkatka popularitas, tetapi juga tetap menjaga nilai, makna, dan keaslian budaya tersebut.<\/p>\n<p>Berdasarkan kondisi tersebut, revitalisasi budaya lokal melalui tren viral menjadi topik yang penting untuk dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana media digital dapat dimanfaatkan sebagai sarana pelestarian budaya, meningkatkan partisipasi generasi muda, serta memperkuat identitas budaya Indonesia di tengah derasnya arus globalisasi. Hasil kajian diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pemerintah, pelaku budaya, komunitas kreatif, dan masyarakat dalam mengembangkan strategi pelestarian budaya yang adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.<\/p>\n<p><strong>Sound atau lagu yang viral di Tiktok<\/strong><\/p>\n<p>Berikut beberapa lagu berbahasa Jawa yang sedang viral di TikTok dan sering digunakan sebagai sound untuk berbagai jenis konten pada 2026. Lagu-lagu ini menunjukkan bahwa musik berbahasa daerah mampu menjangkau audiens yang luas melalui media sosial dan menjadi salah satu bentuk revitalisasi budaya lokal.<\/p>\n<table width=\"638\">\n<tbody>\n<tr>\n<td width=\"319\"><strong>LAGU<\/strong><\/td>\n<td width=\"319\"><strong>PENJELASAN<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"319\">Kisinan 2<\/td>\n<td width=\"319\">Lagu ini melanjutkan kesuksesan seri &#8220;Kisinan&#8221;. Isinya menceritakan rasa cemburu dan sakit hati sehingga banyak digunakan pada konten bertema percintaan dan kehidupan sehari-hari.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"319\">Lintas Asmoro<\/td>\n<td width=\"319\">Lagu bertema harapan dan kerinduan terhadap pasangan. Melodi yang lembut membuatnya sering dipakai sebagai backsound video romantis maupun pemandangan alam.<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td width=\"319\">Lamunan<\/td>\n<td width=\"319\">Lagu bertema kerinduan dan angan-angan terhadap seseorang. Sound ini banyak digunakan untuk video kenangan, perjalanan, dan cerita hubungan yang telah berakhir sehingga mudah menarik emosi penonton.<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p><strong>Hubungannya dengan revitalisasi budaya lokal<\/strong><\/p>\n<p>Viralnya lagu-lagu berbahasa Jawa menunjukkan bahwa media sosial mampu menjadi sarana pelestarian budaya. Meskipun dikemas dalam format modern, penggunaan bahasa Jawa dalam lirik tetap memperkenalkan kosakata, ungkapan, dan nilai budaya kepada masyarakat luas, termasuk generasi muda yang sebelumnya kurang akrab dengan lagu daerah. Selain meningkatkan popularitas para musisi lokal, tren ini juga mendorong masyarakat untuk lebih menghargai bahasa dan budaya Jawa sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia. Dengan demikian, TikTok tidak hanya menjadi media hiburan, tetapi juga berperan sebagai media promosi dan revitalisasi budaya lokal melalui musik daerah.<\/p>\n<p>Berikut adalah dampak revitalisasi budaya lokal melalui tren viral, khususnya melalui penggunaan lagu berbahasa Jawa yang viral di TikTok.<\/p>\n<p><strong>Dampak Positif<\/strong><\/p>\n<p><strong>1. Meningkatkan minat generasi muda terhadap budaya lokal<\/strong><\/p>\n<p>Lagu-lagu berbahasa Jawa yang viral membuat generasi muda lebih tertarik mendengarkan, mempelajari, dan menggunakan bahasa Jawa dalam kehidupan seharihari. Budaya yang sebelumnya dianggap kuno menjadi lebih relevan karena dikemas secara modern.<\/p>\n<p><strong>2. Melestarikan bahasa daerah<\/strong><\/p>\n<p>Penggunaan bahasa Jawa dalam lirik lagu membantu menjaga eksistensi bahasa daerah di tengah dominasi bahasa Indonesia dan bahasa asing. Semakin sering lagu tersebut digunakan, semakin banyak orang yang mengenal kosakata dan ungkapan dalam bahasa Jawa.