{"id":27129,"date":"2026-07-08T11:56:16","date_gmt":"2026-07-08T03:56:16","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27129"},"modified":"2026-07-08T11:56:16","modified_gmt":"2026-07-08T03:56:16","slug":"kemajuan-teknologi-digital-mengubah-sistem-layanan-kesehatan-bagi-masyarakat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/kemajuan-teknologi-digital-mengubah-sistem-layanan-kesehatan-bagi-masyarakat\/27129\/","title":{"rendered":"Kemajuan Teknologi Digital Mengubah Sistem Layanan Kesehatan bagi Masyarakat"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Teknologi-Digital.webp\" alt=\"Teknologi Digital\" width=\"1672\" height=\"941\" class=\"aligncenter size-full wp-image-27130\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Teknologi-Digital.webp 1672w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Teknologi-Digital-300x169.webp 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Teknologi-Digital-1024x576.webp 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Teknologi-Digital-768x432.webp 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Teknologi-Digital-1536x864.webp 1536w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Teknologi-Digital-750x422.webp 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/Teknologi-Digital-1140x642.webp 1140w\" sizes=\"(max-width: 1672px) 100vw, 1672px\" \/><\/p>\n<p><strong>JuranalPost.com<\/strong> &#8211; Pernahkah Anda berkonsultasi dengan dokter melalui aplikasi di ponsel, menerima hasil laboratorium secara <em>online<\/em>, atau menggunakan <em>smartwatch <\/em>untuk memantau kesehatan? Jika iya, berarti Anda sudah menjadi bagian dari transformasi digital di bidang kesehatan. Namun, digitalisasi kesehatan ternyata bukan hanya soal kemudahan dalam melakukan konsultasi daring dengan dokter. Berbagai penelitian internasional terbaru menunjukkan bahwa teknologi digital sedang mengubah cara sistem kesehatan bekerja secara menyeluruh, mulai dari pelayanan di rumah sakit hingga pelayanan di tingkat puskesmas dan klinik.<\/p>\n<p><strong>Digitalisasi Kesehatan: Bukan Lagi Pilihan, Melainkan Kebutuhan<\/strong><br \/>\nDalam beberapa tahun terakhir, perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan besar di hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk sektor kesehatan. Pandemi COVID-19 bahkan mempercepat penggunaan layanan kesehatan digital di berbagai negara. <em>Telemedicine<\/em>, rekam medis elektronik, aplikasi kesehatan, hingga pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) kini mulai menjadi bagian dari pelayanan kesehatan sehari-hari.<\/p>\n<p>Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tujuan utama digitalisasi kesehatan bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi untuk meningkatkan kualitas pelayanan, mempercepat akses masyarakat terhadap layanan kesehatan, mengurangi biaya pelayanan, serta membantu tenaga kesehatan dalam mengambil keputusan secara lebih cepat dan akurat.<\/p>\n<p><strong>Rumah Sakit Kini Tidak Lagi Bekerja Secara Konvensional <\/strong><br \/>\nPerubahan paling besar terjadi di rumah sakit. Penelitian Koebe dan Bohnet-Joschko (2023) menunjukkan bahwa rumah sakit modern mulai bertransformasi menjadi sistem pelayanan yang saling terhubung dengan fasilitas kesehatan lainnya melalui data digital. Berbagai teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), robotika, hingga analisis Big Data mulai diterapkan untuk meningkatkan efisiensi pelayanan kepada pasien.