{"id":27216,"date":"2026-07-10T17:17:50","date_gmt":"2026-07-10T09:17:50","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27216"},"modified":"2026-07-10T17:17:50","modified_gmt":"2026-07-10T09:17:50","slug":"titik-koma-resmi-diluncurkan-rumah-baru-bagi-para-penyair-dan-pecinta-sastra-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/titik-koma-resmi-diluncurkan-rumah-baru-bagi-para-penyair-dan-pecinta-sastra-indonesia\/27216\/","title":{"rendered":"Titik Koma Resmi Diluncurkan: Rumah Baru bagi Para Penyair dan Pecinta Sastra Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-10-at-8.07.50-AM.jpeg\" alt=\"\" width=\"1402\" height=\"903\" class=\"aligncenter size-full wp-image-27217\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-10-at-8.07.50-AM.jpeg 1402w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-10-at-8.07.50-AM-300x193.jpeg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-10-at-8.07.50-AM-1024x660.jpeg 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-10-at-8.07.50-AM-768x495.jpeg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-10-at-8.07.50-AM-750x483.jpeg 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-10-at-8.07.50-AM-1140x734.jpeg 1140w\" sizes=\"(max-width: 1402px) 100vw, 1402px\" \/><\/p>\n<p><strong>Bogor, JurnalPost.com<\/strong> \u2013 Dunia literasi Indonesia kembali mendapatkan ruang baru dengan diluncurkannya Titik Koma, sebuah toko buku online sekaligus komunitas sastra yang didedikasikan untuk para penyair, penulis, dan pecinta puisi. Acara peluncuran diselenggarakan pada Kamis, 2 Juli 2026, di sebuah Coffee di Bogor, dan dihadiri oleh para penulis, pegiat literasi, komunitas sastra, serta tamu undangan.<\/p>\n<p>Mengusung tagline &#8220;Tempat Kata Melanjutkan Perjalanan&#8221;, Titik Koma lahir dari keyakinan bahwa puisi bukan sekadar rangkaian kata, melainkan ruang untuk merawat rasa, merekam perjalanan hidup, dan menghubungkan manusia melalui pengalaman yang universal.<\/p>\n<p>Lebih dari sekadar toko buku, Titik Koma hadir sebagai sebuah ekosistem sastra yang membuka kesempatan bagi para penyair untuk menerbitkan, memasarkan, dan memperkenalkan karya-karya mereka kepada masyarakat luas. Melalui platform digital https:\/\/winme.id\/titik-koma, para pembaca dapat mengakses berbagai buku puisi dan roman puitik secara praktis, sekaligus mendukung lahirnya karya-karya sastra baru.<\/p>\n<p>Pada saat peluncuran, Titik Koma memperkenalkan delapan judul perdana yang telah tersedia bagi pembaca, yaitu: BAPAK, Sukaenah, Lima Cahaya, Nyanyi dalam Sunyi, Pelangi dan Hujan, Palestina Kami Belum Selesai Mencintaimu, Ketika Hati Mengetuk Langit dan Sebelum Kita Lupa Menjadi Manusia.<\/p>\n<p>Kedelapan karya tersebut mengangkat beragam tema, mulai dari keluarga, cinta, persahabatan, kemanusiaan, sosial kemasyarakatan hingga refleksi spiritual, yang diharapkan dapat menjadi teman perjalanan batin bagi para pembacanya.<\/p>\n<p>Selain menghadirkan toko buku daring, Titik Koma juga membentuk Komunitas Titik Koma, sebuah ruang kolaborasi bagi penyair, penulis, pembaca, guru, mahasiswa, dan seluruh pegiat literasi untuk saling berbagi inspirasi, berdiskusi, serta mengembangkan budaya membaca dan menulis puisi di Indonesia. Ke depan, komunitas ini akan mengadakan berbagai kegiatan seperti bedah buku, kelas menulis, peluncuran karya, pembacaan puisi, diskusi sastra, hingga penerbitan antologi bersama.<\/p>\n<p>Pendiri Titik Koma, Dr. Jumadi Subur, menyampaikan bahwa nama &#8220;Titik Koma&#8221; dipilih karena memiliki makna yang mendalam.<\/p>\n<p>&#8220;Titik koma bukanlah tanda akhir sebuah kalimat. Ia adalah jeda sebelum cerita dilanjutkan. Begitu pula dengan setiap penyair dan setiap karya. Selalu ada bait berikutnya yang menunggu untuk ditulis, dibaca, dan dibagikan kepada dunia.&#8221;<\/p>\n<p>Melalui peluncuran ini, Titik Koma berharap dapat menjadi rumah yang ramah bagi siapa pun yang mencintai sastra, sekaligus menjadi jembatan yang mempertemukan karya-karya penyair Indonesia dengan para pembacanya.<\/p>\n<p>Tentang Titik Koma<\/p>\n<p>Titik Koma adalah toko buku online dan komunitas sastra yang berfokus pada penerbitan, promosi, dan distribusi buku-buku puisi serta roman puitik karya penulis Indonesia. Dengan semangat &#8220;Tempat Kata Melanjutkan Perjalanan&#8221;, Titik Koma berkomitmen menghadirkan ruang bertumbuh bagi para penyair dan memperluas akses masyarakat terhadap karya sastra yang bermakna. Kunjungi:  https:\/\/winme.id\/titik-koma<\/p>\n<p>Kontak Media<br \/>\nTitik Koma \u2013 Pustaka Sastra &#038; Roman Puitik<br \/>\nWhatsApp: 0853 3014 2020<br \/>\nWebsite: https:\/\/winme.id\/titik-koma<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bogor, JurnalPost.com \u2013 Dunia literasi Indonesia kembali mendapatkan ruang baru dengan diluncurkannya Titik Koma, sebuah toko buku online sekaligus komunitas sastra yang didedikasikan untuk para penyair, penulis, dan pecinta puisi. Acara peluncuran diselenggarakan pada Kamis, 2 Juli 2026, di sebuah Coffee di Bogor, dan dihadiri oleh para penulis, pegiat literasi, komunitas sastra, serta tamu undangan. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":27217,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[244],"tags":[],"class_list":["post-27216","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27216","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27216"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27216\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27217"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27216"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27216"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27216"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}