{"id":27186,"date":"2026-07-09T22:13:41","date_gmt":"2026-07-09T14:13:41","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27186"},"modified":"2026-07-09T22:13:41","modified_gmt":"2026-07-09T14:13:41","slug":"fasih-bicara-tetapi-buntu-menulis-urgensi-bahasa-indonesia-di-perguruan-tinggi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/fasih-bicara-tetapi-buntu-menulis-urgensi-bahasa-indonesia-di-perguruan-tinggi\/27186\/","title":{"rendered":"Fasih Bicara, Tetapi Buntu Menulis: Urgensi Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi \u00a0"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/IMG_2233.png\" alt=\"\" width=\"657\" height=\"467\" class=\"aligncenter size-full wp-image-27187\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/IMG_2233.png 657w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/IMG_2233-300x213.png 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/IMG_2233-120x86.png 120w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/IMG_2233-350x250.png 350w\" sizes=\"(max-width: 657px) 100vw, 657px\" \/><\/p>\n<p>Penulis : Fransiska audry revian putri singal<br \/>\nIUniversitas Airlangga<br \/>\n\u00a0<br \/>\n<strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Ada yang aneh dari cara kita memperlakukan mata kuliah Bahasa Indonesia di kampus. Karena dipakai setiap hari, mulai dari berbincang dengan teman sampai menawar harga di warung, bahasa ini dianggap sudah otomatis kita kuasai. Untuk apa lagi belajar sesuatu yang setiap hari dipakai tanpa masalah? Pertanyaan itu masuk akal sekilas, tapi keliru.<br \/>\n\u00a0<br \/>\nSaya sering menyaksikan sendiri jarak antara &#8220;bisa berbahasa Indonesia&#8221; dan &#8220;bisa menulis dengan bahasa Indonesia&#8221;. Ada teman yang di kelas bisa berargumen panjang lebar, bersikukuh soal materi kuliah, bahkan lihai berdebat di grup WhatsApp sampai emosi. Tapi begitu duduk di depan laptop untuk menulis, orang yang sama itu seperti berubah jadi orang lain. Kalimatnya berputar-putar. Satu gagasan diulang tiga kali dengan kata berbeda tanpa menambah kejelasan apa pun. Dari satu paragraf ke paragraf berikutnya terasa meloncat, tanpa benang merah yang jelas. Paling kentara saat menyusun skripsi, ketika orang yang biasanya lancar menjelaskan idenya ke dosen pembimbing secara lisan, bisa berubah total begitu diminta menuliskannya. Bab satu direvisi berkali-kali, bukan karena isinya keliru, tapi karena cara penyampaiannya berbelit, padahal penulisnya sendiri sebenarnya paham betul dengan apa yang ingin disampaikan.<br \/>\n\u00a0<br \/>\nBerbicara dan menulis itu dua keterampilan berbeda meski memakai bahasa yang sama. Ini yang sering luput disadari. Berbicara dibantu banyak hal seperti nada suara, ekspresi wajah, dan kesempatan untuk mengklarifikasi begitu lawan bicara terlihat bingung. Tulisan tidak dapat kemewahan itu. Sekali ditulis, sebuah kalimat harus berdiri sendiri, jelas dari awal sampai akhir, tanpa ada kesempatan berkata &#8220;Jadi, maksud saya seperti ini&#8221; begitu pembaca kehilangan arah. Kemampuan menyusun pikiran agar runtut di atas kertas semestinya dilatih serius di bangku kuliah. Yang terjadi malah sebaliknya. Materi yang diajarkan masih berkutat pada tanda baca, ejaan, struktur kalimat baku, seolah menulis hanya soal benar-salah tata bahasa saja. Padahal persoalan sesungguhnya jauh lebih besar dari itu, yaitu bagaimana menyusun alur pikiran yang masuk akal dan menuangkannya jadi tulisan yang bisa diikuti orang lain tanpa harus dibaca dua kali.<br \/>\n\u00a0<br \/>\nKewajiban ini masuk akal begitu dilihat dari kasus nyata di lapangan. Mahasiswa teknik harus menyusun laporan penelitian. Mahasiswa hukum harus menyusun legal opinion sampai skripsi. Mahasiswa kedokteran harus menulis studi kasus pasien. Semua dituntut menjelaskan sesuatu yang rumit lewat tulisan yang runtut, dan semuanya kerap tersendat di tempat yang sama. Bukan karena mereka tidak paham materi di bidangnya masing-masing. Justru mereka biasanya paham betul, hanya saja belum tahu cara memindahkan pemahaman itu dari kepala ke kertas jadi kalimat yang jelas. Ditambah lagi kebiasaan yang keliru tapi lumrah, menganggap kalimat yang berbelit dan sulit dicerna sebagai tanda tulisan yang &#8220;ilmiah&#8221;. Padahal semakin berputar-putar kalimatnya, semakin sulit pula maksudnya ditangkap.