{"id":27425,"date":"2026-07-15T16:16:36","date_gmt":"2026-07-15T08:16:36","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27425"},"modified":"2026-07-15T16:16:36","modified_gmt":"2026-07-15T08:16:36","slug":"penerapan-teknologi-tepat-guna-alat-sederhana-pengukur-kelembapan-tanah-berbasis-arduino-untuk-meningkatkan-efisiensi-penyiraman-tanaman-di-desa-sukowati-kabupaten-gresik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/penerapan-teknologi-tepat-guna-alat-sederhana-pengukur-kelembapan-tanah-berbasis-arduino-untuk-meningkatkan-efisiensi-penyiraman-tanaman-di-desa-sukowati-kabupaten-gresik\/27425\/","title":{"rendered":"PENERAPAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA ALAT SEDERHANA PENGUKUR KELEMBAPAN TANAH BERBASIS ARDUINO UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI PENYIRAMAN TANAMAN DI DESA SUKOWATI KABUPATEN GRESIK"},"content":{"rendered":"<p><strong>Elsa Zahrotus Sania\u00b9, Amanda Maulana\u00b2, Lukman Karmana\u00b3, Amirudin Zakaria\u2074<\/strong><br \/>\nUniversitas 17 Agustus 1945 Surabaya<br \/>\nPembimbing<br \/>\n<strong>Tan Evan Tandiyono<\/strong><\/p>\n<p><strong>Abstrak<\/strong><br \/>\nPengelolaan kelembapan tanah merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman dan efisiensi penggunaan air. Permasalahan yang masih banyak dijumpai pada sektor pertanian adalah proses penyiraman yang dilakukan berdasarkan perkiraan sehingga sering terjadi kelebihan maupun kekurangan air. Kegiatan ini bertujuan menerapkan Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa alat sederhana pengukur kelembapan tanah berbasis Arduino sebagai media bantu dalam menentukan waktu penyiraman tanaman. Metode yang digunakan meliputi observasi lapangan, perancangan alat, perakitan komponen, pemrograman Arduino, pengujian sensor, sosialisasi, pelatihan, dan evaluasi penggunaan alat kepada masyarakat Desa Sukowati, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik. Alat menggunakan sensor <em>Soil Moisture Sensor <\/em>yang terhubung dengan Arduino Nano untuk membaca tingkat kelembapan tanah dan menampilkan hasil pada LCD 16\u00d72. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa alat mampu mendeteksi kondisi tanah kering, lembap, dan basah dengan baik sehingga memudahkan masyarakat menentukan waktu penyiraman secara lebih tepat. Selain menghasilkan alat yang dapat digunakan secara langsung, kegiatan ini juga meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi sederhana pada sektor pertanian. Penerapan alat diharapkan mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air serta mendukung praktik pertanian yang lebih efektif dan berkelanjutan.<\/p>\n<p><strong><em>Kata kunci: <\/em><\/strong><em>Teknologi Tepat Guna, Arduino, Soil Moisture Sensor, Kelembapan Tanah, Penyiraman Tanaman.<\/em><\/p>\n<p><strong>PENDAHULUAN<\/strong><br \/>\nSektor pertanian merupakan salah satu sektor yang memiliki peran penting dalam pembangunan nasional karena berkontribusi terhadap ketahanan pangan, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta penyediaan lapangan pekerjaan. Keberhasilan kegiatan budidaya tanaman dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah pengelolaan air yang tepat sesuai kebutuhan tanaman. Air merupakan unsur utama dalam proses fotosintesis, penyerapan unsur hara, serta pertumbuhan akar sehingga pemberian air yang tidak sesuai dapat menurunkan produktivitas tanaman.<\/p>\n<p>Permasalahan yang masih banyak dijumpai pada sektor pertanian tradisional adalah proses penyiraman tanaman yang dilakukan berdasarkan perkiraan atau pengalaman petani tanpa mengetahui kondisi kelembapan tanah secara aktual. Penyiraman yang dilakukan secara berlebihan menyebabkan pemborosan air, pencucian unsur hara, serta meningkatkan risiko pembusukan akar tanaman. Sebaliknya, penyiraman yang terlalu sedikit dapat menghambat pertumbuhan tanaman karena akar tidak memperoleh air yang cukup. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa informasi mengenai tingkat kelembapan tanah sangat diperlukan sebagai dasar dalam menentukan waktu penyiraman yang tepat.