<\/p>\n<p><strong>3. Mempromosikan budaya Indonesia ke tingkat global<\/strong><\/p>\n<p>TikTok memiliki pengguna dari berbagai negara. Ketika lagu Jawa menjadi viral, pengguna internasional juga ikut menggunakan sound tersebut sehingga budaya Indonesia semakin dikenal di dunia.<\/p>\n<p><strong>4. Meningkatkan peluang ekonomi kreatif<\/strong><\/p>\n<p>Musisi lokal, pencipta lagu, penyanyi, hingga pelaku UMKM memperoleh manfaat dari meningkatnya popularitas lagu-lagu daerah. Pendapatan dari platform digital, konser, promosi, hingga pariwisata budaya juga berpotensi meningkat.<\/p>\n<p><strong>5. Memperkuat identitas budaya<\/strong><\/p>\n<p>Lagu daerah yang viral dapat menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya sendiri. Hal ini penting untuk menjaga identitas nasional di tengah arus globalisasi.<\/p>\n<p><strong>Dampak Negatif<\/strong><\/p>\n<p><strong>1<\/strong>. <strong>Budaya hanya dijadikan tren sesaat<\/strong><\/p>\n<p>Banyak pengguna memanfaatkan lagu daerah hanya karena sedang viral, bukan karena memahami atau menghargai makna budaya yang terkandung di dalamnya. Setelah tren berakhir, minat terhadap budaya tersebut juga dapat menurun.<\/p>\n<p><strong>2. Pergeseran makna budaya<\/strong><\/p>\n<p>Lagu atau unsur budaya terkadang digunakan sebagai bahan hiburan, parodi, atau meme tanpa memperhatikan nilai dan filosofi yang sebenarnya, sehingga makna budaya dapat berubah.<\/p>\n<p><strong>3. Komersialisasi budaya <\/strong><\/p>\n<p>Budaya lokal berpotensi lebih dipandang sebagai komoditas untuk memperoleh keuntungan ekonomi daripada sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan.<\/p>\n<p><strong>4<\/strong>. <strong>Munculnya informasi yang kurang akurat<\/strong><\/p>\n<p>Sebagian kreator konten menyampaikan informasi budaya tanpa melakukan verifikasi, sehingga dapat menimbulkan kesalahpahaman mengenai sejarah, makna, atau tradisi budaya tersebut. Makna revitalisasi budaya lokal melalui tren viral adalah proses menghidupkan kembali, melestarikan, dan memperkenalkan budaya daerah dengan memanfaatkan popularitas media sosial serta konten yang sedang viral. Tujuannya bukan hanya agar budaya dikenal oleh banyak orang, tetapi juga agar masyarakat, khususnya generasi muda, memahami, menghargai, dan terus melestarikannya.<\/p>\n<p>Dalam konteks lagu berbahasa Jawa yang viral di TikTok, maknanya meliputi:<\/p>\n<p><strong>Pelestarian bahasa daerah<\/strong><\/p>\n<p>karena penggunaan bahasa Jawa dalam lagu membuat masyarakat lebih sering mendengar dan mengenal kosakata serta ungkapan daerah.<\/p>\n<p><strong>Penguatan identitas budaya <\/strong><\/p>\n<p>karena lagu daerah menjadi simbol kebanggaan terhadap budaya lokal di tengah pengaruh budaya global.<\/p>\n<p><strong>Adaptasi budaya dengan perkembangan zaman<\/strong><\/p>\n<p>yaitu budaya tradisional dikemas menggunakan media digital agar lebih menarik tanpa menghilangkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.<\/p>\n<p><strong>KESIMPULAN<\/strong><\/p>\n<p>Revitalisasi budaya lokal melalui tren viral merupakan salah satu strategi yang efektif untuk melestarikan sekaligus memperkenalkan budaya daerah di era digital. Melalui platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube, berbagai unsur budaya seperti lagu berbahasa Jawa, tarian tradisional, kuliner, bahasa daerah, dan tradisi lokal dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas, terutama generasi muda (Nasrullah, 2017; Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, 2024). Viralnya lagu-lagu berbahasa Jawa menunjukkan bahwa media digital mampu menjadi sarana pelestarian budaya dengan cara yang lebih kreatif, menarik, dan sesuai dengan perkembangan zaman (Aini, 2025; We Are Social &amp; Meltwater, 2025). Meskipun demikian, pemanfaatan tren viral juga harus dilakukan secara bijaksana. Budaya tidak boleh hanya dijadikan hiburan atau tren sesaat, tetapi tetap harus mempertahankan nilai, makna, dan keasliannya (UNESCO, 2003). Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, pelaku budaya, kreator konten, institusi pendidikan, dan masyarakat agar proses revitalisasi budaya tidak hanya meningkatkan popularitas, tetapi juga memperkuat identitas budaya serta mendorong pelestarian budaya Indonesia secara berkelanjutan di tengah arus globalisasi (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, 2023; Koentjaraningrat, 2015).<\/p>\n<p><strong>DAFTAR PUSTAKA <\/strong><\/p>\n<p>Aini, N. (2025). 10 Lagu Jawa Viral yang Sering Muncul di FYP TikTok Lengkap dengan Lirik.<\/p>\n<p>Detik.com. https:\/\/www.detik.com\/pop\/music\/d-8297408\/10-lagu-jawa-viral-sering-muncul-difyp-tiktok-lengkap-dengan-lirik<\/p>\n<p>Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. (2023). Strategi<\/p>\n<p>Pemajuan Kebudayaan Indonesia. https:\/\/kemdikbud.go.id<\/p>\n<p>Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia. (2024). Transformasi Digital untuk Pelestarian Budaya Indonesia. https:\/\/komdigi.go.id<\/p>\n<p>Koentjaraningrat. (2015). Pengantar Ilmu Antropologi (Edisi Revisi). Rineka Cipta.<\/p>\n<p>Nasrullah, R. (2017). Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi. Simbiosa Rekatama Media.<\/p>\n<p>Sugiyono. (2022). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&amp;D (Edisi ke-2). Alfabeta<\/p>\n<p>UNESCO. (2003). Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage. https:\/\/ich.unesco.orG<\/p>\n<p>We Are Social, &amp; Meltwater. Digital 2025: Indonesia. https:\/\/datareportal.com\/reports\/digital-2025-indonesia<\/p>\n<p>Aini, N. (2025). 10 Lagu Jawa Viral yang Sering Muncul di FYP TikTok Lengkap dengan Lirik. Detik.com.<\/p>\n<p>Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia. (2024). Transformasi Digital untuk Pelestarian Budaya Indonesia.<\/p>\n<p>Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. (2023). Strategi Pemajuan Kebudayaan Indonesia.<\/p>\n<p>Koentjaraningrat. (2015). Pengantar Ilmu Antropologi (Edisi Revisi). Rineka Cipta.<\/p>\n<p>Nasrullah, R. (2017). Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi. Simbiosa Rekatama Media.<\/p>\n<p>UNESCO. (2003). Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage.<\/p>\n<p>We Are Social, &amp; Meltwater. (2025). Digital 2025: Indonesia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>OLEH : AHMAD REVY FACHREZA 2025620008, FAKULTAS PASCASARJANA PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS SAHID JAKARTA 2026 DOSEN PEMBIMBING Dr. Morissan, P .hD. JurnalPost.com &#8211; Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah cara masyarakat memperoleh, menyebarkan, dan mengonsumsi informasi. Kehadiran media sosial seperti TikTok, Instagram, YouTube, dan Facebook telah menciptakan budaya digital yang ditandai dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":27526,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-27525","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27525","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27525"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27525\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27526"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27525"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27525"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27525"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}