{"id":27154,"date":"2026-07-09T06:33:23","date_gmt":"2026-07-08T22:33:23","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27154"},"modified":"2026-07-09T18:47:14","modified_gmt":"2026-07-09T10:47:14","slug":"relevansi-mata-kuliah-bahasa-indonesia-dalam-perguruan-tinggi-pengulangan-atau-pengayaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/relevansi-mata-kuliah-bahasa-indonesia-dalam-perguruan-tinggi-pengulangan-atau-pengayaan\/27154\/","title":{"rendered":"Relevansi Mata Kuliah Bahasa Indonesia dalam Perguruan Tinggi: Pengulangan atau Pengayaan?"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-27155\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Mata-Kuliah-Bahasa.webp\" alt=\"Mata Kuliah Bahasa\" width=\"1672\" height=\"941\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Mata-Kuliah-Bahasa.webp 1672w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Mata-Kuliah-Bahasa-300x169.webp 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Mata-Kuliah-Bahasa-1024x576.webp 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Mata-Kuliah-Bahasa-768x432.webp 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Mata-Kuliah-Bahasa-1536x864.webp 1536w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Mata-Kuliah-Bahasa-750x422.webp 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Mata-Kuliah-Bahasa-1140x642.webp 1140w\" sizes=\"(max-width: 1672px) 100vw, 1672px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: <strong>Tasya Ratu Syani<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong>\u00a0 &#8211; Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu (<em>mother language<\/em>) bagi mayoritas masyarakat Indonesia dipakai dan diimplementasikan sebagai fondasi komunikasi sehari-hari. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya eksistensi Bahasa Indonesia bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, timbul pertanyaan kritis: Apakah sekadar menggunakan Bahasa Indonesia dalam berkomunikasi sudah cukup? Apakah kita wajib mempelajari Bahasa Indonesia hingga ke tingkat yang mendalam? Apakah pembelajaran Bahasa Indonesia yang kita peroleh selama masa sekolah wajib (SD, SMP, dan SMA) sudah memadai? Dan yang terpenting, apakah kita tetap perlu mempelajari Bahasa Indonesia hingga jenjang perguruan tinggi?<\/p>\n<p>Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan sebuah refleksi atau gambaran tentang posisi Bahasa Indonesia \u00a0di tengah dinamika pendidikan nasional dan tantangan zaman. Untuk menjawabnya, kita perlu menelusuri hakikat pengajaran Bahasa Indonesia, tujuannya, serta relevansinya dalam berbagai jenjang pendidikan dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi.<\/p>\n<p>Pengajaran Bahasa Indonesia dalam sekolah wajib maupun perkuliahan memiliki maksud dan tujuan yang strategis. Pengajaran ini memiliki peran sentral dalam mengembangkan angka literasi dan pengetahuan mahasiswa. Tak hanya itu, pengajaran Bahasa Indonesia juga menjadi sarana untuk mengembangkan penalaran, kreativitas, dan keterampilan baik dalam berkomunikasi maupun dalam menuangkan Bahasa Indonesia tersebut kedalam sebuah karya. Penguasaan Bahasa Indonesia yang baik mampu mengantarkan mahasiswa pada sebuah pemahaman yang mendalam dan komprehensif dalam penguasaan materi perkuliahan.<\/p>\n<p>Adapun pentingnya pengajaran Bahasa Indonesia dalam perguruan tinggi merupakan sebagai sebuah wadah untuk penguatan karakter sebagai identitas bangsa. Hal ini agar mahasiswa tidak hanya bisa berkomunikasi dengan memakai bahasa nasional, tetapi juga mampu menanamkan cinta tanah air dalam kepribadian bangsa<\/p>\n<p>Pengajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi bukanlah sekadar pengulangan materi yang telah diperoleh di jenjang pendidikan sebelumnya. Melainkan, merupakan pengayaan dan pendalaman yang bersifat aplikatif dan kritis. Jika di tingkat SD hingga SMA pembelajaran lebih difokuskan pada tata bahasa, ejaan, dan pemahaman teks secara definitif, maka di perguruan tinggi, mahasiswa dituntut untuk mampu menggunakan Bahasa Indonesia sebagai instrumen berpikir ilmiah, menulis karya akademik, serta menyampaikan gagasan secara sistematis dan logis.<\/p>\n<p>Perbedaan ini sangat penting untuk ditekankan karena banyak mahasiswa yang menganggap mata kuliah Bahasa Indonesia sebagai pengulangan yang membosankan dan tidak relevan. Padahal, justru disinilah letak pentingnya.<\/p>\n<p>Mahasiswa dituntut untuk mampu menghasilkan karya-karya ilmiah yang berkualitas. Dalam konteks ini, penguasaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar menjadi prasyarat mutlak. Seperti penulisan makalah, skripsi, tesis, disertasi, jurnal ilmiah, hingga artikel penelitian memerlukan kemampuan berbahasa yang mumpuni agar pesan yang disampaikan dapat terserap dengan jelas dan tidak menimbulkan multitafsir. Bahasa yang rancu, struktur kalimat yang kacau, atau penggunaan diksi yang tidak tepat akan mengurangi kredibilitas karya ilmiah itu sendiri di mata pembaca.