<\/p>\n<p>Berdasarkan hasil observasi lapangan di Desa Sukowati, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, diketahui bahwa sebagian besar masyarakat masih menggunakan metode penyiraman secara manual tanpa alat bantu pengukuran kelembapan tanah. Penentuan waktu penyiraman dilakukan berdasarkan kondisi visual permukaan tanah sehingga sering terjadi kesalahan dalam pemberian air. Selain itu, belum banyak masyarakat yang memanfaatkan teknologi sederhana untuk mendukung kegiatan pertanian meskipun perkembangan teknologi mikrokontroler saat ini telah memungkinkan pembuatan perangkat monitoring dengan biaya yang relatif murah dan mudah digunakan.<\/p>\n<p>Salah satu teknologi yang dapat diterapkan adalah pemanfaatan mikrokontroler Arduino Nano yang dipadukan dengan sensor Soil Moisture Sensor sebagai alat monitoring kelembapan tanah. Arduino Nano merupakan mikrokontroler berukuran kecil yang memiliki kemampuan mengolah data sensor secara real time sehingga banyak digunakan dalam pengembangan sistem otomasi maupun Internet of Things (IoT). Sensor Soil Moisture bekerja dengan mengukur kandungan air di dalam tanah berdasarkan perubahan nilai resistansi listrik yang kemudian dikonversi menjadi data digital. Informasi tersebut dapat ditampilkan melalui LCD sehingga pengguna dapat mengetahui kondisi kelembapan tanah secara langsung.<\/p>\n<p>Penerapan teknologi ini merupakan bentuk Teknologi Tepat Guna (TTG) karena memiliki karakteristik sederhana, ekonomis, mudah dirakit, mudah dioperasikan, serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Selain menghasilkan alat yang dapat digunakan secara langsung, kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi digital sederhana pada sektor pertanian. Dengan adanya alat monitoring kelembapan tanah, diharapkan masyarakat dapat menentukan waktu penyiraman secara lebih akurat sehingga penggunaan air menjadi lebih efisien dan produktivitas tanaman dapat ditingkatkan.<\/p>\n<p>Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk menerapkan alat monitoring kelembapan tanah berbasis Arduino Nano sebagai Teknologi Tepat Guna di Desa Sukowati, Kabupaten Gresik. Selain menghasilkan perangkat yang mudah digunakan, kegiatan ini juga diharapkan mampu meningkatkan kapasitas masyarakat dalam memanfaatkan teknologi sederhana guna mendukung praktik pertanian yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan.<\/p>\n<p><strong>METODE PELAKSANAAN<\/strong><br \/>\nKegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Desa Sukowati, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik dengan sasaran utama masyarakat yang memiliki aktivitas pada sektor pertanian. Pelaksanaan kegiatan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa alat monitoring kelembapan tanah berbasis Arduino Nano sebagai media pendukung dalam menentukan waktu penyiraman tanaman secara lebih efektif dan efisien. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif, yaitu melibatkan masyarakat secara langsung pada setiap tahapan kegiatan. Pendekatan ini dipilih agar masyarakat tidak hanya menerima bantuan berupa alat, tetapi juga memperoleh pengetahuan mengenai prinsip kerja, cara penggunaan, dan perawatan alat sehingga teknologi yang diterapkan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.<\/p>\n<p>Tahapan pertama adalah observasi lapangan. Kegiatan observasi dilakukan dengan mengunjungi lahan pertanian milik masyarakat untuk mengidentifikasi kondisi eksisting terkait sistem penyiraman tanaman. Pada tahap ini dilakukan wawancara dengan petani mengenai metode penyiraman yang selama ini diterapkan, frekuensi penyiraman, kendala yang dihadapi, serta kebutuhan teknologi yang sesuai dengan kondisi lapangan.<\/p>\n<p>Hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian besar petani masih melakukan penyiraman berdasarkan pengalaman tanpa mengetahui kondisi kelembapan tanah secara aktual sehingga penggunaan air belum optimal.<\/p>\n<p>Tahapan kedua adalah perancangan alat. Perancangan dilakukan berdasarkan kebutuhan masyarakat dengan mempertimbangkan aspek kemudahan penggunaan, biaya pembuatan yang relatif murah, kemudahan perawatan, serta ketersediaan komponen di pasaran. Sistem dirancang menggunakan Arduino Nano sebagai pusat pengendali, Soil Moisture Sensor sebagai sensor pendeteksi kadar air tanah, LCD 16\u00d72 berbasis modul I2C sebagai media penampil informasi, baterai 9 Volt sebagai sumber daya, saklar ON\/OFF, kabel jumper, serta casing sebagai pelindung seluruh komponen elektronik.