{"id":27362,"date":"2026-07-14T11:33:08","date_gmt":"2026-07-14T03:33:08","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27362"},"modified":"2026-07-14T11:33:08","modified_gmt":"2026-07-14T03:33:08","slug":"dari-baris-kode-ke-meja-koperasi-catatan-divisi-teknologi-tepat-guna-di-kdmp-sidokumpul","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/dari-baris-kode-ke-meja-koperasi-catatan-divisi-teknologi-tepat-guna-di-kdmp-sidokumpul\/27362\/","title":{"rendered":"Dari Baris Kode ke Meja Koperasi: Catatan Divisi Teknologi Tepat Guna di KDMP Sidokumpul"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_27363\" aria-describedby=\"caption-attachment-27363\" style=\"width: 593px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar1-5.png\" alt=\"\" width=\"593\" height=\"445\" class=\"size-full wp-image-27363\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar1-5.png 593w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar1-5-300x225.png 300w\" sizes=\"(max-width: 593px) 100vw, 593px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-27363\" class=\"wp-caption-text\">Foto pendampingan dan evaluasi mengenai website inventaris gudang digital kepada koperasi desa merah putih desa sidokumpul, kecamatan bungah, gresik<\/figcaption><\/figure>\n<p>Oleh: <strong>A. Faiq Fawaz Charies, Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika, Sub Kelompok TTG 4 R11<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Kuliah Kerja Nyata (KKN) sering kali dikenang lewat hasil akhir yang terlihat rapi, padahal di baliknya ada proses panjang menulis, menguji, dan memperbaiki sesuatu yang awalnya hanya berupa ide di atas kertas. Saya, A. Faiq Fawaz Charies, mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, berkesempatan mengikuti KKN di Desa Sidokumpul, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, tergabung dalam Sub Kelompok Teknologi Tepat Guna (TTG) 4 R11 di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan Bapak Zida Wahyuddin, S.Pd., M.Si. dengan tugas utama membangun Sistem Inventaris Gudang Digital untuk Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Sidokumpul. Desa Sidokumpul sendiri merupakan desa yang tenang dengan warga yang ramah, di mana koperasinya baru berada pada tahap persiapan operasional, sehingga kehadiran kami sebagai mahasiswa KKN disambut dengan rasa ingin tahu sekaligus  harapan agar pengelolaan barang koperasi ke depan bisa lebih tertata.<\/p>\n<p><strong>Merancang Sistem dari Kebutuhan Nyata Pengurus<\/strong><\/p>\n<p>Pekerjaan membangun sistem ini dimulai jauh sebelum kami berangkat ke Sidokumpul. Diskusi demi diskusi digelar hanya untuk menentukan fitur apa saja yang benar-benar dibutuhkan pengurus KDMP, mulai dari pencatatan barang masuk dan keluar, dashboard monitoring stok, identifikasi barang menggunakan QR Code, hingga laporan yang bisa diekspor ke format PDF dan Excel. Kami awalnya membayangkan sistem yang cukup rumit dengan banyak fitur tambahan, namun begitu bertemu langsung dengan pengurus KDMP yang sebelumnya belum pernah menggunakan aplikasi berbasis web untuk pencatatan barang, rancangan itu harus disederhanakan berkali-kali. Tampilan dashboard yang tadinya penuh angka dan grafik saya buat lebih ringkas, sementara fitur notifikasi stok minimum justru saya tambahkan karena ternyata itulah yang paling dibutuhkan pengurus dalam memantau stok sembako, pupuk bersubsidi, dan alat pertanian sehari-hari. Dari situ saya belajar bahwa sistem yang baik bukan yang paling canggih di atas kertas, melainkan yang benar-benar bisa dipakai dan dipahami oleh penggunanya.<\/p>\n<p><strong>Dari Baris Kode ke Meja Pengurus Koperasi<\/strong><\/p>\n<p>Hari-hari berikutnya diisi dengan proses coding, pengujian fitur satu per satu, hingga perbaikan bug yang kadang muncul di waktu yang paling tidak terduga. Setelah sistem dirasa siap, giliran tugas yang menurut saya justru lebih menantang daripada menulis kode itu sendiri, yaitu mempresentasikan dan mendampingi penggunaannya secara langsung di hadapan pengurus KDMP. Saya harus menjelaskan cara input data barang hingga membaca laporan stok dengan bahasa yang sederhana, tanpa istilah teknis yang justru membingungkan. \u201cKami cukup banyak melakukan penyesuaian selama proses pendampingan, mulai dari tampilan dashboard yang harus dibuat sederhana, sampai fitur notifikasi stok minimum yang ternyata sangat dibutuhkan pengurus. Tujuan kami bukan hanya menghadirkan sistem yang canggih, tetapi sistem yang benar-benar bisa dipakai dan dipahami oleh pengurus KDMP sehari-hari,\u201d begitu kira-kira yang selalu saya ingatkan pada diri sendiri setiap kali merancang ulang tampilan sistem. Melihat pengurus KDMP yang awalnya ragu-ragu perlahan mulai berani mencoba sendiri menginput data barang, sedangkan anak-anak dan warga yang berlalu-lalang di sekitar balai desa sesekali ikut penasaran melihat layar laptop kami, semua itu menjadi bukti bahwa sistem ini bukan sekadar tugas kuliah, melainkan sesuatu yang benar-benar dipakai warga dan<br \/>\npengurus koperasi Sidokumpul.