{"id":27297,"date":"2026-07-13T20:14:56","date_gmt":"2026-07-13T12:14:56","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27297"},"modified":"2026-07-13T20:14:56","modified_gmt":"2026-07-13T12:14:56","slug":"oleh-oleh-dari-negeri-jiran-menakar-pentingnya-tata-kelola-dan-hilirisasi-agribisnis-bersama-kbri-kuala-lumpur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/oleh-oleh-dari-negeri-jiran-menakar-pentingnya-tata-kelola-dan-hilirisasi-agribisnis-bersama-kbri-kuala-lumpur\/27297\/","title":{"rendered":"Oleh-Oleh dari Negeri Jiran: Menakar Pentingnya Tata Kelola dan Hilirisasi Agribisnis Bersama KBRI Kuala Lumpur"},"content":{"rendered":"<p>Penulis: Siti Macita, Gregorius Hartatinus Lase, Aryaduta Utama\u00b9, Anisa Dwi Utami, Ph.D, Dr. Nia Rosiana, S.P., M.Si\u00b2<br \/>\n\u00b9 Mahasiswa Magister Sains Agribisnis, IPB University<br \/>\n\u00b2 Dosen Magister Sains Agribisnis, IPB University<\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Keunggulan suatu negara di sektor agribisnis tidak lagi hanya ditentukan oleh luas lahan atau tingginya produksi. Di tengah persaingan global, kemampuan membangun tata kelola yang efektif justru menjadi faktor yang menentukan apakah suatu komoditas mampu memberikan nilai tambah dan bertahan di pasar internasional. Berdasarkan laporan Worldwide Governance Indicators dari World Bank, negara dengan skor efektivitas pemerintah (Government Effectiveness) dan kualitas regulasi (Regulatory Quality) yang tinggi terbukti lebih mampu menarik investasi jangka panjang karena menawarkan kepastian hukum yang stabil. Perspektif inilah yang menjadi salah satu pembelajaran utama dalam kegiatan International Agribusiness Field Trip (IAFT) 2026 yang diselenggarakan oleh Program Studi Magister Sains Agribisnis, IPB University.<\/p>\n<p>Sebagai bagian dari rangkaian IAFT, sebanyak 15 mahasiswa Magister Sains Agribisnis bersama dua dosen pendamping berkesempatan mengunjungi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur pada Selasa, 23 Juni 2026. Diskusi bersama Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur, Bapak Ir. R. Ahmad Romadhoni Surya Putra, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., membuka ruang pembelajaran mengenai berbagai isu strategis yang memengaruhi hubungan Indonesia dan Malaysia, mulai dari perdagangan komoditas, pengembangan UMKM, peluang pendidikan, hingga pembangunan sektor agribisnis. Dari beragam topik yang dibahas, isu tata kelola dan perizinan menjadi salah satu materi yang paling menarik perhatian peserta karena dinilai memiliki peran penting dalam membangun daya saing sektor agribisnis.<\/p>\n<figure id=\"attachment_27301\" aria-describedby=\"caption-attachment-27301\" style=\"width: 351px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar4.jpg\" alt=\"\" width=\"351\" height=\"233\" class=\"size-full wp-image-27301\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar4.jpg 351w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar4-300x199.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 351px) 100vw, 351px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-27301\" class=\"wp-caption-text\">Foto bersama Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur, Bapak Ir. R. Ahmad Romadhoni Surya Putra, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU<\/figcaption><\/figure>\n<p>Diskusi tersebut mengajak peserta melihat agribisnis dari sudut pandang yang lebih luas. Selama ini, pembangunan pertanian sering dikaitkan dengan peningkatan produksi atau pemanfaatan teknologi. Padahal, keberhasilan suatu sektor juga sangat dipengaruhi oleh sistem yang mengatur aktivitas usaha di dalamnya. Regulasi yang jelas, proses perizinan yang efisien, serta kepastian hukum menjadi pondasi yang memungkinkan investasi tumbuh, industri berkembang, dan pelaku usaha memperoleh kepastian dalam menjalankan bisnisnya. pelaku usaha memperoleh kepastian dalam menjalankan bisnisnya. Tolok ukur baru dari World Bank melalui laporan Business Ready (B-READY) bahkan menegaskan bahwa kemudahan berusaha tidak lagi sekadar memangkas birokrasi di atas kertas (de jure), melainkan bagaimana efisiensi layanan publik tersebut benar-benar dirasakan secara nyata oleh pelaku usaha di lapangan (de facto).