<\/p>\n<p>Tahapan berikutnya adalah proses perakitan perangkat. Seluruh komponen dirangkai sesuai diagram rangkaian yang telah dirancang. Sensor kelembapan tanah dihubungkan dengan pin analog Arduino Nano sehingga data pembacaan sensor dapat diproses oleh mikrokontroler. Selanjutnya Arduino mengirimkan hasil pengukuran ke LCD sehingga pengguna dapat mengetahui kondisi kelembapan tanah secara langsung.<\/p>\n<p>Setelah proses perakitan selesai, dilakukan pemrograman menggunakan perangkat lunak Arduino IDE dengan bahasa pemrograman C++. Program dirancang agar mampu membaca nilai analog dari sensor kemudian mengubahnya menjadi informasi yang mudah dipahami masyarakat berupa tiga kategori kondisi tanah, yaitu kering, lembap, dan basah. Kategori tersebut ditentukan berdasarkan rentang nilai sensor hasil proses kalibrasi yang dilakukan sebelum pengujian lapangan.<\/p>\n<p>Tahapan selanjutnya adalah pengujian alat. Pengujian dilakukan pada tiga kondisi tanah yang berbeda, yaitu tanah kering, tanah dengan kelembapan sedang, dan tanah basah. Pengujian bertujuan mengetahui tingkat respons sensor, kestabilan pembacaan data, serta memastikan bahwa informasi yang ditampilkan pada LCD sesuai dengan kondisi aktual tanah. Setiap pengujian dilakukan beberapa kali untuk memperoleh hasil yang konsisten.<\/p>\n<p>Setelah alat dinyatakan berfungsi dengan baik, dilaksanakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan kepada masyarakat Desa Sukowati. Materi pelatihan meliputi pengenalan komponen alat, prinsip kerja sensor kelembapan tanah, cara mengoperasikan alat, cara membaca hasil pengukuran, serta langkah-langkah perawatan sederhana agar alat dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama. Seluruh peserta juga diberikan kesempatan untuk mencoba alat secara langsung sehingga dapat memahami prosedur penggunaan secara mandiri.<\/p>\n<p>Tahap terakhir adalah evaluasi kegiatan. Evaluasi dilakukan melalui diskusi dengan peserta mengenai kemudahan penggunaan alat, manfaat yang dirasakan, serta potensi pengembangan teknologi pada masa mendatang. Hasil evaluasi digunakan sebagai dasar dalam menyusun rekomendasi pengembangan Teknologi Tepat Guna agar semakin sesuai dengan kebutuhan masyarakat.<\/p>\n<p><strong>HASIL DAN PEMBAHASAN<\/strong><br \/>\nPelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat menghasilkan sebuah alat monitoring kelembapan tanah berbasis Arduino Nano yang dapat digunakan sebagai media bantu dalam menentukan waktu penyiraman tanaman secara lebih tepat. Seluruh komponen alat berhasil dirakit dan berfungsi sesuai dengan perencanaan. Perangkat memiliki dimensi yang relatif kecil sehingga mudah dipindahkan dan digunakan pada berbagai jenis lahan pertanian. Arduino Nano berfungsi sebagai pusat pengendali yang menerima data analog dari Soil Moisture Sensor. Sensor bekerja dengan mendeteksi perubahan kadar air di dalam tanah melalui nilai resistansi yang kemudian diubah menjadi sinyal analog. Data tersebut diproses oleh Arduino dan ditampilkan pada LCD dalam bentuk informasi yang mudah dipahami oleh pengguna.<\/p>\n<p>Pengujian alat dilakukan pada tiga kondisi kelembapan tanah yang berbeda. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sensor mampu memberikan respon secara cepat terhadap perubahan kadar air di dalam tanah. Pada kondisi tanah kering, alat menampilkan indikator &#8220;Kering&#8221; yang menunjukkan bahwa tanaman memerlukan penyiraman. Pada kondisi tanah lembap, alat memberikan informasi bahwa kondisi tanah masih cukup baik sehingga penyiraman belum diperlukan dalam waktu dekat. Sementara itu, pada kondisi tanah basah, sistem memberikan informasi bahwa kandungan air di dalam tanah masih mencukupi sehingga penyiraman tidak perlu dilakukan.<\/p>\n<p>Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan secara berulang, pembacaan sensor menunjukkan tingkat kestabilan yang baik. Perbedaan nilai pembacaan antar pengujian relatif kecil sehingga alat dinilai mampu memberikan informasi yang konsisten. Hal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan Arduino Nano dan Soil Moisture Sensor cukup efektif diterapkan sebagai Teknologi Tepat Guna pada sektor pertanian skala rumah tangga maupun lahan pertanian masyarakat.