{"id":27481,"date":"2026-07-23T13:48:03","date_gmt":"2026-07-23T05:48:03","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27481"},"modified":"2026-07-23T13:48:03","modified_gmt":"2026-07-23T05:48:03","slug":"dari-ruang-kelas-menuju-gelar-karya-praktik-baik-pembelajaran-mendalam-melalui-proyek-stem-pada-pembelajaran-fisika-di-sman-2-balikpapan-kal-tim","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/dari-ruang-kelas-menuju-gelar-karya-praktik-baik-pembelajaran-mendalam-melalui-proyek-stem-pada-pembelajaran-fisika-di-sman-2-balikpapan-kal-tim\/27481\/","title":{"rendered":"DARI RUANG KELAS MENUJU GELAR KARYA:  Praktik Baik Pembelajaran Mendalam Melalui Proyek STEM Pada Pembelajaran Fisika Di SMAN 2 Balikpapan Kal-Tim"},"content":{"rendered":"<p>SRI WAHYUNINGSIH<br \/>\nSMAN 2 BALIKPAPAN KAL-TIM<\/p>\n<p><strong>Pendahuluan<\/strong><\/p>\n<p>Riuh tepuk tangan memenuhi Aula Bangkirai SMAN 2 Balikpapan. Di hadapan guru, tim penilai, dan warga sekolah, murid kelas X bergantian mempresentasikan karya inovasi yang telah mereka kembangkan selama proses pembelajaran. Di setiap sudut ruangan terpajang berbagai hasil proyek inovasi hasil pembelajaran Fisika murid. Pemandangan tersebut merupakan puncak dari\u00a0<strong>Gelar Karya Projek IPA Energi Terbarukan (TERANG)<\/strong>\u00a0yang melibatkan\u00a0324 murid kelas X\u00a0dari\u00a09 kelas paralel. Setiap kelas yang terdiri atas\u00a036 murid dibagi menjadi\u00a06 kelompok, sehingga lahirlah\u00a054 proyek inovatif\u00a0sebagai hasil pembelajaran berbasis proyek dengan pendekatan\u00a0<em>Science, Technology, Engineering, and Mathematics<\/em> (STEM). Momen tersebut bukan sekadar ajang pameran karya, tetapi menjadi bukti bahwa ketika murid diberi ruang untuk berpikir, bereksperimen, berkolaborasi, dan mencipta, mereka mampu mengubah konsep-konsep fisika yang selama ini dianggap abstrak menjadi solusi nyata bagi permasalahan di lingkungan sekitarnya.<\/p>\n<p>Perjalanan menuju gelar karya tersebut tidak instan. Berawal dari refleksi terhadap proses pembelajaran, saya menemukan bahwa sebagian murid masih memandang fisika sebagai mata pelajaran yang identik dengan rumus dan perhitungan. Mereka mampu mengerjakan soal-soal latihan, tetapi belum sepenuhnya memahami bagaimana konsep yang dipelajari dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena di sekitar atau menyelesaikan persoalan nyata. Kondisi tersebut mendorong saya melakukan perubahan pendekatan pembelajaran. Saya mulai menggeser pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada murid. Pendekatan\u00a0<em>Project Based Learning<\/em> (PjBL)\u00a0dipadukan dengan pendekatan\u00a0STEM, prinsip\u00a0Pembelajaran Mendalam (<em>Deep Learning<\/em>), serta pemanfaatan teknologi digital seperti\u00a0<em>Microsoft Teams,\u00a0Microsoft OneNote,\u00a0Liveworksheet<\/em>, dan kecerdasan artifisial (AI) sebagai pendukung proses belajar. Murid tidak lagi sekadar mempelajari konsep energi terbarukan melalui buku atau penjelasan guru, tetapi diajak mengidentifikasi masalah, merancang solusi, membuat produk, menguji hasil, hingga mempresentasikan inovasi yang mereka kembangkan.<\/p>\n<p>Artikel ini bertujuan berbagi praktik baik yang saya terapkan di SMAN 2 Balikpapan dalam mengembangkan pembelajaran mendalam melalui proyek STEM pada materi Energi Terbarukan. Harapannya, pengalaman ini dapat menjadi inspirasi bagi guru lain untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual, menumbuhkan kreativitas, serta mempersiapkan murid menjadi generasi yang mampu berpikir kritis, berkolaborasi, dan berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai tantangan di masa depan.