<\/p>\n<p>Dengan adanya sistem digital, informasi pasien dapat diakses lebih cepat oleh tenaga kesehatan sehingga proses diagnosis, pengobatan, hingga pemantauan pasien menjadi lebih efektif. Selain mempercepat pelayanan, digitalisasi juga membuat rumah sakit mampu memberikan pelayanan yang lebih berpusat pada kebutuhan pasien (<em>patient-centered care<\/em>). Artinya, setiap keputusan medis tidak hanya didasarkan pada hasil pemeriksaan dokter, tetapi juga mempertimbangkan kondisi, riwayat kesehatan, dan kebutuhan masing-masing pasien. Dengan data pasien yang tersimpan secara digital, tenaga kesehatan dapat memberikan pelayanan yang lebih akurat dan berkelanjutan.<\/p>\n<p><strong>Pelayanan Kesehatan Kini Bisa Dilakukan dari Rumah <\/strong><br \/>\nTransformasi digital juga mengubah cara masyarakat memperoleh layanan kesehatan. Berdasarkan hasil penelitian Rosenlund dkk. (2023), masyarakat kini semakin banyak memanfaatkan layanan kesehatan digital dari rumah, seperti konsultasi dengan dokter melalui <em>video call,<\/em> pemantauan penyakit kronis secara jarak jauh, hingga penggunaan aplikasi kesehatan yang memungkinkan masyarakat mengakses hasil pemeriksaan secara mandiri. Layanan digital ini memberikan banyak manfaat, terutama bagi lansia dan masyarakat yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan. Mereka tidak lagi harus datang ke rumah sakit hanya untuk berkonsultasi atau memantau kondisi kesehatannya.<\/p>\n<p><strong>Banyak Negara Berkembang Mulai Memanfaatkan Teknologi Digital<\/strong><br \/>\nDigitalisasi kesehatan tidak hanya berkembang di negara maju. Penelitian Sylla dkk. (2025) menunjukkan bahwa berbagai negara berkembang mulai memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas akses pelayanan kesehatan, terutama di daerah terpencil. Pada awalnya, layanan digital hanya menggunakan pesan singkat (SMS) untuk memberikan edukasi kesehatan atau mengingatkan jadwal imunisasi. Namun kini, teknologi berkembang menjadi aplikasi kesehatan, konsultasi daring, rekam medis elektronik, hingga pemanfaatan AI dalam membantu pengambilan keputusan klinis. Digitalisasi bahkan menjadi salah satu strategi penting dalam mendukung Universal Health Coverage (UHC), yaitu pelayanan kesehatan yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar. Oleh karena itu, teknologi digital tidak hanya membuat pelayanan kesehatan menjadi lebih modern, tetapi juga membantu mewujudkan akses kesehatan yang lebih merata bagi seluruh masyarakat.<\/p>\n<p><strong>Kemajuan Teknologi Saja Ternyata Belum Cukup<\/strong><br \/>\nWalaupun memberikan banyak manfaat, penerapan <em>digital health <\/em>ternyata belum berjalan sempurna. Berbagai penelitian menemukan tantangan yang hampir sama di banyak negara. Penelitian Wang dkk. (2025) menunjukkan bahwa keberhasilan penggunaan teknologi digital sangat dipengaruhi oleh kepercayaan tenaga kesehatan terhadap sistem, ketersediaan infrastruktur, pelatihan yang memadai, serta dukungan organisasi. Sebaliknya, kurangnya fasilitas pendukung, keterbatasan jaringan internet, dan rendahnya kemampuan menggunakan teknologi menjadi hambatan utama.<\/p>\n<p>Temuan tersebut diperkuat oleh penelitian Owoyemi dkk. (2022) yang menganalisis implementasi<em> digital health<\/em> di berbagai negara Afrika. Hambatan terbesar yang ditemukan meliputi jaringan internet yang belum stabil, keterbatasan listrik, rendahnya literasi digital tenaga kesehatan, desain aplikasi yang kurang mudah digunakan oleh masyarakat, hingga keterbatasan perangkat digital. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia dan dukungan pemerintah dalam membangun infrastruktur digital yang memadai.<\/p>\n<p><strong>Lalu, Apa Kesimpulan yang Bisa Diambil?<\/strong><br \/>\nBerbagai penelitian yang telah dibahas menunjukkan bahwa transformasi digital bukan lagi sekadar inovasi tambahan dalam sektor kesehatan, melainkan telah menjadi bagian penting dalam membangun sistem pelayanan kesehatan yang lebih efektif, efisien, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Digitalisasi memungkinkan pelayanan kesehatan menjadi lebih mudah diakses, mempercepat proses pengambilan keputusan, serta meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam menjaga kesehatannya sendiri. Dengan demikian, teknologi memiliki potensi besar untuk mengatasi berbagai tantangan pelayanan kesehatan, terutama dalam memperluas akses dan meningkatkan kualitas layanan.