{"id":27303,"date":"2026-07-14T00:26:30","date_gmt":"2026-07-13T16:26:30","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27303"},"modified":"2026-07-14T00:26:30","modified_gmt":"2026-07-13T16:26:30","slug":"merakit-cahaya-untuk-sawah-catatan-pengerjaan-smart-uv-trap","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/merakit-cahaya-untuk-sawah-catatan-pengerjaan-smart-uv-trap\/27303\/","title":{"rendered":"Merakit Cahaya untuk Sawah: Catatan Pengerjaan Smart UV Trap"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar1-19.jpg\" alt=\"\" width=\"415\" height=\"283\" class=\"aligncenter size-full wp-image-27305\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar1-19.jpg 415w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar1-19-300x205.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 415px) 100vw, 415px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: <strong>Ahmad Dawam Mulkilla, Mahasiswa Program Studi Teknik Elektro, Untag Surabaya<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.co<\/strong>m &#8211; Ada banyak hal yang bisa diceritakan dari sebuah Pengabdian Masyarakat, tetapi bagi saya, Ahmad Dawam Mulkilla, mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, kisah yang paling melekat justru datang dari sebuah kotak panel, beberapa meter besi siku berlubang, dan satu lampu ultraviolet yang harus menyala tepat waktu di tengah sawah. Selama Pengabdian Masyarakat R11 berlangsung di Desa Sidokumpul, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, sejak 6 hingga 17 Juli 2026, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan Zida Wahyuddin, S.Pd., M.Si., dosen Program Studi Sastra Jepang Untag Surabaya, saya dipercaya menjadi Ketua Subkelompok TTG 2 sekaligus penanggung jawab teknis untuk merancang dan membangun Smart UV Trap, sebuah alat monitoring dan pengendali hama pertanian berbasis lampu UV tenaga surya. Dua belas hari itu mengajarkan saya bahwa ilmu kelistrikan yang selama ini hanya berhenti di atas kertas kuliah, ternyata harus diuji habis-habisan begitu berhadapan langsung dengan tanah, cuaca, dan kebutuhan petani yang sesungguhnya.<\/p>\n<p><strong>Dari Keluhan Petani ke Atas Meja Rancangan<\/strong><\/p>\n<p>Sebelum satu komponen pun terpasang, hari-hari awal justru saya habiskan untuk mendengar. Bersama tim, saya mendatangi anggota Gapoktan Desa Sidokumpul dan mendengar langsung keluhan mereka: wereng yang datang musiman, ulat yang membuat gejala &#8220;potong leher&#8221; pada batang padi, hingga cerita pahit satu petak sawah yang gagal panen akibat serangan tikus dan burung. Ada satu momen yang paling saya ingat, ketika seorang petani bercerita bahwa kerugian pada musim tanam sebelumnya ditaksir mencapai puluhan juta rupiah hanya karena hama yang tidak terpantau sejak dini. Dari situlah saya menyadari bahwa alat yang akan saya rancang bukan sekadar tugas proker untuk dipresentasikan, melainkan jawaban atas kegelisahan yang nyata.<\/p>\n<p><strong>Ketika Rangkaian di Kepala Harus Jadi Rangkaian di Tangan<\/strong><\/p>\n<p>Fase paling menantang datang ketika desain yang sudah saya susun di atas kertas harus benar-benar dirakit menjadi menara setinggi 2,5 meter lengkap dengan panel surya, solar charge controller, baterai, MCB, inverter, sensor photocell, hingga lampu UV yang seluruhnya harus terhubung dalam satu sistem yang aman. Sebagai mahasiswa Teknik Elektro, saya cukup percaya diri dengan perhitungan arus dan tegangan, tetapi ternyata tantangan terbesar bukan pada teori, melainkan pada kondisi lapangan yang jauh dari ideal, mulai dari memastikan rangka besi siku berdiri kokoh di tanah sawah yang lembab, hingga menyesuaikan posisi panel surya agar tidak terhalang oleh apapun sepanjang hari.<\/p>\n<p>Sensor photocell menjadi bagian yang paling banyak menyita waktu uji coba. Saya harus memastikan lampu UV benar-benar menyala otomatis saat kondisi gelap dan padam saat matahari terbit, karena jika sensor ini gagal bekerja, seluruh konsep &#8220;alat mandiri berbasis energi surya&#8221; tidak akan ada artinya. Berkali-kali saya menunggui alat dari sore hingga malam hanya untuk memastikan satu hal kecil ini benar-benar bekerja sebagaimana mestinya.