<\/p>\n<p><strong>B. Pembahasan<\/strong><br \/>\n1. <strong>Berawal dari Refleksi, Berubah Menjadi Aksi<\/strong><br \/>\nPerubahan pembelajaran yang saya lakukan berawal dari refleksi terhadap proses belajar mengajar di kelas. Selama mengajar Fisika di SMAN 2 Balikpapan, saya sering menemukan bahwa sebagian murid mampu menyelesaikan soal-soal perhitungan, tetapi mengalami kesulitan ketika menjelaskan hubungan antara konsep fisika dengan fenomena yang mereka jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Ketika saya mengamati proses diskusi di kelas murid cenderung menunggu penjelasan guru, kurang berani mengemukakan pendapat, dan belum terbiasa mengembangkan ide secara mandiri. Pembelajaran yang didominasi ceramah dan latihan soal memang membantu memahami konsep dasar, tetapi belum memberikan ruang bagi murid untuk berpikir kritis, berkolaborasi, maupun berkreasi.<\/p>\n<p>Di sisi lain, implementasi Kurikulum Merdeka melalui pendekatan Pembelajaran Mendalam (<em>Deep Learning<\/em>) mendorong guru untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna. Pembelajaran tidak lagi berorientasi pada banyaknya materi yang disampaikan, tetapi bagaimana murid membangun sendiri pengetahuannya melalui proses mengalami, mengeksplorasi, merefleksi, dan menghasilkan karya. Refleksi inilah yang menjadi titik awal perubahan pembelajaran di kelas saya yaitu mengintegrasikan\u00a0<em>Project Based Learning<\/em> (PjBL)\u00a0dengan pendekatan\u00a0<em>Science, Technology, Engineering, and Mathematics<\/em> (STEM)\u00a0pada materi Energi Terbarukan.<\/p>\n<p>2. <strong>Merancang Pembelajaran yang Bermakna<\/strong><br \/>\nPraktik pembelajaran ini diterapkan kepada seluruh murid kelas X SMAN 2 Balikpapan yang terdiri atas\u00a09 kelas paralel\u00a0dengan jumlah\u00a0324 murid. Setiap kelas berjumlah\u00a036 murid\u00a0yang dibagi menjadi\u00a06 kelompok, sehingga terbentuk\u00a054 kelompok proyek. Pengelompokan dilakukan secara heterogen agar murid dapat saling melengkapi kemampuan, bertukar ide, serta belajar bekerja sama dalam menyelesaikan permasalahan.<\/p>\n<p>Pembelajaran diawali dengan kegiatan orientasi melalui tayangan video, berita, dan diskusi mengenai krisis energi, perubahan iklim, serta pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia. Murid kemudian diminta mengidentifikasi berbagai permasalahan yang ada di lingkungan sekitar, seperti tingginya konsumsi listrik, limbah rumah tangga, pencemaran lingkungan, keterbatasan akses energi, hingga kebutuhan teknologi sederhana yang dapat membantu kehidupan masyarakat. Setiap kelompok menyusun proposal proyek mulai latar belakang masalah, tujuan, konsep fisika yang digunakan, rancangan alat, kebutuhan bahan, jadwal pelaksanaan, hingga indikator keberhasilan produk yang akan dikembangkan. Pada tahap ini saya berperan sebagai fasilitator yang memberikan pertanyaan pemantik, mengarahkan murid agar tetap berpijak pada konsep ilmiah, serta membantu mereka mengevaluasi kelayakan rancangan yang dibuat.<\/p>\n<p>Selanjutnya murid mulai membuat produk secara bertahap. Mereka melakukan pengukuran, merancang rangkaian, melakukan uji coba, menemukan berbagai kendala, memperbaiki desain, hingga menghasilkan produk yang siap dipresentasikan. Proses tersebut berlangsung selama beberapa minggu sehingga murid benar-benar mengalami proses berpikir ilmiah mulai dari menemukan masalah hingga menghasilkan solusi.<\/p>\n<p>3. <strong>Teknologi Sebagai Pendukung Pembelajaran Mendalam<\/strong><\/p>\n<p>Pemanfaatan teknologi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran. <em>Microsoft Teams<\/em> digunakan sebagai ruang kelas digital untuk membagikan materi, mengatur jadwal, memberikan umpan balik, serta memfasilitasi komunikasi antara guru dan murid.<\/p>\n<p><em>Microsoft OneNote<\/em> dimanfaatkan sebagai portofolio digital yang mendokumentasikan seluruh perjalanan proyek, mulai dari identifikasi masalah, kajian pustaka, rancangan produk, dokumentasi pembuatan, hasil pengujian, hingga refleksi setelah proyek selesai dilaksanakan. Guru tidak hanya menilai hasil akhir, tetapi juga dapat memantau perkembangan proses belajar setiap kelompok.