{"id":27057,"date":"2026-07-03T23:25:19","date_gmt":"2026-07-03T15:25:19","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=27057"},"modified":"2026-07-03T23:25:19","modified_gmt":"2026-07-03T15:25:19","slug":"jangan-salahkan-takdir-mengurai-salah-kaprah-konsep-pasrah-di-masyarakat-kita","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/jangan-salahkan-takdir-mengurai-salah-kaprah-konsep-pasrah-di-masyarakat-kita\/27057\/","title":{"rendered":"Jangan Salahkan Takdir: Mengurai Salah Kaprah Konsep &#8220;Pasrah&#8221; di Masyarakat Kita"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-27058\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-03-at-10.56.20-PM.jpeg\" alt=\"\" width=\"1021\" height=\"562\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-03-at-10.56.20-PM.jpeg 1021w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-03-at-10.56.20-PM-300x165.jpeg 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-03-at-10.56.20-PM-768x423.jpeg 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-03-at-10.56.20-PM-750x413.jpeg 750w\" sizes=\"(max-width: 1021px) 100vw, 1021px\" \/><\/p>\n<p><strong>Oleh: Ferdian Putra Mabruri<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Pernahkah teman teman melihat pengendara sepeda motor yang menolak untuk menggunakan helm dengan alasan, <em>&#8220;Kalau memang takdirnya mati hari ini, ya mati saja, pakai helm atau tidak&#8221;<\/em>? Atau mungkin kita sering mendengar pernyataan dari pemangku kebijakan pascabencana alam yang dengan mudahnya berucap, <em>&#8220;Ini sudah kehendak Yang Maha Kuasa, sebuah ketetapan yang di luar kendali kita,&#8221;<\/em> padahal peringatan dini dari BMKG sudah dirilis jauh-jauh hari.<\/p>\n<p>Fenomena ini mencerminkan sebuah problematika menahun dalam lanskap berpikir masyarakat kita: ketidakmampuan membedakan mana wilayah yang merupakan ketetapan mutlak Tuhan (<em>Qada<\/em>), dan mana wilayah yang sebenarnya berada di bawah kendali dan pilihan bebas manusia (<em>free will<\/em>). Salah kaprah ini tak jarang dijadikan tameng untuk memaklumi kelalaian diri, kemalasan, bahkan kegagalan struktural.<\/p>\n<p><strong>Antara Kendali Penuh Barat dan Kepasrahan Total Timur<\/strong><\/p>\n<p>Dunia modern hari ini seolah membelah manusia menjadi dua kutub ekstrem dalam memandang kendali hidup. Di belahan Barat, dengan budaya individualisme dan sainsnya, manusia dituntut untuk merasa memegang kendali penuh atas segalanya (<em>in control<\/em>). Dampaknya? Ketika sukses mereka menjadi arogan, namun ketika gagal, tingkat stres dan depresi melonjak tajam karena mereka merasa bertanggung jawab penuh atas segala variabel di luar kuasa mereka.<\/p>\n<p>Sebaliknya, budaya Timur kerap kali terjebak pada kutub mistika dan kepasrahan total. Semua hal dilemparkan pada takdir alam atau garis tangan. Imbasnya, manusia menjadi pasif.<\/p>\n<p>Islam sebenarnya hadir di tengah-tengah sebagai solusi moderat. Konsep beriman kepada <em>Qada dan Qadar<\/em> bukan ruang untuk menihilkan usaha, melainkan sebuah peta jalan (<em>blueprint<\/em>) mental untuk mengatur ekspektasi dan realitas.<\/p>\n<p>Secara harfiah, <em>Qada<\/em> adalah ketukan palu keputusan yang tidak bisa diubah\u2014seperti kematian, tempat kita dilahirkan, atau bentuk fisik kita. Sementara <em>Qadar<\/em> adalah pengkadaran atau sunatullah yang berlaku pada hukum alam, seperti api itu panas atau air mengalir dari tempat tinggi ke rendah. Tugas manusia adalah mengelola harapannya untuk menerima realitas yang berada di wilayah <em>Qada<\/em>, namun berjuang sekuat tenaga di wilayah yang masih bisa diusahakan.<\/p>\n<p><strong>Satu Kejadian, Dua Makna Berbeda<\/strong><\/p>\n<p>Poin paling menarik dari pemosisian takdir ini adalah bahwa satu peristiwa yang sama bisa bermakna ganda: ia adalah takdir mutlak bagi sang korban, namun ia adalah bentuk pilihan kelalaian bagi pihak yang bertanggung jawab.<\/p>\n<p>Ketika sebuah bangunan fasilitas umum roboh dan memakan korban, bagi keluarga korban yang ditinggalkan, itu adalah <em>Qada<\/em>\u2014sebuah realitas pahit yang sudah terjadi dan harus diterima dengan lapang dada tanpa andai-andai yang merusak jiwa. Namun, bagi kontraktor yang memotong anggaran bahan bangunan atau pemerintah yang lalai mengawasi, peristiwa itu sama sekali bukan takdir Tuhan untuk disalahkan. Itu adalah buah dari <em>free will<\/em> atau pilihan bebas mereka yang melanggar hukum alam (sunatullah) arsitektur. Mengkambinghitamkan takdir atas kelalaian struktural adalah sebuah kesalahan logika yang fatal.<\/p>\n<p>Rasulullah SAW sendiri tidak pernah mencontohkan kepasrahan yang buta. Saat Perang Badar, meski memiliki keyakinan mutlak akan pertolongan Allah, beliau tetap mengenakan baju besi dua lapis dan menyusun strategi perang yang luar biasa matang. Mengapa? Karena mempersiapkan diri adalah wilayah yang berada di dalam kontrol manusia.<\/p>\n<p><strong>Menata Mental: Berusaha bak Berkuasa, Berserah bak Tak Berdaya<\/strong><\/p>\n<p>Memahami takdir dengan jernih pada akhirnya adalah tentang melatih otot spiritual dan mental kita. Konsep ini hadir bukan untuk membuat kita berhenti bergerak, melainkan agar manusia memiliki kesehatan mental yang stabil.<\/p>\n<p>Saat kita sedang berproses, kita harus berusaha sekuat tenaga seolah-olah seluruh hasil berada di tangan kita. Namun, begitu anak panah sudah terlepas dari busurnya dan hasil akhir keluar, di situlah batas ego kita berhenti. Jika hasilnya baik, iman kepada takdir menjaga kita dari kesombongan. Jika hasilnya buruk atau tidak sesuai harapan, ia menjaga kita dari jurang frustrasi dan menyalahkan diri sendiri.<\/p>\n<p>Sudah saatnya kita berhenti menggunakan kata &#8220;takdir&#8221; atau &#8220;sudah jalannya&#8221; sebagai alasan untuk memaklumi kemalasan dan ketidakdisiplinan. Takdir bukanlah alasan untuk pasrah sebelum bertarung, melainkan jangkar kedamaian setelah semua ikhtiar terbaik dituntaskan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Ferdian Putra Mabruri JurnalPost.com &#8211; Pernahkah teman teman melihat pengendara sepeda motor yang menolak untuk menggunakan helm dengan alasan, &#8220;Kalau memang takdirnya mati hari ini, ya mati saja, pakai helm atau tidak&#8221;? Atau mungkin kita sering mendengar pernyataan dari pemangku kebijakan pascabencana alam yang dengan mudahnya berucap, &#8220;Ini sudah kehendak Yang Maha Kuasa, sebuah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":27058,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-27057","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27057","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27057"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27057\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27058"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27057"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27057"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27057"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}