<\/p>\n<p>Perspektif tersebut terasa relevan ketika dikaitkan dengan karakteristik agribisnis Indonesia dan Malaysia. Kedua negara memiliki kondisi agroklimat yang hampir serupa dan sama-sama menghasilkan komoditas perkebunan unggulan seperti kelapa sawit, karet, dan kakao. Bahkan, Indonesia dan Malaysia merupakan dua produsen kelapa sawit terbesar di dunia yang memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan pasar global. Dengan kesamaan potensi tersebut, muncul pertanyaan yang menarik: mengapa tingkat daya saing kedua negara dalam beberapa sektor tidak selalu berkembang dengan pola yang sama?<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar1-18.jpg\" alt=\"\" width=\"301\" height=\"200\" class=\"aligncenter size-full wp-image-27300\" \/><\/p>\n<p>Salah satu jawabannya terletak pada bagaimana setiap negara mengelola sumber daya yang dimilikinya. Dalam diskusi dijelaskan bahwa Malaysia tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga membangun sistem yang mampu mendorong berkembangnya industri pengolahan. Pendekatan ini memberikan nilai tambah bagi komoditas sebelum dipasarkan sehingga manfaat ekonomi tidak berhenti pada penjualan bahan mentah. Dengan kata lain, keberhasilan agribisnis tidak hanya ditentukan oleh apa yang dihasilkan, tetapi juga oleh bagaimana hasil tersebut diolah dan dipasarkan.<\/p>\n<p>Komoditas karet menjadi salah satu contoh yang banyak dibahas. Meskipun Indonesia dan Malaysia sama-sama merupakan negara penghasil karet, Malaysia dinilai lebih konsisten dalam mengembangkan industri hilir yang menghasilkan berbagai produk olahan bernilai ekonomi tinggi. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi merupakan bagian penting dari pembangunan agribisnis karena mampu memperluas rantai nilai, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan daya saing produk di pasar internasional. Data dari Malaysian Rubber Council (MRC) menunjukkan bukti nyata dari strategi ini: sekitar 73% hingga 75% total nilai ekspor karet Malaysia didominasi oleh produk hilir siap pakai seperti produk latex dan sarung tangan medis bukan karet mentah (raw rubber). Keberhasilan hilirisasi inilah yang membuat nilai ekspor mereka tetap kompetitif di pasar global. Bagi peserta IAFT, pembahasan ini memberikan pemahaman bahwa keberhasilan suatu komoditas tidak hanya diukur dari volume produksi, tetapi juga dari kemampuan menciptakan nilai tambah melalui tata kelola yang tepat.<br \/>\nPembahasan mengenai hilirisasi kemudian mengarah pada pentingnya sistem perizinan. Dalam diskusi disampaikan bahwa kemudahan perizinan bukan sekadar menyederhanakan proses administrasi, tetapi juga menciptakan kepastian bagi pelaku usaha. Ketika regulasi lebih jelas dan proses perizinan berlangsung secara efisien, keputusan investasi menjadi lebih cepat, biaya transaksi dapat ditekan, dan peluang pengembangan industri semakin terbuka. Kondisi tersebut pada akhirnya membentuk ekosistem usaha yang lebih kompetitif serta mendorong tumbuhnya inovasi di sektor agribisnis.<\/p>\n<figure id=\"attachment_27299\" aria-describedby=\"caption-attachment-27299\" style=\"width: 394px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar2-8.jpg\" alt=\"\" width=\"394\" height=\"263\" class=\"size-full wp-image-27299\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar2-8.jpg 394w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar2-8-300x200.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 394px) 100vw, 394px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-27299\" class=\"wp-caption-text\">Sesi diskusi<\/figcaption><\/figure>\n<p>Pengalaman Malaysia tersebut tidak dimaksudkan sebagai perbandingan untuk menentukan negara mana yang lebih unggul, melainkan sebagai bahan refleksi. Diskusi menunjukkan bahwa negara dengan sumber daya alam yang melimpah tetap memerlukan tata kelola yang mampu menghubungkan sektor produksi, industri, dan pasar secara efektif. Bagi Indonesia, pembelajaran ini menjadi relevan mengingat potensi agribisnis yang besar perlu didukung oleh kebijakan yang mampu menciptakan kepastian usaha sekaligus mendorong berkembangnya industri bernilai tambah.