{"id":26900,"date":"2026-06-30T21:11:53","date_gmt":"2026-06-30T13:11:53","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/?p=26900"},"modified":"2026-06-30T21:11:53","modified_gmt":"2026-06-30T13:11:53","slug":"komunikasi-pariwisata-di-era-disrupsi-digital-studi-kontekstual-kampung-heritage-kajoetangan-malang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/komunikasi-pariwisata-di-era-disrupsi-digital-studi-kontekstual-kampung-heritage-kajoetangan-malang\/26900\/","title":{"rendered":"Komunikasi Pariwisata di Era Disrupsi Digital: Studi Kontekstual Kampung Heritage Kajoetangan, Malang"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Pariwisata-di-Era-scaled.png\" alt=\"\" width=\"2560\" height=\"1920\" class=\"aligncenter size-full wp-image-26901\" srcset=\"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Pariwisata-di-Era-scaled.png 2560w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Pariwisata-di-Era-300x225.png 300w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Pariwisata-di-Era-1024x768.png 1024w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Pariwisata-di-Era-768x576.png 768w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Pariwisata-di-Era-1536x1152.png 1536w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Pariwisata-di-Era-2048x1536.png 2048w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Pariwisata-di-Era-750x563.png 750w, https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Pariwisata-di-Era-1140x855.png 1140w\" sizes=\"(max-width: 2560px) 100vw, 2560px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: <strong>Jerryco Candra Satria Utama<\/strong><\/p>\n<p><strong>JurnalPost.com<\/strong>  Perubahan teknologi digital telah membawa transformasi besar dalam pola komunikasi manusia, termasuk pada sektor pariwisata. Era disrupsi ditandai oleh percepatan arus informasi, dominasi media digital, serta perubahan perilaku audiens yang semakin mengandalkan platform daring dalam mencari, menilai, dan memutuskan destinasi wisata. Dalam konteks ini, komunikasi pariwisata tidak lagi bersifat konvensional, melainkan berkembang menjadi sistem yang dinamis, interaktif, dan berbasis visual digital.<\/p>\n<p>Kampung Heritage Kajoetangan di Kota Malang menjadi salah satu ruang wisata yang relevan untuk melihat dinamika tersebut. Kawasan ini memiliki kekayaan sejarah berupa bangunan kolonial, lorong permukiman lama, serta identitas budaya masyarakat yang masih terjaga. Namun, di tengah kompetisi destinasi wisata yang semakin ketat, potensi tersebut membutuhkan penguatan melalui strategi komunikasi yang sesuai dengan karakter masyarakat digital.<\/p>\n<p>Kegiatan observasi lapangan yang melibatkan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya menjadikan Kampung Heritage Kajoetangan sebagai lokasi praktikum mata kuliah Komunikasi Pariwisata pada pertengahan Juni 2026. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya melakukan pengamatan, tetapi juga terlibat dalam proses dokumentasi, analisis daya tarik wisata, serta produksi konten komunikasi berbasis digital yang relevan dengan kebutuhan audiens masa kini.<\/p>\n<p>Dosen pengampu mata kuliah, Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A., menekankan bahwa tantangan utama komunikasi pariwisata di era disrupsi terletak pada kemampuan mengemas nilai sejarah menjadi pesan yang mudah dipahami dan menarik bagi generasi digital. Menurutnya, kekuatan destinasi heritage tidak hanya berada pada aspek fisik, tetapi juga pada bagaimana cerita dan identitasnya dikomunikasikan secara kreatif melalui media yang tepat.<\/p>\n<p>Dalam praktiknya, mahasiswa mengembangkan berbagai bentuk konten digital seperti video pendek, fotografi naratif, dan infografis yang menampilkan sejarah serta daya tarik Kampung Heritage Kajoetangan. Pendekatan ini mencerminkan perubahan pola komunikasi pariwisata dari media satu arah menjadi komunikasi partisipatif yang memungkinkan audiens turut terlibat dalam penyebaran pesan.<\/p>\n<p>Jerryco Candra S.U., mencatat bahwa perubahan perilaku wisatawan di era digital sangat dipengaruhi oleh media sosial sebagai sumber utama informasi. Audiens cenderung mempercayai visualisasi pengalaman nyata yang dibagikan pengguna lain dibandingkan promosi formal. Oleh karena itu, strategi komunikasi pariwisata perlu menekankan aspek storytelling, autentisitas, dan kedekatan emosional dengan calon wisatawan.<\/p>\n<p>Melalui media digital, Kampung Heritage Kajoetangan memiliki peluang besar untuk dikenal lebih luas, tidak hanya oleh wisatawan lokal, tetapi juga nasional hingga internasional. Distribusi informasi yang cepat melalui platform digital menjadikan destinasi ini lebih mudah diakses dan dipahami, sekaligus memperkuat citra sebagai kawasan wisata sejarah yang hidup dan relevan.<br \/>\nNamun, era disrupsi juga menghadirkan tantangan berupa tingginya kompetisi perhatian di ruang digital. Banyaknya konten yang beredar menuntut destinasi wisata untuk memiliki strategi komunikasi yang konsisten, kreatif, dan adaptif. Tanpa pendekatan tersebut, potensi wisata yang dimiliki dapat tergerus oleh arus informasi yang sangat cepat berubah.<\/p>\n<p>Kampung Heritage Kajoetangan menunjukkan bahwa sinergi antara teknologi digital, akademisi, dan masyarakat lokal dapat menjadi fondasi penting dalam pengembangan komunikasi pariwisata modern. Kolaborasi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana promosi, tetapi juga sebagai upaya pelestarian nilai sejarah melalui media yang relevan dengan perkembangan zaman.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, komunikasi pariwisata di era disrupsi tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga pada pembentukan pemahaman dan apresiasi terhadap nilai budaya yang dimiliki sebuah destinasi. Kampung Heritage Kajoetangan di Malang menjadi contoh nyata bagaimana warisan sejarah dapat tetap eksis dan bermakna ketika dikomunikasikan secara strategis melalui media digital yang adaptif dan berkelanjutan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Jerryco Candra Satria Utama JurnalPost.com Perubahan teknologi digital telah membawa transformasi besar dalam pola komunikasi manusia, termasuk pada sektor pariwisata. Era disrupsi ditandai oleh percepatan arus informasi, dominasi media digital, serta perubahan perilaku audiens yang semakin mengandalkan platform daring dalam mencari, menilai, dan memutuskan destinasi wisata. Dalam konteks ini, komunikasi pariwisata tidak lagi bersifat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":26901,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"subtitle":"","format":"standard","override":[{"template":"7","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"no-sidebar-narrow","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"bottom","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"0"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"footnotes":""},"categories":[24],"tags":[],"class_list":["post-26900","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kolom-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26900","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26900"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26900\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26901"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26900"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26900"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalpost.com\/read\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26900"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}