<\/p>\n<p><strong>Indonesia Perlu Bersiap Lebih Cepat<\/strong><br \/>\nDi Indonesia sendiri sebenarnya telah memulai transformasi digital melalui berbagai inovasi, seperti aplikasi SATUSEHAT, rekam medis elektronik, <em>telemedicine<\/em>, dan berbagai aplikasi pelayanan kesehatan lainnya. Namun, masih ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti kesenjangan akses internet, rendahnya kemampuan digital masyarakat, serta kurangnya kesiapan fasilitas kesehatan di daerah.<\/p>\n<p>Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan memiliki peluang besar memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan kualitas pelayanan, mulai dari pencatatan pasien, pengelolaan obat, pemantauan penyakit kronis, hingga edukasi kesehatan kepada masyarakat luas. Apabila transformasi digital dilakukan secara merata dan berkelanjutan, maka pelayanan kesehatan di Indonesia berpotensi menjadi lebih cepat, efisien, mudah diakses, dan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.<\/p>\n<p><strong>Penulis:<\/strong><br \/>\nManelfa Adelina Banjarnahor (165231028)<br \/>\nChristofanny Nathaniela Naibaho (165231051)<br \/>\nMuhammad Miqdad Haidar Ramzy (165231091)<br \/>\nMichelle Oskeviola Sibarani (165231092)<br \/>\nAriangga Fadhilillah Herman (165241109)<\/p>\n<p><strong>Daftar Pustaka<\/strong><\/p>\n<p>Koebe, P., &amp; Bohnet-Joschko, S. (2023). The Impact of Digital Transformation on Inpatient Care: Mixed Methods Study. JMIR Public Health and Surveillance.<\/p>\n<p>Rosenlund, M., Kinnunen, U. M., &amp; Saranto, K. (2023). The Use of Digital Health Services Among Patients and Citizens Living at Home: Scoping Review. Journal of Medical Internet Research.<\/p>\n<p>Sylla, B., Ismaila, O., &amp; Diallo, G. (2025). 25 Years of Digital Health Toward Universal Health Coverage in Low- and Middle-Income Countries: Rapid Systematic Review. Journal of Medical Internet Research.<\/p>\n<p>Wang, M., Huang, K., Li, X., et al. (2025). Health Workers\u2019 Adoption of Digital Health Technology in Low- and Middle-Income Countries: A Systematic Review and Meta-analysis. Bulletin of the World Health Organization.<\/p>\n<p>Owoyemi, A., Osuchukwu, J. I., Azubuike, C., et al. (2022). Digital Solutions for Community and Primary Health Workers: Lessons From Implementations in Africa. Frontiers in Digital Health.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JuranalPost.com &#8211; Pernahkah Anda berkonsultasi dengan dokter melalui aplikasi di ponsel, menerima hasil laboratorium secara online, atau menggunakan smartwatch untuk memantau kesehatan? Jika iya, berarti Anda sudah menjadi bagian dari transformasi digital di bidang kesehatan. Namun, digitalisasi kesehatan ternyata bukan hanya soal kemudahan dalam melakukan konsultasi daring dengan dokter. Berbagai penelitian internasional terbaru menunjukkan bahwa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":27130,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-27129","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27129","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27129"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27129\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27130"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27129"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27129"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27129"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}