<br \/>\n\u00a0<br \/>\nYang menarik, kelancaran berbicara mereka sama sekali tidak hilang. Di ruang sidang skripsi, mahasiswa yang tulisannya tadinya berbelit-belit bisa tiba-tiba menjelaskan gagasannya dengan lancar dan meyakinkan begitu ditanya langsung oleh dosen penguji. Tapi ketika diminta menuliskan penjelasan yang persis sama, hasilnya jauh lebih ruwet dibanding versi lisannya. Bukan soal dia tidak paham. Bukan juga soal dia tidak cerdas. Soal latihan menulis yang memang selama ini kurang diasah.<br \/>\n\u00a0<br \/>\nBanyak yang baru sadar soal ini ketika sudah terlambat. Skripsi ditolak berkali-kali oleh pembimbing, bukan karena datanya kurang, tapi karena cara penyampaiannya berantakan. Saya mendapat cerita dari kakak tingkat teman SMA saya yang kuliah di universitas berbeda. Menurut pengalamannya, ia harus merevisi Bab I skripsinya lebih dari lima kali. Bukan karena teorinya keliru. Setiap kali dosen pembimbingnya membaca, catatannya selalu sama, &#8220;maksudnya apa sih di sini?&#8221; Padahal kalau ditanya langsung, ia bisa menjawab dalam sepuluh detik tanpa berpikir dua kali. Bayangkan kalau kemampuan menulis argumentatif semacam ini dilatih sejak semester-semester awal, bukan mendadak jadi masalah besar di semester akhir menjelang tugas akhir saja.<br \/>\n\u00a0<br \/>\nUrgensi mengajarkan Bahasa Indonesia di perguruan tinggi, kalau boleh saya tegaskan, bukan soal &#8220;sudah bisa berbahasa Indonesia atau belum&#8221; secara lisan. Itu bukan pertanyaan yang tepat sejak awal. Yang jadi persoalan adalah sejauh mana mahasiswa benar-benar dilatih menuangkan pikirannya jadi tulisan yang runtut dan jelas. Kampus perlu mengubah fokus pengajaran Bahasa Indonesia, dari sekadar mengulang tata bahasa, jadi ruang latihan menulis argumentatif yang sungguhan. Menyusun paragraf dengan satu gagasan utama. Membangun transisi antar-ide yang logis. Menjelaskan sesuatu yang rumit dengan kalimat sederhana tapi tetap tepat.<br \/>\n\u00a0<br \/>\nKefasihan berbicara bahasa Indonesia sehari-hari jangan sampai membuat kita lengah dan menganggap remeh belajar menulis. Berbicara memang terasa mudah dan alami, sehingga kemampuan menulis sering luput dilatih. Padahal keduanya keterampilan berbeda, meski lahir dari bahasa yang sama. Bahasa Indonesia yang diajarkan dengan baik di perguruan tinggi bukan sekadar soal ejaan yang benar. Ia soal bagaimana mahasiswa mampu menuangkan pikirannya secara jernih di atas kertas, sesuatu yang akan terus mereka butuhkan jauh setelah lulus kuliah, di dunia kerja yang jarang memberi kesempatan menjelaskan ulang secara lisan begitu tulisan sudah terlanjur dikirim. Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah kita bisa berbahasa Indonesia, melainkan apakah kita mampu menyampaikan pikiran secara runtut dan jelas melalui tulisan. Kemampuan itulah yang seharusnya menjadi tujuan utama pembelajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi.\u2028<\/p>\n<p><strong>DAFTAR PUSTAKA<\/strong><\/p>\n<p>https:\/\/www.google.com\/imgres?q=gambar%20orang%20menulis%20laptop%C2%A0&#038;imgurl=https%3A%2F%2Fpenerbitdeepublish.com%2Fwp-content%2Fuploads%2F2020%2F10%2Fcara-menulis-kreatif.jpg&#038;imgrefurl=https%3A%2F%2Fpenerbitdeepublish.com%2Fdasar-menulis%2Fcara-menulis-kreatif%2F&#038;docid=S-dTsx6r0fHWDM&#038;tbnid=1qm3iUOMqQiKpM&#038;vet=12ahUKEwiEjpr0zcWVAxWHzjgGHSdjLq4QnPAOegUI_wIQAA..i&#038;w=1200&#038;h=852&#038;hcb=2&#038;ved=2ahUKEwiEjpr0zcWVAxWHzjgGHSdjLq4QnPAOegUI_wIQAA<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis : Fransiska audry revian putri singal IUniversitas Airlangga \u00a0 JurnalPost.com &#8211; Ada yang aneh dari cara kita memperlakukan mata kuliah Bahasa Indonesia di kampus. Karena dipakai setiap hari, mulai dari berbincang dengan teman sampai menawar harga di warung, bahasa ini dianggap sudah otomatis kita kuasai. Untuk apa lagi belajar sesuatu yang setiap hari dipakai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":27187,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-27186","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27186","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27186"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27186\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27187"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27186"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27186"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27186"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}