{"id":27455,"date":"2026-07-17T21:06:58","date_gmt":"2026-07-17T13:06:58","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27455"},"modified":"2026-07-17T21:06:58","modified_gmt":"2026-07-17T13:06:58","slug":"menanam-akar-sejak-dini-urgensi-pembiasaan-bimbingan-literasi-di-sekolah-dasar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/menanam-akar-sejak-dini-urgensi-pembiasaan-bimbingan-literasi-di-sekolah-dasar\/27455\/","title":{"rendered":"Menanam Akar Sejak Dini: Urgensi Pembiasaan Bimbingan Literasi di Sekolah Dasar"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Sejak-Dini.jpg\" alt=\"Sejak Dini\" width=\"451\" height=\"378\" class=\"aligncenter size-full wp-image-27456\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Sejak-Dini.jpg 451w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Sejak-Dini-300x251.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 451px) 100vw, 451px\" \/><\/p>\n<p>Oleh Kelompok 8:<\/p>\n<p>1.\tNuryanto Ari Saputro<br \/>\n2.\tSuhardi<br \/>\n3.\tAsriningdiah<br \/>\n4.\tSanti Dwi Wahyunungsih<br \/>\n5.\tShofi Zuyyinatul Azizah<br \/>\n6.\tYesica Ayu Septyaningrum<\/p>\n<p>Mahasiswa Universitas Veteran Bangun Nusantara, Sukoharjo, Indonesia<br \/>\nDosen pengampu Dr. Veronika Unun Pratiwi, M.Pd.<\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Rapor literasi generasi muda Indonesia tampaknya masih menjadi benang kusut yang sulit diurai. Berbagai survei internasional secara konsisten menempatkan kemampuan membaca masyarakat kita di peringkat bawah. Namun, jika kita ingin memotong lingkaran setan rendahnya indeks literasi ini, titik mulanya harus diletakkan pada fondasi paling dasar dari sistem pendidikan kita: Sekolah Dasar (SD). Di sinilah karakter, cara berpikir, dan kecintaan anak terhadap ilmu pengetahuan pertama kali dibentuk secara terstruktur.<\/p>\n<p>Sayangnya, program literasi di tingkat sekolah dasar kerap terjebak pada sekadar formalitas administratif. Banyak sekolah menerapkan program &#8220;15 Menit Membaca Sebelum Belajar&#8221;, namun aktivitas tersebut sering kali berakhir tanpa makna. Anak-anak sekadar membuka buku, mengeja kata tanpa memahami substansi, lalu menutupnya kembali saat bel masuk berbunyi. Kehilangan arah ini terjadi karena absennya elemen krusial: bimbingan literasi yang terbiasa, terarah, dan berkelanjutan. Literasi di tingkat dasar tidak bisa dibiarkan tumbuh organik tanpa tuntunan; ia butuh intervensi intelektual dan keteladanan yang konsisten.<\/p>\n<p><strong>Transisi Kognitif: Dari Mengeja ke Memahami<\/strong><br \/>\nTantangan terbesar literasi anak usia SD saat ini bukan lagi &#8220;buta aksara&#8221;, melainkan &#8220;buta fungsional&#8221; sebuah kondisi di mana anak mampu membaca teks secara mekanis, tetapi gagal mencerna esensi gagasan di dalamnya. Merujuk pada fase perkembangan kognitif, anak-anak usia sekolah dasar sedang mengalami transisi krusial dari belajar membaca (learning to read) menuju membaca untuk belajar (reading to learn).<\/p>\n<p>Tanpa adanya pembiasaan bimbingan, anak-anak akan kesulitan menyerap informasi dari bacaan mereka. Di sinilah peran guru dan orang tua sebagai mentor literasi menjadi vital. Bimbingan literasi yang baik di SD tidak boleh berfokus pada kuantitas seberapa tebal buku yang diselesaikan anak, melainkan pada kualitas kedalaman pemahaman. Anak-anak perlu dibimbing untuk mampu menceritakan kembali, membedakan motif para tokoh dalam cerita, hingga mengaitkan pesan moral bacaan dengan kehidupan mereka sehari-hari.<\/p>\n<p>Ketika proses bimbingan ini dibiasakan secara konsisten, kita sedang menanamkan benih kemampuan berpikir kritis (critical thinking) sejak dini. Anak-anak diajak untuk tidak menelan informasi mentah-mentahsebuah perisai mendasar yang sangat mereka butuhkan untuk menghadapi derasnya arus disinformasi di era digital.<\/p>\n<p><strong>Memanusiakan Ruang Kelas<\/strong><br \/>\nMembiasakan bimbingan literasi pada anak usia SD membutuhkan pendekatan psikologis yang tepat. Memaksa anak membaca buku teks yang padat atau memberikan tugas merangkum yang menjemukan justru akan membunuh rasa ingin tahu mereka. Literasi harus diperkenalkan sebagai sebuah petualangan yang menyenangkan, bukan sebagai beban instruksional yang menakutkan.<\/p>\n<p>Ekosistem literasi di sekolah dasar perlu didesain secara kreatif untuk memanusiakan ruang kelas. Ruang belajar harus memiliki pojok baca yang hidup, dengan kurasi buku yang kaya visual dan relevan dengan dunia anak. Lebih dari itu, proses bimbingan harus bertransformasi menjadi aktivitas interaktif seperti storytelling (mendongeng) dua arah, bermain peran berdasarkan isi buku, hingga membuat jurnal harian sederhana dalam bentuk gambar dan tulisan pendek. Melalui metode yang dialogis ini, aktivitas membaca menjelma menjadi kebutuhan dan sarana bermain yang memantik imajinasi.<br \/>\n<strong><br \/>\nInvestasi Peradaban Jangka Panjang<\/strong><br \/>\nMenanamkan budaya literasi yang kuat di sekolah dasar adalah investasi peradaban jangka panjang. Anak-anak yang sejak dini terbiasa dibimbing berpikir kritis melalui literasi, kelak akan tumbuh menjadi remaja dan dewasa yang tidak mudah terprovokasi, mampu menyampaikan argumen dengan logis, serta memiliki empati sosial yang tinggi.<\/p>\n<p>Kebijakan merdeka belajar telah memberikan arah, namun eksekusi nyata di ruang-ruang kelas sekolah dasar adalah penentunya. Sekolah, guru, dan orang tua harus bersinergi untuk menjadikan bimbingan literasi sebagai menu wajib harian yang disajikan dengan penuh kasih sayang dan kreativitas. Dengan merawat akar literasi sejak sekolah dasar, kita sedang mempersiapkan generasi emas yang tidak hanya mahir membaca kata, tetapi juga mampu membaca dunia dan mengubahnya menjadi lebih baik.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh Kelompok 8: 1. Nuryanto Ari Saputro 2. Suhardi 3. Asriningdiah 4. Santi Dwi Wahyunungsih 5. Shofi Zuyyinatul Azizah 6. Yesica Ayu Septyaningrum Mahasiswa Universitas Veteran Bangun Nusantara, Sukoharjo, Indonesia Dosen pengampu Dr. Veronika Unun Pratiwi, M.Pd. JurnalPost.com &#8211; Rapor literasi generasi muda Indonesia tampaknya masih menjadi benang kusut yang sulit diurai. Berbagai survei internasional [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":27456,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[244],"tags":[],"class_list":["post-27455","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27455","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27455"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27455\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27456"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27455"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27455"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27455"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}