<\/p>\n<p><strong>Belajar dari Sinyal Lemah dan Data yang Tidak Sinkron<\/strong><\/p>\n<p>Tentu tidak semua berjalan mulus. Ada kalanya koneksi internet di balai desa yang tidak stabil membuat proses pengujian sistem tertunda, atau data uji coba yang saya masukkan justru tidak sinkron antara tampilan dashboard dan laporan yang diekspor. Pernah suatu kali sistem sempat error tepat ketika pengurus KDMP sedang mencoba fitur scan QR Code di hadapan saya, dan saya harus berpikir cepat mencari penyebabnya sambil tetap menjaga agar pengurus tidak kehilangan kepercayaan pada sistem yang baru saja mereka pelajari. Momen-momen kecil seperti itu mengajarkan saya arti kesigapan seorang pengembang: bagaimana harus tetap tenang menjelaskan di depan pengguna sementara di balik layar sibuk menelusuri baris kode mana yang bermasalah. Justru dari kegagalan-kegagalan kecil itulah saya memahami bahwa membangun sistem untuk masyarakat menuntut lebih dari sekadar kemampuan menulis program, tetapi juga kesabaran menjelaskan berulang kali, serta kemampuan bekerja sama dengan anggota tim lain dari berbagai program studi agar setiap kendala teknis maupun non-teknis bisa diselesaikan bersama, bukan sendirian.<\/p>\n<p><strong>Menyatu dengan Warga di Luar Layar Laptop<\/strong><\/p>\n<p>Selain sibuk di depan layar laptop menulis dan memperbaiki sistem, saya juga turut terlibat dalam berbagai kegiatan harian bersama warga Sidokumpul, mulai dari gotong royong membersihkan lingkungan desa, mendampingi kegiatan posyandu, hingga ikut berdiskusi santai dengan pengurus KDMP di luar sesi presentasi resmi. Pengalaman ini memberi saya sudut pandang yang berbeda dari sekadar duduk di depan komputer menulis kode; saya melihat langsung bagaimana pengurus KDMP menyambut sistem yang kami kembangkan dengan antusiasme yang tulus, aktif bertanya soal alur pencatatan barang, bahkan menyampaikan kebutuhan tambahan yang bisa disesuaikan pada sistem. Kedekatan semacam ini pada akhirnya justru mempermudah tugas saya sebagai pengembang sistem, karena pengurus menjadi lebih terbuka menyampaikan masukan setiap kali diajak berdiskusi tentang fitur yang sedang kami rancang.<\/p>\n<p><strong>Sistem Selesai, Cerita yang Tertinggal<\/strong><\/p>\n<p>Ketika malam perpisahan tiba, saya justru merasakan haru yang tidak terduga. Meski sistem yang saya bangun belum tentu menjadi sistem resmi yang akan dipakai KDMP dalam jangka panjang, karena hingga kegiatan berakhir belum ada kepastian dari pusat mengenai sistem inventaris resmi untuk KDMP, saya menyadari bahwa apa yang saya kerjakan tetap punya arti. Ucapan terima kasih dari Ketua KDMP Sidokumpul, Bapak H. Ustafz Zaini, yang menyampaikan bahwa pendampingan kami setidaknya memberi gambaran dan pengalaman awal dalam menggunakan sistem pencatatan digital, menjadi penutup yang lebih dari cukup untuk melunasi seluruh lelah selama menulis dan memperbaiki kode. Sistem yang saya bangun mungkin baru berupa pengenalan awal dan arsip pembanding, namun saya percaya setiap baris kode yang dituliskan dengan sepenuh<br \/>\nhati akan tetap berguna bagi Desa Sidokumpul.<\/p>\n<p>Jika ditanya apa yang saya bawa pulang dari pengalaman ini, jawabannya sederhana: membangun sistem untuk masyarakat mengajarkan bahwa keberhasilan sebuah program kerja tidak diukur dari secanggih apa kodenya ditulis, melainkan dari sejauh mana ia benar-benar dipahami dan digunakan oleh orang yang membutuhkannya. KKN di Desa Sidokumpul, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik memang berlangsung dalam waktu yang terbatas, tetapi bagi saya, waktu itu cukup untuk membuktikan bahwa di balik setiap sistem digital yang berjalan lancar, selalu ada proses trial and error yang layak untuk dikenang, dan di balik setiap koperasi desa yang bertransformasi menuju digitalisasi, selalu ada mahasiswa Informatika yang belajar untuk lebih peka terhadap kebutuhan penggunanya yang sesungguhnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: A. Faiq Fawaz Charies, Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika, Sub Kelompok TTG 4 R11 JurnalPost.com &#8211; Kuliah Kerja Nyata (KKN) sering kali dikenang lewat hasil akhir yang terlihat rapi, padahal di baliknya ada proses panjang menulis, menguji, dan memperbaiki sesuatu yang awalnya hanya berupa ide di atas kertas. Saya, A. Faiq Fawaz Charies, mahasiswa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":27363,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-27362","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27362","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27362"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27362\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27363"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27362"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27362"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27362"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}