<\/p>\n<p><strong>Malam-Malam Menunggu Cahaya Bekerja<\/strong><\/p>\n<p>Ada kepuasan tersendiri ketika untuk pertama kalinya melihat lampu UV menyala sendiri tepat saat langit mulai gelap, tanpa saya perlu menekan satu tombol pun. Namun kepuasan itu belum lengkap sebelum saya melihat hasil yang sesungguhnya, apakah serangga benar-benar tertarik dan jatuh ke baskom stainless steel yang telah disiapkan sebagai wadah penampung. Beberapa malam saya sengaja kembali ke lokasi hanya untuk mengecek baskom tersebut, mencatat jenis dan jumlah serangga yang tertangkap, sekaligus meyakinkan diri sendiri bahwa alat yang saya rancang benar-benar berfungsi, bukan hanya menyala tanpa hasil.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar2-9.jpg\" alt=\"\" width=\"217\" height=\"218\" class=\"aligncenter size-full wp-image-27304\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar2-9.jpg 217w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar2-9-150x150.jpg 150w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar2-9-75x75.jpg 75w\" sizes=\"(max-width: 217px) 100vw, 217px\" \/><\/p>\n<p><strong>Hari Pembuktian di Hadapan Gapoktan<\/strong><\/p>\n<p>Puncaknya datang pada 8 Juli 2026, hari pelaksanaan utama proker ini. Sebagai Ketua Subkelompok TTG 2, saya bertanggung jawab memastikan seluruh sistem berjalan sempurna sebelum didemonstrasikan langsung kepada anggota Gapoktan, mulai dari uji coba otomatisasi siang-malam hingga penjelasan cara kerja alat secara menyeluruh. Rasa gugup jelas ada, mengingat alat ini akan diserahkan untuk digunakan secara mandiri oleh petani setelah tim Pengabdian Masyarakat meninggalkan desa. Namun melihat antusiasme warga saat lampu UV didemonstrasikan, serta pertanyaan-pertanyaan kritis yang mereka lontarkan soal cara merawat dan mengganti komponen, saya merasa seluruh proses trial and error selama ini terbayar lunas.<\/p>\n<p><strong>Pelajaran yang Tidak Ada di Ruang Kelas<\/strong><\/p>\n<p>Jika ditanya apa pelajaran terbesar dari pengerjaan Smart UV Trap ini, jawaban saya sederhana: ilmu teknik yang baik bukan hanya soal rangkaian yang benar secara perhitungan, melainkan rangkaian yang mampu bertahan dan tetap berguna di tangan orang yang akan menggunakannya sehari-hari. Merancang alat untuk laboratorium dan merancang alat untuk sawah ternyata dua hal yang sangat berbeda, dan justru dari perbedaan itulah saya belajar arti sesungguhnya dari Teknologi Tepat Guna, bukan teknologi yang canggih di atas kertas, tetapi teknologi yang tepat menjawab persoalan nyata di depan mata.<\/p>\n<p>Bagi saya, Smart UV Trap bukan sekadar rangkaian panel surya, sensor, dan lampu UV yang berdiri di sudut sawah Desa Sidokumpul. Alat itu adalah rekaman dari malam-malam menunggu cahaya menyala, dari kegelisahan memastikan setiap sambungan kabel tidak longgar, dan dari harapan sederhana bahwa sesuatu yang saya rakit dengan tangan sendiri bisa terus membantu petani jauh setelah dua belas hari Pengabdian Masyarakat saya berakhir.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Ahmad Dawam Mulkilla, Mahasiswa Program Studi Teknik Elektro, Untag Surabaya JurnalPost.com &#8211; Ada banyak hal yang bisa diceritakan dari sebuah Pengabdian Masyarakat, tetapi bagi saya, Ahmad Dawam Mulkilla, mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, kisah yang paling melekat justru datang dari sebuah kotak panel, beberapa meter besi siku berlubang, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":27305,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[244],"tags":[],"class_list":["post-27303","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27303","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27303"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27303\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27305"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27303"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27303"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27303"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}