{"id":26908,"date":"2026-06-30T21:19:19","date_gmt":"2026-06-30T13:19:19","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=26908"},"modified":"2026-06-30T21:19:19","modified_gmt":"2026-06-30T13:19:19","slug":"komunikasi-pariwisata-di-era-digital-media-sosial-sebagai-penggerak-minat-kunjung-wisatawan-ke-malang-skyland","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/komunikasi-pariwisata-di-era-digital-media-sosial-sebagai-penggerak-minat-kunjung-wisatawan-ke-malang-skyland\/26908\/","title":{"rendered":"KOMUNIKASI PARIWISATA DI ERA DIGITAL: MEDIA SOSIAL SEBAGAI PENGGERAK MINAT KUNJUNG WISATAWAN KE MALANG SKYLAND"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-22.png\" alt=\"\" width=\"1111\" height=\"625\" class=\"aligncenter size-full wp-image-26909\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-22.png 1111w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-22-300x169.png 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-22-1024x576.png 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-22-768x432.png 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Gambar1-22-750x422.png 750w\" sizes=\"(max-width: 1111px) 100vw, 1111px\" \/><\/p>\n<p>oleh: <strong>Achmad Rassel<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong> &#8211; Pergeseran fundamental dalam akses dan konsumsi informasi akibat kemajuan teknologi digital turut mengubah cara masyarakat menentukan target wisata mereka. Media sosial kini menggantikan peran konvensional brosur cetak, biro perjalanan, dan saran kerabat, sehingga data destinasi dapat diakses secara instan melalui gawai. Dinamika ini memicu era baru dalam komunikasi pariwisata; narasi promosi sebuah objek wisata tidak lagi bersifat satu arah dari pengelola, melainkan ikut diproduksi dan dipengaruhi secara aktif oleh para wisatawan itu sendiri. <\/p>\n<p>Salah satu destinasi yang sukses memanfaatkan fenomena digital ini adalah Malang Skyland di Jawa Timur. Mengusung konsep wisata modern-futuristik, tempat ini menawarkan daya tarik berupa panorama ketinggian, jembatan kaca, dan berbagai spot foto ikonik (Sky Glass, dan 360\u00b0 video booth). Popularitas Malang Skyland di kawasan Malang Raya melonjak drastis berkat masifnya penyebaran konten foto dan video pendek dari para pengunjung di media sosial seperti TikTok dan Instagram.<\/p>\n<p>Kemajuan teknologi digital menggeser tren pencarian informasi wisata dari media konvensional ke media sosial, di mana konten kini dibentuk secara aktif oleh wisatawan. Fenomena ini dimanfaatkan dengan baik oleh Malang Skyland di Jawa Timur. Melalui konsep modern-futuristik yang menawarkan panorama ketinggian serta spot foto ikonik, destinasi ini berhasil melonjak popularitasnya di Malang Raya berkat masifnya unggahan foto dan video pendek pengunjung di TikTok dan Instagram.<\/p>\n<p>Malang Skyland sukses memanfaatkan media sosial terutama Instagram dan TikTok melalui informasi transparan terkait tiket, rute, dan fasilitas. Promosinya berjalan organik berkat konten buatan pengunjung (user-generated content) yang dianggap lebih tepercaya dibanding iklan biasa. Kendati demikian, pengelola menghadapi tantangan untuk menjaga kejujuran konten agar sesuai dengan realitas di lapangan. Kunci popularitas berkelanjutan tempat ini terletak pada keseimbangan antara konten digital yang menarik dan kualitas pelayanan nyata yang memuaskan. Di era digital, komunikasi pariwisata kini lebih interaktif dan personal. Malang Skyland membuktikan bagaimana media sosial bisa membuat sebuah tempat wisata viral dan ramai pengunjung.<\/p>\n<p>Keberhasilan destinasi ini membuktikan bahwa viralitas harus diimbangi dengan kesesuaian antara konten promosi dan realitas pengalaman pengunjung. Selaras dengan pemikiran akademisi dosen pengampu mata kuliah Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A., integritas informasi merupakan fondasi utama komunikasi pariwisata yang berkelanjutan. Dengan pendekatan yang kreatif dan bertanggung jawab, sektor pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia akan mampu bersaing di kancah global.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>oleh: Achmad Rassel JurnalPost.com &#8211; Pergeseran fundamental dalam akses dan konsumsi informasi akibat kemajuan teknologi digital turut mengubah cara masyarakat menentukan target wisata mereka. Media sosial kini menggantikan peran konvensional brosur cetak, biro perjalanan, dan saran kerabat, sehingga data destinasi dapat diakses secara instan melalui gawai. Dinamika ini memicu era baru dalam komunikasi pariwisata; narasi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":26909,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[184],"tags":[],"class_list":["post-26908","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26908","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26908"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26908\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26909"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26908"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26908"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26908"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}