<\/p>\n<p>Pembelajaran mengenai tata kelola juga tidak dapat dilepaskan dari hubungan perdagangan Indonesia dan Malaysia. Dalam diskusi dijelaskan bahwa perdagangan antarnegara pada dasarnya dibangun atas prinsip reciprocal trade, yaitu hubungan yang saling memberikan manfaat sesuai dengan kebutuhan dan keunggulan masing-masing negara. Sebagai contoh, Malaysia mengimpor daging kerbau dari India karena tingginya kebutuhan konsumsi domestik, sementara India menjadi salah satu pasar bagi produk kelapa sawit Malaysia. Pola serupa juga terlihat dalam berbagai hubungan dagang Indonesia dengan negara lain, yang menunjukkan bahwa perdagangan internasional tidak hanya dipahami sebagai aktivitas ekspor dan impor, tetapi juga sebagai upaya membangun kemitraan yang saling melengkapi. Perspektif ini memberikan pemahaman bahwa daya saing agribisnis tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan komoditas, tetapi juga oleh kemampuan membangun jejaring perdagangan yang berkelanjutan.<\/p>\n<p>Diskusi juga menyoroti berbagai produk Indonesia yang telah diterima dengan baik di pasar Malaysia, mulai dari produk pangan hingga barang konsumsi sehari-hari. Selain itu, kerja sama sertifikasi halal antara kedua negara menjadi salah satu contoh harmonisasi regulasi yang mampu memperlancar arus perdagangan. Produk yang telah memperoleh sertifikasi halal di Malaysia tidak perlu melalui proses sertifikasi ulang ketika dipasarkan di Indonesia. Bagi pelaku usaha, mekanisme tersebut mampu mengurangi hambatan administratif sekaligus mempercepat akses pasar. Contoh ini menunjukkan bahwa tata kelola tidak hanya berkaitan dengan perizinan di tingkat nasional, tetapi juga mencakup penyelarasan regulasi antarnegara untuk mendukung kelancaran perdagangan.<\/p>\n<p>Selain membahas dunia usaha, diskusi juga memberikan perspektif baru mengenai cara memandang pembangunan agribisnis. Narasumber menekankan sebuah pesan penting yang perlu direnungkan: \u201cMahasiswa agribisnis perlu berpikir dalam skala ekonomi, bukan hanya pada tingkat produksi.\u201d Ungkapan ini mengajak peserta melihat sektor pertanian sebagai sebuah sistem yang saling terhubung, bukan sekadar aktivitas budidaya di tingkat petani. Dalam konteks Indonesia, rata-rata kepemilikan lahan yang relatif sempit sering menjadi tantangan dalam mencapai skala ekonomi yang efisien. Oleh karena itu, penguatan kelembagaan seperti koperasi dan integrasi usaha dipandang sebagai salah satu pendekatan yang mampu meningkatkan efisiensi, memperkuat posisi tawar petani, serta memperluas akses terhadap pembiayaan, teknologi, dan pasar. Pandangan ini memberikan pemahaman bahwa peningkatan daya saing agribisnis memerlukan sinergi antara pelaku usaha, pemerintah, lembaga keuangan, dan kelembagaan petani.<\/p>\n<p>Bagi peserta IAFT, berbagai pembahasan tersebut memberikan cara pandang yang berbeda terhadap pembangunan agribisnis. Diskusi tidak hanya membandingkan praktik yang diterapkan Indonesia dan Malaysia, tetapi juga mengajak mahasiswa memahami bahwa keberhasilan suatu sektor dibentuk oleh keterkaitan antara kebijakan, tata kelola, industri, dan perdagangan. Dengan kata lain, produksi hanyalah salah satu bagian dari sistem agribisnis yang lebih luas. Ketika seluruh komponen tersebut mampu berjalan secara selaras, peluang untuk menciptakan nilai tambah dan meningkatkan daya saing akan semakin besar.