<\/p>\n<p><em>Liveworksheet<\/em> digunakan sebagai asesmen formatif untuk mengetahui pemahaman konsep murid sebelum dan sesudah pelaksanaan proyek. Selain itu, murid juga diarahkan memanfaatkan kecerdasan artifisial (<em>Artificial Intelligence\/AI<\/em>) secara bijaksana sebagai alat bantu mencari referensi ilmiah, menyusun alternatif desain, maupun memperbaiki kualitas presentasi.<\/p>\n<p>4. <strong>Melahirkan 54 Proyek Inovatif<\/strong><\/p>\n<p>Pendekatan STEM memberikan ruang yang luas bagi murid untuk mengembangkan kreativitasnya. Dari\u00a054 kelompok, lahir\u00a054 proyek inovatif\u00a0dengan tema yang beragam sesuai hasil identifikasi masalah yang mereka lakukan. Beberapa kelompok mengembangkan inovasi di bidang\u00a0energi terbarukan, seperti\u00a0<em>Wireless Charging Station with Solar Panel<\/em>,\u00a0<em>Eco-Port Wireless Charger Tenaga Surya<\/em>,\u00a0<em>Solar Powered Smart Cleaning Car<\/em>, dan\u00a0<em>Solar Tracker<\/em>. Kelompok lain mengembangkan teknologi berbasis\u00a0<em>Internet of Things<\/em> (IoT), seperti\u00a0<em>Automatic Monitoring pH System for Fish Farm<\/em>,\u00a0<em>Smart Water Filtration System<\/em>,\u00a0<em>Automatic Electric Remote Fence<\/em>, serta\u00a0Penyiram Tanaman Otomatis Berbasis Sensor Kelembapan Tanah. Kreativitas murid juga tampak pada proyek pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai guna, seperti\u00a0Bio Briket Tandan Kosong Kelapa Sawit,\u00a0Pengolahan Limbah <em>Styrofoam <\/em>menjadi <em>Paving Block<\/em>,\u00a0Baterai dari Serbuk Kelapa,\u00a0Sabun Cuci Tangan dari Kulit Jeruk,\u00a0Serum Anti Jerawat dari Kulit Bawang Merah, hingga\u00a0Bioetanol dari Limbah Kulit Pisang. Selain itu, terdapat pula proyek-proyek yang berorientasi pada mitigasi bencana dan keselamatan, seperti\u00a0Alarm Kebakaran Berbasis Sensor,\u00a0Pendeteksi Kebocoran Gas, dan\u00a0Alarm Banjir Berbasis Sensor Ketinggian Air.<\/p>\n<figure id=\"attachment_27483\" aria-describedby=\"caption-attachment-27483\" style=\"width: 1145px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-27483\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar1-26.jpg\" alt=\"\" width=\"1145\" height=\"627\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar1-26.jpg 1145w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar1-26-300x164.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar1-26-1024x561.jpg 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar1-26-768x421.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar1-26-750x411.jpg 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar1-26-1140x624.jpg 1140w\" sizes=\"(max-width: 1145px) 100vw, 1145px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-27483\" class=\"wp-caption-text\">Beberapa produk inovasi hasil karya murid<\/figcaption><\/figure>\n<p>5. <strong>Gelar Karya TERANG sebagai Puncak Pembelajaran<\/strong><\/p>\n<p>Seluruh proses pembelajaran mencapai puncaknya melalui\u00a0<strong>Gelar Karya Projek IPA Energi Terbarukan (TERANG) <\/strong>yang diselenggarakan di Aula Bangkirai SMAN 2 Balikpapan. Kegiatan ini bukan sekadar pameran hasil karya, tetapi menjadi ruang belajar yang mempertemukan proses berpikir ilmiah, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi dalam satu rangkaian kegiatan.<\/p>\n<figure id=\"attachment_27482\" aria-describedby=\"caption-attachment-27482\" style=\"width: 1143px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-27482\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar2-13.jpg\" alt=\"\" width=\"1143\" height=\"640\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar2-13.jpg 1143w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar2-13-300x168.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar2-13-1024x573.jpg 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar2-13-768x430.