<\/p>\n<p>Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak mahasiswa yang secara substansi memiliki gagasan cemerlang, namun gagal mengomunikasikannya secara efektif karena keterbatasan keterampilan berbahasa. Akibatnya, karya yang seharusnya bernilai ilmiah tinggi kehilangan daya serap dan pengaruhnya.<\/p>\n<p>Di sisi lain, pengajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi juga berfungsi sebagai benteng pertahanan budaya di tengah gempuran globalisasi dan arus informasi yang mudah tersebar. Di era digital ini, mahasiswa terpapar pada berbagai bahasa asing dan ragam bahasa gaul yang sering kali mengancam eksistensi bahasa persatuan. Pengajaran Bahasa Indonesia dalam perguruan tinggi mampu menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga eksistensi bahasa sekaligus mengembangkan bahasa Indonesia agar dinamis dan relevan dengan perkembangan zaman, tanpa kehilangan jati diri nasionalnya.<\/p>\n<p>Lebih jauh lagi, urgensi pengajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi terletak pada perannya dalam membentuk karakter kebangsaan. Bahasa Indonesia adalah alat pemersatu yang telah terbukti mampu menyatukan ribuan pulau, ratusan suku, dan beragam budaya. Dengan mempelajari bahasa Indonesia secara mendalam, mahasiswa tidak hanya belajar tentang tata bahasa, tetapi juga menyelami nilai-nilai luhur Pancasila, semangat Sumpah Pemuda, dan jiwa nasionalisme yang terkandung di dalam setiap untaian katanya. Ini menjadi fondasi penting bagi generasi muda untuk memahami sejarah bangsanya dan berkontribusi aktif dalam pembangunan nasional.<\/p>\n<p>Mahasiswa yang terampil berbahasa Indonesia akan lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat, bernegosiasi, memimpin diskusi, hingga mempresentasikan hasil penelitiannya di forum ilmiah, baik skala nasional maupun internasional. Kemampuan ini menjadi bekal berharga dalam memasuki dunia kerja yang semakin kompetitif.<\/p>\n<p>Dalam praktiknya, pengajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi tidak lagi bersifat teoretis dan hafalan semata. Pendekatan pembelajaran yang berbasis proyek, studi kasus, dan pengalaman nyata akan lebih efektif untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan berbahasa yang aplikatif. Misalnya, melalui penulisan artikel ilmiah populer, pembuatan proposal penelitian, penyusunan laporan magang, hingga keterampilan berbicara di depan umum dalam berbagai situasi formal dan informal.<\/p>\n<p>Sebagai penutup, dapat ditegaskan bahwa pengajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi memiliki urgensi yang sangat tinggi dan tidak dapat diabaikan. Bukan sekadar formalitas, pelengkap atau pengulangan kurikulum, melainkan kebutuhan mendasar untuk mencetak sarjana yang cerdas, kritis, berkarakter, dan cinta tanah air. Di tengah arus modernisasi, mahasiswa harus tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga dan mengembangkan bahasa persatuan, karena dari bahasa, identitas sebuah bangsa terukir; dan dengan bahasa, masa depan bangsa dibangun.<\/p>\n<p>Sudah saatnya kita memandang pengajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi sebagai investasi jangka panjang untuk kemajuan bangsa, bukan beban, melainkan anugerah yang harus disyukuri dan dimaksimalkan. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai bahasanya sendiri, dan generasi muda yang beradab adalah generasi yang bangga menggunakan bahasa ibunya dalam setiap denyut kehidupannya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Tasya Ratu Syani JurnalPost.com\u00a0 &#8211; Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu (mother language) bagi mayoritas masyarakat Indonesia dipakai dan diimplementasikan sebagai fondasi komunikasi sehari-hari. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya eksistensi Bahasa Indonesia bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, timbul pertanyaan kritis: Apakah sekadar menggunakan Bahasa Indonesia dalam berkomunikasi sudah cukup? Apakah kita wajib mempelajari Bahasa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":27155,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-27154","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27154","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27154"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27154\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27155"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27154"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27154"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27154"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}