{"id":27079,"date":"2026-07-05T10:16:09","date_gmt":"2026-07-05T02:16:09","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27079"},"modified":"2026-07-05T10:16:09","modified_gmt":"2026-07-05T02:16:09","slug":"peran-farmasi-dalam-mengatasi-resistensi-antibiotik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/peran-farmasi-dalam-mengatasi-resistensi-antibiotik\/27079\/","title":{"rendered":"Peran Farmasi dalam Mengatasi Resistensi Antibiotik"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_27080\" aria-describedby=\"caption-attachment-27080\" style=\"width: 1288px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-27080\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/lustrasi-antibiotic-iStock.jpg\" alt=\"\" width=\"1288\" height=\"654\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/lustrasi-antibiotic-iStock.jpg 1288w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/lustrasi-antibiotic-iStock-300x152.jpg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/lustrasi-antibiotic-iStock-1024x520.jpg 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/lustrasi-antibiotic-iStock-768x390.jpg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/lustrasi-antibiotic-iStock-750x381.jpg 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/lustrasi-antibiotic-iStock-1140x579.jpg 1140w\" sizes=\"(max-width: 1288px) 100vw, 1288px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-27080\" class=\"wp-caption-text\">lustrasi antibiotic (iStock)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Penulis : <strong>Hessa Ingrahmaditya<\/strong><br \/>\nAfiliasi : Universitas Airlangga<\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Resistensi antibiotik merupakan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi dunia kesehatan saat ini. Kondisi tersebut terjadi ketika bakteri mengalami perubahan sehingga antibiotik yang sebelumnya efektif tidak lagi mampu menghambat pertumbuhannya. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pasien yang mengalami infeksi lebih sulit disembuhkan, tetapi juga oleh sistem pelayanan kesehatan karena meningkatkan lama perawatan, biaya pengobatan, serta risiko komplikasi. Oleh sebab itu, upaya pengendalian resistensi antibiotik menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk tenaga kefarmasian yang memiliki peran penting dalam menjamin penggunaan obat secara rasional.<\/p>\n<p>Resistensi antibiotik kini menjadi masalah kesehatan yang dihadapi oleh banyak negara, termasuk Indonesia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menetapkan resistensi antimikroba sebagai salah satu ancaman kesehatan global. Data WHO tahun 2023 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki proporsi infeksi aliran darah akibat <em>Escherichia coli<\/em> yang resisten terhadap sefalosporin generasi ketiga sebesar 71,93 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa efektivitas antibiotik semakin terancam apabila penggunaannya tidak dikendalikan dengan baik.<\/p>\n<p>Fenomena tersebut dipengaruhi oleh berbagai kebiasaan yang masih sering ditemukan di masyarakat. Sebagian orang masih menggunakan antibiotik tanpa resep dokter, menghentikan pengobatan sebelum waktunya karena merasa sudah sembuh, atau memanfaatkan sisa antibiotik dari pengobatan sebelumnya. Tidak sedikit pula antibiotik digunakan untuk mengatasi penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti influenza, padahal obat tersebut hanya efektif terhadap infeksi bakteri. Penggunaan yang tidak tepat inilah yang mendorong munculnya bakteri yang semakin kebal terhadap antibiotik.<\/p>\n<p>Dalam menghadapi kondisi tersebut, tenaga kefarmasian memegang peranan yang sangat penting. Apoteker tidak hanya bertugas menyiapkan dan menyerahkan obat kepada pasien, tetapi juga memastikan bahwa antibiotik yang diberikan sesuai dengan diagnosis, dosis, frekuensi, serta lama terapi yang telah ditentukan. Selain itu, apoteker memberikan edukasi mengenai cara penggunaan antibiotik yang benar, pentingnya menghabiskan obat sesuai resep, serta risiko yang dapat muncul apabila antibiotik digunakan secara sembarangan. Edukasi tersebut menjadi salah satu langkah efektif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya penggunaan obat secara bijaksana.<\/p>\n<p>Peran farmasi juga terlihat dalam berbagai fasilitas pelayanan kesehatan melalui Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA). Dalam program tersebut, apoteker bekerja sama dengan dokter, perawat, tenaga laboratorium, dan profesi kesehatan lainnya untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien. Hasil evaluasi digunakan sebagai dasar dalam menentukan terapi yang paling tepat sekaligus mencegah penggunaan antibiotik yang tidak diperlukan. Kolaborasi antarprofesi ini menjadi salah satu strategi penting dalam menekan laju resistensi antibiotik di rumah sakit.<\/p>\n<p>Selain pelayanan langsung kepada pasien, perkembangan ilmu farmasi turut mendukung upaya pengendalian resistensi melalui penelitian. Berbagai penelitian dilakukan untuk menemukan antibiotik baru yang lebih efektif terhadap bakteri resisten, mengembangkan metode diagnosis infeksi yang lebih cepat, serta menciptakan sistem penghantaran obat yang mampu meningkatkan keberhasilan terapi. Inovasi tersebut diharapkan dapat menjadi solusi ketika semakin banyak bakteri yang tidak lagi sensitif terhadap antibiotik yang telah digunakan selama bertahun-tahun.<\/p>\n<p>Upaya pengendalian resistensi antibiotik di Indonesia juga terus diperkuat. Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa pada rumah sakit sentinel, angka bakteri penghasil <em>Extended-Spectrum Beta-Lactamase<\/em> (ESBL) mencapai 68 persen pada tahun 2022 dan meningkat menjadi 70,75 persen pada tahun 2023. Data tersebut menunjukkan bahwa resistensi antibiotik masih menjadi masalah yang memerlukan perhatian serius. Oleh karena itu, peningkatan edukasi kepada masyarakat, pengawasan penggunaan antibiotik, serta penerapan pelayanan kefarmasian yang optimal perlu terus dilakukan secara berkelanjutan.<\/p>\n<p>Keberhasilan dalam mengendalikan resistensi antibiotik tidak dapat dicapai hanya oleh satu profesi. Dibutuhkan kerja sama antara tenaga kesehatan, pemerintah, akademisi, dan masyarakat agar antibiotik tetap efektif digunakan untuk mengobati penyakit infeksi. Melalui pelayanan kefarmasian yang berkualitas, edukasi yang berkesinambungan, serta penelitian yang terus berkembang, farmasi memiliki kontribusi besar dalam menjaga keberlangsungan terapi antibiotik. Dengan demikian, efektivitas antibiotik dapat dipertahankan sehingga tetap menjadi salah satu senjata utama dalam menghadapi penyakit infeksi pada masa kini maupun di masa mendatang.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis : Hessa Ingrahmaditya Afiliasi : Universitas Airlangga JurnalPost.com &#8211; Resistensi antibiotik merupakan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi dunia kesehatan saat ini. Kondisi tersebut terjadi ketika bakteri mengalami perubahan sehingga antibiotik yang sebelumnya efektif tidak lagi mampu menghambat pertumbuhannya. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pasien yang mengalami infeksi lebih sulit disembuhkan, tetapi juga oleh [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":27080,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-27079","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27079","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27079"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27079\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27080"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27079"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27079"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27079"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}