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar2-13-750x420.jpg 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar2-13-1140x638.jpg 1140w\" sizes=\"(max-width: 1143px) 100vw, 1143px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-27482\" class=\"wp-caption-text\">&gt;Pembukaan Gelar Karya Projek IPA Energi Terbarukan (TERANG)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Seluruh\u00a0kelompok\u00a0memamerkan hasil inovasinya pada stand yang telah disiapkan. Setiap kelompok bertugas menjelaskan latar belakang masalah, konsep fisika yang digunakan, prinsip kerja alat, proses pembuatan, hasil pengujian, hingga manfaat produk bagi masyarakat. Guru, tim penilai, serta pengunjung dapat berdiskusi secara langsung dengan murid sehingga suasana belajar tidak lagi terbatas pada ruang kelas, melainkan berkembang menjadi forum ilmiah yang interaktif.<\/p>\n<p>Melalui kegiatan ini, murid belajar mempertanggungjawabkan hasil pemikirannya secara ilmiah. Mereka belajar menerima kritik, menjawab pertanyaan berdasarkan data, serta melakukan refleksi terhadap kekurangan produk yang telah dikembangkan. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam membangun rasa percaya diri sekaligus kemampuan berkomunikasi ilmiah.<\/p>\n<p>6. <strong>Penilaian Autentik Berbasis Proyek<\/strong><\/p>\n<p>Penilaian dilakukan secara autentik dengan menekankan keseimbangan antara proses dan hasil belajar. Rubrik penilaian mencakup lima aspek utama, yaitu\u00a0penguasaan konsep energi, penerapan konsep energi dalam produk, fungsi alat, kreativitas inovasi, serta kemampuan demonstrasi dan presentasi. Pendekatan penilaian seperti ini memberikan kesempatan kepada murid untuk menunjukkan kompetensinya secara utuh. Produk yang sederhana tetap memperoleh apresiasi apabila mampu menunjukkan pemahaman konsep yang baik, proses perancangan yang sistematis, dan kemampuan menjelaskan hasil kerja secara ilmiah.<\/p>\n<p>7. <strong>Dampak Terhadap Murid<\/strong><\/p>\n<p>Perubahan pembelajaran memberikan dampak yang nyata terhadap keterlibatan murid. Diskusi menjadi lebih hidup, kolaborasi antarmurid semakin baik, dan keberanian menyampaikan pendapat meningkat. Murid tidak lagi hanya bertanya &#8220;rumus apa yang digunakan&#8221;, tetapi mulai bertanya &#8220;mengapa alat ini bekerja&#8221; dan &#8220;bagaimana agar solusi ini lebih efektif&#8221;.<\/p>\n<p>Refleksi yang ditulis murid memperlihatkan perubahan cara pandang mereka terhadap pembelajaran Fisika:<\/p>\n<p><em>a. &#8220;Awalnya saya mengira fisika hanya tentang rumus dan hitungan. Setelah membuat proyek ini, saya baru memahami bahwa fisika bisa digunakan untuk menciptakan solusi bagi masalah di sekitar kita.&#8221;<br \/>\nb. &#8220;Bagian yang paling berkesan adalah ketika alat yang kami buat akhirnya berhasil bekerja. Kami belajar bahwa kegagalan bukan akhir dari proses, tetapi bagian dari cara menemukan solusi yang lebih baik.<br \/>\nc. &#8220;Presentasi di depan juri membuat saya lebih percaya diri. Saya belajar bahwa memahami konsep jauh lebih penting daripada sekadar menghafal rumus karena saya harus mampu menjelaskan mengapa alat kami bisa bekerja.&#8221;<\/em><\/p>\n<p>Bagi saya, refleksi tersebut menjadi bukti bahwa pembelajaran tidak hanya menghasilkan produk inovatif, tetapi juga membentuk karakter, rasa percaya diri, kemampuan berpikir kritis, serta semangat belajar murid.<\/p>\n<p>8. <strong>Refleksi Guru<\/strong><\/p>\n<p>Pengalaman melaksanakan pembelajaran ini memberikan pelajaran yang sangat berharga bahwa pembelajaran yang bermakna tidak selalu ditentukan oleh kecanggihan fasilitas laboratorium, melainkan oleh keberanian guru menghadirkan pengalaman belajar yang memberi ruang kepada murid untuk berpikir, mencoba, gagal, memperbaiki, dan tumbuh. Setiap murid memiliki potensi yang berbeda. Ketika mereka diberi kesempatan untuk memilih, merancang, dan mengembangkan ide sesuai minatnya, bahkan kreativitas yang muncul melampaui ekspektasi. Peran guru bukan lagi sebagai pusat informasi, melainkan sebagai pendamping yang membantu murid menemukan makna dari setiap proses belajar yang mereka jalani.