<\/p>\n<p>Selain menghasilkan perangkat yang berfungsi dengan baik, kegiatan ini juga memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai pemanfaatan teknologi digital sederhana. Sebelum pelaksanaan kegiatan, sebagian besar peserta belum pernah menggunakan alat elektronik sebagai media pendukung penyiraman tanaman. Setelah mengikuti pelatihan, masyarakat mampu mengoperasikan alat secara mandiri, memahami fungsi setiap komponen, serta mengetahui cara membaca hasil pengukuran kelembapan tanah.<\/p>\n<p>Penerapan alat monitoring kelembapan tanah memberikan beberapa manfaat nyata. Pertama, masyarakat dapat menentukan waktu penyiraman berdasarkan kondisi aktual tanah sehingga penggunaan air menjadi lebih efisien. Kedua, risiko penyiraman berlebihan dapat dikurangi sehingga kondisi akar tanaman tetap terjaga. Ketiga, masyarakat memperoleh pengalaman baru dalam memanfaatkan teknologi berbasis mikrokontroler untuk mendukung kegiatan pertanian. Keempat, alat yang dikembangkan memiliki biaya pembuatan yang relatif rendah sehingga berpotensi direplikasi oleh masyarakat secara mandiri.<\/p>\n<p>Hasil kegiatan ini juga menunjukkan bahwa penerapan Teknologi Tepat Guna berbasis Arduino dapat menjadi salah satu solusi sederhana dalam mendukung transformasi pertanian menuju sistem pertanian modern. Meskipun alat yang dikembangkan masih bekerja secara manual dan belum terhubung dengan jaringan internet, sistem telah mampu memberikan informasi yang akurat mengenai kondisi kelembapan tanah. Pada tahap pengembangan berikutnya, alat dapat diintegrasikan dengan pompa air otomatis serta sistem Internet of Things (IoT) sehingga proses penyiraman dapat berlangsung secara otomatis berdasarkan data sensor.<\/p>\n<p>Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Alat monitoring kelembapan tanah tidak hanya memberikan solusi terhadap permasalahan penyiraman tanaman, tetapi juga meningkatkan kapasitas masyarakat dalam memanfaatkan teknologi sederhana untuk mendukung peningkatan produktivitas pertanian yang lebih efisien, hemat air, dan berkelanjutan.<\/p>\n<p><strong>KESIMPULAN<\/strong><br \/>\nKegiatan pengabdian kepada masyarakat mengenai penerapan Teknologi Tepat Guna berupa alat monitoring kelembapan tanah berbasis Arduino Nano telah berhasil dilaksanakan di Desa Sukowati, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik. Alat yang dikembangkan mampu mengukur tingkat kelembapan tanah secara cepat melalui Soil Moisture Sensor dan menampilkan informasi kondisi tanah pada LCD dalam kategori kering, lembap, dan basah. Informasi tersebut dapat dijadikan dasar bagi petani dalam menentukan waktu penyiraman tanaman secara lebih tepat sehingga penggunaan air menjadi lebih efisien.<\/p>\n<p>Hasil pengujian menunjukkan bahwa alat memiliki respon pembacaan yang stabil dan mampu membedakan kondisi tanah sesuai dengan tingkat kelembapannya. Selain itu, kegiatan sosialisasi dan pelatihan memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi berbasis mikrokontroler sebagai solusi sederhana untuk mendukung kegiatan pertanian.<\/p>\n<p>Penerapan alat monitoring kelembapan tanah ini memberikan manfaat berupa penghematan penggunaan air, pengurangan risiko penyiraman berlebihan, peningkatan efisiensi kerja petani, serta pengenalan teknologi digital sederhana kepada masyarakat. Dengan biaya pembuatan yang relatif rendah dan kemudahan pengoperasian, alat ini memiliki potensi untuk diterapkan secara lebih luas pada berbagai jenis lahan pertanian maupun pekarangan rumah.<\/p>\n<p>Ke depan, pengembangan teknologi ini dapat dilakukan dengan mengintegrasikan sensor kelembapan tanah dengan pompa air otomatis, panel surya sebagai sumber energi alternatif, serta sistem Internet of Things (IoT) sehingga proses monitoring dan penyiraman dapat dilakukan secara otomatis dan dipantau melalui perangkat telepon pintar. Pengembangan tersebut diharapkan mampu mendukung terwujudnya sistem pertanian cerdas (smart farming) yang lebih efisien, modern, dan berkelanjutan.