{"id":27343,"date":"2026-07-14T00:59:04","date_gmt":"2026-07-13T16:59:04","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27343"},"modified":"2026-07-14T00:59:04","modified_gmt":"2026-07-13T16:59:04","slug":"ketika-barang-bekas-belajar-berpikir-catatan-dari-pelatihan-coding-ceria","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/ketika-barang-bekas-belajar-berpikir-catatan-dari-pelatihan-coding-ceria\/27343\/","title":{"rendered":"Ketika Barang Bekas Belajar Berpikir: Catatan dari Pelatihan Coding Ceria"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar1-24.jpg\" alt=\"\" width=\"447\" height=\"299\" class=\"aligncenter size-full wp-image-27344\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar1-24.jpg 447w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar1-24-300x201.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 447px) 100vw, 447px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: Sub-Kelompok 1<br \/>\nOleh: Gangga Permana<\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Perkenalkan nama saya Gangga Permana Kelompok KKN R11 Sidokumpul. Sub Kelompok Pelatihan 1. Pengabdian masyarakat sering kali dibayangkan sebagai kegiatan besar dengan hasil yang megah. Namun bagi kami, Sub-Kelompok 1, pengalaman menyusun dan menyelenggarakan pelatihan \u201cCoding Ceria: Ciptakan Media Edukatif Berbasis Barang Bekas, Kembangkan Logika Anak Usia Dini\u201d justru mengajarkan hal sebaliknya: bahwa perubahan yang bermakna bisa lahir dari benda-benda sederhana yang selama ini dianggap tidak berguna, tutup botol, kardus bekas, dan stik es krim yang tergeletak di dapur. Pelatihan ini kami rancang untuk guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dengan harapan sederhana namun penting: menghadirkan media pembelajaran coding yang murah, ramah lingkungan, dan tetap mampu menstimulasi kemampuan berpikir logis anak sejak dini.<\/p>\n<p><strong>Menemukan Masalah Sebelum Menawarkan Solusi<\/strong><br \/>\nSebelum satu pun bahan bekas kami kumpulkan, kami lebih dulu turun untuk mendengar. Observasi, wawancara, dan Focus Group Discussion bersama guru-guru PAUD membuka mata kami pada kenyataan yang jarang disadari orang luar: banyak guru sesungguhnya sudah menyadari pentingnya computational thinking bagi anak usia dini, tetapi mereka terbentur pada keterbatasan media dan minimnya contoh konkret tentang bagaimana konsep coding, yang selama ini identik dengan layar dan komputer, bisa diajarkan tanpa perangkat digital sama sekali. Dari sanalah kesenjangan kompetensi itu kami petakan: guru membutuhkan bukan sekadar teori, melainkan alat peraga yang bisa mereka pegang, mereka buat sendiri, dan mereka bawa pulang ke kelas masing-masing.<\/p>\n<p><strong>Merancang Alur, Bukan Sekadar Mengisi Waktu<\/strong><br \/>\nMenyusun blueprint enam sesi pelatihan, dari pembukaan, psikoedukasi, demonstrasi, praktik pembuatan, roleplay, hingga evaluasi, ternyata jauh lebih menantang daripada sekadar menyusun jadwal. Kami harus memastikan setiap sesi saling menyambung: peserta tidak hanya diberi teori tentang coding unplugged, tetapi juga dituntun melihat contoh nyata, mencoba membuatnya dengan tangan sendiri, lalu mensimulasikan penggunaannya seolah-olah mereka sedang mengajar di depan kelas. Kami menyadari bahwa guru PAUD adalah pembelajar yang paling jujur, mereka akan langsung terlihat antusias jika sebuah metode benar-benar terasa aplikatif, dan akan terlihat ragu jika sesuatu hanya menarik di atas kertas.<\/p>\n<p><strong>Dari Tutup Botol dan Kardus, Lahir Sebuah Alat Belajar<\/strong><br \/>\nMomen yang paling kami tunggu adalah sesi praktik pembuatan APE Coding Huruf dan APE Coding Maze. Melihat tutup botol bekas disulap menjadi kartu huruf, dan kardus yang tadinya akan dibuang berubah menjadi papan labirin lengkap dengan kartu instruksi arah, memberi kami keyakinan bahwa ide ini bukan sekadar konsep di atas modul. Guru-guru bekerja dalam kelompok, saling melempar ide desain, dan tanpa disadari mereka sendiri sedang mempraktikkan apa yang nanti akan mereka ajarkan: menyusun langkah demi langkah, memecahkan kendala teknis kecil, dan mengambil keputusan bersama, persis prinsip algoritma dan pemecahan masalah yang menjadi inti dari materi kami.<\/p>\n<p><strong>Roleplay: Saat Guru Berubah Peran Menjadi Murid<\/strong><br \/>\nSesi roleplay menghadirkan momen yang menurut kami paling jujur dari seluruh rangkaian pelatihan. Ketika sebagian peserta berperan sebagai anak didik dan sebagian lain berperan sebagai guru yang memberi instruksi \u201cmaju, mundur, belok kanan, belok kiri\u201d, terlihat jelas bahwa keterampilan menyampaikan instruksi yang sederhana pun ternyata membutuhkan latihan. Di titik inilah kami merasa pelatihan ini menemukan tujuannya: bukan hanya menghasilkan alat peraga, melainkan juga membangun kepercayaan diri guru untuk membimbing anak berpikir runtut, tanpa harus bergantung pada layar.<\/p>\n<p><strong>Menutup dengan Refleksi, Bukan Sekadar Seremoni<\/strong><br \/>\nSesi evaluasi menutup pelatihan dengan cara yang menurut kami paling berarti: bukan hanya post-test untuk mengukur pemahaman, tetapi juga ruang bagi guru untuk menyampaikan kesan dan kesiapan mereka menerapkan APE Coding di PAUD masing-masing. Antusiasme yang kami saksikan sepanjang sesi meyakinkan kami bahwa target minimal delapan puluh persen partisipasi aktif bukan sekadar angka administratif, melainkan cerminan bahwa pendekatan ini benar-benar menjawab kebutuhan mereka.<\/p>\n<p>Jika ada satu pelajaran yang paling kami bawa pulang dari penyusunan dan penyelenggaraan pelatihan ini, maka jawabannya sederhana: inovasi pendidikan tidak selalu menuntut teknologi canggih atau anggaran besar. Kadang ia hanya membutuhkan kepekaan untuk mendengar kesulitan guru di lapangan, kemauan untuk melihat barang bekas sebagai peluang, dan keberanian untuk memercayakan proses belajar computational thinking pada tangan-tangan kecil yang menyusun tutup botol menjadi kata, dan menuntun langkah demi langkah melewati sebuah labirin sederhana.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Sub-Kelompok 1 Oleh: Gangga Permana JurnalPost.com &#8211; Perkenalkan nama saya Gangga Permana Kelompok KKN R11 Sidokumpul. Sub Kelompok Pelatihan 1. Pengabdian masyarakat sering kali dibayangkan sebagai kegiatan besar dengan hasil yang megah. Namun bagi kami, Sub-Kelompok 1, pengalaman menyusun dan menyelenggarakan pelatihan \u201cCoding Ceria: Ciptakan Media Edukatif Berbasis Barang Bekas, Kembangkan Logika Anak Usia [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":27344,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[244],"tags":[],"class_list":["post-27343","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27343","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27343"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27343\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27344"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27343"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27343"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27343"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}