<\/p>\n<p>Momen antusiasme murid saat mempresentasikan hasil karyanya pada <strong>Gelar Karya Projek IPA Energi Terbarukan (TERANG) <\/strong>\u00a0semakin menguatkan keyakinan bahwa pembelajaran akan meninggalkan jejak dalam ketika murid diberi kesempatan untuk mengalami sendiri proses menemukan pengetahuan dan menghasilkan karya yang bermanfaat bagi orang<\/p>\n<p><strong>C.\u00a0 Penutup<\/strong><br \/>\nPengalaman menerapkan pembelajaran mendalam melalui pendekatan STEM pada materi Energi Terbarukan di SMAN 2 Balikpapan memberikan keyakinan bahwa pembelajaran bermakna lahir ketika murid diberi kesempatan untuk mengalami sendiri proses belajar. Mereka tidak hanya mempelajari konsep fisika melalui buku atau penjelasan guru, tetapi juga mengidentifikasi masalah, merancang solusi, melakukan percobaan, memperbaiki hasil, hingga mempresentasikan karya yang dikembangkan berdasarkan konsep ilmiah. Proses tersebut menjadikan pembelajaran lebih kontekstual, menantang, sekaligus relevan dengan kehidupan nyata.<\/p>\n<p>Berbagai karya inovatif yang dihasilkan tidak hanya menunjukkan pemahaman murid terhadap konsep energi terbarukan, tetapi juga mencerminkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, serta kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat. Melalui\u00a0<strong>Gelar Karya Projek IPA Energi Terbarukan (TERANG)<\/strong>, murid memperoleh pengalaman belajar yang utuh, mulai dari merancang ide hingga mempertanggungjawabkan hasil inovasinya di hadapan guru, tim penilai, dan warga sekolah.<\/p>\n<p>Bagi saya sebagai guru, praktik baik ini menjadi pengingat bahwa perubahan pembelajaran tidak selalu harus dimulai dari fasilitas yang lengkap atau teknologi yang canggih. Perubahan justru dimulai dari keberanian guru untuk memberikan kepercayaan kepada murid, menghadirkan permasalahan nyata sebagai sumber belajar, serta menciptakan ruang yang aman bagi mereka untuk bertanya, mencoba, gagal, memperbaiki, dan terus belajar. Ketika guru mampu mengubah kelas menjadi ruang eksplorasi dan kolaborasi, murid akan menemukan bahwa ilmu pengetahuan bukan sekadar materi pelajaran, melainkan bekal untuk memahami dan memperbaiki kehidupan.<\/p>\n<p>Praktik ini tentu bukan akhir dari sebuah proses. Kedepan, pembelajaran berbasis proyek akan terus dikembangkan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, pemanfaatan teknologi digital secara lebih optimal, serta penguatan budaya riset dan inovasi di sekolah. Dengan demikian, murid tidak hanya menjadi pengguna ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menjadi pencipta solusi yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Keberhasilan pembelajaran tidak diukur dari banyaknya rumus yang berhasil dihafal murid, melainkan dari sejauh mana mereka mampu menggunakan ilmu yang dipelajari untuk memahami kehidupan, menyelesaikan masalah, dan menghadirkan manfaat bagi orang lain.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SRI WAHYUNINGSIH SMAN 2 BALIKPAPAN KAL-TIM Pendahuluan Riuh tepuk tangan memenuhi Aula Bangkirai SMAN 2 Balikpapan. Di hadapan guru, tim penilai, dan warga sekolah, murid kelas X bergantian mempresentasikan karya inovasi yang telah mereka kembangkan selama proses pembelajaran. Di setiap sudut ruangan terpajang berbagai hasil proyek inovasi hasil pembelajaran Fisika murid. Pemandangan tersebut merupakan puncak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":27483,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-27481","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27481","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27481"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27481\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27483"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27481"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27481"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27481"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}