{"id":26990,"date":"2026-07-02T17:41:31","date_gmt":"2026-07-02T09:41:31","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=26990"},"modified":"2026-07-02T17:41:31","modified_gmt":"2026-07-02T09:41:31","slug":"dari-antrean-pensiunan-saya-belajar-arti-pengabdian-yang-sebenarnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/dari-antrean-pensiunan-saya-belajar-arti-pengabdian-yang-sebenarnya\/26990\/","title":{"rendered":"Dari Antrean Pensiunan, Saya Belajar Arti Pengabdian yang Sebenarnya"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/IMG_2020.png\" alt=\"\" width=\"1536\" height=\"1024\" class=\"aligncenter size-full wp-image-26991\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/IMG_2020.png 1536w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/IMG_2020-300x200.png 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/IMG_2020-1024x683.png 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/IMG_2020-768x512.png 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/IMG_2020-750x500.png 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/IMG_2020-1140x760.png 1140w\" sizes=\"(max-width: 1536px) 100vw, 1536px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: Kinanti Nur Afifah Anastasya Rusmawan<\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Bagi sebagian mahasiswa, magang mungkin hanya dianggap sebagai syarat kelulusan. Namun, bagi saya, magang justru menjadi ruang belajar yang tidak pernah saya temukan di bangku kuliah.<\/p>\n<p>Kesempatan itu saya dapatkan ketika menjalani magang di PT Pos Indonesia. Awalnya, saya membayangkan pekerjaan saya hanya berkutat pada pelayanan pengiriman surat dan paket. Kenyataannya jauh lebih luas dari itu.<\/p>\n<p>Setiap hari saya membantu pelayanan masyarakat, mulai dari administrasi, verifikasi dokumen, hingga melayani para pensiunan yang mengambil dana pensiun melalui ASABRI di kantor pos.<\/p>\n<p>Rutinitas tersebut mempertemukan saya dengan orang-orang yang memiliki kisah hidup luar biasa.<\/p>\n<p>Hampir setiap hari saya melihat para pensiunan datang dengan langkah yang mulai melambat. Sebagian datang sendiri, sebagian lagi ditemani pasangan, anak, bahkan cucu mereka. Di sela antrean, tidak jarang mereka bercerita mengenai perjalanan hidupnya.<\/p>\n<p>Ada yang pernah bertugas menjaga perbatasan negara. Ada yang menghabiskan puluhan tahun mengabdi sebagai anggota TNI maupun Polri. Ada pula yang menceritakan bagaimana sulitnya menjalankan tugas ketika teknologi belum secanggih sekarang.<\/p>\n<p>Awalnya saya mengira mereka hanya datang untuk mengambil hak pensiun. Namun, lama-kelamaan saya menyadari bahwa mereka juga datang membawa cerita, pengalaman, dan nilai-nilai kehidupan.<\/p>\n<p>Saya masih mengingat bagaimana beberapa di antara mereka selalu menyempatkan mengucapkan terima kasih setelah dilayani. Padahal, apa yang saya lakukan hanyalah bagian dari pekerjaan sebagai mahasiswa magang.<\/p>\n<p>Momen sederhana itu justru membuat saya berpikir bahwa pelayanan publik bukan sekadar menyelesaikan administrasi. Di balik setiap loket terdapat manusia yang ingin dihargai.<\/p>\n<p>Dari para pensiunan tersebut saya belajar satu hal penting: keberhasilan seseorang tidak hanya diukur dari jabatan yang pernah dimiliki, tetapi dari bagaimana ia dikenang setelah masa pengabdiannya selesai.<\/p>\n<p>Ironisnya, di era digital saat ini, pelayanan sering kali diukur hanya berdasarkan kecepatan. Padahal, keramahan, empati, dan kemampuan mendengarkan tetap menjadi kebutuhan utama masyarakat.<\/p>\n<p>Pengalaman itulah yang mengubah cara saya memandang pekerjaan pelayanan.<\/p>\n<p>Saya belajar bahwa melayani bukan berarti berada di posisi yang lebih rendah. Justru melalui pelayanan, kita belajar menghargai perjalanan hidup orang lain.<\/p>\n<p>Bagi mahasiswa yang akan menjalani magang, jangan hanya fokus menyelesaikan tugas yang diberikan. Luangkan waktu untuk memperhatikan orang-orang yang datang. Karena terkadang, pelajaran terbesar bukan berasal dari pekerjaan itu sendiri, melainkan dari manusia yang kita temui setiap hari.<\/p>\n<p>Penutup<\/p>\n<p>Kini saya memahami bahwa magang bukan sekadar menambah pengalaman kerja. Bagi saya, magang di PT Pos Indonesia telah mempertemukan saya dengan banyak sosok inspiratif yang mengajarkan arti pengabdian, kedisiplinan, dan rasa hormat terhadap sesama. Pelajaran itu mungkin tidak pernah tertulis dalam buku kuliah, tetapi akan selalu saya bawa sepanjang perjalanan karier saya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Kinanti Nur Afifah Anastasya Rusmawan JurnalPost.com &#8211; Bagi sebagian mahasiswa, magang mungkin hanya dianggap sebagai syarat kelulusan. Namun, bagi saya, magang justru menjadi ruang belajar yang tidak pernah saya temukan di bangku kuliah. Kesempatan itu saya dapatkan ketika menjalani magang di PT Pos Indonesia. Awalnya, saya membayangkan pekerjaan saya hanya berkutat pada pelayanan pengiriman [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":26991,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[244],"tags":[],"class_list":["post-26990","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26990","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26990"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26990\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26991"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26990"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26990"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26990"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}