<\/p>\n<p><strong>UCAPAN TERIMA KASIH<\/strong><br \/>\nPenulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Pemerintah Desa Sukowati, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik beserta seluruh masyarakat yang telah berpartisipasi aktif selama proses observasi, pelaksanaan program, sosialisasi, pelatihan, hingga evaluasi kegiatan. Apresiasi turut diberikan kepada seluruh anggota tim pengabdian yang telah bekerja sama dalam proses perancangan, pembuatan, pengujian, dan implementasi alat monitoring kelembapan tanah berbasis Arduino Nano sehingga kegiatan dapat terlaksana dengan baik.<\/p>\n<p>Aini, N., &amp; Hidayat, T. (2023). Sistem monitoring kelembapan tanah berbasis Internet of Things untuk mendukung pertanian cerdas. Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer, 10(2), 215\u2013224.<\/p>\n<p>Arduino. (2024). Arduino Nano Documentation. https:\/\/docs.arduino.cc<\/p>\n<p>Hakim, A., &amp; Prasetyo, D. (2022). Implementasi sensor kelembapan tanah berbasis Arduino pada sistem irigasi otomatis. Jurnal Rekayasa Elektrika, 18(1), 35\u201344.<\/p>\n<p>Kadir, A. (2021). Arduino dan Sensor: Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Andi.<\/p>\n<p>Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (2023). Petunjuk Teknis Pengelolaan Irigasi Hemat Air pada Budidaya Tanaman. Jakarta: Kementerian Pertanian.<\/p>\n<p>LPPM Institut Teknologi Kalimantan. (2023). Pengairan tanaman sistem tetes menggunakan sensor kelembapan tanah berbasis Arduino.<\/p>\n<p>Maulana, R., &amp; Nugroho, A. (2024). Rancang bangun alat monitoring kelembapan tanah berbasis mikrokontroler Arduino Nano. Jurnal Informatika dan Sistem Cerdas, 6(1), 52\u201361.<\/p>\n<p>Nugraha, F., &amp; Setiawan, R. (2022). Pemanfaatan teknologi tepat guna pada sektor pertanian berbasis mikrokontroler. Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, 7(3), 145\u2013153.<\/p>\n<p>Pratama, H., &amp; Kurniawan, Y. (2023). Efisiensi penggunaan air melalui monitoring kelembapan tanah berbasis sensor digital. Jurnal Teknologi Pertanian, 24(2), 89\u201398.<\/p>\n<p>Rahman, M., &amp; Sari, D. (2022). Pengembangan sistem monitoring kelembapan tanah menggunakan sensor kapasitif berbasis Arduino. Jurnal Elektronika dan Instrumentasi, 12(1), 27\u201336.<\/p>\n<p>Santoso, B., &amp; Wibowo, A. (2024). Implementasi teknologi digital pada pertanian presisi di Indonesia. Jurnal Agroinformatika, 9(1), 11\u201323.<\/p>\n<p>Siregar, P., &amp; Yusuf, M. (2023). Smart farming berbasis Internet of Things sebagai solusi pertanian berkelanjutan. Jurnal Sistem Cerdas, 5(2), 66\u201378.<\/p>\n<p>Sutrisno, E., &amp; Hidayati, L. (2021). Pengembangan alat ukur kelembapan tanah menggunakan Arduino Uno. Jurnal Teknologi dan Rekayasa, 16(4), 301\u2013310.<\/p>\n<p>Wahyudi, D., &amp; Firmansyah, A. (2024). Analisis penerapan teknologi tepat guna pada pemberdayaan masyarakat bidang pertanian. Jurnal Pengabdian Nusantara, 8(1), 1\u201312.<\/p>\n<p>Yuliana, S., &amp; Prabowo, A. (2023). Monitoring kondisi tanah berbasis sensor untuk meningkatkan efisiensi irigasi tanaman hortikultura. Jurnal Teknik Elektro dan Komputer, 14(2), 120\u2013129.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Elsa Zahrotus Sania\u00b9, Amanda Maulana\u00b2, Lukman Karmana\u00b3, Amirudin Zakaria\u2074 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Pembimbing Tan Evan Tandiyono Abstrak Pengelolaan kelembapan tanah merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman dan efisiensi penggunaan air. Permasalahan yang masih banyak dijumpai pada sektor pertanian adalah proses penyiraman yang dilakukan berdasarkan perkiraan sehingga sering terjadi kelebihan maupun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":532,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"hide","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"0","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"0","show_comment_section":"0","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","override_template":"1","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-27425","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27425","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27425"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27425\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27425"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27425"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27425"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}