<\/p>\n<p>Diskusi di KBRI Kuala Lumpur juga memperlihatkan bahwa perwakilan Indonesia di luar negeri memiliki peran yang jauh lebih luas daripada fungsi diplomasi semata. Selain memperkuat hubungan bilateral, KBRI turut berperan sebagai penghubung antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan pasar internasional. Melalui penyampaian informasi pasar, fasilitasi kerja sama, promosi perdagangan, hingga pendampingan berbagai kegiatan ekonomi, KBRI menjadi salah satu pintu masuk bagi penguatan hubungan ekonomi Indonesia dengan negara mitra. Peran tersebut semakin penting di tengah meningkatnya persaingan global yang menuntut sinergi antarpemangku kepentingan untuk memperkuat posisi agribisnis Indonesia.<br \/>\nSebagai penutup kegiatan, Program Studi Magister Sains Agribisnis IPB University menyerahkan sertifikat dan cinderamata kepada KBRI Kuala Lumpur sebagai bentuk apresiasi atas sambutan dan kesempatan berdiskusi yang telah diberikan. Acara kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama yang menjadi simbol terjalinnya hubungan baik antara dunia akademik dan perwakilan diplomatik Indonesia di Malaysia.<\/p>\n<figure id=\"attachment_27298\" aria-describedby=\"caption-attachment-27298\" style=\"width: 396px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar3-3.jpg\" alt=\"\" width=\"396\" height=\"263\" class=\"size-full wp-image-27298\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar3-3.jpg 396w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Gambar3-3-300x199.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 396px) 100vw, 396px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-27298\" class=\"wp-caption-text\">Penyerahan Sertifikat dan Cinderamata oleh Program Studi Magister Sains Agribisnis IPB University<\/figcaption><\/figure>\n<p>Lebih dari sekadar kunjungan akademik, IAFT 2026 memberikan ruang bagi mahasiswa untuk melihat agribisnis dari perspektif yang lebih komprehensif. Pengalaman yang diperoleh menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan sektor pertanian tidak hanya ditentukan oleh besarnya potensi sumber daya alam, tetapi juga oleh kemampuan membangun tata kelola yang efektif, sistem perizinan yang memberikan kepastian, serta kebijakan yang mampu mendorong tumbuhnya industri bernilai tambah. Berbagai praktik yang dipelajari dari Malaysia menjadi bahan refleksi bahwa penguatan daya saing agribisnis memerlukan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat dalam membangun ekosistem yang mendukung inovasi dan investasi. Pada akhirnya, pembelajaran paling berharga dari diskusi di KBRI Kuala Lumpur bukanlah mengenai siapa yang lebih unggul, melainkan bagaimana pengalaman suatu negara dapat menjadi inspirasi untuk memperkuat pembangunan agribisnis Indonesia yang lebih kompetitif dan berkelanjutan.<\/p>\n<p>Sumber:<br \/>\nhttps:\/\/www.worldbank.org\/content\/dam\/sites\/govindicators\/doc\/The%20Worldwide%20Governance%20Indicators%202025%20Methodology%20Revision.pdf<br \/>\nhttps:\/\/data360.worldbank.org\/en\/dataset\/WB_BREADY<br \/>\nhttps:\/\/www.tradeimex.in\/blogs\/malaysia-rubber-export-data-2024-25-top-rubber-suppliers-in-malaysia<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis: Siti Macita, Gregorius Hartatinus Lase, Aryaduta Utama\u00b9, Anisa Dwi Utami, Ph.D, Dr. Nia Rosiana, S.P., M.Si\u00b2 \u00b9 Mahasiswa Magister Sains Agribisnis, IPB University \u00b2 Dosen Magister Sains Agribisnis, IPB University JurnalPost.com &#8211; Keunggulan suatu negara di sektor agribisnis tidak lagi hanya ditentukan oleh luas lahan atau tingginya produksi. Di tengah persaingan global, kemampuan membangun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":27301,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[244],"tags":[],"class_list":["post-27297","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27297","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27297"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27297\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27301"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27297"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27297"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27297"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}